
Setelah kepergian Lisa. Leo merasakan nyeri di dadanya, orang yang selama ini perduli dengannya sekalipun membencinya. Entah, Leo harus berbuat apa? Supaya Lisa mau kembali padanya. Tak ada yang perduli padanya selain Lisa.
Dengan gontai, Leo kembali pulang ke apartemennya. Ia mengunci diri di rumahnya, hanya apartemen yang ia miliki saat ini. Leo terus memikirkan masa depan hidupnya, sejenak, ia melupakan perlakuannya pada Dania hari ini.
Hingga satu ide muncul dalam benaknya. "Iya hanya ini yang bisa aku lakukan," ucap Leo pada dirinya sendiri.
***
"Sayang, sadarlah." Darren begitu setia mendampingi istrinya yang terbaring lemah di atas branker. Darren terus mengusap lembut pucuk rambut Dania.
Pegangan tangannya yang sedari tadi tak pernah ia lepaskan, sudah beberapa kali ia mencium tangan istrinya. Namun tak ada tanda-tanda Dania akan sadar.
Tak lama, Dokter datang memeriksam pasien. "Bagaimana, Dok? Kenapa istri saya belum sadar juga?" tanya Darren pada Dokter yang baru saja selesai memeriksa istrinya.
"Istri Anda masih dalam pengaruh obat bius, Tuan. Soalnya tadi kami sudah membersihkan rahim istri Anda dari gumpalan darah," jelas Dokter pada Darren.
"Kapan dia akan sadar?" tanya Darren kembali.
"Sabarlah, tidak lama lagi istri Anda akan sadar. Kalau begitu, saya permisi." Dokter keluar meninggal Darren bersama pasien.
Dan benar apa kata Dokter. Dania menggerakkan jemarinya, dan Darren merasakan itu. "Sayang." Dania yang mendengar langsung membuka matanya secara perlahan.
Dania mengerutkan keningnya, kenapa bisa Darren bersamanya sekarang. Lalu, dimana Leo? Pikir Dania.
"Perutku," pekik Dania. Ia merasakan sakit di bagian perutnya, lalu ia teringat akan kandungannya. "Anakku," kata Dania sambil mengusap perutnya.
Darren langsung menangis melihat Dania, ia yakin kalau Dania berpikir bahwa anak yang dalam kandungannya masih ada.
"Momy akan menjagamu, nak." Dania menangis sambil memejamkan matanya.
Lalu ia mengarahkan pandangannya pada suaminya. "Untuk apa kamu di sini? Aku tidak suka dengan orang yang penuh kesandiwaraan sepertimu!"
Deg
Jantung Darren terasa berhenti seketika, ketika ia mendengar ucapan Dania yang terlontar begitu saja. "Berarti benar, apa kata Momy. Dia mendengar pembicaraanku di kantor."
__ADS_1
Darren langsung berlutut di hadapan istrinya. Ia meminta maaf atas nama orang tuanya. "Aku mohon, maafkan aku, Dania." Darren terus menggenggam tangan istrinya.
Namum Dania mencoba melepaskan pegangan itu. Ia merubahkan posisinya untuk membelakangi Darren. Tapi pada saat itu juga, ia merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya.
"Ah ... Sakit." Dania memeluk perutnya sendiri. Darren yang mengetahui hal tersebut langsung keluar dari ruangan untuk mencari bantuan Dokter.
"Sus, tolong istri saya," ucap Darren pada Suster yang sedang melintas di hadapannya. Lalu, Suster itu langsung masuk ke dalam.
"Maaf, Nyonya. Sebaiknya posisi Anda terlentang jangan meringkuk seperti itu," sahut Suster pada Dania. Sehingga Dania kembali melentangkan tubuhnya.
"Sus, saya kenapa? Kenapa saya merasakan sakit pada bagian perut saya. Terlebih lagi saat meringkuk seperti barusan?" tanya Dania pada Suster itu.
"Tadi kami mengambil tindakan, dengan terpaksa kami mengeluarkan janin Anda. Anda mengalami pendarahan, Nyonya," jelas Suster.
Mata Dania langsung berkaca-kaca, ia tak kuasa menahan sakit atas kehilangan calon buah hatinya bersama orang yang ia cintainya.
Rasa sakit itu lebih menyakit dari kejadian lima tahun yang lalu. Dimana ia kehilangan orang tuanya. 'Ya, Tuhan cobaanmu begitu berat. Kenapa engkau menguji hambamu dengan cara seperti ini.'
"Sayang, masih ada aku di sisimu," timpal Darren.
"Pergilah, aku ingin sendiri." Dania menyuruh suaminya untuk segera meninggalknnya.
Darren tak bergeming, ia terus pada pendiriannya. Tetap setia menemani istrinya, ia lebih baik di marahi istrinya dari pada harus di diamkan bahkan tak di anggap ada oleh istrinya sendiri.
"Biarkan aku terus bersamamu, sayang." Darren merengkuh tubuh istrinya yang masih terbaring lemas di atas branker. Dania menghela napasnya, menetralkan gemuruh di dadanya.
Dania mencoba menerima kenyataan pahit yang menimpanya saat ini. Dari mulai ia mengetahui kebenaran selama lima tahun, penculikan. Bahkan sekarang ia kehilangan calon buah hatinya. Mukzijat itu hilang seketika.
Tubuh Dania kembali bergetar, dalam diam ia menangis. Darren yang mengetahuinya langsung menghampiri istrinya.
"Sayang, jangan merasa sendiri. Ada aku di sini bersamamu." Darren ikut membaringkan tubuhnya di atas branker, tepatnya di samping istrinya. Ia memeluknya dari samping.
Dania kembali menjadi serba salah. Satu sisi ia mencintai suaminya, satu sisi lain, ia begitu kecewa karena telah dibohonginya selama lima tahun.
Yang ternyata, Darren juga baru mengetahui tentang siapa penyebab yang mengakibatkan orang tua Dania meninggal. Dania sudah salah paham pada suaminya sendiri.
__ADS_1
Lalu mereka terlelap bersama.
***
Sementara Leo, malam ini ia tengah mengemas barang-barang miliknya ke dalam koper. Setelah merasa sudah beres, ia langsung bergegas pergi meninggalkan apartemen yang kini sudah bukan miliknya lagi.
Leo sudah menjual apartemen miliknya. Terus ia mencari sebuah kontrakan untuk tempat tinggalnya saat ini. Setelah mendapatkan kontrakan, ia membayarnya selama satu tahun kedepan. Kontrakan yang kecil namun cukup nyaman untuknya berteduh.
Ia akan mencoba menjadi orang yang lebih lagi. Tak perduli kalau Dania melaporkannya pada polisi, ia akan memasrahkan diri dan hidupnya pada polisi melanjutkan hidupnya di jeruji besi.
Kini, ia menyusun rencana untuk masa depannya. Ia akan membuka usaha kecil-kecil, tapi ia tak bisa menjalaninya sendiri. Ia membutuhkan seseorang untuk membantunya.
Pada akhirnya, ia kepikiran akan Lisa, Lisa bisa membantunya untuk usaha yang akan dijalaninya kelak.
Lalu ia mencoba menghubungi Lisa, namun Lisa tak kunjung mengangkatnya. "Mungkin dia lagi sibuk," kata Leo pada diri sendiri.
Lalu, Leo bergegas dari kontrakannya, ia mencari lahan untuk usahanya, seperti kios di pinggir jalan. Ia akan membuka usaha cafe kecil-kecilan, semacam tempat untuk ngopi atau tempat nongkrong anak muda.
Leo terus menyusuri pinggir jalan, namun langkahnya terhenti. Ia menyorotkan pandangannya pada satu titik tempat, ia melihat seseorang yang tak asing baginya. Wanita cantik dan manis, yang mulai mengisi hatinya beberapa hari terakhir.
"Itu, Lisa 'kan?" Leo mengucek kedua matanya, memperjelas pandangannya, benar apa tidak yang dilihatnya saat ini.
Tak lama, Lisa beranjak dari tempatnya, Leo yang melihatnya langsung membuang mukanya agar Lisa tak melihatnya.
Sakit, sungguh sakit yang dirasakan Leo saat ini, ia melihat Lisa bersama laki-laki begitu mesra dengannya.
"Sesakit inikah rasanya melihat orang yang kucinta bersama orang lain?" tanyanya pada diri sendiri. "Lisa, apa kau benar-benar kecewa padaku. Maafkan aku Lisa," lirihnya.
Dengan gontai, Leo kembali meneruskan pencarian ruko untuk usahanya.
bersambung
Maaf kalau ceritanya jadi ngaur. Semoga kalian suka. Kasih othor dukungan dengan cara voye like fan komennya.
Terimakasih
__ADS_1
Selamat menjalakan ibadah puasa.