
Semua sudah Darren siapkan, untuk keberangkatannya hari ini. Ia mengajak istri dan anaknya berlibur ke pantai. Karena selama ini Syiera belum pernah ia ajak ke pantai.
"Daddy, ayo cepat!" ajak Syiera tak sabar.
Dania hanya menggelengkan kepalanya melihat Syiera begitu antusias. "Sayang ... Apa kamu senang kalau kita ke pantai?" tanya Dania pada Syiera.
"Iya, Mom. Aku belum pernah ke pantai," jawab Syiera tersenyum.
"Ayo kita berangkat," ajak Darren pada Dania yang masih berdiri di samping mobil. Dania pun masuk ke dalam mobil dan mendudukkan tubuhnya di samping kursi pengemudi.
Tak lama mereka pun berangkat. Tapi sebelumnya ia sudah berpamitan pada Karren ibunya, melalui via telepon. Dan Karren mengijinkan.
Tak ada percakapan diantara mereka saat di perjalanan. Hanya Syiera yang meramaikan suasana. "Sayang ... Pake sabuk pengamannya," titah Dania. Dan Syiera menuruti kata-kata ibunya.
Darren tersenyum mengetahui hal itu, Dania begitu perhatian pada anaknya. Nilai plus untuk Dania di mata Darren. "Biarkan aku mencintaimu untuk selamanya," gumam Darren dalam hati.
"Dad, apa masih jauh?" tanya Syiera sambil menguap karena mengantuk.
"Iya, sayang," jawab ayahnya. "Tidurlah dulu kalau mengantuk. Nanti daddy bangunkan kalau sudah sampai." Dania pun menengok kebelakang melihat putrinya yang sedang menguap. Lalu ia arahkan kembali pandangannya ke depan.
Hening, hanya deruman mobil yang terdengar. Dania memang sengaja tak banyak bicara pada suaminya, karena ini cara Dania menghukum suaminya. Sesekali Darren melirik ke arah istrinya. Dan Dania mengetahui hal itu, tapi ia membiarkannya.
Tak lama kemudian mereka sampai di tempat yang mereka kunjungi. Yaitu pantai. Pemandangannya yang sangat indah. Dania merasa takjub akan keindahan Tuhannya.
Di sinilah mereka sekarang berada. "Bagaimana? Kamu suka?" tanya Darren pada istrinya setibanya di sana. Dania mengangguk.
"Syiera masih di mobil," Dania mengingati suaminya.
"Syiera kalau tidur lama, kita nikmati pemandangan berdua dulu, ya?" ujar Darren. Darren meyatukan jemari tangannya dengan tangan istrinya. Ia juga mengajak Dania untuk duduk di kursi yang tersedia di sana.
"Maafkan aku, Dania." Kata pertama yang Darren ucapkan disaat mereka sudah duduk sambil melihat pemandangan. Dania menoleh kearah suaminya dan tersenyum. Gagal sudah rencana yang sudah ia susun dalam pikirannya.
__ADS_1
Dania tidak tahu kalau Darren pandai merayu. Bahkan ini pertama kalinya ia merasakan cinta dari suaminya. Dania merasa ini bentuk cintanya yang Darren tunjukkan padanya.
"Kasian Syiera, apa kamu akan membiarkannya di dalam mobil. Aku rasa, mungkin dia sudah bangun." Pasalnya Dania merasa, ia sudah terlalu lama meninggalkan anaknya.
"Baiklah kita ke mobil, kita temui dia." Darren menggandeng istrinya sampai sana. Dalam hati Dania sangat bahagia dengan perlakuan suaminya. Namun ia tetap santai menyikapinya.
Sesampainya di sana. "Lihat, Syiera masih tidur 'kan?" ucap Darren sambil tersenyum.
Dania menggelengkan kepalanya. "Bangunkan saja, aku ingin istirahat." sahutnya pada suaminya yang masih berdiri di samping mobilnya. Lalu Darren pun membangunkan anaknya. Agak susah mungkin baginya untuk membangunkannya. Hingga akhirnya Dania yang turun tangan.
"Sayang ... Ayo bangun. Kita sudah sampai," ujarnya sambil mengelus pucuk rambut Syiera. Syiera pun mengerjapkan kedua matanya tak lama ia pun beranjak dari posisinya.
Syiera terpesona melihat pemandangan di sana. Ia langsung turun dari mobil lalu berlari kecil sambil merentangkan kedua tangannya.
"Momy, di sini indah. Aku suka," teriak Syiera dari kejauhan. Dania terkekeh melihatnya. Tanpa ia sadari tangannya melingkar di tangan suaminya. Dan mereka pun saling bertatap, senyum itu tersimpul dikedua bibir mereka. Lalu mereka kembali mengarahkan pandangannya pada anaknya yang sedang bermain pasir.
Dania dan suaminya berjalan beriringan menghampiri Syiera. "Ternyata putriku sudah besar, ya?" ujarnya pada Dania.
"Dia putriku juga," sahut Dania.
"Seharusnya aku yang berterima kasih. Kamu sudah membawaku keluar dari tempat yang tak pernah terpikiran sedikit pun olehku." Dania menangis terharu. "Memiliki suami pun aku hanya berangan-angan," ucapnya sambil mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah suaminya.
"Aku suamimu sekarang. Apa pun yang terjadi kamu tetap akan menjadi milikku." Darren kembali mendekap tubuh istrinya penuh kasih sayang.
***
"Mau makan apa? tanya Darren pada Dania. Sekarang mereka sudah berada di risort tempat mereka menginap.
"Apa saja terserah kamu. Aku tunggu di sana." Tunjuk kursi yang berada di pojokan. Darren pun mengangguk.
Setelah mengambil beberapa makanan Darren pun kembali menemui istri dan anaknya. Dan kini mereka sedang makan bertiga. Tak lama dering ponsel Darren berbunyi, ia melihat siapa yang menghubunginya. Dania mengarahkan pandangannya pada suaminya bertanya siapa yang menghubunginya saat ini.
"Momy," sahut Darren sambil memperlihatkan ID pemanggil. Lalu Darren mengangkat teleponnya. "Iya, Mom. Ada apa?" tanya Darren pada ibunya di sebrang sana. "Aku di pantai, Mom. Momy kesini saja aku sekarang lagi di risort dekat pantai." Tak lama sambungan itu berakhir.
__ADS_1
"Momy mau menyusul kita kesini." Darren memberitahukan pada istrinya, bahwa ibunya akan segera kesini.
"Oh ya," jawab Dania, ia dapat anggukkan dari suaminya.
"Hore ... Oma mau kesini." Syiera gembira akan kedatangan Omanya. Setidaknya Syiera ada yang menemaninya selain ayah dan ibunya yang kini sedang kasmaran.
"Dad, kesana lagi, yuk?" ajak Syiera yang ingin ke tepi pantai.
"Tunggu Oma datang, ya. Lagian di sana panas," jawab ayahnya.
"Hmm ... Bagaimana kalau kita jalan-jalan kesana, sambil menunggu Oma datang." Tunjuk Dania kearah pedagang pernak-pernik di pinggir jalan. Dania sedikit merayu Syiera yang sedang cemberut karena dapat penolakan dari sang ayah.
"Ide bagus," timpal Darren menanggapi ajakan
Dania.
"Bagaimana, sayang?" tanya Darren pada anaknya. Syiera mengangguk pasrah. Sebenarnya anak itu ingin bermain di tepi pantai berhubung panas Darren pun melarangnya. Dan mereka pun bergegas pergi menuju penjual pernak-pernik itu.
***
"Sial ... Ternyata hubungan mereka semakin membaik. Aku harus mengatur rencana lain agar mereka tak bahagia." Umpat seseorang yang tak sengaja melihat keberadaan Darren yang sedang berbelanja. Siapa lagi kalau bukan Leo orangnya. Ia pun berada di sini karena sedang berlibur dengan wanita panggilannya.
"Honey, yang ini bagus ga?" tanya wanita yang sedang bersama Leo.
"Bagus," jawabnya pada wanita itu.
"Kemana mereka?" Leo mengarahkan pandangannya kearah mereka tadi. Namun mereka sudah berpindah tempat karena tadi Leo tak sempat melihatnya.
"Cari siapa, honey?" tanya wanita itu lagi. Karena ia melihat Leo seperti sedang mencari seseorang.
_
_
__ADS_1
_
Wah ... Kira-kira apa yang di rencanakan Leo?🤔