Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episode 72


__ADS_3

Di kantor


Darren yang baru saja tiba di kantornya langsung masuk. Para pegawai tertunduk memberi hormat.


"Pagi, Pak?" sapa salah satu karyawannya.


"Pagi." Sebuah senyuman membalas sapaan karyawannya. Semenjak menikah dengan Dania, Darren kembali menjadi bos yang ramah dah murah senyum. Tak seperti waktu menduda, sikap dinginnya selalu terpancar di wajah tampannya. Membuat para karyawan enggan untuk menyapa karena takut padanya.


Hampir mendekati ruangannya, langkahnya terhenti saat ia melihat Genik yang sedang melamun sambil tersenyum-senyum sendiri. Benar apa kata Leo tadi pagi, kerjanya suka melamun. Tapi ia membiarkan itu selagi tak mengganggu pekerjaannya.


"Pagi, Genik!" sapanya, namun Genik yang asyik melamun sampai ia tak mendengar bosnya bersuara dan tak menyadari keberadaannya di sampingnya.


"Genik!" kedua kalinya baru ia menyadari akan kehadiran atasannya.


"Iya, Pak. Ada apa?" Seketika ia langsung berdiri dari duduknya.


Darren hanya menggelengkan kepalanya, entah ada apa dengan sekretarisnya itu.


"Apa kamu sudah menyiapkan berkas untuk meeting pagi ini?"


"Su_sudah, Pak. Sudah saya letakkan di atas meja."


Ia langsung menuju ruangannya. Terlihat susunan berkas di atas meja. Dan ia langsung saja mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya. Satu persatu ia buka dan dibacanya berkas itu.


"Tak ada yang berubah, semua pekerjaannya rapih dan benar." Ia kembali meletakkan map warna biru di atas mejanya tersusun dengan map yang lainnya.


Sementara di tempat lain.


Hoek, hoek ...


Baru saja Leo akan mendaratkan tubuhnya di atas kasurnya yang berukuran minim itu. Seketika ia langsung terbangun saat mendengar suara istrinya yang sepertinya sedang muntah.


"Lisa, kamu kenapa?" tanya Leo sambil memijat tengkuk leher istrinya. Calon bapak itu terlihat panik saat melihat istrinya mengeluarkan semua makanan isi dalam perutnya yang di makan tadi pagi.


"Apa kita perlu ke Dokter?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Ini hanya mual, nanti juga mualnya hilang," ucapnya sambil membasuh mulutnya, membersihkan sisa muntahan itu. "Masa baru mual saja langsung ke Dokter. Rumah sakit akan penuh dengan ibu hamil kalau setiap muntah harus dibawa ke Dokter."


Ada benarnya juga apa kata Lisa. Leo terlalu khawatir sampai ia menjadi bodoh, menurutnya agak lebay kalau dikit-dikit harus ke Dokter.


"Minggir! Aku mau melanjutkan mengiris sayurannya." Lisa sedikit mendorong tubuh suaminya memberi ruang untuknya agar ia bisa keluar dari kamar mandi. Kamar mandinya berukuran kecil, saking kecilnya, ada dua orang saja berada di dalam sana sudah sulit untuk bergerak.


Baru saja memulai aktivitasnya yang hendak mengiris sayuran. Rasa mual itu kembali, dengan cepat Lisa berlari menuju kamar mandi.


"Sepertinya memang harus brobat, agar mualnya tidak separah ini!" tukas Leo. "Aku juga akan libur. Cafe tutup saja untuk hari ini."


"Aku tidak apa-apa, apa kamu lupa apa kata Dokter kemarin? Diawal kehamilan memang sering terjadi *morning sic*kness. Jangan lebay begitu!" cibir Lisa. Ia yang hamil, suaminya yang repot.


"Ya sudah, tidak perlu memasak!"


Leo menuntun istrinya ke kamar.


"Sebaiknya kamu istirahat saja," titahnya. Sedari tadi ia berpikir, apa rumah ini terlalu kecil dan engap, sehingga istrinya mual dan kekurangan oxigen. Ya, pasti itu.


"Lisa, aku kelaur sebentar, ya?" pamit Leo.


Mau kemana suaminya itu, apa membuka cafe. Tapi tadi bilang, hari ini cafe tutup. Apa jangan-jangan mau menemui sekretaris itu. Pikirannya selalu dibayang-bayangi suaminya selingkuh. Terlalu sering nonton sinetron yang mengisahkan istri hamil suami pada selingkuh. Lisa pun bergidik ngeri, jangan sampai itu terjadi pada rumah tangganya. Mengingat jati dirinya yang sebagai wanita penghibur, ia jadi takut sendiri.


"Janji!"


"Iya aku janji." Leo mengecup kening istrinya sebelum pergi.


Di Bank


Seorang lelaki tersenyum sumringah setelah mengambil hasil tabungannya selama ini. Tak sia-sia dirinya jerih payah bersama sang istri. Siapa lagi kalau bukan Leo. Ia mengambil semua tabungannya.


"Aku rasa ini cukup," ucapnya sambil terus memegang amplop coklat yang berisikan uang yang nominalnya luamayan besar. Hari ini rencananya, ia akan mencari rumah untuk ia tempati bersama istrinya. Ia tak mungkin membiarkan Lisa hidup di tempat yang menurutnya tidak layak bagi ibu hamil. Mungkin memang bawaanya sudah jadi orang kaya, ia jadi khawatir akan kesehatan istri dan calon anaknya. Apa pun akan dilakukannya demi keluarga tercintanya.


Ia melirik jam di pergelangan tangannya, sudah 2 jam setengah ia menghabiskan waktunya. Berhubung janji 3 jam, dan sekarang ada sisa waktu setengah jam, jadi ia akan gunakan waktu itu untuk mengisi perutnya yang sudah terasa lapar. Sejak pagi tadi, perutnya belum terisi, ada sedikit perih di bagian lambungnya. Tak mau sakit dan merepotkan istrinya kelak, dengan cepat ia menghampiri sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari Bank.


Setibanya di sana, ia melihat sahabatnya sedang duduk. Mungkin sedang makan siang. Pikirnya. Ia pun langsung saja menemuinya, siapa lagi kalau bukan Darren.

__ADS_1


Leo menepuk pundak sahabatnya itu, karena sejak tadi Darren terlalu fokus dengan laptopnya.


Merasa pundaknya ditepuk, Darren memalingkan tatapannya dari laptopnya. Ia sedikit terkejut melihat Leo di sini.


"Ngapain di sini?" tanya Darren.


"Kenapa memangnya kalau gue di sini?" jawab Leo. "Inikan tempat umum, bukan tempat lo!" cetusnya.


"Bosen gua liat lo! Baru tadi pagi pamit. Sekarang malah ketemu lagi," cibir Darren.


Obrolan mereka pun berakhir, kala Genik datang menghampiri mejanya.


"Kamu ... Kok, ada di sini?" tanya Genik.


Sejak kapan dua manusia ini jadi akrab? Apa karena kemarin mereka jadi akrab? Keinginan untuk tahu dengan keakraban mereka, Darren terus saja mengamati wajah mereka berdua. Ada keganjalan dari tatapan Genik pada Leo. Kini, ia bisa menyimpulkan kenapa akhir-akhir ini Genik sering melamun dan senyum-senyum sendiri. Jadi ini alasannya. Merasa berdosa pada Lisa, kenapa juga ia bisa menyuruh Genik untuk membantunya di cafe.


Pasti Genik belum tahu kalau Leo sudah menikah. Tanpa basa-basi, ia langsung saja menanyakan kabar Lisa pada Leo. Sedikit konyol mungkin, karena tadi pagi sudah jelas ia tahu keadaan Lisa. Ah, demi keutuhan rumah tangga sahabatnya dan juga sekretarisnya. Ia tak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka nantinya.


"Bagaimana keadaan istrimu?" tanya Darren sengaja.


Senyum yang tersimpul di bibir Genik, seketika menghilang saat ia mendengar pertanyaan untuk Leo dari atasannya tersebut.


Sebelum Leo menjawab, dering ponselnya berbunyi. Sejenak ia menghiraukan pertanyaan sahabatnya, apa lagi panggilan yang terhubung sangatlah penting, siapa lagi kalau bukan Lisa istri tercintanya.


"Iya sayang ada apa?" jawab Leo pada panggilan itu.


Makin sakit hati Genik, setelah ia mendengar kata sayang dari Leo untuk orang lain. Bukan untuk dirinya. Akhirnya Genik pun pamit ke toilet untuk yang kedua kalinya.


"Aku ke teoilet sebentar," pamit Genik.


Lisa mendengar suara wanita dari ponsel suaminya, sudah dipastikan kalau suaminya itu menemui seorang wanita.


"Saiapa barusan yang ngomong?" tanya Lisa di balik ponsel Leo.


"Genik. Ada Darren juga di sini," jawab Leo pada istrinya. Leo jujur pada istrinya.

__ADS_1


Tapi setelah itu ia mendapat murkaan dari istrinya, seketika sambungan itu terputus begitu saja.


"Hallo ... Hallo. Gawat!" kata Leo.


__ADS_2