Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 54


__ADS_3

Darren kembali pulang ke mansion-nya. Terlihat begitu lelah hari ini. Kepulangannya disambut oleh Karren, Darren mencium pipi ibunya setibanya dia di hadapan Karren.


"Dania dimana, Mom? Apa dia sudah makan?" tanya Darren pada ibunya. Karena ia pulang terlambat sesuai janjinya hari ini, karena waktu sudah menunjukan pukul 20.30.


"Istrimu belum makan, tadi Momy sudah membawakan makanannya ke kamar. Tapi, dia menolak. Jadi Momy bawa kembali makanannya," Karren menjelaskan.


Mendengar perkataan Karren, Darren langsung menuju ke meja makan, ia mengambilkan makanan lengkap beserta lauk pauknya untuk istrinya, ia begitu khawatir terhadap Dania.


"Mom, aku ke kamar dulu," pamit Darren. Karren hanya mengangguk.


Setibanya di kamar, Darren melihat ruangan itu begitu gelap, hanya ada cahaya lampu dari luar lewat jendela. Darren meletakkan piring di atas nakas terlebih dulu dan menghampiri istrinya sebelum menyalakan lampu.


Dania tengah tertidur dalam posisi meringkuk. Darren mendudukkan tubuhnya ditepi ranjang, ia mengusap lembut pucuk rambut Dania, lalu mengecupnya. Dania merubahkan posisinya, karena ia merasa ada yang menyentuhnya.


Perlahan Dania membuka matanya. Pandangannya tertuju pada wajah yang terlihat tampan. Walaupun gelap, wajah tampanya nampak jelas dalam pandangan Dania karena cahaya lampu dari luar mampu memperjelas penglihatannya.


Dania merebahkan kepalanya di atas paha suaminya. Darren kembali mengelus rambut Dania. "Sayang, kenapa kamu belum makan?" tanya Darren sambil terus membelainya.


Lalu Dania mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah tampan suaminya, ia juga mengelus pipi Darren dengan lembut. Darren memejamkan kedua matanya, meresapi sentuhan itu. Lalu ia menangkap tangannya, dikecup tangan itu dengan lembut.


Lalu Dania beranjak dari posisinya, dan menyalakan lampu tidur yang berada tepat di samping suaminya. "Dari mana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Dania.


"Pekerjaanku banyak, sayang. Makan dulu, ya?Kamu belum makan 'kan?" Darren dapat anggukkan dari istrinya.


"Suapin," pinta Dania manja.


Darren tersenyum menanggapi keinginan sang istri. Dengan telaten ia menyuapi istrinya. Setelah beberapa suap, Dania mengambil alih piringnya dari tangan suaminya. Ia juga menyuapi Darren untuk ikut makan bersamanya.


Makanan itu pun habis tak tersisa. Lalu Darren kembali ke dapur untuk menyimpan piring kotor. Karren yang melihat anaknya sedang di dapur pun menghampirinya.


"Darren?" panggil Karren.


Darren pun langsung menoleh ke sumber suara. "Ya, Mom. Ada apa?"


"Kapan kamu membicarakan tentang Pappy mu pada istrimu? Momy sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Pappymu harus segera berobat, rencananya Momy mau membawa Pappymu ke singapura. Disana, alat-alatnya lebih canggih," jelas Karren.


Namun tanpa mereka sadari, Dania mendengar pembicaraan mereka. Dania hendak menyusul suaminya karena tak kunjung kembali. Dania terus mendengarkan perbincangan itu, ia hanya ingin tahu obrolan selanjutnya.

__ADS_1


"Mom, gimana, ya. Aku juga bingung harus bicara apa padanya. Bukannya aku tak mengkhawatirkan Pappy, Momy tahu 'kan kondisi Dania saat ini? Dia belum pulih betul."


Dania yang mendengarnya begitu terharu, ternyata suaminya sangat perduli dengannya. Bahkan Darren lebih mendahulukan kesehatan istrinya. Berarti, cinta Darren begitu besar terhadapnya.


"Mom, aku sudah menjebloskan orang yang sudah menculik Dania," kata Darren.


Dania terkejut mengetahui hal itu. Pasalnya, Darren sudah berjanji untuk tidak membalas apapun terhadap Leo. Tapi ternyata, walaupun begitu, Leo yang sudah membawanya ke rumah sakit. Berarti ada kebaikan yang tertanam pada diri Leo. Dania yakin bahwa Leo akan berubah menjadi orang yang lebih baik lagi. Lalu, Dania kembali ke kamarnya.


"Memang siapa orangnya?" tanya Karren penasaran.


"Mungkin Momy tidak akan percaya, Leo yang sudah menculik Dania. tapi kenyataannya memang dia orangnya," jawab Darren. "Dia dendam padaku, Mom. Karena Kania tak bisa dia miliki. Aku juga tidak tahu kalau Leo ternyata memiliki perasaan pada Kania," jelas Darren panjang lebar. Membuat Karren membulatkan kedua matanya tak percaya.


Karena merasa terlalu lama Darren pun pamit untuk segera kembali ke kamarnya. "Aku ke kamar dulu ya, Mom..Tubuhku terasa lengket." Tanpa mendengar jawaban dari ibunya, Darren langsung pergi menuju kamarnya.


Setibanya di sana, ia mendapati istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang. Darren tersenyum ke arah istrinya, namun tidak dengan Dania. Ia menatap tajam ke arah Darren. Sehingga Darren mendekatinya karena sorotan matanya begitu tajam.


"Ada apa, sayang? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Darren dengan lembut.


Dania menghela napasnya berat. "Kenapa tidak bilang padaku, kalau kamu menjebloskan Leo ke penjara. Aku sudah bilang padamu untuk tidak memperpanjang masalah ini." Dania langsung memalingkan tatapannya ke arah lain.


"Sayang, sudah sepantasnya dia mendapatkan balasan." Setelah mengatakan itu Darren mencium bibir istrinya sekilas.


"Tapi seharusnya kamu bilang dulu padaku! Apa dia tidak berhak mendapatkan kesempatan menjadi orang lebih baik lagi? Dia sahabatmu! Dia juga yang membawaku ke rumah sakit. Itu artinya ada sisi baik yang Leo miliki." Dania beranjak dari posisinya menjadi berdiri membelakangi suaminya.


"Lalu aku harus bagaimana? Dia sudah keterlaluan, Dania. Bahkan dia yang sudah membuat calon buah hati kita tiada." Darren meneteskan air matanya, karena ia juga mendambakan buah hati dari Dania. Dan sekarang tidak ada harapan untuknya memiliki anak dari istrinya.


"Aku tahu itu! Tapi__," ucapnya terputus karena Darren memeluknya dari belakang sambil berbisik. "Sudahlah ... Aku cape. Aku mau mandi dulu." Darren melepaskan pelukannya lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sebelum masuk, Darren kembali mengatakan sesuatu pada Dania sambil membalikkan tubuhnya menghadap istrinya.


"Biarkan Leo mendekam untuk beberapa bulan saja. Biar dia jera." Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Darren melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


Sementara Dania tetap terdiam tanpa merubahkan posisinya sampai Darren selesai mandi sekali pun. Darren keluar dari kamar mandi masih dengan menggunakan handuk yang melilit tubuhnya.


Dania hendak mengambilkan baju untuk suaminya, namun dicegah oleh Darren. "Tidurlah, ini sudah malam." Darren membuka almarinya untuk mengambil baju yang akan ia kenakan.


Dania sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur yang berukuran king size itu. Disusul oleh suaminya. Darren pun membaringkan tubuhnya di samping Dania. Mereka berdua terlelap bersama saling berpelukkan.


Keesokan harinya.

__ADS_1


"Sayang, bangun. Ini sudah pagi," kata Darren sambil merapihkan anak rambut istrinya.


Dania menggeliat, perlahan ia membuka matanya. Dania tersenyum ke arah suaminya, lalu beranjak dari posisinya. Terduduk di tepi ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah.


"Kamu mandi duluan. Setelah itu, baru aku," sahut Darren. Dania mengangguk lalu menuju kamar mandi.


Semetara Darren, ia malah menarik selimut kembali. Tak lama Dania sudah selesai dari ritual mandinya. Ia melihat suaminya meringkuk dalam keadaan mata terpejam. Dania mengguncangkan tubuh Darren.


"Bangun. Kok, malah tidur sih!"


"Iya, ini aku bangun. Aku gak tidur! Aku 'kan nungguin kamu, sayang." Darren langsung bergegas dari tempatnya.


***


Dan kini mereka sudah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit untuk memeriksan Dania seusai operasi kemarin.


"Kok, aku jadi deg-degan ya? Padahalkan ini cuma periksa biasa." Dania terus menarik napasnya dengan cepat. Dan pada akhirnya hasil pemeriksaannya cukup memuaskan untuk Darren, pasalnya ia sudah bisa untuk menjamah istrinya setelah sekian lama ia berpuasa.


"Akhirnya," Sahut Darren sambil berjalan menuju parkiran. Tak henti-hentinya Darren tersenyum, membuat Dania keheranan.


"Bahagia banget, ada apa sih?" tanya Dania di sela-sela perjalanannya.


"Gak inget apa kata Dokter?" kata Darren sambil menoleh ke arah istrinya. Dania mengangkat kedua bahunya tak mengerti apa arti ucapan suaminya. "Aku sudah bisa menjamahmu lagi. Aku terbebas dari puasa," bisik Darren di telinga Dania. Sementara Dania mendelikkan matanya.


Dan kini mereka sudah berada di dalam mobil. "Sayang, kita langsung pulang, apa kamu mau pergi dulu. Kemana kek, gitu." tawar Darren.


"Pulang aja, ya? Aku cape," sahut Dania.


"Ok, kita meluncur pulang." Darren melajukkan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tapi, tiba-tiba mobil yang dikendarai Darren berhenti seketika, kala Dania yang memintanya berhenti secara mendadak.


"Ada apa? Kenapa minta berhenti?" tanya Darren mengerutkan keningnya bingung.


Namun Dania tak menjawab, ia malah langsung turun dari mobil yang ditumpanginya.


Bersambung


Pemabaca yang bijak akan meninggalkan jejak😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2