
Dania tersenyum ke arah Syiera. "Momy tidak apa-apa, sayang." Ia mengulurkan tangannya agar Syiera mendekat kepadanya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Darren mengkhawatirkan istrinya.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, istri Anda hanya demam biasa. baiklah kalau begitu saya permisi," pamit Dokter. "Jangan lupa obatnya diminum," kata Dokter itu lagi mengingatkan pasiennya.
Setelah kepergian Dokter. Darren menghampiri istrinya.
"Sayang, hari ini aku harus ke kantor. Aku tidak bisa menemanimu di sini," ucapnya penuh penyesalan.
"Gak apa-apa, kamu kerja aja. Aku bisa jaga diri," sahut Dania sembari tersenyum. Ia tak ingin suaminya itu terlalu memikirkan keadaanya.
"Syiera sekolah yang rajin, jangan bolos!" kata Dania. Pasalnya Syiera tak ingin sekolah karena ingin menemaninya di rumah.
"Iya, Momy." Syiera pun beranjak dari tempatnya. "Ayo, dad?" ajaknya untuk segera berangkat.
"Daddy belum mandi. Kamu berangkat sama Bi Mila saja, ya? Kalau nunggu Daddy, bisa-bisa kamu terlambat," jelasnya pada Syiera.
Syiera pun pergi, dan sekolah diantar oleh Mila.
Dari situ, Darren pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi, ia langsung bersiap-siap untuk berangkat kerja hari ini.
"Maaf ya, gara-gara aku sakit jadi tidak menyiapkan keperluanmu," lirih Dania yang masih terbaring di atas kasur.
Darren menghampiri istrinya sambil merapihkan dasi yang ia pakai. "Sebelum ada kamu, aku terbiasa sendiri. Jadi jangan merasa bersalah seperti itu!" jelasnya. "Aku berangkat, ya?" Ia mencium kening istrinya sebelum pergi.
"Hey ... Sarapan dulu?" sahut Dania pada suaminya yang sudah berada di ambang pintu.
"Aku sarapan di kantor saja. Udah terlalu siang," jawab Darren sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
Tak bisa berbuat apa-apa, Dania pun membiarkan suaminya pergi dalam keadaan perut kosong.
Di dalam mobil, Darren terus kepikiran akan istrinya yang sedang di rumah sendirian. Bagaimana kalau istrinya itu butuh sesuatu? Tidak ada yang membantunya. Lama ia berpikir akan hal itu. Lalu, ia kepikiran Lisa.
"Ah, iya. Aku suruh saja Lisa menemani Dania." Ide cemerlang muncul dalam benaknya.
Tanpa berpikir dua kali, ia langsung saja memutar balik mobilnya karena arah kantor berbeda dengan keberadaan Lisa. "Tapi mereka dimana ya sekarang?" Ia bingung, antara cafe atau rumahnya. Terlalu banyak mikir, ia jadi bodoh. 'Kan ada handphone, Darren. Jaman udah canggih, hadeuh ...
***
Pagi-pagi, Loe sudah kena semprot istrinya. Lisa kesal dengan suaminya yang tak kunjung bangun dari tidurnya. Seketika muncul ide dalam otaknya, dan Lisa yakin cara ini akan berhasil membangunkan suaminya yang tidur seperti kebo itu.
Prank ...
Bunyi begitu nyaring dari arah dapur, sampai Leo terbangun karena mendengar suara itu. Wajahnya langsung panik, karena ia tak melihat istrinya di sisinya.
"Lisa ..." Teriak Leo memanggil nama istrinya. Leo membulatkan matanya disaat ia melihat Lisa yang terduduk dengan keadaan panci yang tergeletak di sampingnya. Leo berpikir kalau istrinya itu jatuh terpeleset.
__ADS_1
"Sayang ... Kamu gak apa-apa 'kan?" tanya Leo dengan wajah paniknya.
Lisa tak menjawab, bahkan ia menahan tawanya. Melihat expresi suaminya sangat lucu. Dirasa ada yang aneh, Leo pun melihat kearah wajah istrinya.
"Kamu mengerjaiku?"
Lisa, langsung saja tertawa terbahak. Ia merasa puas sudah berhasil membuat suaminya terbangun dan membuatnya sedikit kesal pagi ini.
Leo langsung saja beranjak dan pergi meninggalkan istrinya.
"Dia pikir itu lucu! Jantungku hampir copot karena ulahnya," gerutu Leo sambil berjalan ke arah kamar mandi.
Disaat itu pula, Lisa mendengar bunyi klakson mobil. "Siapa? Jam segini sudah bertamu." Ia langsung saja ke depan rumahnya melihat siapa yang datang.
"Ngapain pagi-pagi dia sudah kesini, tumben?" batin Lisa. Karena ia tahu siapa pemilik mobil tersebut.
"Hay Lisa ...,?" sapa orang itu.
Lisa berdecih. "Sok manis!" kata Lisa pelan. Namun masih terdengar di telinga orang itu. Ya, orang itu adalah Darren.
"Baru ketemu sudah ngajak ribut," batin Darren mendumel. Tapi ia harus bisa menahannya demi tujuannya. Apa lagi kalau bukan membujuk Lisa agar mau menemani istrinya yang sedang sakit sendirian di rumah. Bisa-bisa Lisa tidak mau.
"Pagi ...," sapanya lagi.
"Pagi!" jawab Lisa sedikit ketus. "Tumben pagi-pagi sudah kesini? Gak ada kerjaan, ya?" cibir Lisa.
"Tahan ... Tahan darren, ingat tujuanmu!" batinnya.
"Leo sedang mandi, tunggu saja. Paling sebentar lagi juga selesai," katanya pada tamu yang tak diundang itu. Karena Lisa berpikir, kalau kedatangan Darren kesini adalah untuk menemui suaminya.
Disaat Lisa membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan Darren yang masih di luar, disaat itu pula Darren memanggilnya.
"Lisa?"
Membuat Lisa langsung berbalik ke arahnya. "Ada apa?" jawab Lisa dengan mimik bingung.
"Aku kesini bukan untuk bertemu Leo, tapi kedatanganku kesini untuk bertemu denganmu," jelas Darren.
"Apa maksudmu ingin bertemu dengan istriku?" tanya Leo yang tiba-tiba muncul dari arah pintu. Ia sudah dikuasai api cemburu.
"Santai bro," kata Darren sambil tangannya mengarah kedepan. Ia mencoba menenangkan sahabatnya itu. Leo pasti salah paham. Pikirnya.
"Gue mau jemput bini lo."
Belum apa-apa Leo sudah melototinya.
"Ma_maksud gue ... Gue mau minta bantuan Lisa," ucapnya dengan terbata. Kerana ia melihat kemarahan di wajah Leo. Karena Leo pikir, Darren menikung istrinya. Yang benar saja.
__ADS_1
"Bantuan apa?" tanya Lisa penasaran.
"Dania sakit. Jadi aku minta kamu untuk menemaninya di rumah. Kamu mau 'kan?"
Mendengar sahabatnya sakit, Lisa langsung mengangguk mengiyakan. Padahal belum ada ijin dari suaminya.
"Bentar, aku ambil tas dulu," kata Lisa sebelum ia masuk ke dalam.
"Lah-lah ... Terus aku gimana?" tanya Leo pada dirinya sendiri.
Lisa pun datang kembali dengan menenteng tasnya, ia sudah siap untuk berangkat.
"Sayang, kok kamu pergi sih. Terus aku gimana? Kalau kamu pergi siapa yang membantuku di cafe?" tanya Leo pada istrinya.
"Urus saja sendiri," jawabnya asal.
"Heh, lo gak bisa bawa istri gue seenaknya!" Bahkan Leo menghalangi langkah istrinya dan juga Darren.
"Gue pinjem bini lo sehari ini aja! Please!!!" pinta Darren sambil menangkupkan kedua tangannya memohon.
"Gak! Gak bisa! Repot gue kalau gak ada Lisa."
"Oh ... Jadi itu kamu gak ngijinin aku pergi. Cuma buat bantu-bantu kamu!" Sepertinya Lisa sudah mengeluarkan tanduk merahnya pada suaminya.
"Bu_bukan itu maksudku, sayang! Aku juga sendirian kalau kamu pergi," lirih Leo menunjukkan wajah melasnya.
Lisa menghela napasanya berat. Harus membujuk suaminya dulu sebelum ia pergi.
"Bahkan kamu pergi dalam keadaan belum mandi. Sekhawatir itu pada Dania? Bahkan kamu gak mengkhawatirkanku. Pergi meninggalkanku dalam keadaan perut kosong," dusta Leo.
Lisa pun menghampiri suaminya, ia mengecup bibir suaminya sekilas, bahkan di hadapan Darren.
"Cih ... Apa-apa mereka?" batin Darren. "Sok manis banget," batinnya lagi.
"Bayi besarku ... Jangan marah ya? Kamu bisa nyusul nanti, temui aku di rumah sahabatmu," bujuk Lisa.
"Udah, deh. Jangan lebay," timpal Darren. "Cuma sehari kok! Sebagai gantinya gue kirim orang untuk membantumu di sini," jelas Darren pada Leo, agar Leo mau mengijinkan Lisa untuk ikut dengannya.
Leo menimbang-nimbang tawaran Darren. Bolehlah, toh ada gantinya. Kasian juga Lisa, ia pasti merasa bosan jika kesehariannya hanya cuma di cafe untuk membantunya. Pikir Leo.
Pada akhirnya ia pun mengijinkan istrinya untuk menemani istri dari sahabatnya itu.
"Beri kabar kalau sudah sampai! Jangan lupa langsung mandi!" Leo mengingati istrinya.
"Iya," jawab Lisa. "Yau udah, aku berangkat, ya?"
Lisa pun berlalu, ia pergi bersama Darren dan meninggalkan suami tercintanya.
__ADS_1
...----------------...
Maaf kalau part ini gak jelasπππ