Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 59


__ADS_3

Lisa terus saja menatap Leo dengan tajam. Sehingga ia mengurungkan niatnya untuk bercerita tentang janji yang ia janjikan pada Syiera. Hamil saja belum, Leo sudah berencana memberikan anaknya pada sahabat istrinya itu. Bagaimana murkanya nanti kalau Lisa tahu rencananya.


"Jangan macam-macam." Lisa mewanti-wanti suaminya itu.


Seketika Leo langsung tertunduk dan terdiam di hadapan Lisa, bagaikan kerbau yang di cocok hidungnya. Melempem takut pada sang istri.


"Tidak, aku tidak akan macam-macam," elak Leo, sebisa mungkin ia nenutupi janjinya pada Syiera. Huh ini membuatnya menjadi ketakutan pada Lisa.


***


"Langsung mandi," titah Darren pada Syiera setibanya di rumah.


Dengan seribu langkah Syiera langsung menghilang dari pandangan orang tuanya. Entah marah atau apa, sejak dari pertemuanya dengan Leo membuat Syiera sedikit pendiam. Syiera hanya memikirkan janji Leo padanya yang ia rasa akan kembali gagal untuk mendapatkan sang adik.


Kini Darren dan Dania sudah berada di kamarnya. Darren lebih memilih membaringkan tubuhnya di atas kasur, tapi tidak dengan istrinya, ia lebih memilih langsung membersihkan diri.


Setelah merasa bersih, Dania keluar dari kamar mandi, bahkan sudah lengkap dengan piama yang melekat di tubuhnya.


Darren menatap istrinya dengan bingung, sejak kapan istrinya itu memakai baju di kamar mandi. Bahkan ia merasa ada yang aneh untuk malam ini. Ia melihat Dania dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Tidak sesexi biasanya, istrinya lebih memilih piama tangan panjang dan celana panjang.


"Tumben pakai baju yang tertutup, apa kamu sakit?" duga Darren setibanya Dania di hadapannya.


Dania hanya menggeleng, ia hanya ingin tidur nyenyak malam ini, tidak mau terlihat menggoda suaminya dengan baju sexi ia lebih memilih baju sedikit tertutup.


Darren bisa mengira kalau Dania tak ingin melanjutkan kejadian tadi sore di cafe milik Leo. Akhirnya ia pun putuskan untuk mandi, dan tak akan meminta jatah malam ini pada istrinya itu.


Tak lama sebuah ketukan pintu terdengar di pendengaran Dania, sehingga ia membuka pintu itu. Ternyata Mila yang datang, ia memberitahukan bahwa makan malam sudah siap. Setelah itu, Mila pun berlalu dari pandangan majikannya itu.


Tak lama, Darren yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat istrinya mematung di ambang pintu.


"Sayang, sedang apa kamu di situ?" tanya Darren.


"Oh, barusan bi Mila memberitahu kalau makan malam sudah siap," jawabnya. "Aku duluan ke bawah ya, kasian Syiera sendiri di sana." Tanpa mendengar jawaban dari suaminya, ia langsung pergi menemui anaknya.


Setibanya di ruang makan, Dania melihat Syiera nampak murung, tak seceria waktu bersama Leo. Ia mengira bahwa Syiera tengah kecewa padanya juga ayahnya yang mengajaknya untuk pulang cepat tadi sore.

__ADS_1


Dania mengelus punggung anak itu sebelum bertanya. Syiera mendongakkan wajahnya, melihat siapa yang mengelus punggungnya. Seulas senyum Syiera berikan pada sang ibu.


"Kenapa di tekuk begitu. Nanti cantiknya ilang, loh," godanya pada Syiera.


"Mom, apa Momy yakin kalau Om Leo akan menepati janjinya pada Syiera?"


Pertayaan itu membuat Dania terdiam.


"Janji apa memangnya?" Dania memberanikan diri untuk menanyakan perihal janji itu.


"Om Leo sudah janji pada Syiera, kalau dia akan memberikan kejutan padaku nanti pas hari ulang tahunku."


Dania mengerutkan alisnya. Kejutan apa yang akan di berikan Leo sehingga membuat Syiera galau seperti ini.


"Sayang, jangan mengharapkan sesuatu yang belum tentu kita miliki." Tentu jawabannya membuat Syeira menatap ke arahnya.


"Apa Momy juga mengubur dalam-dalam keinginan Momy untuk memiliki anak."


Deg


Perkataan Syiera bagai sambaran petir baginya, membuat ia kembali teringat akan calon buah hatinya yang telah tiada. Hingga cairan bening sudah menumpuk di pelupuk matanya, mungkin sekali berkedip saja sudah dipastikan cairan itu akan membanjiri pipinya yang mulus.


Terdengar kaki melangkah, buru-buru Dania mengusap kedua matanya agar cairan itu tidak membasahi pipinya. Dengan segera ia tersenyum ke arah suaminya yang baru saja tiba di meja makan.


Darren menatap pada istrinya, lalu setelah itu pada Syiera. Dania langsung mengangkat kedua bahunya, ia tahu dengan isyarat suaminya, bahwa ia tengah bertanya padanya tentang Syiera.


"Syiera kenapa? Daddy perhatikan, dari tadi murung terus!"


Seketika Syiera mengarahkan tatapannya pada ayahnya, Syiera langsung menangis begitu saja. Membuat Darren langsung panik, begitu juga dengan Dania. Entah kenapa anak itu membuat sepasang suami istri itu menjadi bingung.


"Syiera kenapa? Apa Momy dan Daddy berbuat salah padamu?"


Anak itu langsung menggelengkan kepalanya.


"Aku takut kalau Om Leo ingkar janji."


Darren dan Dania saling lempar pandang, mencerna perkataan Syiera akan ingkar janji.

__ADS_1


"Om Leo sudah janji padaku, kalau mereka punya anak, anaknya akan di berikan pada Momy," kata Syiera lagi.


Tentu perkataan itu sebuah pukulan bagi Dania, bagai mana tidak, Syiera menagih janji pada Leo akan hal ini. Mau di taruh dimana rasa malu Dania.


"Sayang, kenapa meminta yang bukan hak kita?" tanya Darren, tapi tatapannya tertuju pada istrinya.


Makan malam yang sudah siap santap itu, kini mengilangkan selera Dania, padahal ia sangat kelaparan sebelum Syiera mengatakan keinginannya. Rasa lapar itu mendadak kenyang begitu saja.


Tapi sebisa mungkin ia menutupi rasa sakit yang menghantam dalam dirinya. Mencoba untuk tetap tersenyum.


Bahkan Suaminya tahu, kalau senyumnya itu terpaksa dilakukannya.


"Lebih baik, kamu tenangin Syiera," pinta Dania pada suaminya.


Seketika Darren mengangguk, lalu menggendong anak itu. Setelah menenangkan anaknya, Darren kembali menemui istrinya yang ia kira masih berada di ruang makan.


Darren tersenyum miris ketika ia tahu kalau istrinya sudah tidak ada di ruang makan, hingga ia beralih langsung bergegas menuju kamar. Namun ternyata ia tak mendapati sosok yang dicarinya saat ini.


Hingga tatapannya tertuju pada sebuah pintu yang menuju balkon itu terbuka, ia yakin bahwa istrinya tengah berada di luar sana.


Dan tenyata dugaannya benar, istrinya tengah berdiri membelakangi dirinya. Setibanya di belakang istrinya, ia langsung memeluknya dari belakang. Bahkan ia tahu kalau istrinya itu tengah menangis, terlihat dari punggungnya yang bergetar.


"Kenapa menangis?" Bahkan Darren mendaratkan dagunya di pundak istrinya, ia mencium pipi istrinya dari samping.


Setelah itu, ia melepaskan pelukannya, dan sekarang ia memutarkan tubuh Dania untuk menghadap ke arahnya. Ia menghapus jejak air mata yang telah membasahi pipi istrinya itu.


"Jangan menangis!" Ia kembali menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya. "Jangan pikirkan keinginan Syiera," ucapnya lagi sambil terus memeluknya untuk menenangkan istri tercintanya itu.


Bagaimana tidak kepikiran, bahkan ia merasa bukan wanita sempurna untuk dijadikan istri seorang pengusaha Darren Alfian Narayan.


"Maafkan aku yang tak sempurna ini," lirih Dania.


"Ssttt," Darren meletakan jarinya di bibir istrinya, mencoba untuk tidak melanjutkan perkataan istrinya.


"Jangan seperti ini. Aku mencintaimu tanpa melihat kekuranganmu!"


"Lebih baik kita masuk! Udara malam tidak baik bagi kesehatanmu." Darren menuntun istrinya untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


...****************...


Semua akan indah pada waktunya kok. Dania jangan merasa bahwa cuma dirimu yang tidak sempurna. Tatap bersyukurlah.


__ADS_2