
"Lisa, bayi perempuanmu mau kau beri nama apa?" tanya Dania.
"Kuberi nama, Alea," jawab Lisa. "Bagaimana sayang? Kamu setuju gak kalau aku beri nama Alea?" tanyanya pada suaminya.
"Nama yang bagus, aku suka," jawab Leo.
Disaat sedang asyik memberi nama pada bayi mereka, tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar dipendengaran mereka. Siapa yang berkunjung malam-malam begini.
Tak lama pintu terbuka dari arah luar. Masuklah sosok itu. Lisa terkejut, setelah tahu siapa yang datang. Siapa wanita yang mengunjunginya? Karena hanya Lisa yang tak mengenalnya.
"Genik," sapa Dania.
Genik pun masuk menghampiri mereka. "Maaf mengganggu, malam-malam," kata Genik.
"Oh ... Itu yang namanya Genik, ngapain dia kesini? Apa dia menemui Leo?" batin Lisa yang terus saja curiga pada Genik.
"Saya yang menyuruhnya kesini, dia hanya mengantar berkas yang harus saya tandatangani, iyakan Genik?" kata Darren pada Genik. Karena ia melihat dari sorot mata Lisa yang takut kalau ia akan salah paham akan kedatangan Genik ke sini.
"Sekalian saya ke sini untuk mengantar ini pada Pak Leo," ucapnya seraya menyodorkan sebuah kertas yang terbungkus dari plastik.
Leo pun mengambilnya. "Undangan? Apa ini undangan darimu?" tanya Leo.
"Iya, saya harap, Pak Leo bisa datang bersama keluarga," jawab Genik.
"Wah ... Dadakan sekali, Genik. Saya hampir tidak tahu," sahut Darren. Genik hanya tersenyum. Setelah itu, ia pun pamit undur diri.
***
Setelah beberapa hari di rumah sakit, Lisa dan bayinya sudah diperbolehkan pulang. Dania ikut menemani Lisa beberapa hari ini.
"Nia ... Aku titip anakku. Jaga dia, sayangi dia," ucapnya seraya menyerahkan bayi laki-laki tersebut. "Dam ... Mamy sayang pada Dam." Lisa terus memberikan ciumannya pada bayi itu.
"Lisa ... Tentu aku pasti menyayanginya."
"Apa kalian sudah siap?" tanya Leo yang baru saja tiba setelah membayar administrasi.
Hanya Leo dan Dania yang menjemput Lisa, Darren sibuk harus mengurus kantor. Karena Genik sedang mempersiapkan pernikahannya. Setelah beberapa kecewa dan terluka, akhirnya Genik menemukan sosok yang menjadi pendampingnya.
Setibanya di rumah, Dania langsung membawa bayi itu pulang kerumahnya. Ia sudah menyiapkan kamar bayi yang sudah didekor sedemikian rupa.
"Momy, aku ingin menggendong adikku," pinta Syiera yang tak sabar.
Syiera duduk di sofa, lalu Dania merebahkan bayi itu di pangkuan Syiera, tentu didampingi olehnya, ia takut bayi itu kecengklak atau apa.
"Mom, dia tampan sekali," kata Syiera. "Namanya siapa, Mom?" tanyanya.
__ADS_1
"Damian. Iya dia tampan," jawabnya.
Sekilas malah terlihat mirip suaminya, kenapa bayi itu malah mirip dengan keluarganya. Matanya malah mirip dengan Syiera, Dania terus mengamati setiap inci wajah bayi itu. Tak lama bayi itu menangis, mungkin karena haus.
"Sayang, Momy mau buat susu dulu untuknya. Damian biar tidur di box, ya?" Ia langsung mengambil alih bayi itu dari gendongan Syiera, kalau di biarkan takut terjadi apa-apa.
Syiera merelakan bayi itu untuk tidur di tempatnya.
"Momy cepat! Dam sudah kehausan." Syiera teriak sekencang mungkin, takut ibunya tak mendengar.
"Iya, sayang ..." Dania mempercepat langkahnya dari dapur. Setibanya di sana ia langsung memberikan susu formula yang terbaik untuk anaknya.
***
"Sayang ... Jangan rewel, nak. Kasian Mamy," ucap Leo sambil mengelus Alea.
"Bagaimana? Apa asinya sudah keluar?" tanya Leo. "Asetku," batin Leo. Ia melihat Alea menyusu.
"Sudah, hanya saja ia tak bisa memompanya," jawab Lisa.
"Hanya aku yang boleh menyentuh itu."
Lisa langsung melotot ke arah suaminya. "Apa kamu tidak rela? Dia butuh asi!" cetus Lisa, ia tak habis pikir, kenapa suaminya malah mempermasalahkan gunung kembarnya.
"Iya ... Aku mengikhlaskannya. Demi anak kita."
Leo langsung saja mengambil benda pipih itu dari dalam saku celananya.
"Hallo, apa Dam rewel?" tanya Leo langsung. "Oh gitu ya, ya udah kalau begitu. Gak, gak ada apa-apa." Setelah menanyakan itu, ia pun menutup sambungan teleponnya.
"Bagaimana? Apa katanya?"
"Iya tadi sempat rewel, tapi sekarang sudah gak. Tadi rewel karena haus," jelasnya.
"Asinya belum keluar kali, coba kasih susu formula dulu," katanya lagi.
"Ya udah, kamu bikinin 'lah."
Dengan sigap, Leo langsung membuatkan susu untuk anaknya, lalu diberikan langsung pada Alea. Seketika Alea langsung diam, tidak rewel lagi.
"Lisa, sepertinya ikatan Alea dengan Damian sangat kuat."
"Maksudmu?"
"Ya, aku rasa Alea juga ingin minum susu formula seperti kakaknya," jelas Leo. Padahal ucapannya pada Lisa itu bohong. Ia hanya tak ingin asetnya diambil alih oleh Alea. Tapi Lisa sepertinya percaya, ia tak menyangkal ucpan dari suaminya.
__ADS_1
***
"Apa kamu akan tetap pergi?" tanya Lisa. Ia sudah melihat suaminya yang sudah rapih, hari ini ia akan pergi ke pesta pernikahan Genik. Leo sudah mengajak Lisa untuk ikut dengannya, tapi Lisa menolak, dengan alasan lukanya belum sembuh total pasca operasi itu.
"Iya, tidak enak kalau aku tidak datang. Aku pergi bareng Darren, kok."
Tok tok tok
"Aku rasa itu Darren." Leo langsung saja membuka pintunya, dan benar saja. Darren datang bersama Dania.
"Lisa, kenapa kamu belum siap?" tanya Dania, yang melihat Lisa memakai baju rumahan sambil mengendong Alea. "Leo, kamu harus mencarikan pengasuh untuk Alea, kalau ada pengasuh itu gampang buat Lisa bisa bepergian," kata Dania kepada Leo.
"Aku gak ikut bukan karena Alea tidak ada yang menjaga, Nia. Bekas operasinya masih suka sakit," jelas Lisa.
Dania berpikir, memang iya, habis operasi sembuhnya membutuhkan waktu, ia masih ingat dengan kejadian operasi yang pernah ia alami dulu.
"Ya sudah, kamu istirahat saja."
"Bagaimana kabar, Dam? Apa selama ini dia merepotkanmu?" tanya Lisa.
"Dia anteng, apa lagi kalau di gendong Darren," jawab Dania.
"Iya, Dam tidurnya sangat nyenyak kalau dia tidur bersamaku. Bahkan aku tidak ada kesempatan untuk tidur bersama istriku," sahut Darren.
Semenjak ada Damian, ia sampai tak bisa menjamah istrinya. Waktunya habis mengurus Damian, kerana malam giliran Darren menjaga Damian.
"Kasian sekali," timpal Leo. Leo menertawakan nasib sahabatnya. Pasti pusing memendam hasrat, jadi ia berasa ada temannya. Karena ia juga harus berpuasa.
"Alah ... Sok soan tertawa. Gue lebih kasian ama lo, puasa habis oeperasi itu lama, loh." Kini giliran ia yang menertwakan nasib sahabatnya.
"Ayo," ajak Dania. "Keburu malem," katanya lagi.
"Cepat pulang," sahut Lisa.
Dan sekarang mereka sedang menikmati acara jamuan dari pernikahan Genik. Cukup ramai dan meriah, terlihat sepasang suami istri itu yang nampak bahagia.
"Akhirnya, Genik menikah juga," kata Darren. Namun dari perkataannya tak ada yang merespon. Karena Dania dan Leo sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Tak ada pesta dari pernikahan Dania mau pun Leo. Dania jadi teringat akan pernikahannya dulu bersama Darren. Tak ada pesta, tak ada cinta. Pesta pernikahan Genik serasa menjadi tusukan jarum dalam hatinya.
"Kok, malah melamun sih! Aku bisa membuat pesta lebih meriah dari ini," kata Darren.
Dania hanya tersenyum.
"Pulang yuk?" ajaknya kemudian. "Sudah larut, kasian Dam sama bi Mila," ucapnya lagi.
__ADS_1
Dan mereka bertiga pulang, sebelum pulang mereka pamit terlebih dulu pada sang pengantin.