
Di ruangannya, Darren nampak berpikir bagaimana caranya menyikapi Leo yang seperti itu. Darren belum tahu apa maksud dari semua ini, apa tujuannya?
"Ok, Leo. Aku akan mengikuti apa tujuanmu," ucapnya sambil menyeringai.
Kini Darren hendak pergi dari ruangannya, namun langkahnya terhenti kala Genik memberitahukan bahwa ia ada meeting hari ini.
"Kamu tangani saja, saya percayakan ini padamu." Darren pun berlalu tanpa melihat ke arah Genik. Genik yang nampak sebal pun menuruti apa perintah atasannya.
***
Hari ini Darren pulang lebih awal karena ia ingin melihat keadaan istrinya. Karena ia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi kemarin.
"Maafkan aku, Dania," ujarnya yang kini sedang berada di dalam mobil menuju pulang ke rumahnya.
Sesampainya di sana, Darren langsung masuk ke dalam. Yang pertama ditujunya adalah kamarnya. Bahkan ia melewati anak dan ibunya yang sedang berada di ruang tamu.
"Oma ... Daddy sudah pulang. Apa dia tak melihat keberadaan kita?" tanya Syiera pada Omanya.
"Mungkin daddy kangen sama Momy, makanya cepet-cepet ke atas," jelas Karren pada cucunya. Karren tak mau Syiera salah paham, karena ia tahu seperti apa jika ia sedang marah.
Setibanya Darren di depan pintu kamarnya, ia ragu untuk masuk ke dalam. Pasalnya ia tahu bahwa istrinya itu pasti merasa kecewa padanya. Namun Darren memberanikan diri untuk masuk ke dalam.
Disaat ia membuka pintu, ia melihat Dania tengah terbaring di kasur. Ia mencoba mendekatinya lalu ikut duduk di samping istrinya. Disaat itu pula Dania tahu ada seseorang yang menghampirinya, ia membuka matanya melihat siapa yang datang.
Setelah tahu siapa yang berada di dekatnya, ia pun langsung merubahkan posisinya menjadi meringkuk membelaki orang itu. Namun Darren hanya bisa terdiam tanpa sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya.
Darren hendak menyentuh istrinya, ingin rasanya ia memeluk tubuh istrinya yang mungil itu, tapi ia mengurungkan niatnya karena ia tahu dengan sikap Dania yang seperti itu, Dania sedang marah padanya.
Lama Darren berada dalam posisi seperti itu. Tak lama Dania terbangun dari posisinya, Darren yang melihat pun langsung membantunya. Disaat Darren ingin membantunya disaat itu pula Dania menolaknya dengan cara menepis tangan suaminya.
Kini Dania beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Darren tak patah arang ia tetap mengikuti istrinya untuk membantunya.
"Jangan sentuh aku! Aku bisa sendiri!" ucap Dania dengan suara paraunya. Andai suaminya itu melakukannya dengan lembut kemarin mungkin ia tak akan seperti ini.
__ADS_1
Dania pun berlalu melewati tubuh suaminya. Sejuta penyesalan yang Darren rasakan sekarang ini. "Dania," ujar Darren dengan lirih. Mungkin belum saatnya Darren mendapatkan maaf dari istrinya. "Maafkan aku Dania." Darren berjalan tertunduk meninggalkan kamarnya.
***
"Dad?" panggil Syiera. Darren pun menoleh dari tangga kesumber suara tersebut. Lalu ia tersenyum mendapati anaknya yang berada bersama ibunya. Darren pun ikut bergabung dengan mereka.
"Mom, sepertinya Dania marah padaku. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, aku takut Dania pergi meninggalkan aku," kata Darren sambil menyandarkan kepalanya di pundak sang ibu.
Karren mengusap lembut kepala anaknya. "Semua akan baik-baik saja," kata Karren "Minta maaflah padanya," ucapnya lagi. Darren pun mengangguk. Mulai saat ini ia akan membalas perasaan Dania padanya.
"Dania sangat mencintaimu, Momy yakin dia pasti memaafkanmu." Karren kembali mengusap kepalanya.
"Daddy, jangan jahat sama Momy," Syiera memperingati.
Darren tersenyum pada putrinya itu, betapa sayangnya Syiera pada Dania. Syiera pun mendudukkan dirinya pada pangkuan ayahnya. Syiera mencium ayahnya penuh kasih sayang. Darren membalasnya dengan pelukkan.
"Ya sudah Momy mau menyiapkan makan malam dulu." Karren beranjak dari tempat duduknya menuju dapur.
Ingin rasanya Dania bergabung dengan mereka, tapi ia teringat akan perlakuan suaminya kemarin. Dania pun pergi kembali ke kamar, ia tak kuasa untuk menahan sesak di dadanya.
***
"Syiera sayang ... Ayo, kita makan?" ajak Karren. Karena ia sudah selesai memasaknya sudah menata rapih di atas meja makan.
"Ayo ...!" Tak lupa ia mengajak Darren juga.
Kini mereka bertiga sudah berada di meja makan. Darren melihat ibunya yang sedang mengambil nasi beserta lauk pauknya kedalam piring.
"Mom, apa itu untuk Dania?" tanya Darren.
"Hmm ...," jawab Karren tanpa menoleh karena ia belum selesai meletakan semuanya di piring tersebut.
"Biar aku yang mengantarnya," pinta Darren. Karren pun memberikan piring itu pada anaknya. "Daddy antarkan makanan ini untuk Momy, ya?" ujarnya pada Syiera. syiera mengangguk mengerti.
__ADS_1
Setibanya di kamar, Darren langsung menemuinya dan duduk di samping istrinya. "Dania ... Bangun, kamu harus makan dulu," kata Darren sambil mengelus punggung istrinya. Karena Dania tengah membelakangi dirinya.
Dania pun menoleh lalu bangun dan mendudukkan tubuhnya. "Makan dulu, ya. Aku suapi." Darren mulai menyuapinya. Awalnya Dania tak membuka mulutnya, namun karena bujukan suaminya yang manjur akhirnya ia pun mau membuka mulutnya. Dan kini ia sedang makan disuapi oleh suaminya.
Tak lama Dania mendengar suara perut suaminya berbunyi. Menandakan bahwa ia pun merasakan lapar karena emang dari tadi siang belum makan.
Dania mengambil alih piring tersebut. Lalu menyedokkan makanan itu ke arah mulut suaminya. "Kamu juga harus makan," ucap Dania sambil mengarahkan sendok pada mulutnya.
Darren tersenyum mendapati istrinya yang masih perhatian padanya. Ia bernapas lega tarnyata benar apa kata ibunya semuanya akan baik-baik saja.
"Sini, biar aku yang suapi. Kamu 'kan yang sakit, bukan aku," ujar Darren sambil mengambil piringnya. Dania membiarkan itu terjadi. Darren mengusap bibir istrinya, karena ada sisa nasi di sana. Dania menatap ke wajah suaminya, lalu pandangan mereka bertemu. Lama mereka saling menatap, hingga Darren terbuai oleh istrinya. Jika Dania tak merubahkan posisinya, mungkin saat ini bibir mereka sudah bersentuhan.
"Aku sudah kenyang," kata Dania memecah keheningan. Darren terkesiap dari pandangannya. Lalu mengambilkan minum untuk istrinya itu.
"Minum dulu obatnya," suruh Darren. Darren menyiapkan obat yang akan di minum oleh Dania.
"Kenapa harus menyakiti, kalau akhirnya seperti ini!" gumam Dania dalam hati. Dania heran pada suaminya. "Sebanarnya dia sayang gak sih, sama aku," gumamnya lagi. Ingin Dania menyakan hal itu, tapi tak ada keberanian dalam dirinya.
"Aku mau istirahat," sahut Dania setelah selesai meminum obatnya.
Darren kembali kedapur untuk menyimpan piring kotor. Setelah menyimpannya ia pun kembali menemani istrinya. Ia melihat Dania sudah meringkuk di atas kasur. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 20.45, memang sudah saatnya mereka tidur.
Darren pun ikut membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Lalu memeluk Dania dari belakang. Tapi Dania melepaskan pelukkan itu, Darren tak menyerah ia kembali melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
"Biarkan seperti ini," bisik Darren pada Dania. Dan mereka pun tidur seranjang kembali setelah terpisah tadi malam.
_
_
_
Tinggalkan jejak ya para reades.. Love u pool😘😘
__ADS_1