
Akhirnya, Leo menutup cafe pukul 22.00. Pada saat itu juga, Genik masih bersamanya. Semua kursi dan meja sudah dirapihkan, tinggal saatnya Leo menjemput sang istri di rumah sahabatnya.
Genik juga sudah berada di dalam mobilnya hendak pulang sehabis berpamitan tadi pada Leo. Dirinya melihat Leo di tepi jalan sedang menunggu taxi yang ia pesan, namun tak kunjung datang, padahal setengah jam yang lalu ia sudah memesannya. Ia juga tahu kalau Lisa meneleponnya beberapa kali, tapi pada saat ia akan menghubunginya kembali, ponsel Lisa malah tidak aktif.
Semakin cemas saja ia pada istrinya, karena Genik menawarkan tumpangan padanya, akhirnya Leo menerima tumpangan itu, karena ia tak bisa menunggu taxi pesanannya lebih lama lagi. Terlalu malam jika ia menunggu taxi itu datang.
Tak ada percakapan diantara Leo dan Genik di dalam mobil. Tapi pada saat, Genik tidak tahu tujuan Leo, akhirnya ia bersuara, menanyakan arah kemana tujuan lelaki yang ada di sampingnya itu.
"Hmm ... Kamu mau kemana?" tanya Genik sedikit ragu, merasa sedikit aneh dengan panggilan baru pada lelaki itu. Sebutan pun berubah menjadi aku, kamu. Karena Leo tak suka pada panggilan Genik dengan sebutan Bapak atau pun Tuan. Karena Leo bukan CEO seperti dulu, akhirnya Genik pun setuju dengan keinginan Leo.
"Ke rumah Darren," jawabnya tanpa menoleh kearah Genik.
"Hmm, berarti searah kalau begitu." Dengan santai, Genik mengemudikan mobilnya. Karena tahu dimana rumah bosnya tersebut. Genik tak kembali bertanya, keheningan kembali terjadi.
Ciitttt ....
Tiba-tiba saja Genik mengerem mendadak, membuat Leo tersungkur ke depan. Leo mengaduh karena dahinya terbentur.
"Maaf, Maaf. Aku tak sengaja," kata Genik merasa bersalah karena sudah membuat lelaki itu kesakitan. "Ada kucing lewat," katanya lagi.
Leo terus saja mengusap-usap keningnya. "Iya, gak apa-apa. Ini tidak terlalu sakit," jawabnya bohong. Padahal keningnya sudah benjol karena benturan itu cukup keras.
"Sini, biar saya saja yang nyetir," tawar Leo. Ia berinisiatif karena Genik kurang hati-hati. Itu pikirnya.
"Apa kamu tidak apa-apa nyetir malam-malam begini?" tanya Leo yang sudah mengambil alih kemudi itu.
"Kenapa dia bertanya seperti itu? Apa dia mengkhawatirkanku?" batin Genik.
"Ya, mau gimana lagi, aku 'kan harus tetep pulang. Terpaksa harus menyetir sendiri," jawab Genik.
Leo jadi merasa bersalah, gara-garanya Genik harus pulang selarut ini, akhirnya, Leo mengambil keputusan yang tidak diketahui Genik. Leo melewati rumah Darren begitu saja.
Genik hanya terdiam kala ia tahu mobilnya sudah melewati rumah bosnya tersebut.
"Pak. Eh, maksudku_, rumah Pak Darren sudah lewat," kata Genik salah tingkah.
__ADS_1
Leo terus saja meneruskan perjalanannya tanpa menghiraukan perkataan Genik, ia memang sengaja. Karena ia akan mengantar Genik lebih dulu, untuk memastikan gadis itu sampai dengan selamat.
Akhirnya mereka sampai di rumah Genik, tak lama Leo langsung turun dari mobil yang dikendarainya. Genik pun ikut turun dari mobil itu.
"Nah, sudah sampai. Saya pamit kalau begitu, terima kasih bantuannya untuk hari ini," ucapnya pada Genik.
Leo pun berlalu meninggalkan Genik yang masih berdiri di samping mobilnya. Setelah kepergian Leo, Genik tersadar kalau ia masih berada di luar pagar rumahnya.
Tanpa berpikir lagi ia pun masuk kedalam mobilnya kembali, lalu menuju area garasi.
Leo kerumah Darren dengan jalan kaki, karena rumah Darren tak terlalu jauh dari rumah Genik. Lima belas menik kemudian, Leo sampai di rumah sahabatnya itu.
"Sepi sekali, apa mereka sudah pada tidur?" pikir Leo. Ia langsung saja mengetuk pintu.
"Kenapa jam segini baru kesini?" tanya Dania yang baru saja membuka pintunya.
"Iya, tadi cafe rame banget," jawab Leo jujur.
"Ya sudah, ayo masuk," ajaknya.
"Tuh." Tunjuk Dania ke arah sofa. "Dia menunggumu dari tadi, aku sudah menyuruhnya tidur di kamar, tapi dia tetep ngeyel, keras kepala," kata Dania lagi.
Leo menghela napasnya dalam-dalam sebelum menghamipiri istrinya. Semenjak hamil, Lisa jadi keras kepala, bahkan jadi galak padanya.
"Kalian nginap saja di sini, bawa istrimu ke kamar," titah Dania.
Setelah berpikir, akhirnya ia menyetujui saran Dania. Leo langsung saja membopong tubuh istrinya ke dalam kamar yang sudah di kasih tahu oleh Dania. Perlahan ia merebahkan tubuh Lisa di atas kasur. "Maaf, aku telat menjemputmu," bisiknya di telinga Lisa.
Lisa yang menyadari langsung membuka matanya, ia langsung saja memeluk tubuh suaminya yang ia khawatirkan sejak tadi.
"Dari mana saja? Apa kamu tidak memikirkan aku? Aku sudah cemas! Takut kamu kerepotan di cafe." Kata-kata Lisa membuat Leo semakin gemas pada istrinya. Sikapnya yang galak ternyata masih mencemaskan dirinya.
"Iya ... Maaf," kata Leo sambil meraih tangan Lisa dan mengecupnya berkali-kali. "Malam ini, kita nginap di sini. Sudah malam, gak ada taxi."
Lisa mengangguk, mungkin suaminya juga pasti merasa lelah, seharian bekerja. Tadinya, Lisa mau mempertanyakan soal Genik yang sudah membantunya, tapi ia urungkan niatnya karena melihat lelah di wajah suaminya.
__ADS_1
Karena lelah, Leo langsung saja merebahkan tubuhnya di samping Lisa. Lisa pun ikut terbaring, ia memeluk tubuh suaminya dari samping. Mereka pun terlelap bersama.
***
"Leo sudah datang?" tanya Darren pada istrinya yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
"Hmm, aku suruh mereka menginap saja di sini. Kasian Leo, dia pasti lelah seharian bekerja," jawab Dania.
"Jadi, kamu kasian cuma sama Leo, ke aku tidak kasian? Seharian 'kan aku juga kerja?" tanya Darren dengan wajah dibuat sesedih mungkin.
Dania langsung saja menghampiri suaminya yang sedang duduk bersandar di ranjang. Ia menatap lekat-lekat wajah suaminya. Manik matanya saling beradu. Darren yang tak kuasa dengan tatapan itu, langsung saja menyambar bibir istrinya. Perlahan tapi pasti, akhirnya mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan pada malam itu.
Keesokan harinya.
Lisa terbangun lebih awal, ia langsung menatap wajah suaminya pagi itu. Menyentuh wajah suaminya dengan lembut, ia mengusap keningnya dan menyikabkan rambutnya kebelakang, ia sedikit terkejut melihat kening itu. Sedikit memar dan ada benjolan di dahinya.
Tanpa ragu, ia langsung menekan benjol itu. Seketika Leo terbangun dari tidurnya.
"Aw ... Sakit!" pekik Leo.
Seketika, Leo membuka matanya dan langsung mengusap-usap keningnya. " Ini sakit! Kamu apa-apaan sih!" kata Leo sedikit ada bentakan di nadanya.
Lisa yang takut, langsung terdiam. Entah kenapa ia bisa menekan benjol itu, padahal ia sadar bahwa suaminya pasti mengaduh kesakitan karena ulahnya.
Melihat Lisa terdiam, Leo menjadi merasa bersalah. "Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu, aku hanya kaget saja," ucapnya pada Lisa.
"Maaf, aku tak sengaja," kata Lisa menyesal.
...----------------...
Lisa-Lisa ... Othor juga pasti marah dengan kelakuanmu. Wanita hamil itu benar-benar 🤣🤣🤣🤣
Author minta dukungannya dari kalian.
Like dan komen ya? Vote juga setiap minggunya🙏🙏🙏🙏
__ADS_1