
Disaat Dania sedang mendonorkan darahnya, Loe dan Darren serta Lisa, mereka tengah menunggu di ruang tunggu, dan semoga darah Dania bisa ia donorkan. Secara logis, sebagian orang bisa mendonorkan darahnya walau tak ada ikatan persaudaraan. Seperti Dania, mungkin ini jalan Tuhan yang sudah digariskan untuk mereka.
Leo dan Lisa saling pandang, bagaimana bisa? Kalau Dam itu bukan anak mereka.
Darren yang melihat istrinya sudah selesai mendonorkan darahnya, ia langsung saja menuntun istrinya untuk duduk.
"Pusing?" Dania mengangguk, bagaimana tidak pusing, darah yang diambil cukup banyak. Sejenak, Dania merasa ada yang kehilangan.
"Syiera. Dimana Syiera?" tanya Dania pada Darren.
"Syiera di rumah Lisa, tapi aku sudah menghubunginya. Mungkin sebentar lagi dia sampai," jelas Darren menghilangkan kekhawatiran Dania. Dania bisa bernapas lega.
Kini Leo dan Lisa saling terdiam.
"Dad, Mam?" panggil Alea.
"Hmm," jawab mereka bersamaan.
Entah apa yang dipikirkan mereka saat ini, tatapan keduanya kosong.
"Kalau Dam terbukti bukan anakku. Lalu dimana putraku," gumam Lisa. Matanya sudah menggenang, mungkin sekali saja berkedip sudah dipastikan air mata itu terjatuh. Namun sebelum air mata itu terjatuh, Lisa lebih dulu mengusap kedua matanya.
"Leo, coba tanyakan pada Dokter, kenapa bisa darah Dam tidak sama dengan kita?" Lisa sudah tidak sabar ingin tahu akan hal itu.
Mendengar ucapan Lisa, Leo langsung bangkit dari duduknya, dan bergegas menuju ruang dokter yang menangani Dam.
Setelah menemui dokter, tubuh Leo serasa tak bertulang. Penjelasan dokter membuatnya kecewa.
"Bagaimana?" tanya Lisa. Leo hanya menggeleng tanpa bersuara. Itu membuat Lisa semakin penasaran.
"Jelaskan!" Lisa mengguncangkan tubuh suaminya yang masih terdiam.
Kesimpulan dokter, kalau Dam memang bukan darah daging mereka. Tubuh Lisa seketika ambruk setelah mendengar penuturan suaminya.
"Mamy!" Alea menepuk-nepuk pipi ibunya. Kini Lisa berada di ruang rawat, karena ia jatuh pingsan.
Melihat kondisi istrinya seperti ini, Leo tak bisa tinggal diam. Hari ini, ia putuskan untuk terbang ke Indonesia.
"Lo ikut gue, ya?" ajak Leo pada Darren.
"Kemana?"
"Indonesia, gue harus nyari tahu yang sebenarnya. Kita ke rumah sakit dimana istri gue melahirkan," jelas Leo.
"Tapi, bagaimana dengan mereka?" tunjuknya pada tiga wanita yang tengah terduduk ditepi branker. Karena baru saja Lisa sadar dari pingsannya.
__ADS_1
"Ada Syiera nanti, dia sudah dewasa. Jadi dia bisa menjaga mereka," kata Leo.
"Tapi ..."
"Lo gak percaya? Syiera pasti bisa," tegas Leo lagi. "Sebaiknya kita bicarakan ini di luar," ajak Leo.
Dan kini Syeira sudah tiba di rumah sakit, dimana sang adik dirawat.
"Daddy?" panggil Syiera, ia melihat sang ayah tengah berdiskusi bersama Leo, entah apa yang dibicarakan mereka, Syiera tidak tahu.
"Gimana keadaan, Dam? Maaf, aku sampai tidak tahu," sesalnya. Waktu kejadian ia tengah tidur siang, karena sedari kecil kalau ia tidur suka kebablasan.
"Tak apa, Dam masih kritis," jawab Darren. "Syiera, kamu di sini temani Momy, Alea dan Tante Lisa. Daddy sama Om Leo harus pergi ke Indonesia sekarang juga."
Bingung karena tak tahu apa yang terjadi, Syiera hanya mengangguk.
"Kamu temui Momy di dalam. Bilang padanya kalau Daddy berangkat."
"Apa gak sebaiknya, Daddy pamit dulu. Syiera takut nanti Momy marah."
Kenapa Darren tak kepikiran akan hal itu, saking paniknya mungkin. Jadi ia seperti Leo. Setelah mendapat ijin dari istrinya, mereka langsung berangkat.
Pesawat lepas landas dengan sempurna. Tidak buang-buang waktu Leo dan Darren langsung menuju rumah sakit dimana dulu istrinya melahirkan. Tak perduli tubuh mereka yang lelah, lebih cepat itu lebih baik.
Di rumah sakit bersalin.
Cukup lama, karena kejadian itu 17 tahun yang lalu. Petugas nampak serius mengamati hasil remakan itu. Leo dan Darren pun menyaksikan hasil tampilan di layar komputer.
Terlihat suster tengah mengecek bayi satu persatu. Disaat itu, suster tak sengaja menyenggol papan bayi yang ada di sana. Kemungkinan papan bayi yang terjatuh itu adalah anak Lisa dan Leo. Bukan hanya satu yang terjatuh, tapi dua sekaligus, suster itu sempat bingung dimana ia harus meletakannya.
Suster itu meletakan kembali papan nama bayi itu namun secara asal. Dan kemungkinan bayi mereka tertukar.
"Di sini terlihat kalau suster salah menyimpan papan bayinya, Pak. Maaf, atas keteledoran kami," sesal petugas itu.
Ingin marah, tapi Leo tak mungkin marah pada petugas itu. Kerana ia tak tahu apa-apa. Marah pada susternya? Susternya pasti sudah berhenti, karena di lihat dari fostur suster itu sudah berumur, dan itu tidak mungkin jika susternya masih bekerja di sini.
Lalu mereka meminta alamat pada pihak rumah sakit, alamat rumah yang pada hari itu melahirkan secara bersamaan dengan Lisa.
Setelah mendapatkan alamat tersebut, mereka langsung menuju ke sana.
"Apa benar ini tempatnya?" tanya Darren.
"Seharusnya sih, ini benar," jawab Leo sambil menyamakan alamat rumah dengan nomor rumah tersebut. Rumah itu nampak sepi tak berpenghuni.
"Sepi sekali, apa mungkin kita salah?" ujar Darren.
__ADS_1
Disaat itu, ada seorang kakek-kakek yang melintas di hadapan mereka. Leo, langsung saja bertanya pada kakek tersebut.
"Maaf, kek. Kami mau tumpang tanya, apa benar ini alamat rumah ini," tanyanya sambil memperlihatkan sebuah kertas.
Si kakek membetulkan kacamatnya terlebih dulu sebelum melihat kertas itu. Dibacanya ...
"Iya, ini benar alamat rumah ini. Kalau boleh tahu, Anda cari siapa?" tanya kakek.
"Nama pemilik rumah ini, kebetulan saya tidak tahu, kek. Tapi saya tengah mencari seseorang," jelas Leo. Lalu Leo menceritakan apa yang terjadi dalam hidupnya termasuk tertukarnya anak mereka.
"Oh ... Jadi anak itu putramu. Semenjak anak itu hadir, keluarga ini menjadi berantakan karena istrinya dituduh telah berselingkuh," jelas kakek.
"Kenapa begitu, kek?" Darren penasaran.
Si kakek menjelaskan secara gamblang, karena ia adalah tokoh masyarakat di sini. Jadi ia tahu semua kejadiannya.
"Lalu, dimana mereka sekarang?" tanya Leo.
"Wah ... Kalau masalah itu, saya kurang tahu. Tapi Anda bisa menemui kakak dari ibu anak itu." Si kakek memberikan alamatnya.
"Terima kasih, kek," ucap mereka bersamaan.
Darren dan Leo langsung meluncur ke alamat tersebut.
"Permisi," ucap mereka setibanya di sana.
"Cari siapa?" tanya si pemilik rumah yang baru saja keluar.
Darren menjelaskan tujuannya datang ke sini. Si pemilik rumah tadinya sempat tak percaya, ia mengira kalau orang ini adalah selingkuhan adiknya. Namun Darren menjelaskan apa yang terjadi. Orang itu pun percaya.
"Dulu mereka sempat tinggal di sini. Tapi saya sudah mengusir mereka," jelas orang itu.
"Apa, Anda tidak tahu keberadaan mereka?" tanya Darren.
"Kemungkinan mereka tinggal di Desa Sukaraja. Dulu saya sempat mendengarnya," kata orang itu lagi.
"Apa Desa Sukaraja jauh dari sini," tanya Leo.
"Terhalang beberapa Desa. Maaf, saya tidak bisa lama-lama. Karena saya harus pergi."
***
"Kita harus menemukan mereka," kata Leo, mereka tengah perjalanan menuju Desa Sukaraja. Dan mobil yang di tumpangi mereka kini menepi, disangka mereka sudah sampai di Desa Sukaraja.
"Gue turun dulu, mau tanya pada warga." Darren pun turun Dari mobilnya.
__ADS_1
Bersambung