
"Anak sekecil ini tidak akan mengerti apa yang kamu katakan! Jadi berhenti untuk mengatakannya. Aku mau ini yang terakhir kalinya kamu melakukannya!"
Dania melihat kemarahan di mata lelaki itu. Dengan cepat Dania mencekal lengan Darren, berusaha meyakinkan bahwa ucapannya terhadap Syiera tidak akan mempengaruhi perkembangannya. Dania mau mengajarkan Syiera tentang kejujuran sejak dini.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyakiti anakmu. Aku hanya ingin memberitahukan yang sebenarnya," ujar Dania tertunduk. Sungguh Dania tak ada niat apa pun tentang ucapannya terhadap Syiera.
"Aku tahu maksudmu. Tapi kamu belum mengenal Syiera lebih jauh," ucap Darren sendu. "Perlahan saja, ya? Dia masih kecil. Jangan bilang padanya kalau Momynya telah tiada." Darren mengatupkan kedua tangannya memohon. Dania yang mengerti pun mengangguk.
"Kau urus Syiera, dia sekolah hari ini. Aku tunggu di bawah," ucap Darren, lalu pergi.
Darren yang sedang sarapan pun menghentikannya aktifitasnya sesaat. Ia arahkan pandangannya ke arah suara langkah kaki yang terdengar di pendengarannya. Ia melihat Syiera yang dituntun oles Dania, melihat senyum anaknya membuat Darren harus berterima kasih pada Dania. Setidaknya dia akan meminta maaf karena tadi sempat membentaknya.
Dania dan Syiera pun mendudukkan dirinya di kursi meja makan, yang sudah ada Darren di sana.
"Wah, anak daddy sudah cantik," ujar Darren pada anaknya. Rambut yang dikepang membuat Syiera terlihat sangat lucu.
"Setelah ini aku akan ke kantor dan mengantar Syiera terlebih dulu," kata Darren disela-sela aktifitasnya yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Dania malah celingak-celinguk seperti sedang mencari seseorang. Darren yang melihatnya pun menghentikan sarapannya sejenak.
"Kamu cari siapa?" tanya Darren pada Dania.
"Aku tak melihat Nyonya, kemana dia?"
"Momy, sejak tadi dia sudah pergi. Katanya ada urusan." Karren pergi setelah menyiapkan sarapan untuk mereka. Pengertian sekali sosok Karren itu.
Otor juga mau 'lah punya calon mertua kaya Momynya Darren🤭. Curhat sedikit, yuk! kita kembali ke cerita ya😁
"Kalau Nyonya pergi terus kalian juga pergi, aku di sini sendiri, dong. Aku ga mau ah, sendiri di sini. Serem juga kalau sendirian di sini," kata Dania sedikit menjelaskan keinginannya yang secara tidak langsung ia juga akan pergi dari rumah itu.
"Aku akan mengantarmu pulang setelah mengantar Syiera ke sekolah," kata Darren sambil mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Daddy, kenapa Momy harus pulang, inikan rumahnya juga," sahut Syiera.
"Momy ada urusan, sayang," kata Dania sambil mengelus pucuk rambutnya. "Syiera belajar saja, biar pinter, ya. Jangan mikirin tentang Momy, Momy tidak akan pergi ninggalin Syiera, kok." Syiera menggangguk dan mengerti ucapan Dania.
Mereka pun melanjutkan sarapannya kembali. Setelah sarapan selesai mereka pergi menuju tempat yang sempat Darren rencanakan tadi.
Setelah mengantar Syiera, dan sekarang Darren akan mengatar Dania pulang, dalam perjalanan tak ada yang mengeluarkan suara, hanya deruman mesin mobil yang terdengar di sana.
"Setelah ini kita belok kiri apa kanan?" tanya Darren pada Dania. Karena ia mendapati jalan pertigaan. Darren juga belum tahu dimana Dania tinggal.
"Kiri, sebentar lagi sampai," jawab Dania.
Darren terus melaju sebelum Dania menyuruhnya untuk berhenti. Dan sekarang Darren menghentikan mobilnya karena Dania bilang bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuannya.
Dania pun turun dari mobil mewah itu. Tiba-tiba saja para ibu-ibu mulai bergosip tentangnya, sudah biasa para tetangga itu melihat Dania yang sering diantar pulang dengan mobil mewah, hampir semua tetangganya tahu bahwa ia adalah wanita penghibur. Ada yang mencaci ada juga yang kasihan melihatnya karena iba.
Darren membuka jendela kaca mobilnya, lalu mendongakkan wajahnya ke arah Dania. Dania yang tahu pun menundukkan wajahnya melihat Darren.
Darren pun melajukan mobilnya menuju kantor.
Dania mulai melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam rumahnya. Namun langkahnya terhenti kala mendengar para tetangganya yang membicarakan dirinya.
"Tidak usah bisik-bisik. Katakan apa yang ingin ibu-ibu katakan, sebelum kata-kata itu dilarang oleh Tuhan," kata Dania pada mereka. Secara tidak langsung Dania mengatakan bahwa puaskan ke inginannya sebelum mereka mati.
Para tetangga itu pun seketika terdiam kala ingat bahwa yang di ucapkan Dania, mereka semua teringat akan kematian yang bisa saja terjadi secara mendadak.
Dania mendengus kesal pada tetangganya itu, padahal ia tak merugikan tetangganya bukan? Minta sesuap nasi pun Dania tak melakukannya. Dania merebahkan tubuhnya di sofa setelah ia sampai di ruang tamu. Menatap atas langit-langit di ruangan itu. Rumah sederhana hasil keringatnya sendiri. Rumah mewah yang pernah ia tempati dulu. kini harus menjadi milik orang lain karena orang tuanya menjual rumah itu. Terlilit hutang yang nominalnya cukup besar bahkan hasil penjualan rumah itu pun tak cukup untuk melunasinya.
Orang tua Dania memilih pergi meninggalkan Dania seorang diri. Namun na'asnya mereka malah tertabrak sebuah mobil karena hendak menyebrang. Dan mereka pun tewas seketika di tempat.
Menyisakan luka yang begitu dalam bagi Dania. Tak hanya disitu, penderitaan Dania yang baru saja akan di mulai. Dania di temui oleh orang-orang yang berjaket hitam, dengan tubuh bertinggi besar sangat menyeramkan dalam pandangan Dania. Dania menjerit histeris kala orang bertubuh besar itu membawanya dengan menggendongnya. Dania meronta-ronta meminta pertolongan namun tak ada yang mau menolongnya. Dania dibawa ketempat yang belum pernah Dania temui sebelumnya.
__ADS_1
Dania di hadapkan pada orang yang lumayan di hormati di tempat itu. Dania mulai terisak karena takut.
"Kalian siapa? Kalian mau apa dariku?" kata Dania sedikit mundur dari orang itu.
Orang itu pun tertawa terbahak-bahak. Orang itu menatap Dania dari atas sampai bawah, senyum licik itu terpancar di wajahnya.
"Ini barang mahal, aku yakin dia bisa jadi primadona di sini," ucap orang itu sambil mengangkat dagu Dania. Dania memejamkan matanya karena takut.
"Bawa dia ke kamar, pastikan dia tidak akan kabur!" titahnya pada orang suruhannya.
Orang itu bernama Madam Rosa, yang tak lain adalah pemilik dimana para lelaki hidung belang mencari mangsanya.
Dania diseret di masukkan ke dalan kamar yang tak berjendela itu. Dania menangis ketakutan, sungguh ia tak tahu tempat itu. Tak lama pintu pun terbuka Dania terkejut mendapati lelaki yang masuk ke dalam dan menghampirinya.
Lelaki yang sekitar usianya tiga puluhan itu mendekatai Dania. Mengendus-endus rambut Dania. Dania hanya bisa memejamkan matanya, air mata yang tak hentinya terus membasahi pipinya yang putih dan mulus itu.
Dania menjerit kala lelaki itu mulai menciumnya dan menghempaskan tubuh Dania di kasur. Dania mencoba bangkit hendak menghindar namun seketika lelaki itu mencekal kaki Dania. Mencoba menghalangi Dania yang sepertinya akan kabur. Dengan cepat lelaki itu menindih tubuh Dania, hasrat lelaki itu sudah tak tertahankan sampai merobek baju Dania pas di bagian dadanya. Dengan ganasnya lelaki itu melakukannya Dania yang tersakiti hanya menangis.
"Tolong hentikan! Sungguh aku tak kuat," ucapnya lirih merasakan sakit yang luar biasa di bagian intimnya. Dania terus meronta dan menjerit.
"Tolong! Hentikan ...,!" Seketika Dania terbangun dari tidurnya, dan mendapati seseorang di hadapannya. Tanpa malu Dania memeluk lelaki itu.
"Hey, kamu kenapa? Maaf aku langsung masuk. Pintunya tidak dikunci, dari tadi aku memanggilmu namun tak ada jawaban dan aku mendengar kamu meminta tolong. Kamu mimpi buruk?" tanya lelaki itu yang tak lain adalah .....
_
_
Sambungan di part yang akan datang.
Jangan lupa like dan komennya jangan ragu-ragu langsung tekan aja gambar jempol di bawah🤭
__ADS_1