Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 64


__ADS_3

"Sayang ... Kamu langsung mandi, ya? Aku siapkan air hangatnya," ucapnya pada istri tercintanya itu.


Lalu, Leo bergegas ke dapur untuk menyiapkan air hangat untuk mandi istrinya. Disaat menyalakan kompor di dapur. "Kok, gak nyala sih." Leo langsung mengecek isi tabung gasnya. "Yah ... Gasnya abis lagi. Gimana ini? Mana mungkin aku membiarkan Lisa mandi air dingin. Bisa-bisa ... Dia demam." Leo gelisah memikirkan yang kehabisan gasnya.


Padahal, dulu ia tak pernah merasakan gas kehabisan, atau pun kalau mau mandi tak harus rebus air dulu. Tapi sekarang ... Itulah keajaiban Tuhan, maha pembalik kehidupan.


"Kenapa?" tanya Lisa yang menyusulnya ke dapur.


"Gasnya abis," jawab Leo sambil tersenyum kecut, kesal. Kenapa tadi pagi ia tak mengecek alat dapurnya.


"Ya sudah, gak apa-apa. Aku mandi air dingin saja." Lisa langsung saja pergi ke arah kamar mandi yang berada di sisi dapur itu.


"No ...," kata Leo langsung menghentikan langkah istrinya. Ia tak akan membiarkan itu terjadi, karena waktu sudah menunjukkan pukul 22.45. Tidak baik untuk kesehatan mandi air dingin pada jam segitu.


"Kenapa bilang tidak? Masa iya aku tidak mandi. Udah gerah ini!"


"Tidurnya gak usah pake baju saja kalau gerah!" jawabnya sambil menaikturunkan kedua alisnya.


Lisa yang mengerti pun langsung berkacak pinggang. "Itu sih maunya kamu," kata Lisa dengan membulatkan matanya. "Aku cuci muka saja kalau begitu." Ia pun pergi ke kamar mandi.


Dengan setia, Leo menunggunya sampai selesai, bahkan ia sudah menyiapkan handuk kecil untuk istrinya. So sweet bukan?


Beberapa menit kemudian, Lisa keluar dari kamar mandi, ia terlihat sangat segar dari sebelumnya. Napasnya pun tercium oleh Leo, bau mint dari pasta gigi sangat tercium dari penciumannya, karena ia mendekati wajah segar istrinya sambil mengelapnya.


"Sudah, aku bisa sendiri." Lisa mengambil alih handuk itu.


***


Lisa terus saja membolak-balikkan tubuhnya. Ke samping kiri dan kanan, ia merasa kegerahan malam ini. Bahkan ia tak menuruti apa yang diperintahkan suaminya. Yaitu, tidur dalam keadaan tidak memakai baju, itu saran dari suaminya.


"Aku sudah bilang, buka saja bajunya. Aku tidak akan macam-macam!" jelasnya pada Lisa. Bahkan ia pun sama tidak memakai baju karena hawa malam ini memang terasa begitu panas.


Pada akhirnya, Lisa pun goyah dari pendiriannya. Kini ia sama polos dengan suaminya, hanya bra dan CD saja yang tersisa.


Dalam hati, Leo tersenyum. Gas kompor yang habis, ternyata ada hikmahnya. Menurut Leo. Lisa tidur dalam keadaan membelakangi suaminya. Sedikit-sedikit, Leo merapatkan tubuhnya pada tubuh Lisa.

__ADS_1


"Jangan macam-macam," ancam Lisa dengan mata terpejam. Ia hanya sedang tidak mood bercinta malam ini. Entah kenapa ia merasa benci pada suaminya. Mungkin itu efek kehamilannya.


Bahkan Lisa merasakan yang mengganjal di bagian bokongnya, karena Leo terus saja merapatkan tubuhnya. Lisa mendengus kesal, tarnyata suaminya tak menghiraukan apa yang diucapkannya barusan.


Dengan lihai, Leo terus saja menggerayangi tubuh istrinya. Hingga pertahanan itu jebol dari pendiriannya, bentengnya ambruk seketika disaat suaminya menghembuskan napasnya di belakang telinga istrinya.


Pada akhirnya pertahanan Lisa goyah. Dan terjadilah percintaan mereka untuk yang kesekian kalinya. Leo tersenyum melihat kearah istrinya yang sudah tak berdaya karenanya. "Tak ada yang bisa menahan permainanku, sayang," gumam Leo sambil mengusap lembut pipi istrinya yang sudah tertidur pulas ke alam mimpinya.


***


Malam dini hari


Dania terjaga dari tidurnya, ia merasa kehausan malam ini. Ia meraih gelas yang berada di atas nakas. Setelah gelas itu sudah di tangannya, ia melihat gelas itu terlihat kosong.


"Yah ... Habis lagi." Padahal ia sudah sangat kehausan.


Disaat itu, Darren pun terbangung, ia meraba kasur ke sebelah kirinya dimana yang seharusnya ada istrinya di sisinya, tapi ini malah tidak ada. Lalu ia pun membuka matanya, ternyata, ia melihat istrinya tengah terduduk.


"Kenapa sayang?" tanyanya. "Ini masih malam, tidurlah?" ucapnya lagi.


"Ya sudah, biar aku yang ambil." Dengan cepat, Darren memakai celana dalemnya dan juga boxernya. Ia langsung bergegas ke dapur mengambil minum untuk istrinya.


"Ini, minumlah!" Darren langsung memberikan gelas yang berisikan air minum itu kepada istrinya setibanya di hadapan Dania. Dania langsung meminumnya hingga tandas.


Setelah itu mereka pun kembali meneruskan mimpi mereka yang tertunda.


2 jam kemudian.


"Kenapa kamu meninggalkan Momy! Kembalilah ... Momy sayang padamu! Jangan biarkan Momy hidup tanpamu." Kata-kata itu begitu jelas di pendengaran Darren. Darren langsung terjaga dari tidurnya, ia melihat kearah istrinya. Wajah yang bermandi keringat itu nampak jelas di matanya.


"Sayang ... Bangun! Apa kamu mimpi?" Darren terus saja mengusap keringat itu dengan tangannya. Hingga Dania merasakan sentuhan itu.


Dania langsung saja membuka matanya, ia pun mendudukkan tubuhnya mensejajarkan dengan suaminya. Dania langsung memeluk tubuh suaminya tanpa ragu, ia terisak.


"Sayang ... Kamu mimpi?" tanyanya lagi. Istrinya itu langsung mengangguk tanpa melepaskan pelukkannya. "Apa itu mimpi buruk?" Dania menggeleng.

__ADS_1


"Aku mimpi tentang anak kita, dia datang ... Tapi setelah itu dia pergi lagi. Bahkan kepergiannya sangat jauh." Tangisnya pecah tak tertahan. Dalam hati ia belum bisa menerima sepenuhnya dengan kepergian calon anaknya.


"Ikhlas, ya? Ikhlas agar kamu bisa lebih tenang. Aku pun sama terpukulnya sepertimu. Sebisa mungkin aku merelakannya, karena itu sudah menjadi takdirku," kata Darren sambil menenangkan istrinya. "Lebih baik kita tidur lagi, ya?" ajaknya lagi padanya.


Dania kembali tidur, bahkan ia tak ingin suaminya melepaskan pelukannya, ia kembali terlelap dalam dekapan suaminya. Suaminyalah semangat hidupnya sekarang.


Hingga malam pun berganti. Gelap merubahkan warnanya menjadi terang.


Darren mengerejapkan matanya perlahan ia membuka matanya, yang pertama ia lihat adalah istrinya. Ia mengelus pipi Dania perlahan.


Tapi pada saat itu, ia merasa ada yang aneh dengan istrinya. Ia kembali menyentuh wajah Dania, dari pipi lanjut ke dahi. "Panas." Itu yang dirasakan dari sentuhannya. Wajahnya pun terlihat pucat. Apa ini akibat mimpi semalam? Pikir Darren.


"Dania ... Apa kamu merasakan sentuhanku?" Dania mengangguk, tapi matanya dalam keadaan terpejam.


Darren menutupi tubuh istrinya yang masih polos itu dengan selimut. Lalu ia memakai bajunya yang terjatuh di lantai akibat semalam membuangnya ke sembarang arah.


Setelah itu, ia menelepon seseorang yang tak lain adalah Dokter. Ia meminta Dokter untuk segera datang ke rumahnya. Setelah menghubungi Dokter, ia kembali mengurus istrinya, memakaikan baju lengkap pada Dania, ia tak mungkin membiarkan Dokter melihat tubuh istrinya.


Tak lama, Dokter pun datang. Tentu kedatangan Dokter diketahui oleh bi Mila, asistent rumah tangganya. Dokter memeriksa Dania. Sedangkan bi Mila membuatkan bubur untuk majikannya.


Disaat Mila sedang di dapur, Syiera pun bertanya. "Bibi sedang membuat apa?" tanya Syiera yang melihat Mila terus saja mengaduk panci.


"Bubur," jawabnya singkat.


"Tapi aku tidak suka bubur, bi!" Syiera mengira itu bubur untuknya. Karena ia sama seperti ayahnya yang tak menyukai bubur.


"Ini untuk Momy, Non," jawab Mila lagi.


"Momy sakit?" Syiera langsung beranjak dari tempatnya, ia langsung ingin menemui ibunya yang katanya lagi sakit.


Setibanya di kamar, Syiera melihat Dokter yang sedang memeriksa ibunya. "Momy ...," lirih Syiea sambil meneteskan air matanya.


"Momy tidak apa-apa, sayang," jelas Dokter menenangkan anak itu.


Bersambung.

__ADS_1


Lanjut besok 🙏🙏🙏


__ADS_2