Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episode 76


__ADS_3

Tangisan bayi itu terdengar sampai keluar, membuat Dania dan suaminya langsung saling lempar pandang. Dania bernapas lega.


"Sayang, bayinya sudah lahir," kata Darren antusias. Sudah tak sabar ingin melihat bayi kembar itu, pasti lucu.


Tak lama, Suster membawa bayi itu keluar dari ruang operasi. Dilihatnya bayi yang berada dalam box melintas depan mereka.


"Sus, bayinya perempuan apa laki-laki?" tanya Dania pada suster yang mendorong box bayi itu.


"Bayinya sepasang," jawab Suster.


Bayi yang dilahirkan Lisa berjenis kelamin perempuan dan laki-laki. Dania melihat bayi itu sekilas, sangat lucu dan menggemaskan. Bayi itu pun langsung dipindahkan ke ruang khusus bayi.


"Lucu," kata Dania gemas.


kira-kira, Lisa akan memberikan yang mana, laki-laki, apa perempuan. Ah ... Ini pasti akan sulit baginya, secara, inikan anak pertama mereka. Pikiran Darren menjadi cemas, apa jangan-jangan mereka tidak jadi memberikan salah satu dari bayi itu. Bergelut dengan pikirannya sendiri sampai-sampai dirinya menyimpulkan itu terjadi.


Dania menepuk pundak suaminya, karena dilihatnya dari tadi ia terus melamun.


"Ngelamunin apa sih?" tanya Dania membuat Darren terkejut.


"Bikin kaget saja," jawabnya seraya menyentuh dadanya yang berdegup kencang.


"Mikirin apa?" tanyanya lagi.


Tidak mungkin ia bilang kalau Darren takut kalau Lisa tidak jadi memberikan anaknya padanya bukan. Sejak awal, Dania tidak setuju kalau Lisa memberikan anaknya padanya. Bisa marah, kalau Dania tahu suaminya begitu berharap akan kehadiran bayi itu dalam hidupnya.


"Mending kita lihat bayinya, yuk?" ajak Darren mengalihkan pertanyaan istrinya. Dania langsung mengangguk, ia pun ingin melihat bayi itu lebih dekat.


"Lihat, cantik bukan?" tunjuk Dania pada bayi yang memakai bandana.


"Yang itu terlihat tampan," tunjuk Darren pada bayi di sebelahnya lagi.


Dania meneteskan air matanya, air mata itu mengalir dengan sendirinya. Andai ia bisa hamil dan melahirkan, tentu ia akan bahagia sekali.


Darren langsung saja menghapus air mata yang membasahi pipi istrinya, ia juga menarik lembut tubuh istrinya ke dalam dekapannya.


Sesekali ia mencium pucuk rambut istrinya, sebisa mungkin ia menenangkannya. Darren rasa akan sulit bagi istrinya melupakan dimana saat istrinya keguguran. Kehilangan bayi yang amat dinantikan di tengah-tengah keluarganya.


***


Setelah selesai operasi, Leo tak melepaskan pegangan tangannya dari genggaman istrinya, bahkan istrinya sudah tertidur pun ia tak melepaskannya. Ia akan menunggu istrinya bangun, walau suster sudah mengatakan kalau Lisa akan bangun 3 jam kedepan.

__ADS_1


Karena lelah, Leo pun ikut tertidur di samping istrinya. Duduk di sebelahnya.


"Pasien belum sadar, sus?" tanya Dania. Ia kembali ke tempat tadi, dimana Lisa menjalani operasinya.


"Sudah, hanya saja sekarang lagi tidur," jawab suster. "Ada suaminya juga di dalam," kata suster itu lagi.


Akhirnya, Darren dan Dania putuskan untuk mencari makan, karena sudah waktunya makan siang, ia akan kembali jika Lisa sudah bangun dari tidurnya.


Di restoran


"Sayang, menurutmu ... Lisa akan memberikan, hak asuh anaknya apa tidak? Ini pasti sulit baginya?" tanya Darren disela-sela makannya.


"Sebenernya, aku tidak begitu mengharapkan kehadiran bayinya. Aku membantu mengurusnya saja sudah ikut bahagia. Aku yakin, jauh dilubuk hatinya pasti Lisa tidak rela, ibu mana yang mau dipisahkan dari anaknya. Bayangin ... Lisa sudah bilang padaku kalau salah satu anaknya tinggal denganku, aku harus merahasiakan bahwa mereka terlahir kembar."


"Kenapa harus dirahasiakan?" tanya Darren. Ia tak percaya kalau Lisa sebegitunya, sampai-sampai ia tak ingin anaknya tahu kalau dia ibu kandungnya. Apa benar kata istrinya itu, kalau sebenarnya Lisa tak rela kehilangan bayinya. Ah, bisa saja memang begitu. Kalau ia ada diposisi Lisa, ia juga tak akan rela anaknya diberikan pada orang lain.


Kini Lisa sudah terbangun, bahkan ia sudah dipindahkan di ruang rawat. Bayi kembarnya sudah berada di sampingnya.


"Sus, boleh saya minta tolong?" pinta Lisa. "Saya mau, akte kelahiran bayi ini, orang tuanya atas nama Darren dan Dania."


Suster itu malah terdiam, apa ia tak salah dengar dengan permintaan pasien. Kenapa harus nama yang berbeda, tak ingin ikut campur, suster itu pun mengangguk.


"Yang laki-laki saja, sus," jawabnya mantap.


"Kamu yakin?" tanya Leo.


"Aku sudah yakin, aku sudah memikirkan ini matang-matang. Ingat! Aku tidak mau kalau mereka tahu bahwa mereka saudara. Aku gak mau kalau anak ini besar akan membenciku dan membenci Dania juga." Tangis yang pendam Lisa akhirnya pecah. Ia terisak.


Dania yang mendengar isi hati sahabatnya itu pun ikut menangis.


"Lisa," lirih Dania. "Aku tidak mengharapkan bayimu. Tapi aku akan ikut merawat bayimu tanpa harus memilikinya," kata Dania diiringi isak tangis.


Darren dan Leo ikut menangis, menyaksikan keharuan diantara 2 sahabat itu.


"Biarkan aku tanggung jawab atas kesalahanku padamu Dania, biarkan anakku tinggal bersamamu. Jadilah orang tuanya, aku ikhlas," lirih Leo.


Dania tak bisa menjawab ucapan Leo, memang benar itu adanya, ialah penyebabnya, orang yang telah menghancurkan masa depannya. Tapi Dania tak mau egois, ia tak bisa menerima anak itu begitu saja meski dipaksa oleh Leo. Dania hanya memikirkan perasaan Lisa, sahabatnya.


Justru, ia takut. Kalau nantinya akan ada perang sodara antara dirinya dan Lisa. Ia takut kalau Lisa ikhlas di bibir saja, lain di hati. Ia melihat ke arah Lisa, mentapnya lekat-lekat. Mencari sebuah keikhlasan dari ucapan Leo barusan.


Lisa.mengagguk pelan, seolah ia menyerah bayinya.

__ADS_1


"Lisa ... Pikirkan ini matang-matang, aku gak mau kamu menyesal dikemudian hari."


"Aku sudah mantap, Nia. Biarkan suamiku menanggung atas dosanya, dia selalu dihantui rasa bersalahnya padamu."


"Tapi bagaimana denganmu? Apa kamu tidak takut dengan rencanamu?" tanya Dania serius, mengenai rencana Lisa yang kekeh ingin menyembunyikan siapa ibu kandung dari bayi itu.


"Apa itu tidak akan menyakiti anakmu nantinya? Bagaimana kalau anakmu nanti tahu?" sambungnya lagi.


"Tidak akan tahu kalau tidak ada yang memberi tahunya," pungkas Leo.


Kini Dania tak bisa berkata-kata lagi. Ia akan menerima anak itu dengan lapang dada.


"Terserah kalianlah," pasrahnya.


Sulit bicara dengan orang keras kepala seperti mereka.


"Jadi, siapa namanya?" tanya Darren, soal nama bayi itu. "Laki-laki, apa perempuan yang akan kalian berikan pada kami?" tanyanya lagi.


Dania menyikut perut suaminya.


"Kenapa bertanya seperti itu?" bisiknya


"Rawatlah anak laki-laki, kalau perempuan 'kan ada Syiera," Lisa yang menjawab.


Lisa benar-benar menyempurnakan kebahagiaan sahabatnya. Pikirnya juga ia tak kehilangan anaknya, rumah mereka bahkan tetanggaan. Ia masih bisa ikut merawatnya juga.


"Lisa ... Aku harap keluargamu juga bahagia ya? Terutama untuk mu, Leo. Jaga Lisa, jangan menyakitinya."


"Bicara apa kamu ini? Tentu aku menyayangi keluargaku. Menyakiti Lisa, itu tidak mungkin! Untuk masalah nama bayinya, aku serahkan pada kalian saja."


Dania berjalan menghampiri kedua bayi itu. "Anak-anak kalian sangat lucu, aku gemes." Ia menggendong bayi laki-laki yang akan menjadi anaknya.


"Aku beri namanya Damian," ucapanya sambil mencium bayi itu.


...----------------...


Hay para readersku yang masih setia menunggu, terima kasih sudah mengikuti ceritaku sampai di bab ini. Tanpa kalian othor bukan apa-apa. Terus dukung cerita author ini, ya?


Like, komen, dan vote-nya jangan lupa.


Terima kasih. 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2