Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 25


__ADS_3

Setelah merasa baikan, Dania mulai aktif kembali. Dimana setiap pagi ia mempersiapkan sarapan untuk keluarganya.


Sementara Darren masih terpejam dari tidurnya, pada saat ia meraba-raba ke samping kirinya. Ia tak mendapati istrinya di sana. "Dania dimana?" ujarnya sambil mengucek kedua matanya dengan tangannya.


Lalu ia turun dari kasurnya yang berukuran king size itu. Ia mencari dimana keberadaan istrinya. Dari kejauhan ia memperhatikan Dania hingga senyum itu tersimpul dari kedua bibirnya.


"Hayo ... Lagi ngapain?" tanya Syiera mengejutkan ayahnya. "Daddy, ngapain ngelatin Momy? Momy cantik 'kan, dad?" Dengan replek Darren pun mengangguk.


Syiera tertawa begitu nyaring, sampai Dania menoleh kearah dimana suara tersebut. Tanpa Dania sadari ia pun ikut tersenyum melihat tingkah konyol mereka. Lalu Dania menggelengkan kepalanya. "Pagi-pagi sudah bercanda," ujarnya sambil mengiris sayuran yang hendak di masak pagi ini.


"Mom?" panggil Syiera.


"Ya, ada apa, sayang?" jawab Dania.


"Momy cinta ga sama daddy?" Pertanyaan Syiera membuat Dania menghentikan aktifitasnya, ia menatap anak itu sambil menaikkan kedua alisnya.


"Anak kecil jangan tahu dulu soal cinta!" Dania memposisikan tubuhnya seperti semula.


Darren lebih memilih tidak beranjak dari tempatnya, ia terus memandangi Dania. Melihat kedua wanitanya yang sedang asyik berada di dapur. "Terima kasih Tuhan. Engkau telah mengirimkan Malaikat untuk putri kecilku, gumam Darren dalam hati.


"Daddy! Ngapain masih berdiri di situ? Sini!" Teriak Syiera.


Lalu Darren menghampiri mereka. Ia melihat Dania begitu sibuk, bahkan ia bari sembuh sudah harus mengurus rumah tangganya.


"Aku akan meminta satu asisten Momy untuk membantumu di sini," kata Darren pada Dania.Tapi Dania tak menjawab bahkan menoleh pun tidak.


"Apa kamu masih marah padaku?" tanyanya kembali. Masih tak ada jawaban darinya, hingga Darren terus membuntuti kemna Dania pergi.


Karena merasa risih mau tak mau Dania pun bersuara. "Apa kamu tidak ada kerjaan selain menggangguku?" ucapnya sambil berkacak pinggang di hadapan suaminya.


Namun Darren malah melihatnya dengan gemas. Bibirnya yang mungil terlihat lucu jika sedang cemberut seperti itu. Kalau tak ada Syiera mungkin Dania menjadi santapannya pagi ini.


"Dari pada berada di sini tidak jelas, mending mandi sana! Bau," sahutnya sambil menjepit hidungnya sendiri. Syiera terkekeh melihat kelakuan orang tuanya. Lalu Dania.pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Sementara Darren menghirup memciumi aroma tubuhnya sendiri di bagian ketiak. "Ah, mana ada aku bau," ucapnya.


"Iya, lebih baik daddy mandi dulu," sahut anaknya yang sedang menertawakannya bersama istrinya. Tapi di balik itu Darren senang melihat Dania tersenyum kembali. Walau belum sepenuhnya, tapi setidaknya ada kamajuan.


Darren pun pergi seseui perintah istrinya. Dia segera mandi secepat mungkin, karena ini memang sudah agak siang. Walai ini hari weekend bukan berarti dia malas-malasan. Rencananya ia akan mengajak Dania dan anaknya pergi jalan-jalan. Walau belum tentu Dania mau menerima ajakannya. Tapi ia akan berusaha semampunya, tentu tidak akan luput tanpa bantuan anaknya.


Setelah merasa bersih dan rapi ia kembali menemui Dania yang sedang berada di ruang makam bersama Syiera. Dengan Karren jangan ditanya, setiap pagi ia sudah tidak ada. Hingga Dania tidak pernah menanyakan keberadaannya lagi. Setiap Dania bertanya pada Karren pasti jawabannya sama, ia pasti menjawab habis menjenguk sahabatnya yang berada dalam tahanan. Dania sedikit curiga akan hal itu. Dania merasa orang yang berada di penjara itu adalah orang spesial ibu mertuanya.


Dania melihat kearah suaminya, Darren sudah terlihat tampan dengan tampilannya pagi ini. Namun walau begitu Dania tak mau membuat suaminya itu menjadi besar kepala. Setelah sampai di depan mereka, dengan pedenya Darren berkata.


"Bagaimana? Aku sudah terlihat tampan, bukan?" Bisiknya di pendengaran Dania. Dania bergidik sambil menggelengkan kepala, merasa geli akibat hembusan napas suaminya yang terasa di balik telinganya.


Darren pun mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan untuk sarapan pagi ini. Ia mengambilkan nasi berserta lauknya, ia berikan pada istrinya. Sekarang ia yang melayani Dania.


"Daddy, kenapa aku tidak diambilkan," ujar Syiera sambil cemberut dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Momy ambilkan, jangan cemberut. Nanti cantiknya hilang," goda Dania.


Darren mengacak rambut anaknya gemas. "Mana mungkin seperti itu, daddy sayang Syiera, kok." Lalu Darren mencium pipi putri kecilnya itu. Dania melihatnya bahagia kearah mereka.


"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Darren pada Dania. Dania hanya mengangguk tanpa melihat kearahnya. "Maafkan aku, ya?" Darren sambil menyentuh pundak Dania yang duduknya kini berada di sampingnya.


"Daddy, kalau lagi makan itu, jangan banyak bicara." Darren tersenyum mendengar anaknya yang kini sudah mulai mengerti mana yang boleh dan mana yang tidak.


"Baiklah," jawabnya sambil meneruskan makannya.


***


Darren memeluk istrinya dari belakang. Dania yang terkejut di buatnya pun langsung membalikan tubuhnya. "Kamu tidak lihat aku sedang apa, hah?" Karena Dania sedang merapihkan tempat tidur mereka yang seperti kapal pecah.


"Iya, aku tahu," jawabnya yang masih memeluk Dania.


"Kalau sudah tahu, ayo lepaskan." Dania mencoba melepaskan pelukan suaminya yang kini saling berhadapan. Tapi hasilnya nihil tenaga Darren lebih kuat darinya.

__ADS_1


"Siang ini aku mau mengajakmu pergi jalan-jalan, kamu mau 'kan?" tanya Darren.


Dania melihat di kedua mata suaminya mencari tahu apa niat di balik semua ini. "Kenapa? Apa kamu meragukan 'ku?" tanya Darren kembali. Darren hanya ingin melihat Dania bahagia berada di dekatnya.


"Aku tidak janji," jawab Dania. "Lepaskan, aku belum selesai membereskannya," ucap Dania kembali. Darren pun melepaskan sesuai keinginan istrinya.


"Aku mau menemui Syiera dulu kalau begitu. Aku mau menyuruhnya untuk siap-siap." Darren langsung pergi meninggalkan Dania yang sedang melanjutkan beberes kamarnya.


***


"Hore ... Daddy serius 'kan?" tanya Syiera sambil melompat-lompat di atas kasurnya.


"iya Daddy serius. Ayo cepat siap-siap," suruh Darren. Syiera senang bukan main. Pasalnya ia sudah lama tak pergi jalan-jalan bersama kedua orang tuanya. Apa lagi Syiera belum sempat piknik bersama ibunya.


Darren pun pergi menemui istrinya kembali, namun pada saat ia menemuinya, Dania sedang berdandan di depan cermin. Dania melihat sumainya datang menghampiri.


"Sudah cantik," kata Darren sedikit merayu. Tapi Dania masih enggan untuk tersenyum padanya. "Jangan marah terus, dong!" Darren mengatupkan kedua tangannya memohon.


Lalu Dania beranjak dari tempat dudukknya. Dengan cepat Darren menarik tangannya dan mendekap tubuh istrinya. "Kumohon! Jangan seperti ini." Darren mengeratkan pelukkannya.


Dalam hati, sebenarnya Dania ingin tertawa betapa lucunya Darren mendekatinya berbagai cara. Membujuknya supaya tidak marah lagi padanya.


Dania akan menghukum suaminya dengan caranya, ingin tahu seberapa besar cinta suaminya padanya.


_


_


_


**Selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga puasanya dilancarkan hari ini🤲🤲


Jangan lupa tinggalkan jejak. Vote juga ya setiap minggunya😘😘**

__ADS_1


__ADS_2