
Hingga beberapa hari kemudian terlewatkan dengan penuh kebahagiaan oleh mereka.
Darren dan istrinya sekarang tengah berada di Bandara. Mengantar orang tuanya berangkat ke Singapura, setelah Dania membebaskan Davin, kini ia diterbangkan ke Singapura untuk menjalani pengobatannya di sana.
Karren memeluk Darren dan Dania secara bergantian. Tangis Karren pecah disaat perpisahan itu terjadi. "Terimas kasih ya, sayang," ucap Karren di sela pelukkannya pada sang menantu.
"Beri kabar pada kami jika kalian sudah sampai," sahut Darren.
Lalu Karren melepaskan pelukkannya. Setelah pamit, ia pun langsung pergi meninggalkan mereka. Untuk Davin, ia sudah berada dalam awak pesawat bersama Dokter yang mendampingi kepergian mereka.
"Semoga Pappy cepat sembuh ya?" imbuh Dania, pandangannya tak terlepas dari Karren, ia terus melihat kepergian Karren sampai dirinya tak terlihat.
"Iya sayang, semoga Pappy cepat kembali dan berkumpul bersama kita," sahut Darren. "Ayo, kita harus jemput Syiera," ajak Darren kemudian.
***
"Aku bahagia, akhirnya kita berpisah hanya sebentar," kata Lisa sambil terus memeluk Leo yang kini sudah sah menjadi suaminya. Setelah Leo terbebas, mereka langsung mengadakan acara pernikahan, Leo tak menundanya karena ia takut, Denis berbuat macam-macam pada Lisa. Di tambah lagi ia mendapatkan dukungan dari Dania juga dari sahabatnya.
Pernikahan sederhana namun mampu membuat mereka merasakan kebahagiaannya. Mereka juga harus memulai hidupnya dari nol. Lisa selalu membantu Leo di cafe. Canda tawa mewarnai hidup mereka.
"Memangnya kamu mau pisah lama-lama denganku, hah?"
Lisa langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tentu ia tak mau berpisah lama dengan orang yang sangat di cintainya saat ini. "Maaf ya, aku belum bisa mengajakmu bulan madu. Kamu tahu penghasilanku saat ini." Leo tertunduk, karena ia merasa malu. Leo yang sekarang bukanlah Leo yang dulu. Dulu, ia bergelimang harta bahkan bisa membayar Lisa dengan mahal menjadi wanita pemuas hasratnya.
"Sstt." Lisa meletakkan jari telunjuknya di bibir suaminya, untuk menghentikan perkataan yang terucap dari suaminya itu. Lalu ia mengangkat dagu Leo, bahkan Lisa memberanikan diri untuk mencium bibir suaminya. Hanya sekilas yang Lisa lakukan, karena ia tak mau membangkitkan ular yang sedang tertidur. Percintaan yang barusan mereka lakukan tentu membuat Lisa kewalahan, karena Leo begitu ganas jika sedang di ranjang.
Hari memang sudah siang, tapi Leo dan Lisa begitu enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Kasur kecil itu mampu membuat Leo dan Lisa menjadi satu. Walaupun begitu, tak urung hidupnya menjadi kelaurga kecil yang sangat bahagia.
"Apa kita tidak akan membuka cafe?" tanya Lisa yang masih terpejam di pelukan suaminya.
"Hari ini kita libur saja, ya? Badanku rasanya seperti remuk," jawab Leo.
"Remuk dari mananya? Bahkan kamu membuatku kewalahan tadi malam," ledek Lisa.
"Itukan tadi malam, sekarang baru terasa. Tapi kamu suka 'kan?"
Wajah Lisa langsung memerah ketika Loe menggodanya. Bahkan Lisa mencubit pinggang suaminya, sehingga Leo mengaduh menahan sakit akibat cubitan istrinya itu.
"Udah ah, aku mau mandi." Lisa langsung beranjak dari tempat tidurnya, ia berjalan tanpa mengenakan busana ataupun selimut yang menutupi tubuhnya. Sampai pada akhirnya, Leo pun mengekori Lisa untuk ikut mandi bersama sang istri.
__ADS_1
Setelah mereka selesai mandi dan memakai baju, rencananya mereka langsung akan pergi ke cafe, tidak baik menolak rejeki. Pikir Leo.
Sementara Dania dan Darren.
Setelah menjemput Syiera, mereka putuskan untuk mengajak anaknya bermain ke wahana permainan yang berada di pusat perkotaan.
"Momy, aku mau naik itu." Tunjuk Syiera pada wahana yang menurut Dania bisa membahayakan, sehingga ia melarang Syiera untuk naik permainan itu.
"Naik itu saja, ya?" Tunjuk Dania pada Syiera. Mau tak mau Syiera pun mengangguk.
Sementara Darren hanya mendampingi tanpa ikut naik permainan bersama istri dan anaknya, Darren masih menyempatkan bekerja melalui ponselnya. Ia mendapat email dari Genik sang sekretarisnya.
"Apa ada permainan lain yang ingin kamu naiki lagi?" tanya Dania pada Syiera yang baru saja turun dari komedi putar.
"Tidak! Aku sudah puas," jawab Syiera dengan senyuman khasnya yang memperlihatkan lesung pipinya.
Darren langsung menghampiri anak dan istrinya. "Mau kemana lagi setelah ini?" tanya Darren kepada mereka.
"Daddy, aku kangen om Leo. Apa kita bisa kesana?" pinta Syiera.
"Untuk apa kita kesana?" tanya Darren.
"Apa kita tidak akan mengganggu pasangan baru suami istri itu?" Pasalnya ia bisa merasakan pasti terganggu kalau lagi tanggung-tanggungnya. Seperti dulu ia merasakan gangguan dari Syiera.
"Gak akan," jawab Dania. "Lagian mereka belum pergi bulan madu 'kan?" tanya Dania kemudian.
"Hmm, baiklah. Kita kesana."
"Horeee," ucap Syiera antusias.
Dan mereka pun langsung pergi menemui Lisa dan Leo.
"Menurutmu mereka ada dimana? Cafe apa kontrakan?" tanya Darren pada istrinya.
Dania nampak berpikir. "Aku rasa mereka di__," ucapnya terputus kala penglihatannya melihat sosok yang ingin ditemuinya sekarang. "Itu Lisa sama Leo." Dania membuka kaca jendela mobilnya lalu menyapa Leo dan Lisa yang sedang berjalan kaki di tepi jalan.
"Lisa," panggil Dania.
Lisa dan Leo langsung menghentikan langkahnya secara bersamaan, lalu mereka langsung menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Dania, kamu mau kemana?" tanya Lisa.
Dania langsung turun dari mobilnya. "Aku mau menemui kalian. Kalian ngapain di sini? Apa kalian menutup cafe?"
"Tidak, ini kami baru saja meu membuka cafe," timpal Leo.
"Jam segini baru mau buka cafe! Kalian ngapain aja dari pagi? Rejekinya keburu di patuk ayam," sahut Darren yang masih berada di dalam mobil.
"Ah, kamu ini. Kaya gak tahu aja pengantin baru," ketus Leo yang merasa tersindir omongan dari sahabatnya itu.
Darren dan Leo kembali akur, bahkan lebih dekat dari sebelumnya. Dania memang berhati baik, ia mampu membuat dendam Leo pada suaminya sirna bagai api yang tersiram air. Lenyap seketika.
"Wah kebetulan sekali kita bertemu di sini. Ayo ikut bersama kami," ajak Dania pada Leo dan Lisa.
"Tidak Nia, kami jalan kaki saja. Lagian sudah dekat, biar lebih romantis," tolak Lisa. "Iyakan sayang," ucapnya pada Leo, suami tercintanya.
"Kalian gak ajak Syiera?" tanya Leo pada Darren dan Dania.
"Justru kami kesini karena keinginan Syeira, katanya sih mau menagih janji padamu," kata Dania.
"Menagih janji." Leo mengulangi perkataan Dania.
"Iya, setiap tahun 'kan kamu selalu memberi kejutan padanya," timpal Darren.
"Ya ampun, aku hampir lupa. Sebentar lagi Syiera ulang tahun 'kan? Lalu dimana Syiera sekarang?" tanya Leo.
"Tidur di mobil," jawab Dania. "Ya sudah, kalian duluan saja ke cafe," titahnya.
Lalu Leo dan Lisa pun pergi duluan ke cafe. Di susul oleh Darren dan Dania.
"Tuh 'kan, lihat deh. Pelanggan kita sudah menunggu. Ini gara-gara kamu," salah Lisa pada suaminya.
"Loh, kok aku sih," jawab Leo tak terima disalahkan.
"Kalian ini, bukannya cepat-cepat membuka cafe, ini malah berdebat tidak jelas," sahut Dania yang baru saja turun dari mobilnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pembaca yang bijak akan meninggalkan jejak.
__ADS_1