
Sementara Darren langsung menyusul Dania ke kamar, ia membiarkan ibunya bersama Leo. Lagian Leo tidak mungkin macam-macam dengan terang-terangan.
Setibanya di kamar, ia tak mendapati istrinya di sana. "Oh iya, pasti di kamar Syiera." Lantas itu Darren langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Dania dalam keadaan memakai handuk saja. Bukannya menjawab Darren langsung menghampiri iatrinya, ia tak menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada di hadapannya. Bahkan Darren langsung mencium pundak istrinya, hembusan napasnya membuat Dania mendesir, dengan mata terpejam.
Tapi seketika ia teringat, bahwa ia masih datang bulan. Dengan cepat ia mendorong suaminya untuk segera keluar.
"Kok, diusir, sih." Darren memajukan tubuhnya untuk masuk kembali ke dalam kamar mandi. Namun dengan cepat Dania langsung menutup pintunya, dan menguncinya. "Dasar, Darren mulai mesum, nih," keluh Dania bersandar di balik pintu.
Sementara Darren, terus menggedor pintu. "Sayang, buka dong. Aku juga mau mandi."
"Tunggu sebentar, aku gak lama, kok," sahut Dania dalam kamar mandi. Darren mendengkus kesal, karena mendapat usiran dan penolakan dari istrinya. Dengan gontai, ia berjalan menuju ranjang. Ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur, karena merasa lelah dengan cepat ia tertidur dengan kaki yang menjuntai ke bawah.
"Aku sudah selesai, katanya mau man__," ucapnya terputus setelah ia mendapati suaminya yang sudah tertidur pulas di kasur. Dengan itu Dania bisa leluasa memakai baju tanpa ada yang mengganggu.
***
"Tante, ini sudah selesai 'kan?" tanya Leo pada Karren. Di anggukki oleh Karren sambil tersenyum ke arahnya. Sikap Leo begitu baik pada ibu sahabatnya itu, bahkan ia menganggap Karren sebagai ibunya sendiri. Karena Leo sudah tak memiliki orang tua, sewaktu kuliah ia tinggal bersama omnya, adik dari ibunya. Tapi setelah ia bekerja dan merintih karier dari nol, dari situ ia mulai mandiri, hidup di sebuah kontrakan yang sangat sederhana. Dan sekarang ia sukses, kesuksesannya itu berawal dari Darren. Darren membantunya hingga sekarang.
Dengan tidak tahu berterima kasihnya, ia malah menaruh dendam pada sahabatnya itu.
Disaat mereka sedang sibuk, tak lama, Leo menjumpai sosok yang menjadi incarannya. Ia melihat Dania sedang menuruni anak tangga. Dania berniat menemui ibu mertuanya untuk membantu. Tapi ia melihat semua makanan sudah tersusun rapih di atas meja.
"Wah, semuanya sudah selesai, ya?" tanya Dania sesampainya di sana.
"Iya, sayang. Ini berkat bantuan Leo," puji Karren. "Mana suamimu?" tanya Karren kemudian.
"Oh, dia malah tidur," jawabnya.
"Ya sudah, kamu temani Leo di sini. Biar Momy yang membangunkan Darren, sekalian Momy mau menemui Syiera." Karren pun berlalu meninggalkan menantunya bersama Leo.
__ADS_1
Sesekali Dania melirik ke arah Leo. Leo menyadari akan hal itu, namun sebisa mungkin ia menenangkan hatinya. Ia akan bersikap manis untuk saat ini.
"Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?" tanya Leo memecah keheningan.
Dania mengangguk tanpa menoleh sedikit pun. "Kenapa dia jadi kalem seperti ini. Kemarin begitu menyeramkan." Dania teringat akan kejadian waktu lalu di kantor suaminya.
***
"Darren, bangun. Ayo kita makan." Karren mengguncangkan tubuh anaknya. Namun tak urung bangun juga, dengan sedikit kasar ia kembali membangunkannya. "Istrimu sudah menunggu di bawah bersama Leo."
Mendengar kata Leo, Darren langsung membuka matanya. Dengan cepat ia bergegas ke kamar mandi. Karren geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anaknya. Bagi Karren, anaknya itu masih putra kecilnya yang masih manja terhadapnya. Merasa sudah berhasil membangunkan Darren, ia pergi menemui Syiera di kamarnya.
Darren mempercepat ritual mandinya, ia sedikit khawatir dengan Dania yang sedang bersama Leo. Setelah selesai mandi ia langsung menemui istrinya, sebelumnya berpakaian terlebih dulu.
Dengan tergesa ia berjalan, sampai-sampai ia menabrak ibunya yang baru saja keluar dari kamar Syiera. "Maaf, Mom. Aku tak sengaja," ujarnya setelah menabrak sang ibu.
"Kamu kenapa?" Karren melihat ketakutan di mata anaknya. Dengan cepat Darren menajawab.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya sedikit lapar." Darren kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti.
Darren langsung mencium kening istrinya. Ia sengaja lakukan di hadapan Leo, ia ingin melihat reaksinya. Tak ada yang mencurigakan dalam pandangannya. Darren pun langsung mendudukkan dirinya di samping istrinya. Leo melihat keromantisan itu. Membuatnya semakin iri terhadap sahabatnya itu.
"Jangan memperlihatkan keromantisan kalian, di depan gua." Keluh kesah itu terucap begitu saja dari mulut Leo. Membuat Darren dan Dania saling memandang.
"Makanya cepat nikah," timpal Karren tiba-tiba dari arah belakang Leo.
Leo langsung memutarkan tubuhnya ke arah sumber suara. "Ah, Tante. Gak ada yang mau sama aku, Tan," lirih Leo.
Seketika Darren tertawa, menertawakan pria jomblo yang ada di hadapannya itu. "*Te*rtawalah sepuasmu, kebahagiaanmu tidak akan lama." Leo menyeringai sambil melirik Dania.
Dania yang tahu akan hal itu, langsung membekap mulut suaminya yang masih tertawa. "Sudah ... Itukan sahabatmu juga," bisiknya pada suaminya.
__ADS_1
Seketika Darren menghentikan tawanya, lalu kembali fokus pada masakan yang ada di hadapannya. "Wah kayanya enak, nih." Ia langsung mengambil makanannya dengan tangan. Dania menepis tangan suaminya.
"Jorok, ih," Ketus Dania. Namun Darren hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dan kini mereka menikmati makan malam dengan khidmat. Darren melirik Leo dari sudut matanya, Leo sejak tadi tak melepaskan pandangannya dari Dania. Jika dilihat, Dania hari ini terlihat agak sexi. Memakai rok mini jeans sehingga pahanya yang mulus itu terpang-pang jelas.
..."Ngapain sih, liatin bini gue terus. Minta di colok kayanya tuh, mata." Darren mendelik sebal....
"Sayang, aku mau lagi dong lauknya," pinta Darren pada istrinya. Ia sengaja lakukan itu agar Leo lepas dari pandangannya.
"Gue juga dong, sekalian," timpal Leo.
"Heh, lo bisa ambil sendiri! jangan nyuruh bini gue!"
Karren menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Darren dengan Leo. "Nih, Tante ambilin untuk Leo. Sudah jangan berebut. Kamu kayak gak tahu aja, Darren 'kan lagi sayang-sayangnya ma istrinya, jadi jangan di ganggu!" jelas Karren pada Leo.
"Aku cuma bercanda, Tante." Lirik Leo pada Karren.
***
"Si Leo, kok, belum pulang sih. Inikan sudah malem," ucap Dania pada Darren yang sedang bekerja di ruangannya." Darren melihat ke arah istrinya, lalu menepuk pahanya agar Dania duduk di pangkuannya.
Dengan senang hati Dania menuruti keinginan suaminya itu. Dania melingkarkan tangannya di pundak suaminya. Kedekatan mereka begitu intim.
"Eh sorry bro, gue kira lo sendiri," ujar Leo tiba-tiba sudah ada di hadapan Darren.
"Ngapain sih, ganggu aja. Gak bisa apa lihat orang lagi seneng," sahut Darren tanpa melepaskan Dania dari pangkuannya.
"Aku ke kamar aja, deh." Dania beranjak dari pangkuan suaminya. Dania pun berlalu meninggalkan suaminya.
"Ngapain lo masih di sini? Bukannya pulang!"
__ADS_1
Tanpa dipersilahkan oleh yang punya rumah, ia langsung mendaratkan bokongnya di sofa. Sambil meletakan minumaan beralkohol di meja.
bersambung