
Dania melepaskan pelukan suaminya. Karena merasa dingin karena ia tak memakai baju, hanya bra itu saja yang menutupinya. Darren membiarkan istrinya terlepas, ia juga merasa kasihan melihatnya. Pasti dingin karena cuaca mulai meredup.
"Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan atau, yang kamu inginkan?" tawar Dania pada suaminya.
Darren menggelengkan kepalanya, berkata bahwa tak ada yang diinginkannya saat ini. "Aku mau mandi saja kalau begitu," ujarnya sambil beranjak dari tempat duduknya. Dania terseyum menanggapi.
Darren pun kini sudah selesai mandi. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang ia pegang saat ini. Dania melihat kearahnya, dan tersenyum.
"Biasa aja liatnya. Aku tampan, ya?" ucapnya sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Dania terbahak mendengarnya. "Aku baru tahu kalau dia tak sedingin waktu bertemu, ternyata ini loh sosok suamiku," gumam Dania dalam hati. "Iya ... Suamiku memang tampan." Dania seraya menghampirinya dan melingkarkan kedua tangannya di pundak suaminya.
Tak lama Dania mendengar suara perut suaminya bersuara, menandakan bahwa ia tengah lapar saat ini. Dania arahkan telinganya dan ia tempelkan pas di bagian perut suaminya itu. Ingin memastikan pendengarannya benar atau tidak. Namun Darren menghilangkan kecanggungannya dengan bersanandung sambil melipir pergi. Dania tetap mencoba mendengarkan perut suaminya, tak ada suara. Pas ia tengok ternyata suaminya sudah tak ada, bahkan posisi Dania masih menunduk.
Dania menghentakan kakinya, ia merasa tertipu oleh suaminya itu. Dengan rasa jengkel ia menghamipiri suaminya kembali, yang saat ini sedang memakai baju. Dania menghela napasnga sejenak.
"Nyebelin, ih ... Tadi 'kan aku mau memastikan, benar gak yang aku dengar. Kamu laper, ya?" tanya Dania sambil tertawa.
"Iya, punya istri gak peka." Darren mendaratkan bokongnya di sofa yang berada di sudut ruangan. Dania terkekeh melihatnya. Merasa lucu jika suaminya seperti itu. 'Benar-benar luar dugaan.'
"Baiklah ... Aku akan memasak untuk kita makan malam," ujarnya sambil melangkah kearah dapur.
***
Sementara Leo, ia sedang berada di kamar yang ia sewa juga. Tanpa sepengetahuanya, ternyata kamar meraka tak jauh. Hanya terhalang beberapa kamar saja.
Saat ini ia tengah merencanakan sesuatu, agar rencana Darren saat ini berantakan. 'Tapi bagaimana caranya,' tak lama perempuan yang bersamanya saat ini menghamipirinya. Hingga satu ide muncul di otaknya, ia bisa menyuruh wanita ini untuk mendekati Darren bukan?
"Aku ada kerjaan untukmu, kalau kau berhasil. Aku pastikan kau akan mendapatkan bonus yang besar dariku." Wanita itu malah bergelayut manja padanya. Karena wanita itu adalah wanita panggilannya.
"Beri tahu saja, apa yang harus aku lakukan?" ujarnya sambil menciumi wajahnya.
"Nanti 'ku beri tahu kalau kita bertemu dengannya." Pasalnya Leo belum tahu keberadaan sahabatnya itu. Sahabat yang ternyata membencinya selama ini.
__ADS_1
***
"Ayo, kita makan?" ajak Dania pada suaminya. Ia baru selesai memasak dan menatanya di atas meja. Namun tak mendengar jawaban dari suaminya, ia pun menemui suaminya. Yang ternyata Darren malah tertidur dalam keadaan duduk dan kepala tersandar di sandaran sofa.
Dania mengelus pipi suaminya yang mulus, ia mencoba membangunkannya. Darren langsung membuka matanya, kala ia merasa ada yang menyentuh wajahnya. Darren langsung menarik tubuh istrinya, hingga Dania terjatuh tepat di pangkuannya.
"Geli ...," kata Dania. Karena Darren menciumi ceruk leher istrinya. "Ayo kita makan, katanya laper," ujarnya kembali.
"Aku mau makan kamu saja, deh." Dania tergelak mendengarnya.
"Ayo cepat! Aku juga dah laper." Dania bangkit dari posisinya.
Kini mereka tengah makan berdua. Darren menikmati masakan istrinya itu. "Masakan istriku memeng juara," ucapnya di sela-sela kunyahan pertama.
"Aku seneng kalau kamu suka masakanku," sahut Dania.
Dan mereka pun sudah selesai makan.
"Keluar, yuk?" ajak Dania.
"Tapi aku mau menikmati suasana pantai. Ini belum malem, ko. Baru jam delapan." Dania melihat jam yang menempel di dinding.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama, ya. Ayo kalau begitu," ajak Darren sambil meraih tangan istrinya.
Mereka pun berjalan sambil berpegangan tangan. Tangan keduanya sambil di ayunkan kedepan dan kebelakang. Mereka tak menyangka bahwa rumah tangganya ada kemajuan sedikit demi sedikit jadi lebih baik. Darren pun tak pernah membahas masalah perjanjian yang ia inginkan dulu.
Disaat itu pula Leo melihat Darren dan Dania. Leo terus membuntuti kemana pun mereka pergi. Hingga Dania dan suaminya yang kini sudah berada di tepi pantai.
Dania menghirup udara malam, ia merasa ada ketenangan batin berada di pantai. Bersama orang yang di cintainya ia bahagia.
"Kamu suka pantai, ya?" tanya Darren, sambil melihat ke arah istrinya. Dania yang sedang memejamkan matanya pun mengangguk.
"Hmm, aku suka pantai. Dulu aku sering ke pantai sewaktu masih sekolah dulu. Tapi setelah kepergian orang tuaku, hidupku jadi seperti ini," ucapnya menjadi sedih.
__ADS_1
Darren yang mengetahuinyan pun langsung menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya. "Jangan sedih lagi. Mulai saat ini kamu tidak boleh bersedih atau pun menangis. Aku akan membahagiakanmu." Darren mengeratkan pelukannya. Dania pun tak kalah membalasnya.
***
"Kamu lihat dua orang itu." Tunjuk Leo pada wanita yang bersamanya saat ini. Dan wanita itu pun mengangguk.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya wanita itu yang bernama Lisa.
"Ko, aku kaya kenal ya sama wanita itu," gumam Lisa dalam hati. Tapi ia tak berani untuk mengatakannya pada Leo. Lisa tahu siapa Leo, bahkan ia bisa saja menjadi korban kalau ia tak berhasil dengan keinginan Leo.
"Kamu dekati lelaki itu. Buat mereka salah paham, agar mereka bertengkar," titah Leo pada Lisa. Lisa mengangguk mengerti. Tapi dalam pikirannya ia ingin melihat lebih dekat siapa wanita yang bersama lelaki itu.
"Mereka suami istri. Dan lelaki itu sudah membuat wanitaku meninggal," kata Leo memberitahu Lisa. Tapi Lisa tak percaya begitu saja pada omongan Leo.
***
"Aku mau ke toilet sebentar," ijin Dania pada suaminya.
"Aku antar, ya?" Darren menawari.
"Kamu tunggu saja, gak usah ikut!" Dania pun pergi meninggal suaminya di tepi pantai.
Saat perjalan ke toilet, Dania melihat sosok lelaki yang tak asing baginya. "Sedang apa dia, itukan Lisa," gumam Dania. Tapi ia terus melanjutkan perjalanannya. Ia pura-pura tak melihat keberadaan Leo dan Lisa.
Dania mengenal Lisa, karena dulu ia sempat bertemu di club. Sebelum Madam Rosa memindahkannya ke club lain. Karena Lisa selalu membantah perintah Madam Rosa.
Setelah selesai dari toilet, Dania kembali menemui suaminya. Namun pada saat itu pula ia melihat Darren sudah bersama Lisa. "Jadi ini rencanamu Leo. Aku ikuti permainanmu Leo," gumam Dania. Dania sempat curiga dengan keberadaan Leo bahkan ia masih ingat dengan kejadian di mana Darren salah paham padanya. Dania berpikir ada yang tidak beres dengan persahabatan mereka.
"Darren ...," teriak Dania sambil menghentakkan kakinya.
Darren pun terkejut melihat istrinya sudah kembali. "Aku bisa jelaskan, ini tidak seburuk yang kamu kira." Dania melihat suaminya tengah memeluk Lisa. Dan Dania yakin ini sudah direncanakan Leo.
Dania membisikan sesuatu pada Lisa setelah menghampiri suaminya.
__ADS_1
Bersambung.
Tinggalkan jejak ya para teaders.😘😘😘