Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 60


__ADS_3

Seminggu telah berlalu.


"Apa kamu sudah gila!" Teriak Lisa pada Leo. Leo telah memberitahukan janjinya yang sudah terucap pada Syiera kepada istrinya itu.


"Ini konyol, kamu pikir jika aku melahirkan terus aku akan memberikan anakku apa!" sarkas Lisa lagi. Hingga akhirnya tangis Lisa pecah. Ibu mana yang tega memberikan anaknya walau itu kepada sahabatnya sendiri.


"Tapi cuma ini yang bisa aku lakukan, sayang! Sahabatmu begini karena aku," lirih Leo.


"Tapi bukan berarti kamu harus mengorbankan anak kita." Lisa menangis sambil menyentuh perutnya.


Leo melihat itu, lalu menatap wajah Lisa. "Apa kamu sedang hamil? Katakan padaku!"


Lisa mengangguk pelan. Ia memang sudah telat datang bulan, lalu tadi pagi ia mengeceknya dengan tespack dan hasilnya fositif. "Please Leo, jangan lakukan itu. Aku mohon!" Lisa bersimpuh di hadapan suaminya, untuk tidak menyerahkan anaknya kepada Dania.


"Maafkan aku Lisa, aku sudah membulatkan tekadku untuk menebus semua kesalahanku pada sahabatmu!" Bahkan Leo membiarkan Lisa menangis dalam bersujud.


"Tidak bisa 'kah kamu mengerti akan diriku," lirih Lisa.


Leo meraih tubuh istrinya, ia mendekapnya dengan penuh kasih sayang. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menenangkan Lisa untuk saat ini.


"Kamu wanita sempurna, kita bisa memiliki anak lebih dari satu, sayang. Biarkan aku melakukan ini, biarkan Dania yang merawat anak kita." Leo mencium pucuk rambut istrinya.


Lisa sangat kecewa akan keputusan suaminya itu. Tapi ia juga merasa iba terhadap sahabatnya, gara-gara suaminya Dania kehilangan untuk memiliki seorang anak.


Dirasa Lisa sudah tenang, Leo mengajak istrinya untuk beristirahat karena hari sudah larut. Bahkan ia membopong tubuh Lisa untuk masuk ke kamar, kamar sempit itu dengan setia menemani peristirahatannya selama menikah.


Perkembangan cafe begitu pesat semenjak ia menikah dengan Lisa, sedikit-sedikit, ia menyisihkan penghasilannya untuk ditabung. Ia berencana untuk membeli rumah.


Memberikan kehidupan yang layak untuk Lisa, istri tercintanya.


Setelah membaringkan tubuh Lisa di kasur, ia pun menyelimutinya dengan selimut, memberikan kenyamanan untuk istrinya.


"Tidurlah, jangan banyak fikiran. Kandunganmu harus sehat!" Leo mengecup kening istrinya sebelum ia merebahkan tubuhnya di samping Lisa.


***


"Sayang, ini sudah malam, loh. Mau sampai jam berapa? Besok 'kan masih bisa dilanjutin," kata Darren pada istrinya yang masih sibuk menyiapkan pesta untuk Syiera, bahkan acara itu masih beberapa hari lagi.


"Nanggung ini, bentar lagi juga kelar," jawab Dania tanpa menoleh sedikit pun pada suaminya, ia tetap sibuk menyelesaikan pekerjaannya.


Tak lama kemudian, semua sudah Dania bereskan. Disaat ia beranjak dari tempatnya, ia malah melihat suaminya yang tertidur di sofa, saking lamanya menunggu istrinya hingga ia ketiduran.


Dania mengguncangkan tubuh suaminya agar terbangun dari tidurnya. Perlahan Darren membuka matanya, karena merasakan ada yang menyentuhnya.


"Ayo," ajak Dania. "Aku sudah selesai," katanya lagi.

__ADS_1


Darren pun beranjak dari sofa, ia melanjutkan tidurnya kembali setelah berada di kamar. Dan mereka pun tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul 23.45.


Malam pun berganti, cahaya mentari mulai menampakan dirinya karena sekarang pukul 06.30, sepasang suami istri itu masih tertidur dengan nyenyaknya. Karena semalam mereka tidur terlalu larut, sehingga mereka kesiangan.


Tok tok tok


Ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mereka. Karena mendengar suara, Dania pun perlahan membuka matanya, ia terperanjat karena melihat cahaya yang masuk ke dalam kamarnya.


"Duh, aku kesiangan."


Padahal hari ini ia akan pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan untuk acara lusa. Acara ulang tahun Syiera.


"Mom," panggil Syiera.


"Iya sayang," sahut Dania, dari dalam kamar.


"Mom, Apa kita jadi belanja hari ini?" tanya Syiera lagi.


Tak lama Dania pun keluar dari kamarnya, menemui Syiera yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Iya sayang, jadi. Maaf, Momy kesiangan," ujarnya setelah membuka pintunya. "Tunggu, Momy mandi dulu."


Lalu Syiera pun pergi, dan menunggu ibunya selesai mandi.


Dengan cepat Dania segera masuk ke dalam kamar mandi, tak lama kemudian ia pun keluar dari sana. Ia membangunkan suaminya terlebih dulu.


Saking kencangnya suara Dania, Darren langsung membuka matanya. "Ada apa sih? Kenapa teriak-teriak!" Darren melirik jam yang menempel di dinding. Bahkan waktu baru menunjukkan pukul 07.30. Siang dari mananya, masih pagi begini. Pikir Darren.


Bukannya bangun, Darren malah menarik selimut. Itu membuat Dania menjadi kesal.


Lalu ia menarik selimut yang dikenakan suaminya.


"Aku bilang bangun! katanya mau mengantarku belanja," ketus Dania.


Setelah mendengar penuturan dari istrinya, Darren langsung terbangun. Ia langsung membersihkan diri di kamar mandi.


Kalau keluarga Darren sedang bahagia karena penyambutan ulang tahun Syiera yang ke lima. Tapi tidak dengan Lisa, ia nampak murung karena harus merelakan anaknya kepada orang lain.


"Sayang ... Ayo dong, sarapannya dimakan," pinta Leo pada Lisa.


Lisa hanya mengaduk-aduk makanannya, pikirannya entah kemana. Bahkan ia tak mendengar omongan suaminya.


Leo mengusap lembut punggungnya, baru Lisa menyadari bahwa suaminya tengah mengajaknya bicara.


"Ah, maaf. Aku malah melamun," jawab Lisa, lalu ia kembali fokus pada makanannya. Ia menyantap makanannya tanpa selera.

__ADS_1


Ia terpaksa memakannya karena ia tak bisa egois, ia perlu asupan gizi karena bayi yang dikandungnya harus tetap sehat.


"Lisa, aku tahu perasaanmu. Tapi bisa kah kamu mengikhlaskannya. Aku harus menebus semua dosaku pada sahabatmu," lirih Leo.


Lisa menatap wajah suaminya yang terlihat memelas, ia menunjukkan senyum palsunya, walaupun sulit, ia akan mencobanya.


Mungkin tidak terlalu sulit, karena orang yang akan menerima bayinya adalah sahabatnya sendiri.


"Apa Dania sudah tahu, kalau kamu akan menyerahkan anak kita padanya?"


Leo menggelengkan kepalanya. "Aku belum memberitahukan masalah ini pada mereka, aku hanya menjajikan pada Syiera." Leo kembali melanjutkan sarapannya.


"Oh ya, kapan kita memeriksakan kandunganmu ke Dokter?" tanya Leo kemudian.


"Besok sajalah, hari ini aku mau ke cafe."


Mereka melanjutkan sarapannya sampai selesai.


Sementara di tempat lain.


Darren tengah mendorong troli yang sudah penuh dengan belajaan yang sudah dipilih istrinya bersama anaknya.


"Sayang, mau beli apa lagi? Ini troli ke dua. Bahkan ini sudah penuh," keluh Darren karena ia sudah merasa pegal di kakinya. Hampir 3 jam mereka berada di pusat perbelanjaan di Ibu kota.


"Sebentar lagi," jawab Dania tanpa menoleh ke arah suaminya. Ia bahkan tidak tahu penderitaan sang suami.


"Nah, sekarang baru selesai," katanya lagi sambil menyimpan barang terakhir yang dibelinya. "Sekarang tinggal bayar. Kamu yang antri, ya? Aku mau membeli eskrim dulu."


Lagi-lagi, Darren menderita karena ini. Walaupun begitu ia tetap melaksanakan perintah sang istri.


Setelah semuanya dibayar, Darren menemui istrinya yang sedang asyik memakan eskrim bersama anaknya.


"Semuanya sudah bereskan? Tidak ada yang perlu dibeli lagi 'kan?" tanyanya.


Dania nampak berpikir, sepertinya ada sesuatu yang belum ia beli.


"Untung kamu mengingatkan, ada satu lagi," ucap Dania.


Darren sudah menarik napas dalam-dalam, sepertinya penderitaannya belum berakhir hari ini.


Dania menahan tawanya melihat expresi suaminya yang terlihat kesal. "Aku becanda, kok. Semuanya sudah beres."


Seketika Darren bernapas lega.


......................

__ADS_1


Tinggalkan jejak😘😘😘


__ADS_2