Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 38


__ADS_3

"Sudah kamu lakukan?" tanya Darren pada Genik. Genik mengangguk mengiyakan jawabannya. Genik kembali ke ruangannya karena tak ada lagi yang harus dibicarakan dengan atasannya itu.


"Leo, kamu sudah mengusik keluargaku. Aku tidak terima dengan perlakuanmu pada istriku. Itu penghinaan bagiku!" ucap Darren dengan geram, awalnya ia tak akan membalas perlakuan Leo. Tapi tidak untuk kejadian kemarin, sudah 2 kali ia mencoba menjamah istrinya itu.


***


"Pak Leo, untung Anda datang," kata salah satu pegawai yang bekerja dengannya. Ia sekretaris Leo yang bernama Desta.


"Ada apa, Desta? Kamu terlihat panik?" tanya Leo yang baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya. "Apa ada masalah?" tanya Leo kembali.


"Tuan Darren. Tuan Darren, mencabut sahamnya, pak," kata Desta sambil tertunduk. Kalau itu terjadi berarti perusahaan Leo diambang kehancuran. Karena perusahaan Leo memang di bawah naungan perusahaan Darren.


Leo terdiam seketika, lidahnya terasa kelu untuk menjawab. Ia sudah menduga untuk hal ini, ia rasa, bahwa ia akan mengalami kebangkrutan. Ia juga sadar kalau ini memang salahnya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, minta maaf pun percuma. Karena ia tahu siapa Darren.


"Aarrgghh ..." Leo membanting apa saja yang ada di atas mejanya. Rasa menyesalpun percuma. Rahangnya mengeras, rasa benci terhadap Darren kembali mencuat kala ia teringat dengan kematian Kania, orang yang di cintainya selama ini.


"Lalu bagaimana pak? Perusahaan ini bisa bangkrut," sahut Desta.


Leo menatap ke arah Desta dengan gusar. Tak lama Leo beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Desta seorang diri di ruangan itu. Leo kembali ke apartemennya, setelah sampai di sana. Lisa pun sudah pergi, kini hanya ia sendiri di sana.


Leo benar-benar stres, perusahaan yang dibangun selama ini hancur begitu saja.


Leo tinggal menunggu kebangkrutan itu terjadi dalam hidupnya.


***


"Genik?" panggil Darren dalam sambungan telepon yang ada di ruangannya. "Kamu ke ruangan saya sekarang," ucap Darren kembali.


Tak lama Genik pun datang dengan membawa beberapa map di tangannya. " Ini pak, berkas yang Bapak butuhkan." Genik menyerahkan berkas-berkas itu tepat di atas meja.

__ADS_1


Darren mengangguk. "Kamu boleh keluar," kata Darren setelah itu. Setelah kepergian Genik, Darren melihat berkas-berkas itu. Lalu ia menyimpannya ke dalam laci, karena berkas itu, berkas yang di ambil dari perusahaan Leo.


Kini Darren bersiap-siap untuk segera pulang, ia meraih jas yang ada di sandaran kursi kebesarannya. Lalu ia memekainya dan tak lupa setelah itu ia menyambar kunci yang ada di atas meja. Dan ia pun pergi dari ruangannya menuju parkiran yang di khususkan untuk para pejabat tinggi di perusahaan itu.


Dalam perjalanan pulang, ia terpikir untuk membeli sebuah buket bunga untuk istrinya. Darren pun berhenti di sebuah toko bunga yang ada di pinggir jalan. "Mbak saya mau bunga yang itu." Tunjuk Darren pada bunga yang sangat cantik yang sudah di pajang dalam sebuah kotak kaca yang besar.


Pelayan itu pun mengambilnya. Lalu Darren membayarnya, setelah itu ia kembali melanjutkan perjalanannya. Di dalam mobil, ponselnya berdering. Lalu ia menepikan mobilnya di pinggir jalan, dan ia mengangkat sambungan itu.


"Ada apa Momy telepon?" ucapnya sebelum mengangkat telepon itu. "Hallo, Mom. Ada apa?" tanya Darren pada ibunya di sebrang sana.


"Kamu ke rumah sakit sekarang. Momy ada di rumah sakit Cempaka," ucap Karren dalam sambungan itu.


"Hallo, Mom?" sambungan itu terputus begitu saja. Tak ambil pusing, ia pun memutar balik arah mobilnya. Dan sekarang ia menuju rumah sakit yang diucapkan oleh ibunya.


Setibanya di sana, ia langsung melihat ibunya. Karena sedari tadi Karren memang sudah menunggu kedatangannya. "Siapa yang sakit?" tanya Darren langsung pada Karren.


Lalu ia arahkan pandangannya lurus kedepan. Ia melihat ada beberapa polisi yang tengah berjaga di sebuah pintu. Pikiran Darren langsung mengarah pada pappy nya.


Darren melepaskan pelukan itu, lalu ia menghamipiri pada polisi yang berjajar di sana. "Minggir," kata Darren pada polisi itu. Polisi itu pun menggeserkan tubuhnya, memberi ruang pada Darren agar dapat masuk ke dalam.


"Pappy." Darren menteskan air matanya ketika ia melihat sang ayah yang terbaring lemas di atas branker. Tak lama Karren pun datang.


"Kenapa Momy tak pernah mengatakan apa pun tentang kondisi pappy," ujar Darren sambil berderai air mata.


"Maafkan Momy. Momy hanya tak ingin bebanmu bertambah dengan kondisi pappy." Karren menumpahkan air matanya begitu deras.


"Cuma kamu dan istrimu yang bisa mengeluarkan pappy," ujar Karren kemudian. Darren membulatkan kedua matanya setelah mendengar penuturan Karren.


"Maksud Momy? Ada hubungan apa dengan Dania?" tanya Darren tak mengerti.

__ADS_1


"Kamu masih ingat, apa yang akan Momy katakan dulu padamu?" Darren nampak berpikir.


"Langsung aja, Mom. Aku tak mengerti!"


"Seharusnya Momy yang ada dalam penjara, bukan pappy." Karren memeluk Darren begitu erat. Darren benar-benar tak mengerti apa yang di ucapkan Karren, ditambah lagi ini ada sangkutannya dengan istrinya.


"Mom, aku sungguh tidak mengerti." Darren melepaskan pelukan ibunya. Lalu Karren menjelaskan semua yang terjadi.


"Jadi ini tujuan Momy menikahkanku dengan Dania? Momy hanya ingin menebus kesalahan Momy lima tahun yang lalu?" Tubuh Darren langsung merosot setelah mendengar penjelasan Karren. Yang ternyata kedua orang tua Dania meninggal itu karena sebuah kecelakaan. Dan kecelakaan itu terjadi karena Karren. Karren yang menabrak orang tua Dania hingga tewas.


"Kalau Momy yang menabrak, kenapa pappy yang di penjara?" tanya Darren tanpa merubahkan posisinya.


"Pappy tak ingin Momy masuk penjara, jadi pappy yang menggantikan Momy. Pappy langsung duduk di kursi kemudi setelah Momy turun dari mobil. Semua warga mengira bahwa pappy yang menabrak," jelas Karren.


"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, Mom?"


"Cukup bilang pada istrimu, tolong bebaskan pappy," ujar Karren.


Tapi Darren malah tertawa dengan permintaan sang ibu. "Momy pikir Dania akan melakukan itu, setelah dia tahu siapa yang telah membuat kedua orang tuanya tiada. Betapa terpuruknya dia, Mom." Darren tertunduk bingung.


"Kalau tidak mencoba, mana kita tahu." Karren meraih tubuh Darren agar berdiri. Setelah Darren berdiri, Karren mengajaknya untuk duduk di sofa.


"Tapi aku takut, aku takut dia akan meninggalkanku dan membenci keluarga kita setelah dia tahu yang sebenarnya." Darren menghela napasnya secara kasar.


"Tolong pikirkan, apa kamu tega melihat pappymu seperti itu." Karren menunjuk ke arah Davin yang berada di atas branker menggunakan wajahnya.


"Beri aku waktu untuk melakukannya. Aku akan pulang sekarang," kata Darren, sebelum ia keluar dari ruangan itu, ia menghampiri ayahnya terlebih dulu.


Perjalanan pulang, ia tak bisa memfokuskan menyetirnya. Beberapa kali ia hampir menabark trotoar......

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2