
Syiera langsung saja turun dari mobilnya, hendak menegur OB yang membuatnya kesal tadi pagi. Namun pada saat itu juga matanya tak sengaja melihat sesosok yang tak asing baginya. Bingung antara memilih yang mana? Yang satu bikin kesel, yang satunya lagi ia rindu karena sudah beberapa hari ini sulit dihubungi.
Rindu memang lebih berat, jadi ia memilih menghampiri yang dirindukannya.
"Alex?" panggilnya.
Alex pun menoleh. "Syiera, ngapain di sini?"
"Harusnya aku yang tanya, ngapain kamu di sini?" Lalu Syiera melihat ke arah mobilnya, terlihat bannya yang kempes. Ia melihat sekeliling, tak ada bengkel terdekat di sana. Jadi ia putuskan untuk mengajaknya pulang bersama, soal mobil, gampang. Ia bisa menyuruh montir langganannya.
"Kenapa sulit sekali menghubungimu?" tanya Syiera yang sudah berada di dalam mobil.
Bingung mau jawab apa, akhirnya Alex memilih untuk menepi. Setelah menepi, akhirnya ia bicara.
"Maafkan aku Syiera, sepertinya hubungan kita sampai di sini," lirih Alex. Ia tak bisa lama lagi mempertahankan Syiera. "Maafkan aku," ucapnya lagi.
Syiera begitu syok mendengar keputusan Alex yang mengakhiri hubungannya tiba-tiba. Tapi kenapa? Apa masalahnya? Syiera terdiam sejenak. Hatinya mendadak sakit, dadanya begitu sesak. Pasalnya ia begitu mencintainya, tak ada masalah dengan hubungan mereka semuanya berjalan dengan normal. Apa ini sebabnya hingga Alex susah dihubungi.
Alex meraih tangan Syiera, Syiera hanya terdiam tanpa menolak atau pun protes apa yang dilakukannya saat ini. Tak terasa jatuh air matanya.
"Syiera ... Aku yakin, kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dariku."
Syiera menatap wajah yang selama ini membuatnya selalu tersenyum. Tapi sekarang, kenapa wajah itu merubahkan semuanya, membuatnya benci. Benci jika melihatnya karena cintanya begitu kuat untuknya.
"Syiera?" Namun ia tak bergeming.
"Beri alasan yang pasti untukku! Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Syiera sambil terisak.
Tak tega melihat gadis yang dicintainya itu menangis, Alex menghapus air mata Syiera yang terjatuh membasahi pipinya.
Sebelum tangan itu menyentuhnya, Syiera lebih dulu menepis tangan itu, ia tak bisa jika lelaki yang telah menyakitinya itu menyentuhnya.
Alex terdiam, ia tak menyangka kalau kekasihnya itu menepis tangannya. Ah tapi sepertinya Alex lupa, baru saja ia mengakhiri hubungannya. Tapi ia juga tak ingin Syiera seperti ini. Ia tetap ingin berteman baik dengannya walau dengan status yang berbeda.
"Aku tak pantas untukmu," jawab Alex.
"Apanya yang tak pantas? Selama ini, kamu baik padaku. Aku bahagia berada didekatmu!" Sebelum melanjutakan ucapanya, ia menarik napas dalam-dalam. "Apa ada wanita lain di hatimu?" tanya Syiera.
Tak terima dengan dugaannya, Alex malah menarik tubuh Syiera ke dalam pelukannya dengan cepat, sampai Syiera tak bisa menahan itu. Kini malah Alex yang terisak, dan itu membuat Syiera menjadi bingung.
__ADS_1
Syiera melepaskan pelukan Alex.
"Kenapa kamu malah menangis?"
"Karena aku mencintaimu!"
"Kalau kamu mencintaiku, kenapa mengakhiri hubungan kita? Apa salahku? Jawab!" Syiera menguncangkan tubuh Alex melalui kedua pundaknya.
Tak bisa menjawab, Alex kembali menarik tubuh Syiera, namun ditahan oleh Syiera. Ia tak bisa diperlakukan seperti ini, ia tak tahu letak kesalahannya dimana.
"Aku mohon! Jelaskan padaku, agar aku bisa menerima perpisahan ini," lirih Syiera. "Aku tak bisa terima kamu mengakhiri hubungan kita tanpa permasalahn yang jelas!" Emosinya mulai tak teratur.
Pertanyaannya menyudutkan Alex, Alex bingung. Mana mungkin ia mengatakannya pada Syiera, mau ditaro dimana mukanya jika Syiera tahu yang sebenarnya.
"Maafkan aku." Hanya kata itu yang terucap.
"Apa yang kamu sembunyikan?" gumam Syiera dalam hati. Sepertinya ada yang tak beres dengan Alex hari ini. Tapi jika dibiarkan, Syiera tak terima diputusin gitu aja.
"Apa kita jadi putus?" tanya Syiera. "Pergilah, dan jangan nampakkan lagi wajahmu, aku tak sudi!" Dengan was-was Syiera ucapkan itu, padahal ia sangat takut berpisah dan selamanya tak bertemu lagi dengannya. "Ya Tuhan ... Jangan sampai Alex jawab iya." Mulutnya terus komat-kamit membaca doa, semoga doanya terkabul.
"Berat jika harus berpisah," jawab Alex.
Namum Alex menggeleng. Syiera yang tahu akan jawabannya, ia tersenyum tipis.
"Jangan pernah mengakhiri hubungan ini," ucapnya sambil meraih tangan Alex. Dan mereka berpelukan. "Aku mencintaimu Al. Sampai kapan pun aku akan tetap mencintaimu." Peluknya begitu erat pada Alex.
"Apa pun yang terjadi, kamu akan tetap mencintaiku?" tanya Alex tanpa melepaskan pelukkannya.
Syiera mengangguk, lalu melepaskan pelukkannya.
"Sebaiknya kita pulang, bujuk daddy agar cepat menikahkan kita," ucapnya mantap.
"Tentu."
***
"Apa kamu serius ingin menikah dengannya? Apa kamu tidak akan menyesal setelah menikah nanti?" tanya Darren dengan pelan, ia tak ingin Alex mendengarnya.
"Aku mencintainya, dad. Selama ini dia memperlakukanku dengan baik," jawab Syiera.
__ADS_1
Sepertinya sangat sulit memisahkan hubungan Syiera dengan Alex. Darren pun pasrah dengan keputusan putrinya yang ingin menikah muda. Tapi Darren juga tak bisa jika putrinya terluka, ia akan mencari jalan lain untuk memisahkan mereka.
Syiera pun kembali menemui Alex yang sedang duduk sendiri di ruang tamu.
Setelah kepergian Syiera, kini hanya ada Darren dan istrinya.
"Apa susahnya merestui hubungan mereka, aku yakin mereka akan bahagia walau menikah muda, Syeira tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik," kata Dania.
"Kamu tidak akan mengerti sayang ... Alex memang baik, tapi tidak dengan orang tuanya. Itu yang membuatku tak setuju mereka menikah," jelas Darren. Apa pun caranya ia harus bisa menjaga putrinya, sekalipun harus menyakiti hati anaknya. Karena ini demi kebaikannya. "Ngomong-ngomong ... Kemana Dam? Sudah sore begini belum pulang?"
"Seperti biasa, paling juga sama Alea," jawab Dania dengan santai.
Darren menarik napasnya dalam-dalam. Urusan Syiera saja belum selesai, di tambah lagi masalah baru. Itu membuat Darren mendadak migrane.
"Kamu kenapa?" tanya Dania pada suaminya.
"Anak-anak bikin pusing saja," jawab Darren sambil beranjak meninggalkan Dania yang sedang duduk di ruang tv.
"Pusing ...," katanya mengulangi ucapan suaminya. "Apa yang membuatmua pusing?" tanyanya sambil mengejar suaminya.
"Ah, sudahlah. Aku mau mandi! Kalau Dam pulang, suruh temui aku," kata Darren yang meninggalkan istrinya.
***
"Maaf, menunggumu lama. Daddy baru pulang, ia tak bisa diganggu! Aku takut kena marah," jelas Syiera pada Alex. Padahal itu hanya alasan Syiera saja, pasalnya ia tahu kalau ayahnya tak begitu menyukai Alex, dan Syiera tak tahu apa sebabnya sampai ayahnya tak menyukai kekasihnya.
"Sebaiknya aku pulang saja, ya?" pinta Alex.
"Ngapain pulang, kak? Masih siang begini kok," sahut Dam tiba-tiba.
"Datang-datang langsung nyahut saja, dari mana saja? Jam segini baru balik!" tanya Syiera dengan sorotan mata yang begitu tajam bagai mata elang yang seperti mendapatkan mangsanya. "Siang dari mana, Dam ...? Ini sudah hampir jam 6, dan kamu bilang ini masih siang," ucapnya sambil geleng-geleng kepala.
Mendengar suara keributan, Dania langsung saja menghampiri suara tersebut yang ia yakini kalau itu suara Dam yang sudah pulang.
"Dam ...," panggil Dania. "Ditunggu daddy, temui dia di ruang kerjanya," suruhnya lagi.
...----------------...
Terima kasih pada teaders yang masih setia.
__ADS_1
Selamat malam, selamat beristirahat.