
Setelah pertempuran terjadi, Darren dan istrinya masih terlelap. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 16.45. Tak lama kemudian Dania lebih dulu terjaga dari tidurnya, sedikit demi sedikit ia membuka matanya. Lalu ia mendudukan tubuhnya, tubuhnya masih dalam keadaan polos. Ia menutupinya dengan selimut.
Sekilas ia melihat suaminya yang masih tertidur. Ia tersenyum melihatnya, suaminya kini telah mencintainya. Bahkan ia melakukannya dengan lembut. Ia membelai pipi suaminya dengan tangannya. "Terima kasih sayang," ucapnya setelah membelainya.
Kini ia kembali dengan posisi semula, duduk membelakangi suaminya.
Tak lama Darren terbangun, ia mendapati istrinya yang sedang duduk membelakanginya. Ia pun ikut duduk dan memeluk istrinya dari belakang. "Kamu sudah bangun? Jam berapa ini?" tanyanya kemudian.
Dania menoleh ke arah suaminya dan membalas pelukannya. Dania menggulingkan tubuh suaminya, kini Dania berada tepat di atasnya. Bahkan ia menempelkan keningnya dengan kening suaminya.
"Mau lagi?" tanya Darren dalam posisi begitu intim. Tanpa malu Dania mengangguk. Dengan cepat Darren membalikkan tubuh istrinya, ia mengungkung tubuh Dania. Tanpa aba-aba ia kembali memasukan pusakanya.
"Sayang ... Aku bahagia," ujar Dania disela kegiatan panasnya.
"Aku lebih bahagia," ucap Darren sambil mengecup kening istrinya, tanpa melepaskan genjotannya. "Sebentar lagi, kita bareng-bareng, ya?" Dania mengangguk sambil memeluk ceruk leher suaminya. Tubuh mereka bergetar hebat.
Merasa sudah tidak lelah, Darren bangun lebih dulu. Ia pergi ke kamar mandi untuk membersihakn diri. Sementara istrinya masih meringkuk dalam gulungan selimut.
Setelah merasa bersih ia kembali ke kamar, hanya menggunakan boxsernya. Kedua tangannya mengeringkan rambutnya dengan handuk. Lalu tatapannya beralih pada istrinya. Ia melihat Dania sudah terbangun. Mereka berdua saling melempar senyuman.
"Sanah, mandi," titah Darren. Tak lama Dania pun beranjak dari ranjangnya ia bergegas ke kamar mandi.
"Sayang, aku ke bawah duluan, ya?" Darren sedikit teriak di depan pintu kamar mandi yang terdapat istrinya di dalamnya.
"Iya," sahut Dania.
Darren menuruni anak tangga. Karren melihat Darren di sana. "Hay, Mom?" sapa Darren setelah turun dari tangga.
__ADS_1
"Duh rambut basah," goda Karren. Darren hanya mengulum senyum mendapat godaan dari ibunya.
"Daddy?" panggil Syiera dari arah belakangnya. Darren memutarkan tubuhnya lalu menghendong anaknya itu. Syiera melihat ke arah leher sang ayah.
"Daddy sakit?" tanya Syiera. Darren mengernyitkan keningnya merasa bingung dengan pertanyaan sang anak. 'Apa ia terlihat pucat, sehingga Syiera beranggapan bahwa ia tengah sakit sekarang?'
Darren menggelengkan kepalanya. "Kalau daddy tidak sakit, lantas ini, kenapa?" Syiera menunjuk lehernya yang terdapat tanda merah kelakuan istrinya.
"Ada semut nakal di kamar daddy," timpal Karren sedikit ledekan di sana. "Makanya jangan ke kamar daddy tanpa seijin daddy, ya?" ujar Karren kembali. Karren terkekeh melihat ekspresi wajah Darren yang memerah. Ini pertama kali ia lakukan kembali setelah beberapa tahun silam. Dulu semenjak Kania masih ada, setiap hari ia menggodanya. Leher anaknya itu tanpa bekas setiap harinya.
"Ah, Momy nih. Aku 'kan jadi malu." Darren menggaruk ceruk lehernya yang tidak gatal.
"Dania mana? Kamu buat dia kelelahan, ya?" tanya Karren.
Sebelum Darren menjawab, ia lebih dulu melihat istrinya sedang menuruni anak tangga. "Itu istriku." Tunjuk Darren menggunakan wajahnya, karena ia tengah menggendong Syiera.
"Syiera turun dulu, ya?" Darren menurukan Syiera dari pangkuannya. "Daddy laper," ucapnya sambil mengusap kepala Syiera. Dan sekarang ia beralih menatap istrinya, terlihat sangat segar. Setelah Dania sudah berada di hadapannya. Ia langsung mengajak istrinya ke ruang makan dengan menggenggam tangannya.
Sekarang mereka berdua sudah duduk di kursi meja makan, ada Mila di sana yang sudah menyiapkan makanan. Menu kali ini terlihat banyak dari biasanya, Karren sengaja menyuruh Mila masak banyak. Karena ia tahu Darren ada di rumah, ia melihat mobil Darren yang terpang-pang di garasi.
"Nyonya besar yang menyuruh saya, sengaja khusus Nyonya muda dan Tuan," jawab Mila sopan.
"Kamu mau lauk yang mana, sayang?" tanya Darren pada istrinya. Dania nampak memilih makanan apa yang akan di makannya sekarang, ia kebingungan karena makanannya begitu banyak sekali.
"Ini saja." Dania menunjuk capcay dan tumis daging. Darren mengambilkannya untuk Dania. "Harusnya 'kan aku yang malayanimu," ujarnya pada suaminya.
"Untuk kali ini biar aku yang melayanimu, tadi 'kan kamu sudah melayani. 2 kali, loh," Darren sedikit menggoda istrinya. Sedangkan Dania melempar pukulan ringan di lengan suaminya.
Karren yang melihatnya terkekeh. Hatinya menghangat, ia kembali melihat putranya bahagia bersama pasangannya. "Oma lihat apa, sih? Senyum-senyum sendiri?" tanya Syiera. Lalu Karren menunjuk ke arah ibu dan ayahnya Syiera. Tapi Syiera tak melihat apa yang di tunjukkan neneknya, ia kembali fokus pada layar di hadapannya. Karena Syiera sedang menonton televisi acara kesayangannya.
Sementara Darren di ruang makan, sesekali ia bercanda dengan istrinya itu. Bahkan mereka bergantian saling menyuapi. 'Sungguh harmonis bukan?'
__ADS_1
"Aku sudah kenyang, ah." Dania mengusap perutnya sedikit buncit karena makan terlalu banyak, di paksa oleh suaminya.
"Satu suap lagi, ini yang terakhir." Darren kembali menyodorkan sendok ke dalam mulut istrinya. Mau tak mau Dania membuka mulut, ia mengunyahnya dengan terpaksa, alhasil ia sedikit mual.
"Aku sudah bilang, aku kekenyangan," ujar Dania mendorong makanannya dengan air. Susah payah ia menelanya.
"Biar ada tenaga, kamu pikir aku akan menganggurkan kamu nanti malam!" Darren tersenyum penuh arti pada Dania.
"Ih mesum banget, sih. Tadi 'kan sudah!" jawab Dania sebal sambil melipatkan kedua tangannya di dada. Darren malah gemas melihatnya. Kalau tidak ada ibunya, mungkin sekarang juga sudah melahap istrinya di meja makan.
Mereka menyudahi acara makannya. Darren dan istrinya ikut bergabung di ruang tamu, menemani anaknya yang sedang menonton televisi. Dania mencium gemas Syiera, setelah ia duduk di samping anaknya.
"Momy? Apa benar di kamar Momy ada semut nakal?" tanya Syiera sambil mengdongakkan wajahnya pada Dania. Dania menyatukan kedua alisnya nyaris bersatu, ia bungung dengan pertanyaan Syiera.
"Semut." Dania nampak berpikir, lalu ia melmpar pandangannya pada suaminya sambil mengangkat dagunya. Darren hanya mengangkat kedua bahunya, seolah tidak mengerti.
Tapi tidak dengan Karren, ia malah tertawa mendengar pertanyaan cucunya. "Oma, kok. Oma malah ketawa, sih! Tadi 'kan Oma yang bilang, kalau di kamar daddy ada semut nakal." Syiera menatap wajah sang nenek.
Dania mengerti sekarang, kenapa Syiera bertanya akan hal itu. Ia hanya geleng-geleng kepala, ternyata ibu mertuanya itu jahil juga.
"Momy masuk ke kamar dulu kalau begitu." Tanpa mendengar jawaban dari anak dan menatunya, Karren langsung melipir pergi meninggalkam mereka.
_
_
_
Maaf ya para readers. Bab 35nya masih nyangkut entah kenapa lolos reviewnya lama, othor juga gak tahu kenapa
__ADS_1
**Tuh masih belom lulus. Entah kapan lulusnya. Sabar aja ya.
Tinggalkan jejak ya para readers๐๐๐**