Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episode 71


__ADS_3

Lisa sedang bersedakap dengan kedua tangannya di dada, menghadap jendela, ia fokuskan pandangannya ke arah luar. Mulutnya yang terus saja komat-kamit, entah apa yang diucapkan ibu hamil itu. Ia begitu kesal terhadap suaminya yang tak jujur padanya.


Perlahan tapi pasti, Leo menghampiri istrinya yang sedang merajuk padanya. Ia mencoba membujuk istrinya dengan sebuah piring yang terisi penuh dengan makanan, ia yakin kalau istrinya itu akan luluh dengan sogokkan yang ia bawa.


Ia menyimpan piring terlebih dulu di atas meja. Setelah itu, baru ia menyentuh kedua pundak istrinya. Ia mendaratkan dagunya di pundak istrinya menyesap aroma dari tubuh itu. Terasa damai yang ia rasa, Lisa sudah menjadi candu baginya.


"Sayang ...," ucap Leo.


Lisa merasakan hembusan dari mulut suaminya yang memanggilnya dengan sebutan kata sayang. Ia memejamkan kedua matanya sejenak. Setelah itu, ia membalikkan tubuhnya untuk menghadap suaminya.


Kini mereka saling berhadapan. Lisa hanya menunduk, tak tahu harus bilang apa. Sementara Leo, ia tak tinggal diam. Ia terus saja mencoba merayu istrinya sebisanya. Leo merengkuh tubuh itu.


"Maafkan aku," kata Leo. "Maaf, kalau aku tak jujur padamu. Aku hanya tak ingin membuatmu cemas, dan berpikir yang tidak-tidak. Sungguh! Aku tak ada hubungan apa-apa dengan Genik." ucapnya lagi.


Lisa melepaskan pelukan suaminya, ia mencari kebohongan di matanya, terlihat sangat jujur, tak ada kebohongan di sana. Tapi, kenapa hatinya tak terima walau suaminya itu sudah berkata apa adanya.


"Aku memaafkanmu, tapi mereka tak memaafkanmu!" jelas Lisa sambil menyentuh perutnya yang masih rata.


Leo terkekeh akan penjelasan istrinya. Bilang saja kalau istrinya itu masih belum bisa memaafkannya, bisa-bisanya istrinya itu mengelabui dirinya.


"Maafkan Daddy, ya?" ujar Leo pada kedua anaknya sambil menciumi perut istrinya. "Sekarang makan dulu, ya. Daddy gak mau kalau kalian nanti kelaperan," ucapnya sambil mendongakkan wajahnya kearah wajah istrinya.


Leo sengaja, agar Lisa mau makan. Ia tak ingin istrinya menahan laparnya karena gengsi.


Mereka sudah duduk manis di sofa, Leo terus menyuapi istrinya yang sedang sarapan. Ah sepertinya itu bukan sarapan, piring terisi sangat penuh itu akhirnya habis dengan sekejap. Kenyang sudah ibu hamil itu, tanpa memikirkan perut suaminya karena belum sarapan.


Adegan mereka tak luput dari penglihatan Dania dan suaminya.


"Bahagianya jadi mereka." Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutnya.


Dania bersandar di tubuh suaminya menyaksikan adegan romantis Leo dan Lisa. Suaminya langsung mendekapnya dari belakang.


"Memangnya kamu tak bahagia dengan kehadiranku di sisimu?" tanya Darren.

__ADS_1


Dania langsung menyikut perut suaminya dengan pelan, karena pertanyaannya yang menurutnya itu konyol. Tentu, ia juga bahagia mendapatkan suaminya yang bisa menerima dirinya apa adanya. Malah, bisa dibilang ia wanita paling bahagia sekarang, setelah cobaan yang ia lalui akhirnya ia mendapatkan kebahagiaannya bersama suaminya.


Leo dan Lisa menyadari kalau mereka sedang jadi pusat perhatian Dania dan Darren. Mereka menjadi salah tingkah seperti yang sedang pacaran terciduk oleh warga. Akhirnya mereka pun beranjak dari tempatnya.


Tiba-tiba saja, Syiera menghampiri Lisa dari arah belakang orang tuanya. Berlari kerahanya.


"Syiera ... Momy sudah sering bilang padamu, jangan lari-lari!" Selalu saja begitu, membuatnya khawatir, takut kalau anak itu jatuh atau tersandung.


Syiera hanya cengengesan karena ia sering mendapat teguran dari ibunya. Memang pada dasarnya begitu, susah dibilangin.


"Tante bayi kenapa merajuk?" tanya Syiera, ia tahu dari ayahnya bahwa Lisa sedang marah pada suaminya. Karena tadi disaat sarapan, ia menanyakan keberadaan Lisa pada orang tuanya.


Darren menyuruh Syiera membujuk Tante bayinya agar tak marah pada Leo. Tapi dicegah oleh Dania, dengan alasan, Syiera masih kecil jangan ikut campur urusan orang dewasa. Walau Dania bukan ibu kandungnya Syiera, tapi Dania selalu mengajarkan tentang hal baik pada anaknya itu. Agar dewasa kelak, Syiera bisa mengerti, mana yang harus ditolong dan mana yang tidak. Akhirnya Syiera menuruti apa kata ibunya yang menurutnya benar.


Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 06.30. Kini saatnya Darren dan putrinya harus berangkat. Darren pun pamit pada istrinya, tak lupa ia juga pamit kepada Leo dan Lisa yang menurutnya pasangan aneh. Karena bar-barnya Lisa. Saat pamit dengan mereka, ia teringat jeritan Leo tadi pagi. Seketika membuatnya bergidik.


Lisa menatap tajam ke arah Darren setelah ia melihatnya yang bergidik ke arahnya.


"Sayang, aku ke kantor dulu, ya?" pamit Darren pada istrinya. Sebelum berangkat, tak lupa ia mencium keningnya terlebih dulu..Ia tak mau kalah romantis dari pasangan bar-bar itu.


"Kenapa balik lagi?" tanya Leo disaat ia melihat Darren kembali masuk dan masih berada di ambang puntu.


Berhubung, orang yang dicarinya ada di sini, Darren langsung saja dengan aksinya.


"Nih." Darren melempar sesuatu pada Leo.


Leo yang tahu sahabatnya melempakarkan sesuatu padanya, ia langsung menangkapnya dengan kedua tangannya. Hingga sesuatu itu medarat dengan sempurna di tangannya.


Leo langsung melihat benda yang ada di tangannya itu. Kunci. Untuk apa kunci ini ia berikan padanya. Leo tertegun melihat kunci tersebut.


"Iya, itu buat lo!" tukas Darren. Ia sengaja memberikan salah satu mobil koleksinya pada sahabatnya.


Leo hanya mengangkat kedua tangannya. Isyarat untuk apa kunci ini di berikan padanya. Ia juga tahu kalau itu kunci mobil.

__ADS_1


"Mempermudah hidup lo, biar jidat lo gak kebentur lagi!" jelas Darren sambil tertawa.


Ah sial! Kenapa Leo merasa dapat ledekan dari sahabatnya itu. Tapi ia senang kalau sahabatnya itu pengertian padanya.


"Thank's," jawabnya singkat. "Nanti gue balikin kalau gue punya yang baru," sahutnya lagi.


Akhirnya, Darren pun kembali ke luar setelah memberikan kuncinya, ia langsung saja pergi mengantar Syiera sekolah terlebih dulu.


***


"Pulang, yuk?" ajak Leo pada Lisa.


"Sarapan dulu," tawar Dania.


Bukan menolak tawaran Dania, ia hanya merasa tak enak jika lama-lama berada di sini, sudah terlalu merepotkan baginya. Leo pun menolaknya dengan sopan.


"Nanti saja di rumah, aku mau makan masakan istriku," jawabnya.


Lisa yang mendengar kalau suaminya ingin makan hasil masakannya, ia pun akhirnya pamit untuk pulang. Apa lagi ia ingat kalau suaminya itu belum makan. Akan berdosa baginya menelantarkan perut suaminya karena menahan laparnya.


"Nia, aku pamit, ya? Lain kali aku akan kesini lagi. Tentunya dengan anak kita," jelas Lisa.


Dania tertegun mendengar saat Lisa bilang ANAK KITA, itu artinya, Lisa akan tetap memberikan anaknya padanya.


Tak ingin berlarut dalam lamunannya, ia langsung mengijinkan Lisa dan suaminya pulang.


"Hati-hati," kata Dania pada mereka.


Lisa mengangguk sebagai jawaban.


Setibanya di luar. Lisa terdiam, ia melihat mobil mewah berwarna putih sudah terparkir di halaman rumah temannya, ia lebih bingung disaat suaminya mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil tersebut.


"Ini mobil siapa?" tanya Lisa.

__ADS_1


"Darren, siapa lagi kalau bukan miliknya. Mana mungkin aku memiliki mobil semewah ini. Rumah saja masih ngontrak," jawabnya sambil tertawa.


Menertawakan hidupnya.


__ADS_2