Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 48


__ADS_3

"Sesakit inikah rasanya melihat orang yang kucinta bersama orang lain?" tanyanya pada diri sendiri. "Lisa, apa kau benar-benar kecewa padaku. Maafkan aku Lisa," lirihnya.


Dengan gontai, Leo kembali meneruskan pencarian ruko untuk usahanya. Lalu matanya tertuju pada sebuah bangunan yang di depannya tertulis jelas di papan itu. (Dikontrakan)


Leo menghampiri bangunan tersebut, ia menelisik setiap sudut. "Aku rasa tempat ini cocok untuk di buat cafe." Tempat yang strategis cocok untuk para pemuda yang ingin menghabiskan waktu malam minggu mereka.


Leo sudah memantapkan hatinya untuk menyewa tempat tersebut. Bahkan ia sudah sepakat dengan pemilik tempat tersebut. Lokasinya juga tidak terlalu jauh dari kontrakan tempat ia tinggal.


***


"Apa istri saya sudah bisa pulang, Dok?" tanya Darren pada Dokter yang sedang memeriksa Dania.


"Kalau istri Anda mau, hari ini juga sudah bisa pulang. Untuk kondisinya sudah membaik, hanya perlu istirahat yang cukup. Saran saya, Nyonya Dania jangan banyak pikiran," jelas Dokter.


"Bagaimana? Apa kamu mau pulang sekarang?" tanya Darren pada Dania yang sedang bersandar di sandaran branker. Namun Dania tak menjawab, menoleh kearahnya pun tidak. Ia terlalu enggan bertegur sapa dengan suaminya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Dokter.


Setelah kepergian Dokter. Darren mendudukkan tubuhnya di branker tepatnya di samping Dania. Darren meraih tangan istrinya, lalu tangan itu digenggam olehnya. Darren hendak mencium tangan itu, namun dengan cepat Dania menariknya kembali pada posisinya.


Darren menghela napasnya dengan berat. "Sampai kapan kamu akan mengacuhkanku seperti ini?" Darren merubahkan posisinya menjadi berlutut di samping branker lalu tubuhnya menghadap istrinya. Darren kembali meraih tangan Dania.


"Aku mohon jangan seperti ini, Dania. Aku mencintaimu, perasaanku tidak ada hubungannya dengan kejadian lima tahun yang lalu. Untuk masalah itu aku tidak tahu menau." Darren menelusupkan kepalanya di paha Dania. Darren menangis sesegukkan, sungguh ia berharap agar Dania mau kembali dengan sikapnya yang dulu. Mencintainya.


Dania hendak mengusap pucuk rambut suaminya, namun ia mengurungkan niatnya. "Maafkan aku, Darren. Tempatku bukan bersamamu. Ibumu menjadikanku menantu hanya untuk menebus kesalahannya padaku." Dania mengangkat kepala suaminya, lalu ia menggeserkan tubuhnya yang hendak beranjak dari tempatnya.


"Apa kamu mau pulang sekarang?" Darren kembali bertanya. Lalu Dania mengangguk. Darren girang bukan kepalang, dapat anggukan saja Darren sudah bahagia.

__ADS_1


Dengan cepat Darren mengurus administrasi terlebih dulu sebelum ia meninggalkan rumah sakit.


Dan kini, Darren bersama istrinya sudah berada di dalam mobil, Darren menyalakan mesinnya. Tak lama ia langsung menancapkan gasnya, melaju dengan kecepatan sedang.


Tak ada percakapan diantara mereka. Hanya deruman mesin mobil yang terdengar dikedua pendengaran mereka. Sesekali Darren melirik kearah istrinya, namun Dania tak menoleh sedikitpun padanya.


Tak lama dari situ, mobil Darren terhenti di sebuah restoran yang terbilang mewah. Dania mengernyitkan keningnya, lalu menatap kearah suaminya. "Kenapa berhenti di sini? Katanya mau pulang?" ujar Dania pada Darren.


Darren tersenyum manis padanya. "Kita makan dulu, ya? Ini sudah waktunya makan siang. Aku laper," ucap Darren. Tak mendengar jawaban dari sang istri, Darren langsung keluar dari mobilnya, ia memutari mobil tersebut untuk membukakan pintu untuk Dania.


"Darren, kamu tidak mengerti perasaanku saat ini! Kenapa kamu ngotot seperti ini." Pasalnya Dania benar-benar tak mengharapkan perasaan Darren setelah ia mengetahui yang sebenarnya. Sudah jelas, bahwa Karren bilang kalau ia ingin menebus kesalahannya dengan menikahkan anaknya dengan dirinya. Itu artinya, kalau bukan Karren penyebab orang tuanya meninggal, pasti Karren tak akan merestui hubungan ini. Apa lagi ia seorang wanita penghibur. Pikir Dania.


"Ayo?" ajak Darren setelah membuka pintu mobilnya. Dania pun turun dari mobil tersebut, ia menemani suaminya untuk makan siang.


Dan mereka sudah duduk di kursi meja makan yang tersedia di sana. Darren memilih ruangan VIV. Berpikir akan lebih leluasa jika berada di ruangan tersebut.


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya pada Dania sesampainya pelayan yang memberikan buku menu.


Darren mengerti akan sikap istrinya yang seperti itu. Darren tak mempermasalkan akan hal itu, yang penting istrinya mau makan. Darren mementingkan kesehatannya, walau terasa sakit di hatinya, ia rela. Asal Dania tak meninggalkannya.


Tak lama makanan yang di pesan pun datang, termasuk makanan Darren. Ia memesan makanan berat. Karena dari kemarin ia belum sempat makan. Darren menahan laparnya demi tak meninggalkan sang istri.


Dengan lahap, Darren memakan makanannya. Dania sedikit menggelengkan kepalanya saat melihat sang suami. Ingin rasanya ia menegur suaminya, karena makannya yang seperti orang kelaparan.


Darren menghentikan kegiatannya, ia menatap Dania. " Kenapa tak dimakan? Apa rasanya tidak enak?" Begitulah Darren dengan perhatiannya yang diberikan pada istrinya.


Dania hanya mengaduk-aduk sayur itu, tanpa memakannya sama sekali. Lalu Darren menarik mangkuk yang berisikan sayur itu. Dengan sigap ia menyuapi Dania.

__ADS_1


"Ayo buka mulutnya?" Darren mendaratkan sendok pada mulut istrinya, tapi, Dania tak kunjung membukanya.


"Ayo dong, sayang!" Ucapan yang lembut mampu membuat Dania membuka mulutnya. Darren tersenyum setelah Dania membuka mulutnya. "Makan yang banyak agar cepat pulih. Apa kamu tak ingin buah hati kita tumbuh kembali di dalam rahimmu?" Darren menaikturunkan kedua alisnya.


Tanpa Dania sadari, ia mengulum senyum pada suaminya. Lalu, setelah itu ia kembali dengan expresi dinginnya. "Aku bisa sendiri." Dania menarik mangkuk yang sedang dipegang oleh suaminya. Darren membiarkan itu terjadi, lalu ia kembali melanjutkan makannya yang sempat terhenti.


Dan kini mereka sudah selesai makan. Darren kembali melanjutkan perjalanannya, cukup jauh lokasi mereka dengan mansion miliknya. Setelah satu jam setengah baru mereka sampai di kediaman keluarga Alfian Narayan.


Dania langsung disambut hangat oleh ibu mertuanya juga Syiera. "Momy." Syiera berlari menghamburkan tubuhnya pada Dania, yang ia anggap adalah ibunya.


"Sudah Momy bilang, jangan lari-lari." Dania memperingati Syiera. Lalu membalas pelukan anak itu.


Darren yang melihatnya langsung tersenyum, setidaknya sikap dingin Dania tidak berlaku pada Syiera. Lalu pandangan Dania mengarah pada ibu mertuanya. Karren tersenyum lebar sambil menatap Dania.


Entah senyum itu tulus atau tidak? Yang jelas, Dania tak mengharapkan semua itu. Ia menyadari keberadaannya di sini. Lalu Karren menghamipiri menantunya.


Dania tak menyangka apa yang dilakukan ibu mertuanya padanya. "Mom, jangan seperti ini." Dania menarik tubuh Karren, karena Karren bersujud di kakinya.


"Maafkan Momy, Dania. Momy tidak bermaksud membunuh orang tuamu. Itu murni kecelakaan." Karren menangis di hadapan Dania. Lalu, Dania pun ikut menangis.


"Momy? Oma? Kenapa kalian menangis?"


Karren dan Dania menoleh kearah Syiera secara bersamaan. Lalu Syiera menghapus deraian air mata di pipi Dania dan Karren secara bergantian.


"Ayo, lebih baik kita masuk?" ajak Darren pada mereka.


"Dad, kau melupakanku!" Syiera memanyunkan bibirnya. Lalu Darren menggendong Syiera, mengajaknya untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


Bersambung.


Tinggalkan jejaknya 😘😘😘


__ADS_2