Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 44


__ADS_3

Hari ini, Darren masih bergulung selimut dengan istrinya. Sedari tadi Dania mencoba membangunkan Darren untuk segera mandi, ia menyuruh Darren berangkat ke kantor.


Namun Darren enggan untuk berangkat hari ini, karena ia menemani istrinya yang sedang tak enak badan. "Darren, bangun. Ini sudah setengah tujuh, sebaiknya kamu ke kantor saja. Aku tidak apa-apa, di sini ada bi Mila. Kamu juga harus mengantar Syiera bukan?" kata Dania pada suaminya. Sudah beberapa kali ia mengatakan itu, tapi tak didengar oleh Darren.


Darren malah menarik selimut kembali sambil memeluk pinggang istrinya. "Sayang ... Aku malas ke kantor. Aku temani kamu saja di rumah, ya?" pinta Darren sambil menelusupkan kepalanya tepat di gunung kembar milik istrinya.


Tak lama dering ponsel milik Darren berbunyi. "Bangun cepat! Itu ada yang menghubungimu." Dania menggucangkan tubuh suaminya dengan keras. Mau tak mau Darren pun terbangun dari tidurnya, dengan cepat ia menyambar ponselnya yang ada di atas nakas.


"Hallo, Mom. Ada apa?" jawab Darren. Karena ternyata yang menghubunginya adalah ibunya. "Iya," ucapnya lagi pada sang ibu di sebrang sana. Tak lama sambungan itu berakhir begitu saja.


"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Dania dalam hati. Hingga ia begitu penasaran tentang percakapan suaminya dengan ibu mertuanya.


Setelah menerima telepon, Darren langsung turun dari ranjang, ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Tadi saja susah banget dibangunin. Giliran ibunya telepon, langsung bangun," gerutu Dania bicara sendiri.


Setelah mengomel sendiri, Dania langsung menarik selimut kembali. Ia malah meneruskan tidurnya, entah kenapa Dania merasa malas untuk bangun dipagi ini.


Setelah selesai mandi, Darren melirik ke arah istrinya. Ia mengerutkan keningnya, merasa bingung. Pasalnya, Dania paling rajin bangun pagi terus langsung menyiapkan sarapan untuknya. Kanapa dengannya pagi ini? Apa karena ia sedang sakit sekarang? Pikir Darren.


"Sayang? Apa perlu aku mengantarmu ke Dokter?" tanya Darren pada istrinya, yang sekarang Darren sudah terduduk tepat di samping istrinya.


Dania membuka matanya, lalu pandangannya mengarah pada suaminya. "Aku tidak apa-apa, lagi malas saja," jawab Dania dengan bohong. Padahal, ia merasakan pusing di kepalanya. Karena ia tak mau merepotkan suaminya, terpaksa ia membohonginya. Lagian, Dania memang menunggu kepergian suaminya. Ia mau menanyakan perihal kemarin yang sempat terhenti obrolannya dengan Mila.


"Baiklah kalau begitu, aku berangkat ke kantor sekarang, ya? Ini sudah jam delapan. Syiera juga kayaknya sudah berangkat, deh." Darren encium kening Dania sebelum berangkat.


"Kalau ada apa-apa, hubungi aku, ya?" pinta Darren. Di angguki oleh Dania.


Lalu Darren pun keluar dari kamarnya, ia sedikit mempercepat langkahnya. Karena Karren menyuruhnya untuk segera ke kantor. Karren akan menemuinya di sana.


***

__ADS_1


Sementara Leo, ia sedang berpikir. Entah apa yang akan di lakukannya hari ini. Ia juga bingung harus mencari kerjaan kemana. Semenjak Darren mencabut sahamnya, yang lain pun ikut-ikutan mencabut sahamnya, sehingga Leo terpaksa menjual perusahaannya untuk menggaji para karyawannya.


Leo bercermin, melihat pantulannya di kaca. "Aku akan merencanakan ini," ucapnya sambil manggut-manggut. Entah apa yang di pikirkan Leo saat ini? Leo menyeringai dengan tatapan tajam pada bayangannya di cermin.


Lalu ia mengenakan jaket hitam dengan topi yang melengkapi kepalanya. Ia langsung bergegas pergi dengan sejuta rencananya.


***


Setelah kepergian Darren, Dania beranjak dari tidurnya, ia langsung mencari keberadaan Mila. Tapi ia tak melihat Mila, sampai ia mengelilingi rumahnya. Namun, Mila tak menampakkan batang hidungnya.


Lalu, Dania menepuk jidatnya sendiri sambil berkata. "Oh iya, bi Mila 'kan nganter Syiera sekolah." Karena merasa lelah sudah mengelilingi rumah tersebut, Dania merasakan pusingnya semakin menjadi.


"Duh, kepalaku kok pusing lagi, sih," pekiknya. Merasa tidak beres dengan kondisinya, ia pun berencana untuk memeriksan dirinya. "Lebih baik, aku mandi aja, deh. Terus ke Dokter," ucapnya sambil bergegas menaiki anak tangga.


Dania nampak sedang memilih baju untuk di kenakannya hari ini. Setelah beberapa menit, ia sudah memilih baju yang pas untuknya. Ia memakai celana jeans dan baju berwarna hitam yang modelnya memperlihatkan pundaknya.


Dania memutarkan tubuhnya di depan cermin. "Good," Lalu ia meraih tas yang tergelatak di atas meja riasnya. Tas itu begitu serasi dengan baju yang ia kenakan saat ini. Setelah merasa puas memandangi dirinya di cermin. Ia pun bergegas pergi.


Ia langsung turun dari mobil tersebut, tak lupa ia membayar taxinya. Kini, Dania sudah berada di rumah sakit, ia langsung masuk. Setelah mendaftar, ia duduk di sebuah kursi besi. Menunggu gilirannya di panggil.


"Nyonya, Dania," panggil Suster. Dania beranjak dari duduknya, ia langsung masuk ke ruangan Dokter itu. Ia menyebutakn semua keluhan dirinya pada Dokter itu. Setelah Dokter bertanya terlebih dulu.


Dokter pun memeriksanya, setelah selesai. Dokter bertanya. "Kapan Anda terakhir kali datang bulan?" tanya Dokter.


Dania nampak berpikir, kapan terakhir kali ia menstruasi. "Saya lupa, Dok. Tapi seharusnya gak lewat bulan ini,deh," jawab Dania.


"Ya sudah sebaiknya Anda gunakan ini untuk meyakinkan." Dokter memberikan tespack pada Dania. Dania mengeritkan keningnya dengan bingung.


"Silahkan gunakan alat itu. Dilihat dari keluhan Anda, saya rasa Anda sedang mengandung. Tapi Anda bisa meyakinkan dengan tespack itu." Tunjuk Dokter pada tespack yang sedang dipegang oleh Dania.


Lalu Dania pun menuruti saran Dokter, ia langsung menuju kamar mandi yang tersedia di ruangan Dokter itu. Dania menganga tak percaya akan hasil tespack itu. Garis dua berwarna merah yang ia lihat.

__ADS_1


Lalu Dania keluar, dan memberikan hasil tespack itu pada Dokternya. "Wah ... Selamat ya, Nyonya. Anda hamil," ucap Dokter itu.


"Bagaimana bisa, Dok. Sedangkan dulu, saya di ponis susah untuk memiliki keturunan," jelas Dania pada Dokter itu.


"Mungkin ini, mukzijat Tuhan, Nyonya," sahut Dokter diiringi dengan senyuman.


Wajah Dania terlihat sangat bahagia. "Terima kasih, Dok," kata Dania sambil mengulurkan tangannya pada Dokter. Dokter itu pun membalas uluran tangan pasiennya.


"Dijaga, ya kandungannya. Usianya masih sangat muda, masih sangat rentan," jelas Dokter.


Dania mengangguk sambil menjawab. " Iya, Dok. Saya akan menjaga kandungan saya sebaik mungkin." Dania keluar dari ruangan Dokter itu dengan senyum bahagia, ia terus menatap tespack itu. Senyum yang tak henti-hentinya ia pancarkan.


"Lebih baik aku ke kantor Darren, ah." Dania terus berjalan dan mencari sebuah taxi. Setelah mendapatkan taxi, ia langsung menuju kantor suaminya. Sesampainya di sana, semua karyawan menundukkan tubuhnya memberi hormat pada istri atasannya itu.


"Siang, Bu?" sapa Genik.


"Suami saya, ada 'kan?" tanya Dania. Dingguki oleh Genik. Setelah mendapat anggukan, Dania langsung menuju ruangan suaminya. setibanya di depan pintu, ia melihat pintu itu sedikit terbuka.


Dania mengurungkan niatnya untuk masuk.


***


"Bu?" panggil Genik. Genik melihat Dania berlari sambil menangis, Genik yang heran, langsung mengejar Dania.


Dania berhasil keluar dari perusahaan suaminya itu. Deraian air mata tak bisa ia tahan, terlalu menyakitkan jika ia teringat kejadian barusan.


...----------------...


Aku kembali pemirsah🤗


Wah, Dania kenapa, ya?

__ADS_1


tinggalkan jejak ya para readers.


__ADS_2