
"Ini untuk masa depanku."
Lisa mengerutkan kedua alisnya nyaris menyatu. "Masa depan," kata Lisa mengulangi perkataan Leo.
"Hmm, ini untuk usahaku," jawab Leo. "Kebetulan kita bertemu di sini, sebaiknya kamu ikut denganku. Ada yang ingin aku bicarakan." Lalu lisa pun mengekori Leo.
Lisa melihat Leo keroptan dengan kantong belanjaan di tangannya. "Sini biar aku bantu." Lisa mengambil separuh belajaan Leo.
"Tidak usah! Aku bisa sendiri." Namun Lisa tetap ngeyel, ia merampasnya secara paksa. Sehingga Leo memberikannya, walau dalam hati ia tak mau merepotkan dirinya.
Tak lama mereka sampai di cafe milik Leo. Lisa melihat cafe itu dengan teliti. "Ini usaha yang kamu maksud? Apa kamu akan membuka cafe?" tanya Lisa tak percaya.
"Hmm, aku menyewa tempat ini. Lalu aku jadikan tempat nongkrong untuk anak muda. Bagaimana, apa ini sudah cocok untuk jaman anak muda sekarang?" tanya Leo pada Lisa.
"Seleramu cukup bagus, aku suka. Gaya klasik sangat cocok untuk anak muda jaman sekarang," terang Lisa.
"Ayo masuk?" ajak Leo.
Setelah mereka sudah berada di dalam. Lisa dan Leo langsung menuju dapur yang berada di cafe tersebut. Mereka menyimpan belajaannya di kulkas, Lisa membantu Leo menatanya dengan rapi.
"Kapan rencanamu meresmikan tempat ini?" tanya Lisa.
"Kemungkinan besok. Kamu mau 'kan membantuku?" pinta Leo sambil tersenyum.
"Tentu. Aku akan membantumu sebisaku."
Leo merasa senang, bahwa Lisa mau membantunya. "Terus, apa yang bisa aku bantu?" tanya Lisa kemudian.
"Kamu bisa membantuku membuatkan minuman untuk pelanggan yang datang," terang Leo pada Lisa.
"Maksudmu aku jadi pelayan di sini?"
"Bu_bukan itu maksudku," jawab Leo. Leo tak ingin Lisa berpikir ke arah situ. Tentu bukan itu tujuan Leo.
"Lalu apa namanya kalau bukan pelayan?" tanya Lisa.
"Kopi buatanmu enak, aku rasa pengujung di sini akan suka minuman buatanmu. Itu maksudku," jelas Leo.
"Oh ... Itu maksudnya." Lisa manggut-manggut
__ADS_1
"Iya itu. Aku tidak bisa membuat kopi, Lisa." Lisa tergelak dengan penuturan Leo.
"Pemilik cafe tidak bisa membuat kopi, apa jadinya?" ledek Lisa. Namun Leo hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum tidak jelas. Setelah itu mereka ke depan cafe. Lisa menelisik sekitar. "Ternyata, kamu pintar mendekor juga, ya?" kata Lisa sambil melihat ke arah Leo. "Aku suka tempat ini," ujarnya lagi.
"Sungguh!" sahut Leo. Dianggukki oleh Lisa.
"Oh iya, kenapa tadi orang itu bisa mengejarmu? Siapa dia?" tanya Leo.
"Itu suruhan Madam Rosa. Pemilik club malam yang biasa aku bekerja," jelas Lisa. "Tapi, ya sudahlah. Jangan bahas itu! Aku sudah biasa seperti itu."
"Tadi kamu bilang ingin membicarakan sesuatu padaku, mau bicara apa?"
"Aku sudah mengatakannya padamu. Aku mau minta bantuanmu untuk cafe ini." Padahal, maksud Leo yang sebenarnya bukan itu. Tadinya ia akan menyatakan cintanya pada Lisa, tapi ia urungkan niatnya. Karena ia merasa belum pantas untuk menjadi pendamping Lisa. Ia akan merintih kariernya dulu, jika semua sudah seperti semula, yaitu Leo kembali sukses, baru ia akan mengajak Lisa menikah. Tak perduli status Lisa, toh mereka sama-sama pendosa. Pikir Leo.
"Hmm, aku kira dia mau menyatakan cintanya," ucap Lisa begitu pelan.
"Apa katamu?" tanya Leo pura-pura tak mendengar. Padahal kata Lisa begitu jelas di pendengarannya. Dalam hati Leo tersenyum.
"Ti__tidak! Aku tidak mengatakan apa-apa." Lisa menjadi gugup. Seperti maling yang ketangkap basah.
***
Darren menunggu Dokter keluar dari ruangan yang dimana ada istrinya di sana. Tak lama kemudian. Dokter keluar, Darren yang melihat langsung menghamipirinya. "Bagaimana, Dok?" tanya Darren.
"Apa Anda suaminya?" tanya Dokter itu. "Bisa ikut keruangan, ada yang ingin saya jelaskan," kata Dokter itu. Lalu Darren mengikuti Dokter untuk keruangannya. Sementar Karren tetap menunggu di kursi yang berada di depan ruangan IGD.
Di ruangan Dokter.
"Silahkan duduk." Dokter mempersilahkan. Lalu Darren pun mendudukkan tubuhnya di kursi saling berhadapan dengan Dokter itu.
"Jadi begini, Tuan. Ada masalah serius dalam rahim istri Anda. Dan ini tidak bisa dibiarkan. Memang pendarahannya sudah berhenti, tapi itu tidak menjamin bahwa istri Anda baik-baik saja," jelas Dokter.
"Maksudnya gimana, Dok? Apa bisa diperjelas secara detail?" Pasalnya, Darren benar-benar tidak mengerti apa yang diucapkan Dokter padanya.
"Saya meminta persetujuan Anda, karena istri Anda harus segera dioperasi. Karena ini tidak bisa di biarkan," kata Dokter.
"Operasi! Memangnya istri saya sakit apa? Kenapa harus dioperasi?"
"Istri Anda sempat keguguran, karena kandungannya sangat lemah. Itu sebabnya istri Anda mengalami pendarahan yang sangat hebat. Jika tidak segera dioperasi maka pendarahan itu akan kembali terjadi. Jadi kami harus mengangkat rahim istri Anda."
__ADS_1
Tubuh Darren bagai tersambar petir, ketika mendengar penuturan Dokter. "Mengangkat rahim." Darren mengulang perkataan Dokter. "Itu artinya, istri saya tidak bisa hamil, Dok?" tanya Darren tak percaya. Dokter mengangguk mengiyakan pertanyaan Darren."Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?" gumam Darren.
Betapa malang nasibmu Dania, begitu banyak penderitaan yang menghantam kehidupanmu. Semoga Dania bisa menjalani hidupnya dengan penuh suka cita.
Darren menarik napas sedalam-dalamnya sebelum memberikan persetujuan tentang operasi yang akan dijalani istrinya. "Lakukan yang terbaik, Dok. Saya menyetujui operasi itu," kata Darren dengan pasrah.
"Baik kalau begitu, saya akan menyiapkan operasinya segera mungkin."
***
Kini Darren menemui Dania, ia melihat istrinya yang sudah sadar. Lalu Darren menghampiri Dania, ia mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di samping branker. "Jangan menangis, aku ikut sedih jika kamu seperti ini. Aku mecintaimu apa adanya, apa pun yang terjadi kamu tetap istriku untuk selamanya." Darren maraih tangan istrinya, mengecup tangan itu dengan lembut. Lalu Darren merubahkan posisinya, duduk tepat di samping Dania.
Darren menarik tubuh Dania kedalam pelukannya. Dania menumpahkan tangisannya di pelukan suaminya. "Aku tidak sempurna, aku tidak bisa memberikanmu keturunan." Dania sudah mengetahuinya semunya dari Suster.
Suster mengatakan itu setelah memindahkan Dania keruangan operasi, karena Dania sudah sadar, ia pun bertanya pada Suster, kenapa ia di bawa keruangan operasi yang kini sudah berada keberadaannya sekarang.
"Jangan bilang kamu tidak sempurna! Bagiku kamu istri yang paling sempurna, karena aku mencintaimu. Kita sudah punya Syiera. Syiera kebahagiaan kita sekarang," jelas Darren pada istrinya.
Lalu Dania melepaskan pelukan suaminya. Tatapan mereka saling beradu. Darren menghapus air mata yang membasahi pipi mulus istrinya. Lalu mengecup kedua mata Dania, setelah menciumnya Darren berkata. "Air matamu terlalu berharga, jadi berhentilah menangis. Kesehatanmu lebih penting, karena aku ingin menghabiskan sisa umurku bersamamu."
Dania kembali menangis karena terharu mendengar ucapan suaminya. "Sudah kubilang jangan menangis."
"Ini tangisan bahagia. Maaf, sikapku kemarin sudah mengecewakanmu." Akhirnya Dania menerima kenyataan dalam hidupnya.
Darren menggelengkan kepalanya. "Aku yang harusnya minta maaf padamu, aku tidak bisa menjaga istriku dengan baik." Darren mencium kening istrinya, tak lama ia melepaskan kecupannya.
"Sebentar lagi operasinya dimulai, tenangkan dirimu, ya? Jangan berpikir kalau aku akan meninggalkanmu lagi." Karena tadi, Dania dan suaminya sempat berdebat akan operasi pengangkatan rahimnya.
Tak lama Dokter datang untuk memulai operasinya. Darren yang mengetahui kedatang Dokter, ia pun beranjak dari posisinya untuk meninggalkan ruangan tersebut.
Kini hanya ada Dania dan beberapa Dokter di ruangan itu, karena operasi akan segera di mulai.
Darren di luar ruang nampak mondar-mandir di depan pintu. Karren yang melihatnya langsung menenangkan anaknya untuk ikut duduk bersamanya di kursi yang telah di sediakan di sana.
...----------------...
Tinggalkan jejaknya di setiap bab.
Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian. Maaf kalau ceritanya kurang memuaskan. Walau Dania kehilangan rahimnya. Kebahagiaan menanti di kehidupannya. Terus dukung Author ya dengan vote, like di setiap babnya.
__ADS_1