
"Ngapain lo masih di sini? Bukannya pulang!"
Tanpa dipersilahkan oleh yang punya rumah, ia langsung mendaratkan bokongnya di sofa. Sambil meletakan minuman beralkohol di meja.
"Udah lama kita gak minum. Semenjak lo nikah, lo jarang nongkrong sama gue lagi. Dan sekarang gue mau ngerayain kebahagiaan sahabat gue," ucap Leo sambil menuangkan minuman itu ke dalam gelas. Lalu ia beralih mendekati Darren dan memberikan minuman itu.
Darren sedikit curiga dengan gelagat Leo saat ini. "Apa rencana lo Leo? Lo mau bikin mabuk gue!" Darren langsung meminumnya.
Leo menyeringai melihat Darren meminum minuman itu. "Habiskan bro, gua masih banyak stok," ujar Leo sambil menepuk bahu Darren.
Leo tahu kalau Darren sedikit minum saja, ia pasti mabuk berat. Apa lagi minum banyak, ia bisa leluasa mendekati Dania disaat Darren tak sadarkan diri. Setelah beberapa saat, ternyata dugaan Leo benar. Darren sudah mabuk.
Bahkan Leo mencoba mengajaknya bicara, tapi tak ada jawaban yang tepat dari pertanyaannya. Dengan cepat Leo meninggalkan Darren seorang diri di ruangannya.
Leo, mengendap-endap seperti maling yang takut ketahuan, ia menuju kamar yang di tempati Dania sekarang, ia yakin, bahwa sekarang Dania pasti sudah tidur. Cepat-cepat ia membuka pintunya dan mulai masuk. Gelap, itu yang di rasakan Leo.
Tapi ada bagusnya kamar itu gelap, jadi ia tak perlu khawatir karena ia bisa menyembunyikan wajahnya dari Dania, dan sekarang Leo sudah mendaratkan tubuhnya di atas kasur yang ada Dania di sana. Ia mulai membaringkan tubuhnya di samping Dania, tangannya langsung ia lingkarkan begitu saja di pinggang wanita itu. "Wangi sekali." Leo mencium aroma tubuh Dania.
Dania menarik tangan Leo dan mengeratkan pelukannya. Dania mengira itu Darren, suaminya. "Apa Leo sudah pulang?" tanya Dania dengan mata terpejam. Leo tak mengeluarkan suara, karena ia takut ketahuan.
Karena tak ada jawaban, Dania langsung membalikkan tubuhnya untuk menghadapnya. Dania mencium aroma berbeda dari tubuh orang itu. "Kok, wanginya beda sih." merasa curiga, Dania langsung menyalakan lampu yang berada di sampingnya. Setelah lampu menyala, betapa terkejutnya ia melihat lelaki yang berada bersamanya sekarang.
Dania langsung beranjak dari posisinya. "Kamu! ngapain di sini? Darren mana?" Dania mencoba untuk lari menghindari Leo. Namun dengan cepat Leo mencekal lengan Dania, dan menariknya kedalam pelukannya. Dania memberontak, tapi tenaga Leo lebih kuat darinya. Tak kehilangan akal, Dania langsung menendang pusaka milik Leo dengan kakinya, sampai Leo mengaduh kesakitan.
Dania mencoba lari. Lagi-lagi Leo bisa menahannya dengan tangannya. Bahkan sekarang Leo menyeret Dania ke atas ranjang, ia langsung menindih Dania. Leo mulai memainkan aksinya, ia menciumi wajah Dania bahkan sampai ke leher. Dania terus saja menghindari ciuman Leo. Ia juga tidak bisa berkutik karena Leo mengunci tangan Dania dengan kedua tangannya.
"Brengsek!!! Lepas!!!"
Tak lama pintu terbuka dengan kasar, Leo yang mengetahuinya pun langsung menghentikan aksinya. Dania mengambil kesempatan untuk lari darinya.
__ADS_1
"Kurang ajar!" ucap seseorang yang baru saja membuka pintunya.
"Kau apakan istriku, hah!" Orang itu yang tak lain adalah Darren. Dania langsung menghampiri suaminya dengan tubuh bergetar, ia benar-benar takut akan aksi Leo padanya.
"Darren." Ia langsung memeluk suaminya sambil menangis. "Aku takut!" bisiknya di telinga suaminya.
"Kamu gak apa-apa 'kan?" tanyanya sambil mengangkup kedua pipi istrinya dengan tangannya, setelah ia melepaskan pelukannya. Dania hanya menangis tak menjawab.
Dengan murkanya, Darren langsung menghampiri Leo, dan menghajarnya membabi buta. "Bukannya tadi lo mabuk?" ujarnya setelah mendapatkan pukulan dari sahabatnya itu.
"Oh ... Jadi semua ini sudah direncanakan, hah? Gue udah curiga, lo pasti berbuat macam-macam." Darren kembali memukul Leo tepat di bagian perutnya.
"Bro, lo salah paham. Gue bisa jelaskan." Darren tak menghiraukan perkataan Loe.
"Pergi lo! Sebelum gue lebih nekad lagi!"
Leo langsung lari terbirit-birit, ia tak mau kena amukan sahabatnya itu. Setelah kepergian Leo, Darren kembali menemui istrinya yang sedari tadi menangis. Ia memeluk tubuh kecil istrinya mencoba menenangkannya.
Dania menghentakan kakinya, ia marah pada suaminya. "Kamu kemana sih? Leo kesini kamu gak tahu. Dia menjamah wajahku." Dania kembali menangis, ia tak rela diciumi oleh lelaki lain.
"Dimana dia menciummu? Aku akan menghapusnya?" Darren menciumi wajah istrinya, mencoba menghilangkan jejak ciuman Leo. Dania malah terkekeh melihat suaminya seperti itu.
"Caranya seperti ini, ya? Menghilangkan bekasnya?" tanya Dania menatap suaminya. Darren malah tersenyum mendapati Dania, ia merasa lucu melihat wajah istrinya yang nampak kesal padanya. Darren kembali mendekap istrinya.
"Sudah malam, lebih baik kita tidur," ajak Darren sambil melepaskan pelukannya. Tapi Dania tak melepaskan pegangan tangannya dari tangan suaminya. Mereka pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size itu.
***
"Leo?" panggil Karren. Karren hendak ke dapur, mengambil minum karena haus. Ia juga melihat Leo sedikit pincang. "Kamu kenapa?" tanyanya kembali. Leo melihat ke arah Karren sekilas, tanpa menjawab pertanyaan ibu dari sahabatnya itu, ia langsung pergi begitu saja. Karren hanya terdiam melihat kepergian Leo.
__ADS_1
"Kenapa ya, dia?" ucapnya sendiri. Lalu ia menuju pintu, karena Leo tak menutupnya kembali.
"Sshhiiitt," ucapnya setelah berada di dalam mobilnya. Leo mengacak-acak rambutnya frustasi. Karena ketangkap basah, ia pun tak bisa menjelaskan pada Darren. Bagaimana tidak, ia tengah menciumi istri dari sahabatnya. Sahabat mana yang tak marah jika dihianati? Leo juga berpikir akan nasibnya kedepan, pasti Darren tidak akan memaafkannya.
"Arrgghh ..." Leo memukul stir mobilnya. Tak lama ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
***
"Sayang ... Udah dong, jangan marah." Darren merayu istrinya, ia menciumi pundak istrinya. Namun Dania tak bergeming dengan aksi suaminya itu. Bahkan ia tengah membelakangi tubuh suaminya. Ia masih kesal terhadap Darren, bisa-bisanya ia lengah dari Leo.
Tak ada jawaban dari Dania, dengan paksa ia membalikan tubuh istrinya agar menghadapnya. Lalu ia mengecup bibir Dania, ********** secara lembut. Tak ada balasan dari istrinya, lalu ia menggigit bibir Dania sedikit agar Dania membalas ciumannya.
"Sakit!" ucapnya sambil melepaskan kecupan itu.
"Tapi suka 'kan?" ujar Darren dengan senyuman.
"Apaan, sih. Gak lucu." Ia memukul dada bidang suaminya. Darren terkekeh akan kelakuannya, ia semakin gemas padanya. "Tidur, ah. Ngantuk!" Dania kembali membelakanginya.
"Tuh 'kan, masih marah," ucapnya sambil menduselkan kepalanya di punggung istrinya.
"Aku gak marah! Kesel aja!"
"Kesel sama marah, apa bedanya?" tanyanya "Kapan aku mendapatkan itu?" tanyanya kembali.
Dania menoleh ke arah suaminya, lalu mencium keningnya. "Besok," jawabnya setelah melepaskan kecupan di dahi suaminya.
_
_
__ADS_1
_
Warning untuk part 35 nanti, harap bacanya setelah berbuka puasa ya? walaupun othor upnya malam, takut ada yang baca siang. Othor gak tanggung jawab kalau puasanya batalπππ