Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episode 78


__ADS_3

"Dam .... Cepatlah sedikit! Kamu itu mau sekolah bukan fasaion show," teriak Syiera dari dalam mobil yang hendak ia kendarai. Merasa kesal pada Dam, ia pun turun dari mobilnya hendak menyusul adiknya itu. Tapi sebelum Syiera melangkah, Dam lebih dulu tiba. Syiera membuang napas dengan kasar.


"Lamban sekali!" gerutu Syiera.


"Ya elah kak, aku harus terlihat tampan hari ini," cetusnya. "Ya sudahlah, jangan ngomel lagi. Alea sudah menunggu kita!" ajaknya.


Syiera membulatkan matanya, kenapa dua orang ini membuatnya sulit untuk bergerak.


"Dam ... Sekolahmu dan Alea itu tidak searah, kakak bisa telat ke kantor, Dam."


Ya, kini usia Damian dan Alea sudah menginjak 17 tahun, dan hari ini adalah hari kelulusan mereka. Dan Syiera kini menjadi gadis cantik. Hidupnya menjadi kejaran para pria yang ingin menjadikannya sebagai kekasihnya. Tapi sayang, hati Syiera sudah berlabuh pada seorang pria yang bernama Alex.


"Ayolah ... Kak. Kasian Alea," pinta Dam agar kakaknya mau memberikan tumpangannya pada Alea.


Damian dan Alea kini menjadi sepasang sahabat yang tak terpisahkan. Dam merasa ada yang kurang jika sehari saja tak bertemu dengannya, apa lagi ... Setelah kelulusan, Alea akan ikut ke London, menyusul kedua orang tuanya. Lisa dan Leo menetap di sana, karena cafe yang dikelola Lisa dan Leo menjadi cafe yang sangat terkenal. Sampai mereka membuka cabang di sana.


Mau tak mau akhirnya, Syiera menjemput Alea dan mengantarnya ke sekolah. Padahal ... Ini hari pertamanya ia bekerja, meneruskan bisnis keluarga. Dibawah naungan Darren tentunya.


"Setelah acara kelulusan selesai kalian langsung pulang! Terutama kamu Alea, jangan mau diajak nongkrong-nongkrong dengan orang ini," liriknya pada Dam.


Alea pun turun dari mobil Syiera.


"Nanti aku jemput," kata Dam pada Alea.


Dengan cepat, Syiera menuju sekolah adiknya, karena ia benar-benar tak ingin terlambat di hari pertamanya bekerja, ia tak ingin mengecewakan ayahnya.


"Cepatlah turun! Lamban!" Sikapnya yang jutek hanya pada adiknya.


Di kantor.


Syiera sedari tadi terus melirik jam di pergelangan tanganya, saking buru-burunya, ia menabrak seorang OB yang membawa ember habis mengepel. Sampai air itu tumpah dan mengenai sepatu yang ia kenakan. Dengan geramnya, ia memarahi OB itu. Ia sedang dikejar waktu, tidak tahu apa kalau dirinya sedang buru-buru.


"Syiera," panggil Darren.


Syiera menatap ke arah Darren sekilas, lalu kembali mentapa OB yang sedari tadi tertunduk karena dimarahi olehnya.


"Urusan kita belum selesai!" ucapnya pada OB itu. Lalu ia menghampiri Darren dan berjalan berbarengan.


"Kamana saja jam segini baru sampai? Gimana karyawan mau disiplin kalau atasannya saja sepertimu, hari pertama sudah telat."


Sial, semua ini gara-gara Dam. Kalau tak menjemput Alea dulu dan mengantarnya ke sekolahnya, mungkin ia tak akan terlambat. Tambah lagi yang terjadi barusan. Hari ini, hari sialnya.

__ADS_1


Akhirnya ia bisa duduk di kursi kebesarannya, walau kena omel dari sang ayah, dan sekarang ia bisa bernapas dengan lega. Ia melihat sekeliling ruangannya yang cukup besar dan rapi. Belom komplit jika belum ada minuman di atas mejanya, ia pun memesan kopi lewat tombol yang ada di atas kiri meja kerjanya.


"Kirim kopi ke ruangan saya."


Saat sedang melihat berkas-berkas di atas meja.


Tok tok tok


"Masuk."


"Ini kopinya, bu," sahut OB sambil meletakan kopi itu di atas meja.


"Hmm," jawabnya tanpa menoleh ke arah OB itu, ia begitu serius dengan dokumennya.


OB itu pun perlahan keluar.


"Sepertinya, dia tak melihatku, syukurlah." OB itu pun kembali bekerja.


Ruang OB


"Eh, lo tadi kena omel, ya?" tanya Ema pada Attar.


"Hmm, dia siapa?" tanya Attar. "Saya baru lihat," ucapnya lagi.


"Sepertinya dia galak, ya?" tanya Attar.


"Gak, ah. Setahu saya dia baik. Mungkin ini hari sialnya Attar saja," jelas Ema. "Kalian sama-sama baru di sini. Mungkin saja kamu bisa berjodoh dengan Bu Syiera." Seketika di ruang OB itu menjadi ramai karena candaan mereka.


"Cantik, sih ... Tapi_," batinnya terputus kala Toni menepuk pundaknya.


"Kerja-kerja, sudah waktunya kita bekerja. Semangat ya gaes," kata Toni dengan semangat 45.


Attar pun kembali dengan pekerjaannya.


Sementara di tempat lain.


"Dam ... Kita mau kemana?" tanya Alea yang matanya ditutup oleh Dam.


Dam sengaja menutup mata Alea, karena ia akan memberi kejutan padanya. Ia rasa ini saatnya ia mengatakannya, apa lagi ia tak banyak waktu. Karena sebentar lagi Alea akan pergi ke London.


"Sureprise ...," kata Dam setelah membuka mata Alea yang sedari ditutup oleh kain.

__ADS_1


"Dam ... Ulang tahun kita masih jauh, kenapa kamu menyiapkan ini sekarang," ucapnya.


Hanya Dam yang selalu mengingat hari ulang tahun mereka, hanya Dam yang selalu memberi kejutan untuknya, saking terbiasanya, Alea sudah tak terkejut lagi dengan kejutan yang disiapkan oleh Dam.


Namun beda dengan kali ini, Alea merasa Dam sangat menyayangi persahabatannya. Pasalnya baru beberapa bulan yang lalu mereka merayakan hari ulang tahunnya. Dan sekarang.


"Al, mungkin tahun depan kita tak bisa merayakan hari ulang tahun kita bersama lagi," lirih Dam.


Alea langsung memeluk Dam dengan erat, dan Dam pun membalasnya tak kalah erat. Berada dalam pelukan Alea, membuat Dam merasa nyaman.


Alea mencoba melepaskan pelukannya, tapi Dam ... Dia serasa enggan untuk melepasnya.


"Dam ... Aku tak bisa napas," kata Alea, saking eratnya membuat Alea menjadi sesak. "Dam!" panggilnya kemudian.


Setelah mendengar Alea memanggil namanya, baru Dam melepaskan pelukkannya.


"Ah, maaf Al, membuatmu tidak nyaman," imbuhnya.


Mereka pun kini menikmati kue yang telah di siapkan oleh Dam. Disaat akan memotong kue itu, sejenak Alea terdiam. Ia melihat bentuk kue itu tak seperti biasanya, tanpa ragu ia membelah kue itu menjadi beberapa bagian.


"Al ... Apa kamu tidak paham akan maksud bentuk kue itu?"


Alea merasa mulai tak nyaman berada lama-lama di sana, akhirnya ia memutuskan minta pulang pada Dam, ia takut kalau Dam ... Namun dengan cepat ia berpikir jernih. Mungkin Dam tak sengaja dengan bentuk kue itu.


"Dam, sebaiknya kita pulang, ini sudah sore. Apa kamu tidak ingat apa kata kak Syiera," ujarnya.


Ada rasa terhimpit di dada. Dam tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa pasrah dengan permintaan Alea. Akhirnya ia putuskan untuk pulang sore ini juga.


***


Disaat sedang perjalanan pulang, Syiera tak sengaja melihat orang yang membuatnya kesal tadi pagi.


"Kali ini, kau tidak bisa lolos."


...----------------...


Semoga pembacaku di berikan kesehatan dan di limpahkan rejekinya, agar tetap setia menengok karya ku🤲🤲


salam hangat dari Febyanti.


IG Febanty01

__ADS_1


FB Febianty


__ADS_2