Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 7


__ADS_3

Dimalam yang sesunyi ini Dania sendiri tidak ada yang menemani. Akhirnya dia sadari mereka telah pergi, akankah terulang masa-masa indahnya bersama kedua orang tuanya. Dania menatap bintang yang menghiasi angkasa, mungkin salah satu diantaranya keberadaan orang tuanya di sana.


Tatapan sendu mampu melinangkan cairan bening di pelupuk matanya. Sungguh malang nasib gadis itu, harus terperangkap dalam hidup yang membuatnya hancur, sehancu-hancurnya.


Orang tuanya yang begitu tega menjadikan dirinya sebagai wanita penghibur, penikmat nafsu para lelaki hidung belang. Dania bersyukur dengan keberadaannya di sini, di tengah-tengah keluarga yang membuatnya merasa nyaman. Akahkah kenyamanan ini berlangsung lama, atau hanya sesaat kala ia sedang dibutuhkan saja.


Dania larut dalam lamunannya, sampai seseorang yang hadir di sampingnya pun tak di sadarinya. Entah apa yang dipikirkannya saat ini. ketika seseorang itu berkata baru dia menyadarinya.


"Kenapa belum tidur?" tanya orang itu, yang tak lain adalah Darren.


Dania tersenyum getir menanggapi pertanyaannya, dia tak tahu harus bersyukur atau tidak, entah mengapa Dania merasa masalah ini akan bertambah. Ada sedikit perasaannya terhadap lelaki yang kini sedang bersamanya. Tapi Dania menyadari, bahwa ini mustahil baginya.


Darren bisa saja mendapatkan wanita yang lebih baik darinya. Mungkin Dania hanya setitik debu jika dibandingkan dengan wanita di luar sana. Dania hanya bisa mengaguminya. Sosok Darren mampu membuat Dania merasakan jatuh cinta.


Cinta Darren yang begitu besar terhadap istrinya, Dania tak bisa menggatikan sosok yang Darren cintai. Bahkan wajah mirip saja tidak bisa mengubah keadaan akan rasa Darren pada mendiang istrinya.


"Hey ..., malah melamun," sahutnya lagi. "Kenapa tidak dijawab pertanyaanku yang tadi, hah? Apa kau sakit!"


"Aku merindukannya," jawab Dania singkat, "Lihat! Bintangnya sangat indah. Aku yakin kedua orang tuaku pasti ada di sana." Tunjuk Dania pada bintang-bintang di langit.


"Kamu bisa membagi kerinduan itu padaku." Dania tak percaya akan ucapan Darren padanya. Sungguh ia merasa ini hanya mimpi. Dania menepuk-nepuk pipinya, mencoba menyadarkan dalam mimpinya.


"Ini terasa sakit, apa ini nyata!" gumam Dania dalam hati.


Darren terkekeh akan kelakuan gadis itu, terlihat lucu dengan kepolosannya. Kenapa gadis seperti dia bisa terperangkap dalam kehidupan seperti ini.


"Kalau ingin cerita, ceritalah. Aku siap mendengarkan."


"A__aku." Bibir itu terhenti kala Dania melihat bayangan yang membuatnya takut. Seketika Dania memeluk tubuh lelaki yang sedang bersamanya mencoba mencari perlindungan.


"Hey ..., kenapa?"


"Bayangan," jawab Dania ketakutan.


"Rupanya kalian di sini," kata Karren yang baru saja tiba.


Dania melepaskan pelukannya, ini benar-benar membuatnya malu. Nanti dikira mereka sedang apa?

__ADS_1


Darren terbahak, bahwa bayangan yang dimaksud Dania adalah bayangan ibunya.


"Jangan menertawakanku!" ujar Dania pada lelaki itu.


"Kalian sedang apa di sini? Sudah malam, sebaiknya kamu tidur," titah Karren pada Dania.


Dania mengangguk, lalu pergi dari sana. Karren menatap tajam ke arah anaknya, mencoba mencari tahu yang telah dilakukannya bersama Dania.


"Kenapa menatapku seperti itu? Aku tidak sengaja melihatnya di sini, Mom," kata Darren menjelaskan.


"Kalau pun ada apanya, Momy setuju dengan hubungan kalian." Sebuah senyuman terulas di bibir wanita paruh baya itu.


"Mom, aku tidak ada perasaan padanya. Aku hanya cin__" ucapnnya terputus karena Karren lebih cepat mendahuluinya.


"Cinta Kania? Sayang ..., Kania sudah tenang di sana. Momy hanya ingin kamu muve on. Move on bukan berarti harus melupakan. Kamu tidak bisa terpuruk seperti ini terus, kamu harus mikirin Syiera. Dia butuh sosok ibu, Momy yakin Dania bisa menjadi ibu sambung yang baik. Menikahlah dengannya."


Darren menghela napasnya sejenak menatralkan perasaan yang dirasakannya. Dia belum siap untuk membuka hatinya untuk orang lain. Terutama Dania.


"Mom, Momy belum tahu akan Dania. Momy juga belum tahu latar belakangnya, dan keluarganya seperti apa?"


"Momy lebih tahu dari kamu!"


"Tapi, Mom." Bantah Darren.


"Sudah! Tidak perlu dibahas lagi. Sudah malam tidurlah," titah Karren. Tak ada bantahan di sana. Darren berjalan dengan gontai, sambil berfikir bagaimana caranya agar tidak menikahi Dania.


***


Setibanya di kamar Syiera. Dania membaringkan tubuhnya di samping anak itu.


Dania memikirkan keingan Karren yang menyuruh Darren untuk menikahinya.


Dan yang membuat Dania terkejut adalah bahwa Karren sudah mengetahui siapa dirinya. Dari mana Karren tahu akan tentangnya.


Sebelum Dania pergi meninggalkan Darren yang sedang bersama ibunya. Dania tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Karena penasaran akhirnya Dania menguping sampai obrolan itu selesai. Tak terasa Dania pun tertidur dengan sendirinya.


Keesokan harinya.

__ADS_1


Sinar mentari menerobos masuk lewat celah jendela. Sinar itu menyilaukan mata Dania yang masih tertidur, seketika mampu membuat Dania terbangun. Dania menguap sambil mengucek kedua matanya, ia merasa baru saja tertidur, ternyata sekarang sudah pagi saja.


Dania menoleh ke arah samping dimana ada Syiera di sana. Dania menatap anak itu lalu tersenyum, berasa mimpi bahwa Dania akan menjadi ibunya. Kalau pun Dania belum mendengar langsung dari ayah anak itu.


Setelah merasa cukup memandang Syiera, Dania bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kamar yang cukup kumplit membuat Dania tak perlu keluar kamar untuk membersihkan tubuhnya. Tak seperti kamar yang ada di apartemennya.


"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Dania pada Syiera. Dania yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat Syiera yang sudah terbangun dari tidurnya.


"Syiera mengangguk. "Momy sudah rapi, mau kemana?" tanya Syiera.


Dania mendekat ke arah anak itu, lalu ikut duduk bersamanya. "Syiera bisa janji tidak pada Momy? Apa pun yang diucapakan Momy, Momy mau Syiera jangan marah!"


"Syiera mangngguk walau pun ia masih bingung dengan ucapan Dania. "Ya, Momy. Syiera janji tidak akan marah pada Momy." Dania mengelus pucuk rambut anak itu. Semoga apa pun yang akan disampai 'kannya Syiera tidak akan kecewa padanya.


"Apa yang akan Momy katakan?" tanya Syiera penasaran.


"Kamu kenal Momy? Apa kamu tahu wajah Momy seperti apa?" Syiera menunjuk wajah Dania, menjawab bahwa Momynya adalah dirinya.


Dania menggelang. "Aku bukan Momy Syiera. Aku hanya manusia yang berwajah sama dengan Momy Syiera," jawab Dania. Syiera terdiam karena merasa bingung dengan ucapan Dania. Mungkin anak sekecil ini memang belum mengerti.


"Momy Syiera sudah me__." ucapnya terputus karena seseorang datang menghampiri mereka.


"Apa yang kau lakukan? Aku minta padamu jangan berbicara itu lagi pada anakku!" sahut Darren pada Dania.


Tatapan tajamnya mampu membuat Dania terdiam. Ada kemarahan di sana, Dania hanya tidak ingin membohongi anak itu. Apa pun yang terjadi Syiera harus tahu yang sebenarnya.


"Anak sekecil ini tidak akan mengerti apa yang kamu katakan! Jadi berhenti untuk mengatakannya. Aku mau ini yang terakhir kalinya kamu melakukannya."


Dania melihat kemarahan di mata lelaki itu.


_


_


_


Jangan lupa like dan komentarnya ya para readers... Tambah ke favorit juga ya?

__ADS_1


Terima kasih sudah menyempatkan waktu kalian untuk membaca karyaku. Kalian bisa membaca karya ku yang lain yang berjudul "Daddy, Love Me Please!!!"


__ADS_2