
"Bukan ... Bukan itu maksudku. Hanya saja ...," ucapnya terputus karena ia ragu untuk mengungkapkannya.
"Hanya saja apa?" tanya Dania penasaran.
"Ah, sudahlah," kata Darren.
Namun tiba-tiba Darren berkata. "Kalau memang kamu benar mencintaiku, buat aku jatuh cinta padamu." Dania tak percaya akan permintaan suaminya.
"Apa aku tidak salah dengar? Coba katakan sekali lagi?" pinta Dania.
Darren menghela napasnya. "Tidak ada siaran ulang!" jawab Darren, lalu ia beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana? Aku takut!" tanya Dania.
"Tunggu sebentar!"
Karena lampu masih belum menyala, jadi Darren mengambil lilin untuk menerangi seisi ruangan. Tak lama ia membawa cahaya dari lilin tersebut dan menyimpannya di atas meja. Ia kembali duduk di samping istrinya.
Dania langsung melingkarkan tangannya pada tubuh suaminya, ia hanya merasa takut kalau Darren akan meninggalkannya. Sebenarnya Darren suka dengan sikap Dania yang sedikit manja padanya, hanya saja ia terlalu malu untuk mengakuinya. Entahlah apa yang dirasakan Darren saat ini.
Dania menyandarkan kepalanya pada pundak suaminya sambil memejamkan matanya. Dengan reflek Darren pun menyentuh kepala istrinya, tanpa di sadari ia pun tersenyum. Dan kini mereka terlelap dalam posisi terduduk di sofa.
Tengah dini hari tepat pukul 02.45, Dania mengerjapkan matanya. Ia merasa ada getaran pada tubuhnya, ia tak menyadari bahwa ia tertidur di sofa. Getaran itu semakin kuat. Karena lampu sudah menyala ia pun melihat ke arah suaminya, Dania terkejut mendapati suaminya yang sedang menggigil kedinginan. Dengat cepat ia bangkit dari posisinya.
Dania mengambil bantal dan selimut untuk menutupi tubuh suaminya, Dania merubahkan posisi Darren yang tadinya bersandar kini menjadi terbaring. Tak lupa ia pakaikan bantal itu untuk menyangga kepala suaminya, lalu menyelimutinya.
Dania bergegas pergi ke dapur untuk mengambil wadah berisikan air untuk mengompres suaminya. Dengan telaten, ia mengurus suaminya yang sedang sakit.
"Kenapa jadi begini? Bahkan tadi tidak apa-apa," ucap Dania sambil mengelus pipi suaminya yang mulus. Karena mengantuk Dania pun ikut tertidur dengan posisi terduduk di lantai dengan kepala bersandar di atas sofa. Dania menggenggam tangan suaminya
Malam pun berganti, Darren terlebih dulu bangun dari tidurnya. Ia mendapati sebuah kain yang menempel di keningnya, ia teringat kejadian semalam. Ia juga tahu bahwa semalam Dania mengkhawatirkan dirinya.
Kini Dania pun terbangun karena merasakan ada getaran di sofa. Dengan cepat ia membuka matanya, manik matanya saling bertemu dengan suaminya. Darren melihat ada kecemasan di wajah Dania.
Dania tersenyum mendapati suaminya yang sudah membaik. "Apa sudah baikan?" tanya Dania dengan rasa khawatirnya.
Darren mengangguk. "Kenapa tidur di situ? Nanti kamu yang sakit," ucap Darren pada Dania.
"Gak, aku kuat!" jawab Dania tersenyum.
Darren terkekeh mendengar jawaban istrinya, merasa gemas melihat Dania dengan rambut sedikit acak-acakan.
__ADS_1
"Mau kemana?" Dania melihat suaminya yang hendak beranjak.
"Ke kamar mandi." Dengan sigap Dania mengantarkan suaminya.
"Kenapa berhenti, katanya mau ke kamar mandi." Darren menghentikan langkahnya tepat di depan pintu.
"Apa kamu mau ikut juga ke dalam sana?" Tunjuk Darren menggunakan wajahnya.
Dania tersenyum lalu menggeleng. Dengan setia ia menunggu suaminya keluar.
"Ngapain masih di sini?" tanya Darren pada Dania yang masih berdiri di depan pintu. "Aku tidak apa-apa, ini hanya demam biasa," sahut Darren meyakin Dania. "Pergilah, urus Syiera," titahnya kembali.
Dania menepuk dahinya sendiri seakan lupa tugas seorang istri. Tugas istri bukan hanya mengurus suami, ia sedikit melupakan Syiera.
"Baiklah kalau begitu, kamu istrihat saja. Tidak usah ke kantor," kata Dania lalu beranjak pergi meninggalkan suaminya.
"Berani sekali dia menyuruhku untuk tidak bekerja," gumamnya dalam hati. Tapi dalam hati Darren senang dengan perhatian yang ditunjukkan istrinya padanya.
***
"Habiskan sarapanmu, Momy mau mengantarkan bubur ini untuk daddy," ucapnya pada Syiera yang sedang sarapan, lalu ia melangkahkan kakinya. Namun langkahnya terhenti kala Karren yang baru saja tiba di sana.
"Mom," panggil Dania pada ibu mertuanya. Karren hanya memberikan senyuman khasnya pada Dania.
"Oh ini, ini bubur untuk Darren." Karren membulatkan matanya tak percaya, sejak kapan anaknya itu suka bubur.
"Semalam Darren demam, jadi aku berinisiatif membuatkannya bubur." Karena tak mau mengecewakan menantunya ia pun membiarkan apa yang dilakukan Dania.
Mendengar anaknya sakit, Karren langsung menemui Darren di kamar. "Kalau begitu, Momy akan menemuinya " ucap Karren beranjak meninggalkan Dania.
***
Sesampainya di kamar, Karren langsung melihat keadaan anaknya.
"Sayang ... Apa benar kamu sakit?" tanya Karren, membuat Darren sedikit terkejut akan kehadiran ibunya.
"Mom, kau membuatku kaget," ucapnya. "Aku hanya demam, jangan terlalu khawatir " sahutnya kembali.
"Momy tidak salah menyuruhmu untuk segera menikah. Buktinya disaat Momy tidak ada, istrimu yang merawatmu. Momy tidak mungkin bisa mengurus dua orang sekaligus, apa lagi dengan tempat yang berbeda," cerocos Karren.
"Di penjara membuatnya sering sakit-sakitan." Dania yang mendengar langsung bertanya. "Siapa yang di penjara, Mom?" Dania yang baru saja masuk, ia membawakan bubur untuk suaminya.
__ADS_1
Karren terperanajat dengan pertanyaan menantunya yang secara tiba-tiba, sebisa mungkin ia menjawab. "Teman, Momy" jawabnya berbohong.
"Momy juga harus bisa menjaga kesehatan, apa lagi corona yang masih belum berakhir," kata Dania sedikit mengkhawatirkan keadaan ibu mertuanya.
Kini Dania mendudukkan tubuhnya di samping suaminya yang sedang terbaring di kasur. Lalu Darren mendudukkan tubuhnya dan bersandar menggunakan bantal dibantu oleh Dania, istrinya.
"Apa itu?" tanya Darren sambil melihat nampan yang dibawa Dania.
"Bubur."
"Aku tidak suka bubur," kata Darren sambil menyingkiran sendok yang hendak Dania berikan padanya.
"Coba, sedikit saja." Dengan wajah memelas Dania melakukannya. Darren pun terpaksa memakannya ia hanya menghargai apa yang dilakukan Dania.
Seketika Darren tersedak, Dania lupa yang tak membawakan air minum untuk suaminya. Dengan cepat ia bergegas pergi untuk mengambilkan segelas air. Padahal itu hanya akal-akalan Darren saja, ia hanya ingin menanyakan sesuatu pada ibunya.
"Kenapa Momy tidak jujur saja, tentang siapa yang berada di dalam penjara," ujar Darren pada ibunya.
"Tidak ... Momy belum siap untuk itu, Momy tidak mau kalau sampai Dania membenci keluarga kita. Apa lagi denganmu!"
"Hubungannya apa sama Dania? Apa ini ada hubungannya dengan masalalu Dania?" tanya Darren.
"Sudahlah, jangan membahas masalah ini sekarang," jawab ibunya Darren.
"Kenapa?"
"Tunggu sampai kau benar-benar sembuh. Momy mengkhawatirkanmu."
"Mom ... Aku hanya demam biasa," ucap Darren.
Tak lama kemudian, Dania datang membawa segelas air. Dania merasa aneh dengan keadaan hening seperti ini, tak ada percakapan antara ibu dan anak. Lalu Dania menghamipiri suaminya dan memberikan air minum itu padanya.
"Terima kasih," ucapnya setelah menerima gelas itu. Dania tersenyum melihatnya.
Karren merasa ia harus pergi sekarang juga. Ia pun melipir pergi meninggal sepasang suami istri yang baru menikah beberapa hari yang lalu itu.
_
_
_
__ADS_1
Pembaca yang bijak akan meninggalkan jejak🤗🤗 Terima kasih pada kalian yang sudah meluangkan waktunya untuk singgah di sini.