Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episode 80


__ADS_3

"Dam ... Jangan buat daddy tambah pusing," kata Darren. Ia sudah tak tahu harus dengan cara apa agar anaknya itu nurut padanya.


"Maksud daddy apa?" tanya Dam dengan polosnya. Padahal ia tahu betul apa maksud ayahnya.


"Sekolah saja yang benar! Buat daddy bangga padamu."


Susah sekali ngatur anak ini, sedikitpun tidak mewarisi sipatnya mau pun sipat Leo dan Lisa. Ia tak melarang berteman dengan siapa saja termasuk dengan Alea. Tapi menurutnya ada yang janggal dengan hubungan mereka, dan itu membuatnya tak tenang.


"Aku akan buktikan pada Daddy, kalau aku bakal menjadi orang yang sukses. Tapi tolong! Kali ini saja, biarkan Dam menikmati kebersamaan Dam dan Alea, dad. Daddy 'kan tahu kalau Alea bakal nerusin kuliahnya di London, aku hanya punya waktu dengan Alea beberapa hari saja," keluh Dam.


Darren hanya bisa memperdalam hembusannya. Ingin sekali, ia katakan kalau tak seharusnya ia menyimpan rasa pada Alea. Hanya Darren yang tahu kalau Dam memiliki perasaan pada saudaranya tersebut. Namun, ia tak akan membiarkan itu terjadi bila perlu, ia akan mencarikan jodoh untuk Dam, agar Dam tak bisa memiliki Alea.


"Ayolah, dad. Daddy seperti tak pernah muda saja," cibir Dam.


"Bertemanlah dengan sewajarnya, jangan menaruh hati. Itu hanya akan merusak persahabatan daddy dan papy-nya Alea."


"Kenapa daddy begitu melarang Dam dekat dengan Alea? Bahkan daddy tak pernah menjelaskan pertentangan itu. Aku yakin bukan hanya merusak persahabatan daddy dan uncle Leo. Tapi daddy merahasiakan sesuatu dariku," batin Dam.


Sudah bosan mendengar ceramah dari ayahnya, Dam memilih untuk diam. Percuma saja ia berdebat dengan masalah yang tak pernah ada habisnya, jadi ia putuskan untuk mengikuti ke inginan Darren untuk saat ini. HANYA UNTUK SAAT INI SAJA. Dan itu bisa berubah suatu hari nanti.


Sedang serius berbicara dengan anaknya, Darren malah melihat tatapan kosong di mata Dam. "Apa aku terlalu keras padanya? Tapi, itu memang harus aku lakukan!" gumam Darren.


"Kalian membicarakan apa? Sepertinya seruis sekali?" tanya Dania yang baru saja masuk. "Makan malam sudah siap, ayo kita makan?" ajaknya.


***


Mereka berempat sedang makan malam bersama, keluraga yang sangat bahagia bukan? Anggota yang lengkap, itu melengkapi kekurangan Dania.


"Dad? Liburan sekarang aku mau ke rumah oma, boleh?" tanya Dam di sela-sela makannya.


"Tumben!" cibir Syiera. "Biasanya juga kalau aku ajak, mana pernah kamu mau ikut, jangan bilang, kalau kamu mau ikut karena gak ada Alea."


"Jangan banyak bicara, makan yang benar!" timpal Darren. Ia hanya ingin menikmati makam malamnya dengan tenang. Masalah anak-anak yang tak diketahui istrinya cukup menguras pikirannya.


Sementara Dania, ia tak banyak protes dengan kajadian malam ini, karena ini sudah terbiasa baginya. Hingga akhirnya acara makan malam pun selesai, dan kini mereka sedang berada diruang tamu, berkumpul bersama.


Darren memberi jadwal untuk keluarganya hanya untuk sekedar mempererat kedekatan mereka, seminggu sekali jadwal yang dijadwalkan oleh kepala rumah tangga itu.

__ADS_1


Sehingga tali persaudaraan Syiera dan adiknya tetap terjaga dengan baik, walau sering bertengkar diantara mereka, itu hanya candaan semata.


Dania menyandarkan kepalanya di pundak suaminya, sembari menonoton tv. Sementara anak-anaknya sibuk dengan ponsel masing-masing.


"Dam, apa kamu serius ingin liburan di rumah oma?" tanya Darren.


Dam yang mendengar, ia langsung menghentikan aktvitasnya yang sedang sibuk dengan ponselnya. Lalu menatap pada sang ayah.


"Iya, dad," jawab Dam. "Memangnya kenapa?" tanyanya.


"Daddy dan Momy mau ke rumah aunty Lisa,, sambil mengantar Alea. Jadi kalau kamu mau ke rumah oma berarti daddy tidak akan membuatkanmu paspor," jelas sang ibu.


"Ah, kalau kalian mau ke London aku ikut. Aku juga 'kan ingin tahu rumah aunty Lisa, mom."


"Mau tahu apa emang mau ikut saja, hah?" cibir Syiera.


"Ya sudah, kita berangkat sekeluarga kalau begitu," kata Darren.


"Syiera gak ikut deh, dad. Aku di rumah saja," kata Syiera.


Kenapa putrinya itu tak mau ikut, padahal ia begitu khawatir jika putrinya ditinggal, walau ada asisten di sini bersama pak supir. Tapi hatinya tidak akan tenang.


Syiera hanya bisa pasrah jika itu memang ada sangkutannya dengan masalah pekerjaan.


"Baiklah, dad. Aku ikut kalau begitu."


Padahal, ia sudah ada rencana bersama Alex. Alex mengajaknya pergi untuk berlibur juga. Tapi sayang, rencana hanya tinggal rencana.


Waktu begitu cepat berlalu.


Dan sekarang, mereka berlima sudah berada di bandara international. Hari ini, adalah hari keberangkatannya menuju London. Menemui sahabatnya sambil mengantar Alea.


Sedari tadi, Darren memperhatikan Dam. Ternyata, anak itu menuruti apa yang diinginkannya. Jadi ia bisa bernapas lega untuk masalah Dam dan Alea.


Tinggal masalah Syiera yang belum bisa ia atasi.


Tiba di London.

__ADS_1


Lisa dan Leo menyambut kedatangan mereka, apa lagi Lisa dan Leo merindukan Dam. Lisa lebih dulu menghamburkan pelukannya pada Dam. Membuat Alea sedikit cemburu padanya.


"Apa momy tak merindukanku, kenapa momy lebih dulu memeluk, Dam," gumam Alea pada saat melihat Lisa memeluk Dam dihadapannya.


Dan setelah itu, barulah Lisa memeluk Alea. Alea hanya terdiam menanggapi sikap ibunya, ia sudah terlanjur cemburu pada Dam. Sikapnya sedikit acuh.


***


"Lihat! Bahkan momy lebih dekat dengan mereka," kata Alea yang berdiri di depan cermin. Ia bicara pada bayangannya sendiri.


Di ruang tamu rumah Lisa.


"Aunty, Alea dimana?" tanya Dam, sesampainya di sini, ia tak melihat Alea.


"Alea, mungkin di atas," jawab Lisa. Ia sedang mengobrol dengan Dania dan juga Darren. Kalau Leo, setelah menjemput Darren dan Dania, ia kembali ke tempat kerjanya.


Darren menghembuskan napasnya dengan kasar, baru saja pikirannya tenang. Tapi setelah ia tahu, Dam menayakan Alea, perasaannya menjadi gusar. Ia takut kalau Dam lebih cepat mengungkapkan perasaannya pada Alea. Jadi, ia putuskan untuk menyusul Dam yang sedang menemui Alea.


Tapi sayang, disaat ia sudah berada di lantai atas, ia tak melihat keberadaan Dam. Karena rumah mereka cukup luas.


"Dimana anak itu?" Darren mengarahkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, perlahan ia menyelusuri tempat itu.


"Dam," panggil Darren, tak ada jawaban, padahal ia sudah berteriak memanggil nama anaknya. Disaat Darren memanggil Dam untuk yang kedua kalinya. Yang menjawab malah bukan Dam, melainkan Alea.


"Om," sapa Alea dari arah belakang Darren. Membuat Darren sedikit terkejut. Ia pun menoleh ke arah Alea.


"Al, apa kamu melihat Dam?"


Alea menggeleng. Ia tak melihat siapa-siapa di sini.


"Kemana anak itu? Padahal sudah jelas tadi dia ke sini." gumamnya dalam hati.


"Ya udah om, Alea ke kamar dulu," pamitnya. Lalu ia pergi meninggalkan Darren yang masih sendiri mencari Dam.


Alea masuk ke kamarnya. Dan tiba-tiba ....


...----------------...

__ADS_1


Selamat beristirahat, maaf kalau alurnya gak nyambung. Aku sedikit percepat. Agar tak terlalu bertele-tele.


Semoga masih mengerti dengan alurnya. 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2