Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 19


__ADS_3

"Dania, aku sudah kenyang," Darren menghentikan aksi istrinya yang hendak menambahkan nasi ke dalam piringnya.


"Kamu harus banyak makan, kamu 'kan baru sembuh." Dania sedikit memaksa, alhasil Darren terpaksa memakannya.


"Sudah, ya. Kamu mau aku gendut, apa? Ketampananku bisa hilang kalau aku gemuk." Dania terkekeh.


"Biarin ... Biar jelek agar tak ada yang mencintaimu selain aku." Darren menatap Dania dengan tajam. Dania menertawakan ekspresi suaminya, ia merasa gemas melihatnya.


"Mulai nakal, ya? Harus dikasih hukuman." Darren menggelitiki Dania hinga istrinya itu menahan sakit di perut saking tertawanya.


"Udah .... Aku nyerah," sahut Dania. Tapi Darren tak mengubrisnya ia terus saja menggelitiki hingga posisi Dania menempel di tubuhnya. Darren pun menghentikan aksinya, kini mereka saling memeluk. Napas Dania masih terengah-engah menahan rasa geli tadi akibat suaminya.


Dania melingkarkan tangannya di pundak suaminya, dan Darren mencekal pinggang istrinya dengan kedua tangannya. kening dan pandangan mereka saling beradu. Darren melihat cinta dikedua mata istrinya.


Dania menjinjitkan kedua kakinya, mencoba meraih bibir suaminya dengan bibirnya. Tapi hasilnya nihil karena Darren terlalu tinggi darinya. Karena kepekaan Darren, ia pun menundukkan sedikit wajahnya agar Dania bisa mendapati apa yang diinginkannya. Bibir mereka pun saling beradu. Kejadian itu pun tak lama terhenti karena Darren menghentikannya. Ia belum bisa melakukan hal yang lebih jauh lagi. Karena cinta Darren masih milik mendiang istrinya.


"Maafkan aku," ucapnya setelah melepaskan ciuman mereka. Dania merasa kecewa karena ia belum bisa membuat Darren jatuh cinta padanya.


"Sebaiknya kamu pulang. Aku masih banyak kerjaan." Dengan rasa kecewanya Dania menuruti keinginan suaminya. Dania pun pergi meninggalkan Darren, tanpa menoleh sedikit pun Dania pergi dari sana.


Sekretaris Darren yang bernama Genik merasa bingung melihat Dania yang baru saja keluar dari ruangan Bosnya secara tiba-tiba, pasalnya ia tak mengetahui keberadaannya di sana. "Sejak kapan ada wanita di sana," ucapnya setelah melihat Dania pergi.


***


Semenjak pulang dari kantor, Dania mengurung diri di dalam kamar. Bahkan ia tak menjawab ibu mertuanya yang sejak tadi memanggilnya. Karren merasa khawatir ditambah lagi Darren yang juga belum pulang. Padahal ini sudah larut malam waktu menunjukkan pukul 23.00.


Dania menangis sendirian di kamar. Walaupun ia kecewa dengan suaminya, tetap saja ia masih mengkhwatirkan suaminya. "Sudah malam Darren belum pulang juga," ucapnya sendiri sambil menyeka air matanya.


Lalu ia pun turun dari kasur yang ia dudukki. Dania pergi ke dapur karena merasa haus. Karren melihat menantunya yang keluar dari kamarnya pun mengikutinya. Sesampainya di dapur.

__ADS_1


"Dania ... Apa kamu ada masalah? Maaf kalau Momy ikut campur," tanya Karren tiba-tiba, membuat Dania terkejut.


"Mom, aku kira siapa. Momy mengagetkanku."


Karren mengelus punggung menantunya. "Cerita pada Momy, tidak seperti biasanya kamu begini. Darren juga belum pulang, apa kalian ada masalah?" tanya Karren.


Dania tersenyum mencoba menyembunyikannya, lalu ia menggelengkan kepalanya. menjawab bahwa tidak ada apa-apa antara ia dengan suaminya.


"Baguslah kalau begitu, setelah ini istirahatlah. Ini sudah larut." Dania mengangguk mengerti akan perintah ibu mertuanya. Karren pun berlalu meninggalkan menantunya yang masih berada di dapur.


***


Setelah kepulangan Dania tadi siang. Membuat Darren tak bisa melanjutkan pekerjaannya, ia merasa prustasi. "Kenapa aku tak bisa melupakanmu Kania ..." Teriak Darren sekencang-kencangnya. Bahkan keberadaannya sekarang bukan di kantor. Ia tengah berada di pemakaman pusara mendiang istrinya.


Darren menundudukkan wajahnya di batu nisan istrinya. Bahkan ia terisak, ia menangis bukan menangisi Kania. Darren bersedih akan Dania. "Kenapa aku tak bisa mencintainya saperti aku mencintaimu Kania," ucapnya terdengar serak.


Lama, Darren berada di sana hampir tiga jam lebih. hingga hari merubahkan cahayanya menjadi gelap. Tak lama ia pun bangkit dari pusara itu, dan bergegas dari sana.


***


Sudah beberapa gelas Darren menghabiskan minuman beralkhohol itu. Hingga kini ia sudah mabuk berat. Leo menyeringai di hadapan Darren, ia sengaja membuat Darren seperti itu. Karena ia merasa iri akan keberhasilan Darren, ditambah lagi Darren sekarang mulai bangkit dari keterpurukannya setelah kehilangan Kania.


Pasalnya dulu, Darren dan Leo saling berebut memperebutkan Kania. Mereka bertiga satu kampus. Darren dan Kania dinobatkan sebagai pasangan serasi di kampus itu. Hingga rasa benci itu muncul pada diri Leo. Dan sekarang ia merasa kalah dalam berbisnis, bahkan Darren menanam saham di perusahaan yang dikelola Leo.


Sekarang Darren benar-benar mabuk hingga ia meracau menyebut nama Dania. Ia merasa bersalah pada Dania yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.


Leo berniat mengantarkan pulang Darren kerumahnya. Karena tidak memungkinkan baginya untuk pulang sendiri. Leo membantu Darren untuk masuk kedalam mobilnya, ia yang menyetirnya sendiri. butuh waktu 45 menit untuk sampai di mansion milik Darren.


Pada saat sampai di depan rumahnya Leo membunyikan klakson mobil yang dikendarai olehnya. Dania yang mendengarpun langsung keluar untuk melihatnya, karena ia yakin itu suara mobil suaminya.

__ADS_1


Setelah membukakan pintu betapa terkejutnya Dania melihat sang suami yang tengah mabuk. Dania menatap Leo penuh kemarahan. Kini Dania membantu Leo untuk membawa tubuh suaminya yang tak sadarkan diri itu karena mabuk.


Setelah merebahkan tubuh Darren di kasur. Dania langsung mendelik Leo bahkan mendorong tubuh Leo hingga mundur beberapa langkah. "Apa kamu yang membuat suamiku menjadi seperti ini, hah?" Tatapan Dania begitu membara menahan amarahnya.


Leo hanya tersenyum mengejek. Tanpa sepatah kata pun ia pergi meninggalkan Dania dan Darren.


Kini Dania melepas sepatu yang di kenakan suaminya, bahkan melepas kemajanya. Dania mencium bau alkhohol itu sangat menyengat dipenciumannya.


"Darren, kamu itu kenapa, sih? Apa yang membuatmu seperti ini. Apa kamu terlalu memaksakan diri untuk menerima keberadaanku. Apa yang harus aku lakukan," ucap Dania sambil terisak di hadapan suaminya.


Tak lama Dania pun ikut tertidur di samping suaminya.


Keesokan harinya.


Dania bangun lebih awal, bahkan ia sekarang sudah menyibukan diri di dapur. Membuatkan sarapan untuk mereka. Tak lama Karren datang menghampiri. Karren melihat mata Dania yang terlihat sembab, ia yakin bahwa semalam menantunya itu habis menangis.


"Dania ... Apa Darren sudah pulang?" Karren memberanikan diri untuk bertanya padanya. Dania hanya mengangguk merespon pertanyaan ibu mertuanya.


"Dania ..." Karren menghentikan kegiatan menantunya itu dengan mencekal lengannya. "Istirahatlah, kamu terlihat tidak baik hari ini. Biar Momy yang melanjutkan," pinta Karren pada Dania.


"Aku baik-baik saja, Mom. Tidak perlu mengkhawatirkanku. Apa Syiera sudah bangun?" tanya Dania.


"Sudah," jawab Karren.


"Ya sudah kalau begitu, biar aku yang akan mengantarkan Syiera hari ini." Lantas Dania pergi menuju kamar Syiera karena ia sudah selesai menyiapkan sarapannya.


_


_

__ADS_1


_


Pembaca yang bijak akan meninggalkan jejak


__ADS_2