Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 43


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Dania terus memikirkan siapa yang sakit, yang bersama ibu mertuanya. Begitu banyak teka-teki yang tidak diketahui olehnya.


"*Apa yang kamu rahasiakan dari*ku?"


"Kita sudah sampai, Nona," kata supir taxi itu.


Dania terkesiap dari lamunannya, ia melihat kesekeliling luar dari dalam mobil tersebut. Ternyata benar, ia sampai tak menyadari akan hal itu. Tak lama ia pun turun dari taxi yang ia tumpangi. Ia keluar setelah membayar taxi terlebih dulu.


"Ini, pak. Terima kasih," ucapnya pada supir itu.


"Momy?" panggil Syiera.


Lalu Dania berjalan menghampiri Syiera yang sedang bersama Mila di taman. "Sore, Nyonya," sapa Mila. Dania hanya menjawab dengan sebuah senyuman khasnya. Senyuman yang sering Dania perlihatkan disaat hatinya sedang gelisah seperti sekarang.


"Bi, boleh saya tanya sesuatu?" tanya Dania pada Mila.


"Iya, mau tanya apa, Nonya?"


"Dulu, bibi pernah bilang ke saya. Soal, Tuan. Tuan yang di maksud bibi itu siapa? Itu loh, tentang Momy yang suka pergi ke kantor polisi."


"Oh itu, tapi Nyonya janji ya untuk merahasiakan ini. Saya takut kena marah, Nonya," jelas Mila. Dania mengangguk, menyetujui permintaan Mila.


Tapi sebelum Mila mengatakan semuanya, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil. Hingga Mila mengurungkan niatnya untuk menceritakan semuanya.


"Tuan muda sudah pulang, maaf Nyonya saya tidak bisa menceritakan semuanya sekarang," kata Mila. Dania menghela napasnya sejenak, lagi-lagi ia gagal mencari kebenarannya.


Dania menjumpai semuinya yang baru saja turun dari mobilnya. "Daddy." Syiera berlari menghampiri ayahnya. Darren langsung menggendong Syiera setiba anaknya berada di hadapannya. Darren mencium gemas Syiera.


Lalu pandangannya menuju ke arah istrinya, Dania. Ia memberikan senyumannya pada Dania.


Namun Dania melengos pergi begitu saja, tanpa membalas senyuman suaminya. Pasalnya ia terlalu cape dengan pikirannya yang terus penasaran akan kejadian tadi di rumah sakit.


Darren langsung menyusul istrinya sambil menggendong Syiera. "Daddy? Bukannya tadi daddy pergi bersama Momy. Tapi kenapa pulangnya tidak barengan?" tanya Syiera dengan cerewetnya.


"Tadi daddy ada urusan dulu, sayang," jawab Darren. "Syiera turun dulu, ya. Daddy mau menyusul Momy." Darren menurunkan Syiera dari pangkuannya. Lalu menaiki anak tangga, dengan cepat menemui istri.


Setibanya di kamar, ia melihat istrinya yang hendak ke kamar mandi. Langkah Dania terhenti kala ia mendengar suaminya memanggilnya.


"Dania?" panggil Darren.


Dania menoleh ke arah suaminya. "Apa?" jawab Dania. "Nanti saja kita bicara, aku mau mandi." Dania meneruskan langkahnya, ia langsung menutup pintu kamar mandi tersebut.


Sementara Darren, dengan setia ia menunggu istrinya. Tak lama, Dania pun keluar. Darren langsung menghampiri Dania. "Wajahmu pucat, apa kamu sakit?" tanya Darren sambil menyentuh pundaknya.


"Aku tidak apa-apa," jawab Dania.


Lalu ia melewati tubuh suaminya, menuju almari mengambil baju lalu memakainya. Sudah lumrah baginya memakai baju di hadapan suaminya.


"Istirahatlah kalau begitu, aku mau mandi dulu," kata Darren, lalu ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi, ia langsung keluar dan melihat Dania tengah meringkuk di ranjang.


Setelah selesai memakai baju, Darren menghampiri istrinya, melihat keadaannya, baik-baik saja atau tidak.

__ADS_1


"Sayang, kamu benar tidak apa-apa?" tanya Darren dengan lembut.


"Kepalaku pusing, biarkan aku istirahat, ya?" jawab Dania.


Darren menarik napasnya sejenak. "Kalau begitu aku mau menemui Syiera dulu, ya? Kamu istirahat saja. Aku bangunkan nanti kalau mau makan malam saja." Darren mencium kening istrinya sebelum ia meninggalkannya.


Setelah kepergian Darren. Dania terus meringkuk, entah kenapa kepalanya begitu terasa berat, sedikit mual di bagian perutnya yang ia rasakan saat ini.


Dania sejenak melupakan kejadian di rumah sakit tadi. Mungkin kata Lisa ada benarnya, jangan berprasangka buruk terhadap suami. Tak lama ia pun terlelap menuju alam mimpinya.


***


"Kau sudah sadar?" Lisa melihat Leo hendak mendudukan tubuhnya. Lisa membantu Leo untuk bersandar di sandaran branker.


Leo memegang kepalanya, ia merasakan pusing di kepalanya. "Aku dimana?" ucapnya.


"Di rumah sakit," kata Lisa. "Apa kau ingin bunuh diri, sampai-sampai menghabiskan minuman beberapa botol?" tanya Lisa.


"Terima kasih, Lisa. Terima kasih sudah menyelamatkanku."


"Makan dulu, ya? Aku suapi." Lalu Lisa mengambil makanan yang di sediakan oleh rumah sakit. Perlahan ia menyuapi Leo.


Leo menghentikan aksi Lisa yang terus saja menyuapinya. "Aku sudah kenyang." Leo mendorong sendok yang hendak Lisa masukkan k dalam mulutnya.


"Satu suap lagi," pinta Lisa. Mau tak mau, Loe pun membuka mulutnya kembali. Dan mengunyah makanan itu hingga habis.


Tak lama Dokter datang hendak memeriksanya. "Wah pasangan suami istri yang sangat romatis," kata Dokter yang baru saja tiba. Dokter itu melihat Lisa sedang mengelap bibir Leo dengan tisu.


"Sepertinya istri Anda begitu mengkhawatirkan Anda, Tuan," ucap Dokter itu sambil tersenyum.


Leo langsung melihat ke arah Lisa, Lisa hanya tersenyum melihatnya. "Kenapa dia tidak memprotes perkataan Dokter, Lisa malah tersenyum kikuk," gumam Leo.


"Bagaimana, Dok?" tanya Lisa. "Apa dia bisa pulang besok?" tanya Lisa lagi.


"Sekarang juga sudah boleh pulang, kondisinya cukup baik," jelas Dokter.


"Saya mau pulang saja, Dok. Saya juga merasa sudah baik," kata Leo.


"Apa tidak besok saja?" timpal Lisa.


"Aku mau sekarang saja, Lis," elak Leo.


"Baiklah kalau begitu, saya buatkan resep dulu, kalau emang mau pulang sekarang." Dokter pun pergi meninggalkan pasien.


Setelah kepergian Dokter. "Maaf ya?" ujar Leo.


"Maaf untuk apa?" Lisa mengkerutkan keningnya saat Leo minta maaf padanya.


"Kata Dokter tadi, bahwa kau istriku."


"Hmm, tidak apa-apa. Lagian Dokterkan tidak tahu hubungan kita," jelas Lisa. "Kamu serius mau pulang sekarang?" tanya Lisa meyakinkan Leo.

__ADS_1


"Iya, lagian aku tidak punya uang untuk membayar rumah sakit. Nanti aku akan mengganti uangmu, sekali lagi terima kasih sudah menolongku."


"Jangan terima kasih padaku, terima kasihlah pada Dan_," ucapnya terputus, karena Dokter telah kembali menemui mereka.


"Ini obat yang harus di tebus," kata Dokter sambil memberikan sebuah kertas pada Lisa. Dan Lisa pun mengambilnya.


"Untung tadi Dania memberiku uang. Kalau tidak, dengan apa aku harus menebus obat ini."


"Lisa?" panggil Leo.


"Eh iya, Ada apa?"


"Kenapa bengong?" tanya Leo. Lisa menggelengkan kepalanya.


"Terima kasih, Dok," ucapnya pada Dokter itu.


Lalu lisa membantu Leo untuk bersiap-siap, malam ini, Leo langsung pulang. Dengan setia Lisa menemaninya.


Dan kini mereka sudah berada dalam taxi, perjalanan menuju apartemen Leo.


Hanya beberapa menit untuk sampai di sana, karena jarak rumah sakit cempaka tidak jauh dari apartemen Leo.


Lisa terus membantu Leo, sampai Leo menyadari akan adanya Lisa di dekatnya. Ia merasa Lisa begitu perhatian padanya. Mereka pun sampai di depan pintu apartemen milik Leo.


"Lisa, sebaiknya kamu pulang saja," pinta Leo.


"Kenapa memangnya?" tanya Lisa.


"Aku sudah tidak bisa membayarmu, aku miskin, Lisa. Sebaiknya kamu pulang!"


Sedikit nyeri yang Lisa rasakan saat ini. Mendapat pengusiran dari Leo.


"Kamu juga harus kerja 'kan!"


"Tapi_," kata Lisa terputus.


"Sudahlah, aku tidak apa-apa di sini sendiri," kata Leo sedikit melembutkan suaranya.


Dengan gontai, Lisa berjalan keluar meninggalkan Leo seorang diri. Pasalnya, Lisa juga bingung, malam ini harus kemana. Semenjak kenal dengan Leo, Lisa selalu menghabiskan waktunya bersama Leo. Ia juga sudah jarang melayani laki-laki lain selain Leo.


Leo adalah pelanggan tetap Lisa. Lisa merasakan kenyamanan bersama Leo, walau terkadang perlakuan Leo membuat Lisa kesal. Seperti kemarin-kemarin yang ingin membuat Dania bertengkar dengan suaminya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan bosan membaca karyaku ya, maaf kalau tidak memuaskan para readers🙏🙏 tetap setia, ya?


jangan lupa tinggalkan jejak.


tunggu part berikutnya, part yang akan datang mungkin sedikit agak menegangkan.


Sekali lagi terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca karyaku yang masih amburadul😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2