
Disaat Alea masuk kamar, tiba-tiba saja sebuah tangan langsung melingkar di pinggangnya. Itu membuat Alea terkejut dan bersuara.
"Aaaa ...," pekik Alea.
"Sttt ... Ini, aku," bisik Dam di telinga Alea. Karena posisi Dam berada di belakang Alea.
Alea memutarkan tubuhnya, namun posisi Dam masih dalam keadaan memeluknya.
"Dam ... Sedang apa kamu di sini? Daddy-mu mencarimu, tuh!"
"Pelankan suaramu," seru Dam. "Aku tahu itu, makanya aku sembunyi di sini."
"Kenapa harus sembunyi?" tanya Alea
"Daddy tidak suka aku dekat denganmu. Itu membuatku kesal." Perlahan, Dam melepaskan pelukkannya.
"Al ... Apa aku tak pantas untukmu?"
"Apa maksudmu?" Alea tak mengerti pertanyaan dari Dam.
Dam meraih kedua tangan Alea. Dam berlutut di hadapannya. "Al, aku mencintaimu. Kamu mau 'kan jadi kekasihku?" Dam berharap Alea menerima cintanya.
Namun pada saat itu, Darren mendengar pernyataan cinta anaknya itu. Matanya langsung menyalak tak percaya, kenapa Dam bisa mencintai adiknya. Apa tak ada ikatan batin persaudaraan diantara mereka?
Darren langsung menarik tangan Dam. Dam yang terkejut hanya menunduk, merasa malu pada Alea. Alea menyaksikan perlakuan Darren yang menurutnya kasar karena telah menarik tangan Dam secara paksa.
"Daddy sudah bilang padamu, bukan? Kenapa masih ngeyel!" maki Darren pada anaknya.
Mendengar keributan di atas, mengalihkan obrolan Dania dan Lisa.
"Apa kamu mendengarnya?" tanya Lisa pada Dania. "Bukannya itu suara Darren? Kenapa dia?"
Dania dan Lisa langsung saja ke lantai 2.
"Daddy! Apa aku salah jika memiliki perasaan pada Alea? Aku sudah dewasa, dad!"
"Dam ..." protes Darren
"Apa? Apa yang membuat daddy tak mengijinkan aku dekat dengannya? Apa hah, apa!"
Plak ...
Satu tamparan mendarat di pipi Dam yang mulus, membuat Dam langsung tersungkur. Darren menampar Dam, karena ia merasa Dam tidak sopan padanya.
"Itu caramu bicara dengan daddy-mu sendiri, hah?"
"Darren! Apa yang kamu lakukan?" tanya Lisa.
__ADS_1
Lisa langsung menghampiri Dam, dan membatu Dam. "Kamu gak apa-apa?" tanya Lisa pada Dam.
"Apa maksudmu menampar an_," ucapnya terputus kala Dania dengan cepat menutup mulut Lisa. Dania menggelengkan kepalanya pada Lisa, mengisyaratkan bahwa ia harus tetap menyembunyikan siapa dirinya.
Tapi Lisa tak terima jika anaknya diperlakukan begitu oleh Darren. Membuat Lisa langsung menatap tajam ke arah orang yang telah menampar anaknya itu.
"Daddy! Daddy tega menampar, Dam. Apa salah, Dam? Kenapa Dam tak boleh mencintai Alea?" pertanyaan itu membuat Lisa dan Dania menganga.
"Dam! Sopan sedikit pada Daddy-mu!" kesal Dania.
"Apa Momy juga melarangku dekat dengan Alea? Cinta ini tumbuh dengan sendirinya," kata Dam sambil menyentuh dadanya.
"Aunty tidak setuju kalau Dam memiliki rasa pada Alea!"
Mendengar ucapan dari Lisa, pupus sudah harapan Dam. Kalau mendengar larangan dari ayahnya, Dam masih bisa terima.
Dan itu membuat Dam syok. Dam langsung keluar dari kamar Alea. Alea yang memanggilnya, namun Dam tetap terus berlari, hingga Alea pun mengejar Dam sampai ke luar.
Namun Dam lebih cepat, membuat Alea teringgal jauh. Alea melihat mobil melaju kencang dari arah kanan. Dam yang terus berlari tak menghiraukan jalan sekitar.
Dan brak ...
"Dam ...," teriak Alea sekencang mungkin. Tubuh Alea langsung merosot, ia menyaksikan tubuh Dam yang tertabrak hingga terpental jauh. Alea menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia menangis histeris. Tak bisa menahan rasa syok itu membuatnya langsung jatuh pingsan.
Sementara yang lain, mereka hanya terdiam melihat kecelakaan yang terjadi di hadapannya. Lisa terkulas lemas, bersamaan dengan Dania.
Rumah sakit.
Darren dan Leo terus mondar-mandir di depan ruangan ICU. Sementara Lisa dan Dania mereka menemani Alea yang masih belum sadar dari pingsannya.
Dokter keluar dari ruangan ICU, Darren dan Leo langsung menghampiri Dokter.
"Dok, bagaimana dengan anak saya?" tanya Leo dan Darren bersamaan. Membuat Dokter sedikit bingung, yang benar yang mana ayah pasien? Tak mau pusing sendiri, dokter mengacuhkan pengakuan mereka sebagai ayah pasien.
"Pasien kehilangan banyak darah, tapi stok darah di rumah sakit lagi kosong." Belum selesai dokter bicara, Leo langsung menawarkan darahnya untuk di donorkan.
"Darah saya, Dok. Saya ayahnya, sudah pasti darah saya sama," jelas Leo.
"Baik, kalau begitu. Mari, ikut saya," ajak dokter.
***
"Al, kamu sudah sadar?" Dania membantu Alea duduk. "Mamy-mu sedang di toilet."
"Bagaimana keadaan Dam?" tanya Alea. Ia mengingat kejadian tadi, ia langsung menangis.
"Sayang, tenangkan dirimu, Dam sedang ditangani Dokter," kata Dania, ia juga tengah gelisah. Bagaimana keadaan Dam yang sudah ia anggap putranya sendiri.
__ADS_1
"Alea," panggil Lisa yang baru saja keluar dari toilet.
"Mamy, aku mau lihat, Dam," pintanya. Lisa dan Dania pun langsung mengajak Alea untuk melihat Dam.
"Om, bagaimana keadaan, Dam?" tanya Alea setibanya di sana. "Daddy, mana?" tanyanya lagi.
"Dam sedang ditangani Dokter, kalau Daddy, dia sedang mendonorkan darahnya untuk Dam," jelas Darren.
Alea mencerna jawaban dari Darren, kenapa? Kenapa ayahnya yang mendonorkan darah untuk Dam? Kenapa bukan ayah Dam?
Alea terdiam mencari jawabannya sendiri. Ia akan tanyakan nanti pada ayahnya langsung.
Tibalah Leo di sana, ia begitu kecewa setelah mengetahui hasilnya, kenapa darahnya tak cocok dengan Dam, seharusnya darah Dam dan dirinya, cocok. Tapi ini?
Lisa langsung menghampiri suaminya. "Bagaimana?" tanya Lisa. Wajah Leo langsung bersinar kembali, kalau darahnya tak cocok dengan Dam, kemungkinan darah Lisa cocok dengannya.
"Darahku tak cocok. Pasti yang cocok dengan Dam, pasti denganmu," jawab Leo.
Kini Alea tahu jawaban yang sebenarnya.
"Apa, Dam saudaraku?" tanya Alea. Lisa dan Leo lupa, bahwa ada Alea di sana. Dan mereka berpikir, Alea sudah mengetahui semuanya.
"Al, maafkan kami," kata Dania sambil merangkul Alea.
"Kenapa? Kenapa kalian menyembunyikan bahwa Dam saudaraku? Apa dia kembaranku?" tanyanya lagi.
"Maafkan kami semua," timpal Darren
"Kenapa kalian tega menyembunyikan jati diri kami, dan sekarang ... Dam terkapar gara-gara kalian!" Alea begitu kecewa.
"Mamy jelaskan, nanti," kata Lisa. "Sekarang, Mamy mau donor darah untuk Dam." Lisa pun pergi bersama suster. Tak lama, Lisa telah kembali, ia menangis. Membuat semua orang yang berada di sana terheran. Jangan bilang kalau darah Lisa juga tak sama dengannya. Lalu, kalau darah mereka tak sama dengan Dam. Dam anak siapa?
"Bagaimana? Darahmu cocok 'kan?" tanya Leo.
Sebelum Lisa menjawab, suster lebih dulu menemui mereka.
"Maaf, kalau bisa jangan lama-lama, soalnya pasien benar-benar butuh darah itu. Kalau tidak cepat, akan membahayakan keadaan pasien," jelas suster.
"Jadi itu artinya, darah Lisa pun tak sama dengan, Dam," gumam Leo. Bagaimana bisa ini terjadi? Bahkan semua sudah jelas kalau Dam adalah anak mereka, di lahirkan berbarengan dengan Alea, kembarannya.
"Golongan darah apa yang dibutuhkan pasien sus?" tanya Dania.
Dan suster pun mengatakan golongan darah pasien.
"Berarti, itu sama denganku. Ambil saja darahku," kata Dania.
Bersambung
__ADS_1