
Hari ini, Leo benar-benar sibuk karena tak ada istrinya di sana. Ia mempersiapkan dari bahan minuman sampai cemilan yang selalu diburu oleh para pengunjung
"Si Darren lupa apa, ya? Katanya mau suruh orang buat membantuku di sini." Leo menghela napasnya sambil mengelap cucuran keringat di wajahnya, betapa lelahnya ia hari ini. Buliran keringat itu terus membasahi kulitnya.
Tak lama dari situ, seseorang datang menghampiri dirinya. Berpakaian rapi seperti orang kantoran. Leo melihat kearah orang itu. Betapa terkejutnya ia melihat Genik di sini, pasti Darren yang menyuruhnya.
Genik menghela napasnya sejenak sebelum ia menghampirinya. "Saya disuruh Pak Darren untuk membantu Anda di sini," kata Genik, bahkan ia melihat ketidaksukaannya pada Leo.
Sikap Leo dimasa lalu benar-benar membuat semua orang membencinya, Genik belum tahu kalau Leo sudah berubah, bahkan Leo yang sudah menikah saja ia tak tahu.
"Saya bantu apa, Pak?" tanya Genik sopan. Tapi dalam hati ia mengutuk lelaki itu. Hati-hati dalam sebuah kata kutukan, awal cinta bisa tumbuh dari benci.
Kini Genik sudah berdiri di meja kasir, Leo menugaskannya di sana. Genik menelisik seisi ruangan cafe itu. "Cukup ramai dan bersih tempatnya." Sesekali ia melihat ke arah Leo, laki-laki itu begitu sibuk dengan kerjaannya. "Kenapa ia tak mempekerjaan karyawan di sini," batin Genik.
Genik terus saja melamun, memikirkan gimana ceritanya seorang Leo bisa terpikir akan membuka usaha cafe ini, mana ada bakat pria itu dalam penjualan. Tapi dilihat dari pengunjung, dirinya akan sukses seiring nerjalannya waktu.
"Genik, kamu itu niat membantuku tidak!" Suara Leo membuyarkan lamunannya. Sudah ada dua orang yang mengantri di depannya. Genik langsung terkesiap, dengan cepat ia melayani pelanggan yang hendak membayar makanannya.
"Iya, Pak. Maaf," lirih Genik. "Masih saja galak," gerutunya.
Leo hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sekretaris sahabatnya itu. Bisa-bisanya Darren memiliki sekretaris sepertinya. Tukang melamun. Leo membatin dengan pikirannya.
***
Tidak ada Genik, Darren kerepotan. Pekerjaan yang menumpuk ia kerjakan sendirian, otaknya bekerja keras menyelesaikan pekerjaannya itu. Di liriknya jam di pergelangan tangannya, ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 14.00, saking sibuknya ia melewatkan jam makan siangnya.
Darren benar-benar ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan itu. Karena ia ingin menemani istrinya di rumah. Pada pukul 15.15, akhirnya pekerjaannya pun selesai. Tak membuang waktu ia langsung saja memakai jas dan menyambar kunci mobilnya untuk segera pulang.
Dalam perjalanan ia selalu memikirkan istrinya, apa Lisa benar mengurus istrinya. Karena melihat Lisa yang sedikit bar-bar, ia jadi khawatir kalau wanita hamil itu malah merepotkan istrinya. Tak ingin berpikir terlalu jauh, dengan cepat ia mengemudikan kendaraannya. Mobilnya membelah jalanan di ibu kota yang sore ini mulai ramai, padat dengan karyawan yang berlalu lalang menyebrang jalan. Karena waktu sudah menunjukkan para karyawan untuk pulang.
Tak lupa ia membeli sesuatu untuk istrinya, tentu makanan kesukaan istrinya.
***
"Tante bayi nginap saja di sini, tidurnya bareng Syiera," kata anak itu dengan manjanya pada Lisa.
__ADS_1
Syiera senang bukan kepalang, karena tak lama lagi ia akan memiliki seorang adik. Dania sesekali melirik ke arah mereka, begitu akrab. Bahkan Syiera mengacuhkan keberadaan dirinya. Tidak! Ia tak boleh memiliki rasa iri pada wanita hamil itu. Lisa sahabatnya bukan? Tidak mungkin Lisa membuat Syiera jauh darinya.
Ia melihat ke arah luar lewat jendela karena mendengar suara mobil terparkir di sana, ia tersenyum kala tahu siapa pemilik mobil tersebut. Dengan cepat ia beranjak dari posisinya, lalu ke luar untuk menyambut kepulangan suaminya.
Setibanya di luar, ia langsung menghampiri suaminya yang baru saja turun dari mobilnya. Ia melihat suaminya itu membawa sesuatu di tangannya.
"Tumben sudah pulang?" tanya Dania heran.
Sebelum menjawab, Darren lebih dulu memberikan buah tangan yang ia beli tadi.
"Apa ini?"
"Kesukaanmu," jawab Darren. "Aku sengaja pulang cepat, aku khawatir wanita bar-bar itu malah merepotkanmu," jawabnya lagi.
Lalu mereka pun masuk ke dalam rumah, saat berada di dalam ia tak melihat keberadaan Lisa di sana. Ia pun memberanikan diri bertanya pada istrinya, apa wanita itu berulah.
"Dimana si bar-bar?" Entah kenapa Darren menjuluki Lisa dengan sebutan bar-bar.
"Maksudmu Lisa?"
Bagaimana tak beranggapan bar-bar, setiap didekatnya apa saja jadi masalah bagi mereka, dan berujung adu mulut.
Dania juga mengarahkan pandangannya kesekeliling mencari keberadaan Lisa. "Mungkin di kamar Syiera," jawabnya singkat. Sepulang Syiera sekolah, Lisa langsung dekat dengannya, padahal baru beberapa kali bertemu dengan anaknya itu.
Syiera juga nampaknya bahagia dengan adanya Lisa. Syiera pasti akan lebih bahagia memiliki adik dari rahimnya, bukan dari Lisa. Apa Lisa serius akan memberikan bayinya padanya. Dania hanya tak ingin Lisa memberikan harapan palsu pada Syiera.
"Kenapa malah melamun?" tanya Darren.
"Sepertinya Syiera lebih bahagia dengan Lisa."
"Apa maksudmu bicara seperti itu?"
"Syiera lebih bahagia adanya bayi di rumah ini, dan Lisa yang sudah mengabulkan keinginan Syiera. Katamu, Syiera bahagia jika adanya ibunya di sisinya, tapi nyatanya?" keluh Dania panjang lebar. "Kalau Syiera tahu aku bukan ibunya, dia pasti kecewa padaku," lirih Dania.
Darren menangkup pipi Dania dengan kedua tangannya. "Jangan beranggapan kalau Syiera tak menyayangimu! Syiera lebih butuh sosok ibu. Bukan adik!"
__ADS_1
"Apa kamu tidak menyesal menikah dengan wanita sepertiku? Ditambah, aku tidak bisa memberikan keturunan untukmu." Akhirnya air matanya keluar menetes membasahi pipinya.
Kenapa dirinya kembali teringat pada masanya dulu, dimana Darren terpaksa menikahinya. Bukannya ia sudah tahu jawabannya. Dan sekarang ia kembali membahas masalah yang menurut Darren tak perlu dibahas lagi.
Darren benar-benar menjatuhkan hatinya padanya. Tak ada alasan untuk tak mencintainya, banyak pengorbanan yang dilakukan istrinya padanya.
Dania tak memiliki keturunan juga disebabkan olehnya, andai ia tak menikahi Dania. Dania pasti tak akan mengalami keguguran dan pendarahan yang harus mengakibatkan rahimnya diangkat.
Dania tak mrmbenci dan meninggalkannya saja sudah beruntung baginya.
"Aku mencintaimu, jadi jangan pernah bertanya aku meyesal atau tidak menikah denganmu. Karena aku mencintaimu."
Darren memeluk tubuh istrinya dengan erat. Disaat itu pula, 2 pasang mata melihat keharuan diantara mereka.
Ya, siapa lagi kalau bukan Lisa dan Syiera.
"Momy?" panggil Syiera.
Darren pun melepaskan pelukannya dari tubuh istrinya dan mengalihkan pandangannya pada Syiera. Pada saat itu Syiera sudah menangis tersedu-sedu.
"Maafkan aku telah mengacuhkanmu, Syiera tak bermaksud melupakan Momy, maafkan aku ya, Momy?" ucap anak itu dengan deraian air matanya.
"Maafkan aku juga, keberadaanku malah membuatmu jauh dari anakmu," kata Lisa penuh penyesalan.
"Tumben kata-katanya bijak," gumam Darren.
Keharuan itu tak berlangsung lama, karena Lisa prnasaran apa yang ada di tangan Dania.
"Nia, kamu bawa apa?" tanya Lisa dengan mata yang tertuju pada sebuah paperbag yang ada di tangan Dania.
"Oh, ini makanan. Kamu mau?"
Lisa langsung saja mengambilnya tanpa ragu.
"Tapi itu untukmu," jelas Darren.
__ADS_1
"Gak apa-apa, itu untuk Lisa saja." Dania mengelus punggung suaminya sambil tersenyum.