Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episode 75


__ADS_3

"Bagaimana? Apa kalian suka dengan rumah ini?" tanya Darren pada Leo dan Lisa.


Lisa mengangguk, ia begitu suka dengan rumah yang dipilihkan Darren untuk mereka. Bagaimana tidak suka, rumah itu begitu luas. Ada kolam renangnya. Bisa tiap hari berenang dan bermesraan saja pasangan bar-bar itu.


Tapi ada yang janggal dengan rumah ini. Setahu Leo, rumah ini tidak dijual. Bahkan penghuninya orang bule, mana mungkin orang bule itu menjual rumahnya, tak ingin berpikiran yang aneh-aneh, ia langsung saja bertanya pada sahabatnya itu. Lagi pula, ia takut kalau bajetnya kurang, rumah sebesar ini pasti sangatlah mahal.


Leo menarik lengan Darren, agar menjauh dari Lisa. Bukannya apa-apa, ia takut bajetnya kurang terus Lisa kecewa. Jelas terlihat wanita hamil itu sangat menyukai rumah itu.


"Berapa harga rumah ini?" tanyanya langsung.


"Untuk itu tidak usah dipikirin. Apa lo gak lihat, bini lo dah suka sama rumah ini! Tega, lo ngecewain dia," jawabnya seraya menunjuk kearah Lisa dengan wajahnya.


Suami mana yang tak ingin membahagiakan istrinya, tentu Leo sangat memikirkan perasaan Lisa. Bahkan ia sampai mencari rumah agar istrinya medapatkan kenyamanan berada di sisinya.


Wajahnya yang nampak bingung, sambil memikirkan dari mana mendapatkan uang tambahannya jika uangnya kurang.


Darren mengamati wajah Leo, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan darinya.


"Pikir apa lagi?" tanya Darren. "Untuk masalah uang tidak perlu dipikirin, buatlah Lisa bahagia." Darren menepuk bahunya seraya pergi menghampiri Lisa.


"Suamimu akan membeli rumah ini untukmu," ucapnya pada Lisa.


Lisa tersenyum manis ke arah suaminya. Sungguh bahagia Lisa saat ini, suami yang sangat pengertian. Sampai ia merasa dunia milik berdua. Yang lain hanya ngontrak.


Tak lama, si pemilik rumah menemui mereka, serah terima langsung dilakukan saat itu juga. Leo terkejut saat tahu nominal yang harus dibayarnya. Tentu semua lancar karena adanya Darren yang membantu mereka.


"Gue pamit, ya? Semoga kalian betah tinggal di sini," ucap Darren.


"Makasih, bro. Lo dah banyak bantu gue, kalau sudah ada rejeki, gue pasti ganti." Leo memeluk Darren, Darren pun membalas pelukan itu sambil menepuk punggungnya.


Darren hanya tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya, lalu ia pun pergi meninggalkan rumah itu. Kini hanya ada Leo dan istrinya.


"Kamu tahu, yang bikin aku mau tinggal di sini?"


Leo menggeleng.


"Agar aku bisa melihat tumbuh kembang anak kita. Lihatlah, bahkan rumah yang ditempati Dania cukup jelas dari sini." Lisa menunjuk ke arah luar lewat jendela.


"Kamu sudah memikirkan ini matang-matang?" tanya Leo.


"Hmm, aku akan memberikan hak asuh anakku pada Dania, aku juga ingin melihat ia bahagia, anak ini akan menghangatkan keluarga mereka," ucapnya seraya menyentuh perutnya yang mulai membuncit. "Tapi ada syaratnya," ucapnya kembali.

__ADS_1


Leo langsung menoleh ke arah istrinya, membuatnya sedikit bingung, kenapa istrinya memberi syarat.


"Aku ingin, merahasiakan jati diri kita pada anak yang akan diasuh oleh Dania. Aku tidak mau kalau sampai anak ini beranggapan aku membuangnya. Kamu ngertikan maksudku?"


Tentu Leo juga tak ingin anaknya membencinya, biarkan anaknya juga bahagia bersama Dania.


"Berarti itu artinya, jangan sampai mereka tahu kalau mereka saudara kembar? Itu maksudmu?"


Lisa mengangguk, walau sakit yang ia rasa, tapi itu jauh lebih baik.


***


"Sayang ... Aku pulang," sahut Darren yang baru saja tiba di rumahnya.


"Daddy?" panggil Syiera. "Apa Tante bayi sudah pindah?" tanya Syiera antusias.


"Hmm, mereka ada di sana," jawabnya sambil menunjuk rumah yang letaknya tak jauh dari rumahnya.


"Aku mau ketemu Tante bayi, dad."


"Besok saja, kasian Tante bayinya. Pasti mereka cape, mereka juga lagi sibuk," jawabnya. "Momy mana?" tanyanya kemudian.


"Daddy mau menemui Momy dulu, ya?"


Setibanya di kamar, Darren mendapati istrinya yang tengah meringkuk. Perlahan ia menghampiri tubuh mungil istrinya. Ditatapnya wajah teduh itu.


Ada rasa kasihan jika melihatnya seperti itu. Pasti sulit baginya, ia tahu kalau istrinya itu sangat menginginkan anak.


"Maafkan aku sayang," ucapnya sambil mengusap lembut rambutnya. "Maaf, aku tak bisa menjagamu dengan baik. Andai waktu bisa terulang, tentu aku akan selalu berada di dekatmu."


Dania terbangun dari tidurnya, karena ia merasa ada yang menyentuhnya. Perlahan bibirnya melukiskan senyuman, karena ia melihat suaminya yang berada di dekatnya.


"Apa semuanya sudah beres?" tanya Dania. Ia menanyakan perihal rumah yang akan dibeli oleh Leo. Sebenarnya itu rencananya, ia meminta pada suaminya agar Lisa bisa tinggal di rumah itu. Apapun caranya ia memohon pada suaminya. Ia hanya tak ingin memisahkan Lisa dengan anaknya, karena ia terlanjur menerima bayi yang akan diberikan padanya. Syarat yang di ajukan Lisa sudah ia sepakati, dalam hati kecilnya, sebenarnya ia tak ingin mengambil hak asuh atas anak itu. Walau bagaimana pun ia tahu Lisa pasti bersedih terpisah dengan anaknya. Maka dari itu, ia sangat memohon pada suaminya agar Lisa bisa menempati rumah itu.


Akan mudah bagi suaminya, mengerus yang menurutnya tidak terlalu berat, karena Darren memiliki semuanya, dalam sekejap semua pasti beres.


Hari ke hari, bulan ke bulan. Waktu begitu cepat berlalu.


Di rumah sakit.


"Lisa ... Tenangkan dirimu, aku yakin operasinya psati lancar." Dania terus menemani Lisa.

__ADS_1


Tapi, kemana Leo. Sedari tadi ia tak melihatnya.


Di kantin rumah sakit.


"Mau sampai kapan di sini terus?" tanya Darren. Ia sudah kehabisan akal membujuknya untuk segera ke ruangan operasi, dimana ada Lisa yang akan menjalani sesar.


Bukannya tak ingin menemani sang istri, Leo begitu takut dengan jarum, apa lagi ia melihat alat medis yang lainnya, seperti gunting dan yang lainnya.


"Hey, yang mau di operasi itu bini lo, kenapa lo yang takut sih!" kesal Darren.


"Gua bukan takut! Gue cuma ngeri. Apa lagi harus melihatnya secara langsung," kilahnya.


"Cemen banget sih! Kalau lo gak mau menemin bini lo. Gua ambil anak lo dua-duanya," ancam Darren penuh keyakinan.


Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan. Mana mungkin ia rela memberikan keduanya pada sahabatnya itu. Tanpa berpikir lagi, Leo langsung beranjak dari tempatnya. Menuju langsung ke ruang operasi.


Setibanya di sana.


Leo mendapat pukulan dari Dania, ia memukul tubuh Leo dengan tas yang dipegangnya.


"Dasar, kemana saja kamu? Bukannya di sini! Ini malah kabur. Gak sayang istri? Hah?" Terus saja ia memukul Leo.


"Ampun ... Ampun. Iya maaf," sesalnya. "Maaf ya, sayang?" ucapnya pada Lisa.


Lisa menghela napasnya dalam-dalam, sebentar lagi ia akan berjumpa dengan kedua anaknya. Jantungnya mulai berdegub kencang, saat suster menyuntikkan cairan melalui punggungnya.


Operasi berjalan lancar. Hingga pada saatnya, terdengar suara tangisan bayi.


...****************...


Maaf untuk readers yang menginginkan Dania hamil, othor gak bisa kabulin, karena othor udah siapkan cerita baru. Untuk kisah anak-anak mereka.


Kalau othor kabulin Dania hamil terus punya anak, kehaluan othor untuk bikin novel baru akan berantakan. Maaf sekali lagi 🙏🙏🙏🙏


Mohon pengertiannya. Di tunggu ya? Novel baru othor. Othor kasih tahu judulnya dulu untuk sekarang.



Semoga terhibur, ya? Tapi ini belum publis, mungkin setelah cerita Terpaksa menikahi pelacur selesai.


Sekali lagi maaf.

__ADS_1


__ADS_2