
Hari yang cerah mulai meredupkan cahayanya. Kemacetan terjadi sore ini, mobil yang berjejer karena macet. Seorang pria tampan sesekali melirik jam yang menempel dipergelangan tangannya. Hatinya mulai resah, ia takut kalau istrinya curiga padanya. Ia takut sipat ibu hamil itu menyeruapai istrinya.
Takut juga memiliki istri seperti Lisa, sudah bar-bar, cemburuan. Lelaki itu langsung bergidik membayangkan kalau istrinya begitu.
Ya, pria itu adalah Darren Alfian Narayan. Mungkin nasibnya sama seperti Leo sahabatnya, sama-sama memiliki pasangan yang statusnya sebagai wanita penghibur. Akan tetapi semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, seperti Lisa dan istrinya.
Walau seperti itu tak ada yang berani mencibir atau mencela kehidupannya, sedikit saja ada yang mengusik hidupnya, ia tak akan memberi ampun pada orang itu. Kekuasaan Darren mampu menghalangi semuanya. Hampir sejagat raya mengenal dirinya, pria tampan dan mapan itu kini menetapkan hatinya pada gadis yang derajatnya berbanding bagai langit dan bumi. Tak urung rumah tangganya bahagia.
Dering ponselnya mengalihkan rasa khawatirnya, dilihat ID pemanggil yang tertera di layar ponselnya. Ia tersenyum kala tahu siapa yang menghubunginya.
"Macet, sebentar lagi aku sampai."
Belum juga istrinya bersuara, saking takutnya ia langsung menjelaskan pada istrinya, ia bener-bener takut mengalami apa yang dialamai sahabatnya itu. Jiwa ketakutannya meronta-ronta.
"Aku hanya mau bilang, kalau aku sudah masak. Jadi jangan makan di luar. Seperti tadi siang," kata Dania di sebrang sana.
"Ah sial! Ternyata diam-diam, pasti si bar-bar itu yang sudah ngadu," rutuknya setelah sambungan itu berakhir.
Tak lama kemudian, jalanan mulai lancar Jadi ia bisa melanjutkan perjalanannya lagi. Ternyata ada kecelakaan rupanya, pantas saja macet.
Saat lagi santai dan menunggu suaminya pulang, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.
"Iya, mau ngadu apa lagi Lisa!" jawab Dania menerima panggilan itu.
"Sensi banget!"
"Gak ada waktu ngeladenin omonganmu, bikin hatiku panas saja."
"Ah, aku kira kamu gak cemburu pada sekretarismu."
"Apa? Kamu mau apa menghubungiku?" tanya Dania yang mulai kesal,
"Apa di darehmu ada rumah yang mau dijual? Rencananya aku mau beli, tapi pengennya gak jauh dari rumahmu. Kalau ada hubungi aku, ya?" pinta Lisa
"Nanti aku coba tanya pada Darren, mana aku tahu daerah sini. Ya udah kalau gitu, dah dulu ya? Sepertinya Darren sudah pulang." Dania langsung memutuskan sambungan itu, karena ia mendengar suara mobil terparkir di depan rumahnya, yang sudah ia yakini bahwa itu suaminya.
Ia langsung saja membuka pintunya, ia tersenyum kala suaminya yang hendak masuk. Diciumnya kening istrinya, Dania memjamkan matanya kala bibir suaminya menyentuh kulitnya.
"Sini, biar aku yang bawa." Dania mengambil alih jas dan tas suaminya yang dibawanya. Dan mereka pun berjalan sambil bergandengan, sesekali Dania menyandarkan kepalanya ke pundak suaminya.
Setibanya di dalam.
__ADS_1
"Daddy?" panggil Syiera. Syiera berlari menghampiri ayahnya. Darren melepaskan tangan istrinya dan beralih menggendong Syiera.
"Duh, anak gadis Daddy sudah besar. Sudah berat, daddy gak sanggup lagi menggendongmu," cibir Darren.
Syiera memanyunkan bibirnya saat mendengar perkataan sang ayah yang tak sanggup lagi menggendongnya. Syiera merajuk, begitu manjanya ia pada ayahnya.
Dania terkekeh melihat tingkah Syiera, cantiknya sangat menggemaskan. Ibunya pasti sangat cantik karena Syiera juga cantik. Ia tak menyadari kalau ia memuji diri sendiri, seakan lupa akan wajah mendiang istri suaminya yang sama persis dengannya.
"Daddy mau mau mandi dulu." Ia langsung menurunkan tubuh Syiera. Syiera pun akhirnya turun dari pangkuan ayahnya.
"Sama bi Mila dulu, ya?" titahnya pada Syiera, Syiera pun mengangguk.
Sementara ia menggandeng tangan istrinya kembali.
"Sudah sana, mandi dulu," titahnya pada Darren.
"Aku mau dimandiin," keluhnya yang manja pada istrinya.
Dania hanya menggelengkan kepalanya. Memangnya bayi besar harus dimandiin segala.
Saat Dania hendak meninggalkannya, dengan cepat, ia meraih tangan istrinya. Tanpa aba-aba, ia langsung saja membopong tubuh istrinya membawanya ke kamar mandi.
Air shawor dinyalakan agar sedikit meremangkan suara desahan mereka di kamar mandi. Hingga pertempuran pun terjadi sore itu.
"Tapi suka 'kan?"
Seketika wajah Dania memerah mendapat godaan dari suaminya.
Sementara Syiera, ia terlalu lama menunggu kedatangan orang tuanya di meja makan.
"Bi, mereka lama sekali sih," kesalnya. "Gak tahu apa kalau aku sudah laper," ucapnya lagi.
"Makan duluan saja, biar bibi temani," tawar si bibi.
Pada suapan pertama, akhirnya mereka menampakkan batang hidung.
"Lihatlah, bi. Mereka baru datang, ngapain aja 2 jam baru kesini." Syiera sedikit melirik kearah mereka, lalu kembali melanjutkan makannya.
Bi Mila melirik juga kearah majikannya, dilihatnya rambut basah milik Tuannya, hingga ia berpikir pasti adanya ritual wajib mereka. Sampai Mila senyum-senyum sendiri, ia teringat akan masa mudanya dulu.
"Kenapa bi, senyum-senyum. Apa ada yang lucu?" tanya Darren setelah berhasil mendaratkan tubuhnya dikursi meja makan.
__ADS_1
"Ti_tidak ada, Tuan," ucapnya terbata. "Saya permisi." Mila melipir secara perlahan.
Dilihatnya Syiera, kenapa anaknya begitu fokus. Sampai ia tak menyapa keberadaannya. Lantas Syiera langsung beranjak, karena sudah selesai dengan makannya.
"Syiera marah pada Daddy?" tanyanya menghentikan langkahnya. Syiera menggeleng, sudah tau masih saja nanya.
"Maaf, membuatmu menunggu. Jangan marah lagi, ya? Besok, Daddy belikan kamu coklat," bujuknya.
"Hmm," jawab Syiera singkat. Syiera pun pergi begitu saja.
Dania mengelus punggung suaminya.
"Biar nanti aku yang membujuknya, sepertinya dia marah pada kita, sebaiknya kita makan dulu." Dania mengambilkan nasi untuk suaminya.
"Oh ya, tadi Lisa menghubungiku."
"Ngadu apa saja dia?" tanya dengan nada sewotnya.
"Dia nanya, apa disekitar sini ada rumah yang mau dijual? Katanya ... Sih, dia mau beli rumah."
Darren berpikir, kalau gak salah dia melihat plang yang bertuliskan rumah ini dijual, tapi sebelah mana dia tidak terlalu ingat.
"Ada, tapi aku lupa sebelah mana. Besok aku coba cek, deh."
Tak terasa mereka sudah selesai dengan makan malam mereka. Dan sekarang, Darren dan istrinya berada di ruang tv. Menonton film kesayangan istrinya. Tapi sekejap, ia ingat Syiera yang merajuk.
"Honey, aku ke kamar Syiera dulu, ya?"
Diangguki oleh suaminya.
"Syiera sayang, buka pintunya. Ini Momy." Dania mengetuk pintunya, karena pintu terkunci dari dalam. "Sayang ...," panggilnya lagi.
"Masih marah?" tanya Darren yang kini menyuslnya. Dania mengangguk.
"Syiera, buka pintunya, nak. Daddy mau ngomong."
Tak lama pintu terbuka dari dalam, Syiera masih saja cemberut. Rasa bersalah menerpa pada diri Dania. Coba saja ia menolak keinginan suaminya, pasti Syiera tak akan semarah ini.
"Dengar Daddy! Daddy dan Momy sayang sama Syiera, jadi jangan marah lagi, ya? Daddy janji tidak akan membuatmu menunggu lagi."
"Iya, maafkan Momy juga," timpal Dania. "Oh ya, Tante bayi rencananya mau tinggal disekitar sini, loh."
__ADS_1
Dania mencoba menyenangkan hati anaknya itu, dan benar saja, Syiera langsung mendongakkan wajahnya, menatap ibunya. Mendengar Tante bayinya akan pindah rumah, Syiera tersenyum kembali