Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 35


__ADS_3

Pagi ini, Darren kembali bersiap untuk berangkat ke kantor, dan mulai mengantar Syiera ke sekolah seperti biasanya. Dania sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk mereka. Asistent yang di bawa Karren pun masih ada, dan sekarang sedang membantunya.


"Nyonya, biar saya saja," tawar asistent itu, ia bernama Mila.


"Tidak apa-apa Bi, saya biasa sendiri," jawabnya sambil tersemyum. "Bibi sudah lama bekerja sama Momy?" tanya Dania kemudian. Di angguki oleh Mila.


"Sejak Tuan kecil, Nya. Saya betah kerja dengan Nyonya Besar, dia baik," ucap Mila sembari menyimpan hasil makanannya di atas meja.


"Sayang ..." Teriak Darren dari lantai 2, ia memanggil istrinya.


Dania yang mendengar langsung menjawab. "Iya." Dengan cepat ia menemui suaminya.


"Bi, saya ke atas dulu. Nitip masakannya, ya?" Mila mengangguk mengerti.


"Apa sih, teriak-teriak? Di sini bukan hutan, jadi gak usah teriak begitu," sahutnya setiba di sana.


"Dasinya mana? Kamu tidak menyiapkan dasiku?" Dania menepuk jidatnya sendiri.


"Ya ampun ... Masalah dasi saja harus teriak-teriak." Dania menghampiri laci yang di dalamnya tersimpan dasi koleksi suaminya.


Lalu dengan cekatan ia memakaikan dasi itu di leher suaminya. Sedangkan Darren terus saja memandangi wajah istrinya sambil tersenyum. "Apa sih senyum-senyum, ada yang lucu?" Bukannya menjawab, Darren langsung mengecup bibirnya sekilas.


"Manis, istriku cantik!" ucapnya setalah melepaskan kecupannya.


"Pagi-pagi dah ngegombal." Dania mendelikkan tatapannya.


"Jadikan nanti malam?" tanyanya sambil menaikturunkan kedua alisnya. Dania tersenyum geli menanggapi omongan suaminya. "Awas ya kalau ingkar," jelasnya lagi.


"Iya-iya, aku janji. Nah selesai," ujarnya setelah mengikat dasi yang dikenakan suaminya. "Jangan nakal ya, di kantor." Dania memicingkan kedua matanya.


Darren tergelak. "Wah ... Istriku mulai posesif nih kayanya. Untuk sekarang dan nanti, aku cuma nakal sama kamu." Lalu ia menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Tentu saja Dania membalas pelukan itu.


"Daddy?" panggil Syiera sambil menghentakan kedua kakinya. Dania dan Darren langsung melepaskan pelukannya karena terkejut mendengar suara Syiera yang sedikit cempreng.


"Aku nungguin daddy, eh. Daddy malah di sini peluk-pelukan," ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ah Syiera ... Ganggu daddy saja, kapan lagi daddy begini?" Syiera memutarkan matanya jengah, melihat sang ayah begitu manjanya. "Daddy genit. Momy, ayo kita tinggalkan daddy," sahutnya sambil menarik tangan ibunya. Dania tertawa melihat ekspresi wajah suaminya yang cemberut.


***


"Cepat sedikit sarapannya, nanti Syiera telat!" Syiera menunggu ayahnya yang sedang sarapan sambil berkacak pinggang di hadapannya. Darren mempercepat sarapannya karena diomeli sang anak, hingga ia tersedak.

__ADS_1


Dania yang khawatir langsung mengambilkan minum untuk suaminya. "Pelan-pelan," ucapnya menasehati.


"Tuh 'kan, daddy jadi di marahi Momy!"


"Suruh siapa malah bermesraan," ucap Syiera sebal.


***


"Hati-hati. Jangan ngebut!" kata Dania pada suaminya yang hendak berangkat ke kantor.


"Iya sayang." Darren mengecup bibirnya sekilas. Syiera geleng-geleng kepala melihat ayahnya.


"Daddy ..." Teriak Syiera dari dalam mobil. Namun Dania tertawa lepas melihat ayah dan anak itu saling terkekeh. Dan kini Darren pun berangkat bersama anaknya.


Setelah itu, Dania langsung masuk ke dalam rumah. Ia langsung beberes meja makan. Namun di cegah oleh Mila. "Nyonya biar saya saja, inikan sudah tugas saya." Mila mengambil alih piring yang sedang di pegang oleh Dania.


"Ya sudah kalau begitu, saya ke atas dulu ya, bi?" pamit Dania pada Mila. Mila pun mengangguk. "Eh ... Momy kemana, bi? Saya gak lihat."


"Nyonya besar, pagi-pagi sudah berangkat. Nganterin sarapan biat Tuan," ucapnya sambil menutup mulutnya karena keceplosan.


"Tuan ...?" Dania melongo menatap Mila. Dengan cepat Mila meletakan jari telunjuknya di bibirnya, lalu menghampiri majikan barunya itu.


Tak mau ambil pusing, Dania tak mau ikut campur tentang urusan ibu mertuanya. Terkecuali ia diberi tahu lanhsung dari beliau. "Saya ke atas dulu ya, bi?" Dania pergi meninggalkan Mila, raut wajah Mila terlihat sangat ketakutan.


Dania membereskan kamarnya yang seperti kapal pecah. Tak lama ia membaringkan tubuhnya di atas kasur karena merasa lelah, istirahat sejenak.


***


"Tuan, kok balik lagi," tanya Mila pada Tuannya yang tak lain adalah Darren.


"Iya bi, berkasnya ketinggalan. Istri saya mana, bi?" tanyanya kemudian.


"Di atas, Tuan," jawab Mila sopan.


Darren pun berlalu meninggalkan Mila. Setibanya di kamar. "Sepi, katanya di kamar. Kok gak ada." Ia tak menjumpai istrinya, Darren terus masuk ke dalam. Dan kini ia melihat istrinya di atas kasur sedang tidur.


Perlahan ia menghampiri istrinya, lalu ia berjongkok tepat di hadapan istrinya, karena Dania posisinya tidur meringkuk. Darren memindahkan anak rambut istrinya ke belakang telinganya. Dania yang merasa pun langsung membuka matanya. "Ah mimpinya serasa nyata banget sih." Lalu ia kembali memejamkan matanya, niatnya ingin melanjutkan mimpinya itu.


"Ini nyata, sayang," bisik Darren. Dania kembali membuka matanya, menelisik tentang pandanganya sambil menepuk-nepuk kedua pipinya. Darren merubahkan posisinya menjadi duduk di sampingnya. Dengan cepat Dania bangkit dan ikut duduk bersama suaminya.


"Kok, balik lagi. Ada yang ketinggalan?" tanya Dania. Darren mengangguk. "Apa yang tertinggal?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Ini." Darren mengecup bibir istrinya sekilas. Tapi Dania, ia malah mengernyitkan dahinya karena bingung.


"Aku tanya serius!"


"Aku 2 rius," jawab Darren sambil memajukan wajahnya pada wajah istrinya, hingga kening mereka bersentuhan. Pandangan itu beradu sangat lama. Membuat dania terkekeh.


Darren kembali mengecup bibirnya namun yang ini terjadi agak lama. Hingga ciuman itu lama-lama menjadi ciuman panas. Dania menghentikan pertautan itu sejenak.


"Kamu gak ngantor?" Darren menggeleng.


"Aku ngantor dari rumah saja, tapi setelah urusan ini selesai." Darren kembali menciumnya bahkan merubahkan posisinya, perlahan ia mendorong tubuh Dania dan menindihnya tanpa melepaskan pertautan kedua bibirnya.


Tak ada tolakan dari istrinya, membuat Darren melancarkan aksinya. Sesaat mereka melapaskan ciuman itu, keduanya terengah kahabisan oksigen. Dania mulai membuka kancing kemeja suaminya satu persatu. Darren mengusap lembut pipi istrinya.


Setelah melepaskan kemeja suaminya, Dania langsung mengambil alih, ia yang berada di atas suaminya sekarang. Darren suka akan permainan istrinya, karena ia memang ahlinya. Dania menciumi setiap jengkal tubuh suaminya. Bahkan ia memberikan gigitan kecil di leher sampai di dada bidangnya. Lalu Dania beralih membuka ikat pinggangnya, dan kancingnya pun sudah terlepas. Darren hanya menikmati permainan istrinya itu.


Dania berhasil membuka semuanya, hingga tak ada benang sehelaipun yang menutupi tubuh suaminya. Ia kembali menarik tubuhnya beralih pada wajah suaminya. "Aku mencintaimu," bisik Dania. Darren tersenyum bahagia mendengar ungkapan istrinya itu.


Sekarang Darren yang mulai menggerayangi istrinya, dari ujung rambut sampai ujung kaki tak terlewatkan olehnya. Kedua tangannya mulai meremas bukit kembar itu. Perlahan ia masukkan tangannya ke dalam baju dan mencari pengait bra yang menjadi penghalangnya. Terdengar desahan Dania, karena Darren sudah berhasil membuka pangait bra itu. Bahkan sekarang ia tengah mel****t pu*ing itu secara bergantian.


Tangan yang mulai berpindah dan bermain di bawah sana. Dania mendesah nikmat mendapatkan sentuhan lembut suaminya. Merasa Darren tak tahan, ia langsung membuka semua baju yang di kenakan istrinya tanpa tersisa. Kini mereka sama-sama polosnya. Darren arahkan pusakanya ke dalam lubang kepemilikan istrinya, sekali hentakan saja langsung gol.


Perlahan ia mengoyangkan pinggulnya maju mundur, Dania merasakan gesekan antar kulit itu dengan nikmat. Aksi Darren membuat Dania melayang ke awan-awan.


"Cepat sedikit," pintanya pada suaminya.


"Tentu honey, dengan senang hati," jawab Darren sambil tersenyum, ia melihat istrinya itu memejamkan mata karena kenikmatan yang di berikan darinya.


"Apa kamu menyuakinya?" tanya Darren, tanpa berhenti menggoyangkan pinggulnya. Ia dapat anggukan dari istrinya.


"Ah ... Sebentar lagi keluar," sahut Dania sedikit mengerang.


"Tahan dulu, kita bareng-bareng keluarnya." Tak lama kemudian mereka berdua mengerang secara bersamaan. Tubuh Darren bergetar hebat, ia berhasil menanamkan benih di dalam rahim istrinya. Darren mengecup kening istrinya sebelum ia melepaskan pusakanya. Setelah itu ia langsung ambruk di samping istrinya. Dania langsung memeluk suaminya dari samping.


_


_


_


Jangan buli author ya😁😁 maaf kalau masih kurang, author masih belajar wkwk. jangan lupa tinggalkan jejak😘😘

__ADS_1


__ADS_2