Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 63


__ADS_3

Kini Leo dan istri sedang mengantri disebuah klinik, ia akan memeriksakan kandungannya. Bukan klinik besar yang mereka kunjungi, karena keterbatasan biaya.


Yang penting sama-sama Dokter kandungan. Prioritasnya saat ini adalah kesehatan ibu dan anaknya bukan masalah kliniknya, akan lain ceritanya kalau ia masih menjabat sebagai CEO.


Dan kini, giliran Lisa. Karena barusan namanya yang terpanggil. Leo menenangkan istrinya dengan menggenggam tangan istrinya hingga masuk kedalam.


Lisa dibaringkan di branker, Suster membantunya menyikabkan bajunya. Karena ia tengah USG, jel yang dingin terasa di kulit perut Lisa. Leo terus menemaninya hingga selesai.


"Lihat! Di sini nampak 2 biji sebesar biji kacang," jelas Dokter.


Namun Lisa tak mengerti akan hal itu, ia hanya terus saja melihat di layar monitor yang ditunjuk oleh Dokter.


Dan akhirnya selesai sudah pemeriksaan tersebut. Sekarang tinggal mendengar penjelasan Dokter yang dibilang 2 biji, membuat Lisa penasaran akan hal tersebut.


"Jadi bagaimana, Dok?" tanya Leo pada Dokter kandungan itu.


"Selamat ya, Tuan. Sepertinya istri Anda hamil kembar. Untuk lebih jelas lagi, bulan depan periksa kembali," jelas Dokter yang bernama Lila itu. Leo sengaja mencari Dokter yang berjenis kelamin perempuan, karena ia tak mau wanitanya disentuh laki-laki lain, sekalipun Dokter.


"Kembar?" Leo tak percaya akan hal itu, bukannya memiliki bayi kembar harus ada keturunan, itu sepengetahuan Leo. Bahkan ia dan Lisa tak memiliki gen tersebut.


Lisa dan Leo kini saling lempar pandang, senyum tersimpul dikedua bibir mereka. Betapa bahagianya mereka sekarang. Mereka pun berpelukan, bahkan Lisa sampai jingkrak-jingkrak saking bahagianya.


Ia hanya kepikiran akan sahabat dan dirinya. Ucapannya tadi seakan doa yang terkabul. Yaitu 'Bahagia bersama'


Itu artinya kalau ia memiliki bayi kembar, ia tak akan kehilangan bayinya, setidaknya ia masih bisa memberikan asinya kepada anaknya. Walau harus terpisah dengan anaknya yang satunya lagi.


"Sayang, kamu kenapa? Kok malah melamun sih?" tanya Leo, padahal ia tadi jingkrak-jingkrak saking bahagianya.


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya kepikiran akan Dania," jawabnya.


"Dania kenapa memangnya?"


"Aku cuma seneng aja, doaku terkabul. Aku dan Dania tetap bahagia, aku dan dengannya sama-sama memiliki anak. Mungkin lewat aku, Dania diberikan kesempatan," jawab Lisa.


"Kalian ditakdirkan agar selalu bersama, mungkin dengan adanya anak kita, kamu dan Dania menjadi saudara, sayang," jelas Leo.

__ADS_1


Lalu mereka pun pamit pada Dokter, karena merasa sudah jelas akan kesehatan kandungan Lisa, kandungannya baik-baik saja, bahkan janinnya begitu kuat. Jelas Dokter tadi.


Dalam perjalanan pulang mereka terus saling menggenggam tangan satu sama lain.


"Apa perlu kita beri tahu kabar bahagia ini pada mereka?" tanya Leo pada Lisa.


Lisa langsung menghentikan langkahnya, karena ia teringat akan jawaban Dania tadi sore.


"Kenapa berhenti?"


"Tadi Dania marah padaku! Dia bilang, memangnya anak kucing yang bisa dikasih ke orang gitu aja! Tapi, ada benarnya apa kata Dania, aku memberikan darah dagingku begitu saja. Kesannya kaya aku gak sayang dengan anakku!" lirih Lisa.


"Dania bilang begitu, bukan berarti dia marah padamu. Mungkin dia tidak ingin merebut kebahgiaanmu. Tapi kenyataannya sekarang berbeda, kita akan memiliki bayi kembar," kata Leo menenangkan istrinya. "Ya sudah, lebih baik kita pulang, ya?" ajak Leo kemudian.


Lisa tetap diam pada tempatnya, sepertinya ia enggan pulang untuk malam ini.


"Kenapa lagi?" tanya Leo. Leo yang tak mengerti apa keinginan ibu hamil itu, bahkan ia tak peka kalau istrinya kini tengah menginginkan sesuatu, bisa dibilang, Lisa tengah ngidam saat ini.


"Jadi suami gak peka banget sih," ketus Lisa.


"Ada apa memangnya?" Leo belum berpengalaman akan hal ini.


"Lisa, kita pulang, ya?" ajak Leo. Sebenarnya Lisa tengah mencari apa? Apa yang diinginkannya saat ini. Sampai-sampai suaminya ngoceh dari tadi, masih dicuekin.


Mata Lisa tertuju pada gerobak nasi goreng. "Itu." Tunjuk Lisa pada sebuah gerobak.


Leo arahkan pandangannya apa yang ditunjuk Lisa. Leo menghela napasnya panjang.


"Bilang dong kalau mau nasi goreng. Tidak perlu muter-muter seperti ini," kesal Leo. Bukannya tak perhatian, hanya saja Leo tidak tahu apa yang diinginkan istrinya itu. Bahkan Leo merasakan pegal di kakinya.


"Istri ngidam bukannya pengertian, malah sewot begitu." Lisq lebih kesal akan sikap Leo yang tak pengertian padanya.


"Bukan gitu, sayang. Udah dong jangan cemberut, ya udah ayo, kita kesana," bujuknya sambil menarik lengan istrinya dengan lembut kearah si penjual nasi goreng.


***

__ADS_1


"Syiera udaj tidur?" tanya Darren pada istrinya yang baru saja menyusulnya ke kamar. Dania mengangguk sambil berjalan ke arahnya.


Setelah acara ulang tahun Syiera selesai, Dania langsung saja membersihkan diri. Bahkan sekarang ia sudah siap untuk tidur malam ini. Lain halnya dengan suaminya, ia masih saja anteng dengan laptopnya.


"Sudah malam, berhentilah bekerja! Lebih baik kamu mandi." Dania meraih laptop suaminya, dan langsung menutup laptop tersebut. Kalau dibiarkan mungkin hingga tengah malam suaminya itu akan terus bekerja.


Hingga pada akhirnya, Darren tidak bisa berbuat apa-apa jika sang istri sudah bertindak. "Iya-iya, aku mandi." Darren langsung beranjak dari tempatnya. Langsung menuju kamar mandi.


"Anak pintar," ledek Dania.


"Awas saja, aku tidak akan memberi ampun nanti. Tunggu aku selesai mandi, persiapkan dirimu." Darren langsung mewanti-wanti istrinya.


Dania hanya menghela napasnya, setelah mendengar ocehan suaminya, ia paham betul apa yang diinginkan suaminya. Apa lagi kalau bukan masalah ranjang, itu kecil baginya.


Tak lama, Darren keluar dari kamar mandi, ia terlihat sangat segar malam ini. Membuat Dania semakin terpukau akan ketampanan suaminya itu.


Padahal rencananya ia akan mengajaknya berbicara mengenai Lisa yang akan memberikan anaknya padanya. Namun karena tingkah suaminya yang begitu menggoda, ia pun lupa akan niatnya.


Darren mendekatinya, Dania tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia langsung saja mematikan lampu kamarnya.


Darren yang mendapat lampu hijau pun, langsung saja menerjang tubuh istrinya mendekapnya ke dalam pelukannya.


Hingga pertempuran diantara mereka pun terjadi dengan dahsyatnya. Kini mereka terlelap bersama saking lelahnya, karena permainan itu, Dania yang menguasai. Darren hanya menerima servis dari sang istri. Namun tetap saja ia pun harus membalas gairah yang diberikan istrinya.


Sementara di tempat lain.


Leo terus membujuk istrinya untuk segera pulang, karena malam semakin larut. Tidak baik bagi kesehatan istrinya, apa lagi udara malam ini lumayan dingin.


"Ayo dong sayang ... Kita pulang, aku sudah ngantuk ni ...," keluh Leo yang tak kunjung berhasil membujuk istrinya.


"Iya kita pulang. Tapi gendong," pinta Lisa.


Leo hanya bisa pasrah apa yang diinginkan istrinya, asal istrinya mau pulang sekarang juga. Untung tubuhnya kuat, kalau tidak ... Bisa-bisa ia yang tertindih tubuh istrinya.


"Yang ... Kamu makan apa, sih. Berat banget?"

__ADS_1


Lisa ... Bukannya menjawab, ia malah minta diturunin. Bukan marah, hanya saja ia merasa kasihan pada suaminya.


Tak lama mereka pun sampai di rumah kontrakan mereka.


__ADS_2