
Cafe EOSA hari ini nampak ramai, sampai Dania dan Darren ikut membantu mereka. Sesekali Darren melihat istrinya, karena ia tak mau istrinya itu kecapean. Hingga ia melihat Lisa menghampirinya.
"Hey, ajak istrimu istirahat. Aku tak mau menjadi penyebab istri sakit," ketus Lisa padanya. Benar apa kata Dania, ia dan Lisa seperti sudah kaya Tom and Jerry.
Darren melirik dengan mata jengah pada Lisa, entah kenapa bawaannya melihat Lisa emosi dari kemarin. "Sudah sana ... Ajak istrimu. Di sana ada tempatku untuk beristirahat." Tunjuk Lisa pada sebuah pintu dekat dapur.
Walaupun Lisa jutek padanya, tapi tidak pada istrinya. Mungkin Lisa jutek padanya karena masalah Leo kemarin, ada perdebatan antara Darren dan istrinya. Sampai Dania meneteskan air mata terlalu kekeh pada keinginan Dania untuk membebaskan Leo. Tapi tidak dengan Darren, ia malah ingin menghukum Leo dengan menambah beberapa minggu lagi. Sehingga Lisa tak terima padanya, itulah sebabnya Lisa sedikit tidak suka padanya. Bukan benci tapi.
Akhirnya Darren menuruti apa yang perintahkan Lisa padanya. Senyum tersungging di bibir Lisa, ternyata Darren mau juga melakukannya. Pikir Lisa.
Padahal Darren memang tak ingin membuat istrinya itu kecapean. Hingga ia menepuk bahu istrinya, sampai Dania merasa terkejut karena ia tak tahu kedatangan suaminya yang tiba-tiba dari arah belakang.
"Sayang, kamu istirahat saja. Biar aku yang membantu mereka di sini."
Dania hanya memberikan senyumannya sambil menggeleng. "Aku tidak lelah, aku senang melakukan ini." Dania melipir pergi membawa nampan kosong ke dapur.
Sementara Darren terus saja mengekornya dari arah belakang. Dania geleng-geleng kepala melihat suaminya itu yang terus membuntutinya sampai dapur.
Tak lama, Lisa pun datang menghampiri sepasang sejoli itu. Ia pun sama meletakan nampan kosong di meja dapur. Sesekali ia mengusap buliran keringat yang terus menetes di keningnya.
"Nah, seharusnya Lisa yang harus istirahat. Dia terlihat sangat lelah," ucapnya pada suaminya.
"Dia 'kan pemilik cafe wajar saja kalau dia begitu." Mereka bisik-bisik di dekat Lisa.
"Kalian ngapain bisik-bisik begitu? Ngomongin apa?" timpal Lisa sembari mendudukkan tubuhnya di kursi yang tersedia di dapur. "Anakmu anteng sekali." Lisa melihat Leo bersama Syiera yang begitu asyik bermain.
"Iya, dia memang dekatnya dengannya. Apa Syiera tidak boleh dekat-dekat denganya?" ketus Darren.
"Kamu itu kenapa? Sepertinya tidak suka denganku." Suara Lisa tak kalah emosi mendengar kata Darren yang memancing emosi Lisa.
"Ih ... Kalian ini, seperti anak kecil saja," timpal Dania. Dania lebih memilih meninggalkan Tom and Jerry itu. Darren yang melihatnya langsung menyusul istrinya itu.
__ADS_1
"Dasar bucin," kata Lisa dengan gelengan kepalanya.
Dania membaringkan tubuhnya di atas kasur yang tak setebal kasur miliknya, benar apa kata suaminya. Semenjak operasi pengangkatan rahimnya, ia lebih cepat kena cape, terlebih lagi jika banyak gerak. Mungkin jangka operasi itu memang belum lama terjadi.
"Sayang," panggil Darren.
Mata yang mulai terpejam terpaksa ia buka kembali matanya. Dania mengulas senyum kala melihat suaminya yang menyusulnya.
Darren mendaratkan tubuhnya di samping istrinya. "Cape, ya?" tanya Darren. "Aku pijitin, ya." Darren langsung saja meraih kaki istrinya dan langsung meletakan kaki itu di atas pahanya. Dan memulai memijit kaki itu dengan pelan.
"Makasih ya? Aku bersyukur memiliki suami yang pengertian sepertimu."
Wajah Darren langsung memerah kala mendapatkan pujian dari sang istri. Dengan reflek ia mencium kening istrinya dengan menindih tubuh kecil istrinya itu.
Sampai ia tak menyadari ada sepasang mata yang melihat adegan mereka.
"Kalau mau bercinta, tutup pintunya," cetus Lisa yang baru saja melewati pintu yang di dalamnya ada Darren dan istrinya.
Seketika Darren menghetikan aksinya, ia mengangkat wajahnya, tatapan mereka saling beradu lalu sebuah senyuman lolos di kedua bibir mereka. Tentu malu yang mereka rasakan saat ini.
"Ya sudah kalau begitu kita pulang sajalah, lagian sudah sore," ajak Darren.
***
"Om, om janji ya, kalau Syiera ulang tahun nanti om beri kejutan yang om janjikan padaku," tagih Syiera pada Leo.
Leo hanya nyengir kuda, pasalnya ia belum tahu kapan Lisa akan mengandung, padahal hari ulang tahun Syiera tinggal beberapa minggu lagi.
Karena Syiera tahu kalau ibunya itu tidak bisa memberikannya adik, dengan alasan sakit Syiera pun mengerti. Perkembangan Syiera jauh dari teman-teman seumurannya, ia cerdas dan mengerti akan keadaan ibunya.
Jadi ia meminta pada Leo yang ia anggap omnya sendiri. Tak sungkan dengan keinginannya yang meminta sang adik dari Leo apa lagi permintaannya itu pas di hari pernikahan Leo dan Lisa.
__ADS_1
Sehingga Lisa terkejut dengan permintaan Syiera yang menyuruhnya segera mengandung. Dikira membuat anak itu sekali cetak langsung jadi apa?
Di balik keinginan Syiera, rasa bersalah muncul dalam diri Leo, ia menyadari kesalahannya yang membuat Dania tak bisa mengandung, karena insident penculikan itu membuat Dania keguguran. Itu penyebab dimana Dokter harus terpaksa mengangkat rahimnya.
"Iya om janji." Leo menautkan jemarinya pada Syiera, karena Syiera lebih dulu menyodorkan tangannya padanya.
Sementara Lisa baru datang menghampiri suaminya yang sedang bersama Syiera. Hatinya bertanya, janji apa yang dijanjikan suaminya itu?
"Syiera sayang, Momy mencarimu. Katanya mau pulang," ucap Lisa pada Syiera. Sehingga Syiera mengembangkan pipinya, merasa enggan untuk pulang cepat-cepat.
Tak lama Darren datang bersama istrinya. Sudah siap untuk segera pulang, karena cuaca sedikit mendung. Pada akhirnya ia mempercepat kepulangannya.
"Ayo sayang, kita pulang," ajak Dania pada anaknya itu, yang terus menempel pada diri Leo.
"Tapi aku masih betah, Mom," rajuk Syiera.
"Sayang, tapi ini sudah sore. Lihat, cuaca sudah mendung. Kasian Om Leo jika kamu terus di sini, dia tidak bisa membantu Tante Lisa, sayang," cerocos Darren membujuk Syiera agar ikut pulang bersamanya.
Dengan gontai Syiera pun berjalan menghampiri kedua orang tuanya. Sesekali ia melirik Leo, meminta agar ia menahan kepulangannya.
"Dadah Syiera," kata Leo padanya. Pada akhirnya, Syiera pun ikut pulang bersama orang tuanya.
Setelah kepulangan sahabatnya itu, Leo kembali ke cafe, karena masih ada pengunjung yang datang. Karena merasa ada aneh pada istrinya, ia pun memberanikan diri bertanya pada istrinya itu.
"Kamu kenapa? Kok, diem aja."
Bukannya menjawab, Lisa malah memberikan pertanyaan balik pada suaminya itu.
"Janji apa yang kamu berikan pada Syiera?" Lisa teringat akan permintaan gadis kecil itu waktu di acara pernikahannya.
"Hmm, i_itu ... Anu," jawab Leo terbata, bahkan ia belum sempat melanjutkan perkataannya. Karena tatapan Lisa begitu tajam, sehingga keberanian Leo langsung menciut untuk mengutarakan keinginan Syiera yang meminta adik padanya. Bahkan Leo berpikir akan memberikan anaknya kelak pada Dania.
__ADS_1
Tanpa diskusi pada sang istri, Leo sudah merencanakan itu semua. Toh ia bisa membuat anak lebih dari satu. Pikir Leo.
Bersambung.