
Setelah menemui Leo. Darren kembali menemui istrinya, untuk menjemputnya pulang. Setibanya di sana, ia melihat sang istri tengah sibuk membawa sebuah nampan.
Dengan cepat ia menghampiri istrinya, dan mengambil alih nampan yang sedang di pegang oleh Dania. Lalu Darren mengarahkan pandangannya kesekeliling tengah mencari seseorang, hingga matanya tertuju pada gadis yang tengah sibuk sama seperti istrinya, orang yang dicarinya yang tak lain adalah Lisa.
Darren menghampiri Lisa. Dania hanya terdiam melihat sang suaminya yang menemui Lisa, ia melihatnya dari kejauhan. "Nih," ucap Darren sambil memberikan nampan kosong pada Lisa.
Lisa tersenyum menerima nampan itu dari Darren. "Aku gak nyuruh istrimu, loh," kata Lisa. Ia lebih dulu menjelaskan pada suami dari sahabatnya.
"Tenang ... Aku tak marah! Aku memberikan nampan itu, karena Dania aku jemput. Kita mau pulang."
Sedangkan Lisa hanya bisa pasrah, ia menghela napasnya sebelum merelakan kepergian sahabatnya itu. Kini Dania menghampiri Lisa yang masih sedang bersama Darren. Dania mengelus punggung Lisa dengan lembut.
"Aku akan sering-sering menemuimu di sini, jangan sedih, ya?" kata Dania. "Jangan khawatir, aku akan membebaskan pangeranmu," bisik Dania di telingan Lisa. Lisa langsung terseyum sumringah mendengar apa yang dikata sahabatnya itu.
"Sungguh!"
Dania tersenyum dan mengangguk. Sedangkan Darren, ia menatap dua wanita itu dengan bingung. Tak lama, merekapun pergi meninggalkan Lisa. Sebelumnya mereka pamit terlebih dulu pada Lisa.
"Apa yang kamu bisikan? Sampai Lisa langsung terlihat sangat bahagia?" tanya Darren di sela-sela sedang menyetir, karena mereka sudah berada di dalam mobil, perjalanan menuju pulang ke rumah.
"Ada deh. Kepo!" jawab Dania.
"Bukan kepo, sayang. Aku bisa menebaknya?" kata Darren tanpa menoleh kearah istrinya, karena ia sedang fokus menyetir.
"Apa? Coba kasih tahu aku kalau kamu tahu?"
"Paling kamu menjanjikan mau membebaskan Leo, iyakan?" duga Darren.
"Iya, aku kasihan sama Lisa. Kamu mau 'kan membesakan Leo? Cabut tuntutanmu, sayang." Dania menyandarkan kepalanya pada suaminya, ia berusaha membujuk suaminya itu.
"Tapi ada syaratnya!" sahut Darren.
"Ih ... Kebiasaan. Selalu pake syarat!" Dania menarik sandarannya dan memanyunkan bibirnya sambil bersedekap tangan di dada.
Darren mengacak rambut istrinya karena gemas, ia sangat suka dengan tingkah Dania yang sedikit merajuk. Tapi tidak dengan Dania, ia lebih tidak suka dengan rambutnya yang diacak oleh suaminya. Tak lama mereka pun sampai di rumah.
Kedatangannya disambut oleh Syiera dan Mila asistent rumah tangga mereka yang sudah menetap di sana, karena suruhan Karren. Karren menyuruh Mila untuk membantu menantunya itu. Apa lagi Dania tidak boleh kecapean pasca operasi kemarin.
"Daddy," sambut Syiera. "Momy, Momy kenapa? Kok, cemberut!" Tatapan Syiera beralih pada ibunya.
__ADS_1
"Daddymu menyebalkan!" Dania mengadu pada Syiera, dengan tatapan yang mengarah pada Darren.
"Kenapa Daddy bikin Momy cemberut? Syiera sudah bilang pada Daddy, jangan bikin Momy marah! Daddy mau kalau Momy ninggalin Daddy lagi?" cerocos Syiera.
"Tidak! Daddy pastikan itu tidak akan terjadi." Lalu mereka masuk ke kedalam karena Darren mengajak mereka.
"Oh iya, Tuan. Tadi Nyonya besar berpesan, kalau malam ini, Nonya tidak pulang karena harus menemani Tuan besar di rumah sakit," jelas Mila.
Seketika langkah Dania terhenti setelah mendengar perkataan Mila. Lalu pandangannya mengarah pada suaminya.
"Kenapa berhenti, sayang?" tanya Darren.
"Maafkan aku." Dania tertunduk.
"Bi, ajak Syiera ke kamarnya."
Mila mengangguk mengerti, Syiera pun di ajak oleh Mila ke kamarnya dan membiarkan majikannya yang masih terdiam di bawah tangga.
"Sayang ... Kenapa minta maaf?" Darren mengangkat dagu istrinya. " Lihat aku! Apa yang membuatmu harus minta maaf padaku?"
"Aku belum sempat menjenguk Pappy, dan membebaskannya," jawab Dania.
Dania melepaskan diri dari pelukan suaminya, lalu menatap wajah suaminya. "Aku tidak ingin keluarga kita terpisah seperti ini. Aku akan membebaskan Pappy. Untuk Leo juga!"
"Kamu serius!" tanya Darren. Dania mengangguk tersenyum. "Baiklah untuk Leo biar aku yang urus," sambungnya lagi.
Lalu merekan pun beralih ke kamar. Dania langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Darren, ia lebih memilih sofa untuk mengistirahat sejenak tubuhnya sebelum mandi.
Lima belas menit kemudian, Dania keluar dari kamar mandi, ia melihat suaminya malah tertidur di sofa dalam kaedaan terduduk. Perlahan ia menghampiri suaminya.
"Darren, bangun. Cepatlah mandi, ini sudah sore." Ia mengguncangkan tubuh suaminya.
Perlahan Darren membuka matanya. Ia langsung membuka matanya lebar-lebar, karena ia melihat istrinya yang masih menggunakan handuk yang melilit di tubuh istrinya. Dengan cepat Darren menarik tangan istrinya sehingga Dania langsung terjatuh di pangkuannya.
Darren langsung mencium pundak istrinya sehingga membuat Dania melenguh karena geli. "Mandi dulu sanah!" titah istrinya.
"Aku akan mandi setelah ini!" Darren terus menciumi tubuh istrinya, senghingga Dania tak bisa menolak keinginan suaminya itu, karena ia pun menikmati sentuhan dan ciuman yang suaminya lakukan padanya.
Sehingga permainan ranjang pun terjadi diantara mereka. Darren merasa puas, permainan istrinya itu sudah membuatnya melayang ke awan-awan.
__ADS_1
"Aku harus mandi dua kali 'kan jadinya" gerutu Dania.
"Tapi kamu suka 'kan? Permainanmu membuatku ketagihan sayang. Aku mau sekali lagi." Darren melanjutkan aksinya namun dengan cepat di cegah oleh istrinya.
"Sudah ah, aku laper," pinta Dania.
Mau tak mau Darren pun menghentikan aktivitasnya. Ia langsung membopong tubuh istrinya ke kamar mandi. Ia menjatuhkan secara perlahan tubuh istrinya di bathup, mereka pun mandi bersama.
Setelah mandi, mereka langsung pergi ke ruang makan, sebelumnya memakai baju terlebih dulu. Mila memang sudah menyiapkan makan malam untuk mereka. Syiera yang anteng bersama Mila membuat Darren dan Dania tak merasa terganggu olehnya.
"Syiera mana bi?" tanya Dania setibanya di ruang makan. "Apa dia sudah makan?" tanyanya lagi.
"Sudah, Nyonya. Sekarang Non Syiera lagi belajar," jawab Mila sopan.
Darren tersenyum mendengar pertanyaan Dania, ia beruntung mendapatkan istri sepertinya. "Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya istrinya padanya.
"Beruntungnya aku memiliki istri sepertimu." Ia langsung mencium pucuk rambut istrinya.
"Isss, malu. ada bi Mila," ujar Dania.
"Memangnya kenapa?" tanya Darren.
Tak lama Syiera datang menghampiri mereka, Syiera langsung mendekati Dania. "Sayang, mau makan lagi gak?" tanya sang ibu pada anaknya.
Syiera menggeleng dengan cepat. "Aku sudah makan, Mom," jawab Syiera.
"Sini, duduk sama Daddy, biarkan Momy makan dulu, ya?" Syiera pun mendudukkan tubuhnya di pangkuan sang ayah. walau pun sedikit kerepotan, Darren tetap membiarkan Syiera berada dalam pangkuannya.
Dania yang melihatpun menegur Syiera dengan lembut. "Sayang, duduk di sana, ya?" Tunjuk sebuah kursi yang di samping suaminya. "Kasian Daddy, Daddy kesusahan tuh." imbunya lagi. Syiera pun dengan segera turun dari pangkuan ayahnya. "Anak pintar," sambungnya lagi.
Hingga beberapa hari kemudian terlewatkan dengan penuh kebahagiaan oleh mereka.
bersambung.
...----------------...
Selamat hari raya idul fitri.
Othor sempatkan menulis demi kalian pembaca setiaku. Terima kasih yang masih setia menunggu ceritaku. Semoga terhibur.
__ADS_1
Minta doanya buat anakku yang lagi sakitπππ