
"Tolong! Hentikan ...,!" Seketika Dania terbangun dari tidurnya, dan mendapati seseorang di hadapannya. Tanpa malu Dania memeluk lelaki itu.
"Hey, kamu kenapa? Maaf aku langsung masuk. Pintunya tidak dikunci, dari tadi aku memanggilmu namun tak ada jawaban dan aku mendengar kamu meminta tolong. Kamu mimpi buruk?" tanya lelaki itu yang tak lain adalah Darren. Darren pun membalas pelukan Dania.
..."Ini pasti menyiksanya, bahkan Ia terlihat sangat ketakutan," gumam Darren dalam hati....
Darren melepaskan pelukannya karena Dania sudah mulai tenang. Darren menatap wajah Dania, wajah itu terlihat sendu. Darren menarik kembali tubuh Dania kedalam pelukannya. Dania tak percaya apa yang dilakukannya, bahkan dulu ia tak mau disentuh sedikit pun olehnya.
"Kenapa bisa tertidur begitu lama?" tanya Darren dengan posisi masih memeluk Dania. Mungkin akibat semalam yang tak terlalu nyenyak karena pikirannya memikirkan tentang ucapan ibunya Darren yang meminta Darren untuk menikahinya. Entah Dania harus bahagia atau tidak menikah dengan seorang pengusaha bernama Darren. Ia hanya saja merasa tidak pantas akan hal itu. Ditambah lagi Darren menutup hatinya untuk wanita lain.
Dania melepaskan pelukan itu mencoba mengubah posisinya. Dania bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya, ia merasa tubuhnya lengket karena keringat akibat mimpi buruk tadi. Sering kali mimpi itu terjadi kala ia teringat akan perihal yang membuatnya menjadi seperti ini. Langkahnya terhenti karena Darren memanggilnya.
"Dania?" Pertama kali Dania mendengar lelaki itu menyebut namanya.
Danian pun membalikkan tubuhnya menghadap lelaki itu dan menjawab. "Apa?"
"Cepat mandi, kamu temani aku ke sebuah acara," titahnya pada Dania.
Dania mengangguk lalu bergegas pergi untuk membersihkan diri. Dania ingat akan pesannya, memintanya untuk berpakaian sedikit sopan. Namun Dania tak memiliki baju yang dimaksud Darren. Dania kembali menemui Darren hanya dengan menggunakan handuk yang melilit tubuhnya, memang sudah terbiasa bagi Dania seperti itu jadi ia tak merasa malu sedikit pun.
Darren hanya bisa menelan ludahnya secara kasar. Ia lelaki normal yang bisa saja terbuai dengan ke adaan Dania yang seperti itu ditambah lagi wajahnya yang mirip dengan istrinya membuat Darren kembali teringat akan kebersamaannya dulu. Darren menggeleng mencoba membantah isi dipikirannya.
"Kenapa belum memakai baju?" tanya Darren.
"Aku tak memiliki baju yang seperti kamu inginkan," jawabnya.
Darren mengerutkan keningnya, masa iya tak memiliki baju yang sedikit sopan. "Aku pilihakan baju untukmu. Dimana almarimu?" Darren melewati tubuh Dania begitu saja. Bukan tanpa alasan Darren seperti itu, ia hanya tak ingin memandang tubuhnya terlalu lama.
"Disebalah sana." Tunjuk Dania pada almari yang letaknya ada di pojokan belakang pintu.
Darren mengobrak-abrik seisinya. Dania terlihat kesal karena baju-bajunya tergeletak di lantai.
__ADS_1
"Hey ..., kamu apakan baju-bajuku?" tanyanya sedikit kesal.
"Baju ini tak layak pakai, aku akan mengganti baju-bajumu. Yang ini buang saja semuanya," jawab Darren santai. Ia menghentikan aksi melempar baju itu kala ia sudah menemukan satu baju yang menurutnya agak lumayan bisa menutupi tubuh Dania.
"Aku rasa ini bisa menutup tubuhmu," kata Darren sambil memberikan baju itu pada Dania. Dania mengambilnya lalu pergi menuju kamar mandi untuk memakai baju itu.
Setelah lama menunggu, Darren dibuat terpukau melihat Dania polesan make up yang natural membuatnya terlihat anggun. Biasanya Dania memakai make up yang sedikit glamore menunjukan sisi kepribadiannya sebagai penghibur.
"Aku sudah siap," kata Dania setelah berada di dekat Darren. Darren tak menyadari kebebradaan Dania karena larut dalam lamunannya, ternyata Dania bisa terlihat seperti wanita berkelas juga. Tak terlalu mengkhawatirkannya jika nanti ia mengajak Dania pergi bertemu dengan teman kerjanya. Namun bukan itu niat Darren mengajak Dania pergi. Ada sesuatu yang harus ia bicarakan padanya, tentang kelanjutan rencana membuat Dania harus menerima keinginannya menjadi ibu dari anaknya.
***
Setibanya di sana, acara itu nampak sudah penuh dengan orang-orang yang terlihat dari kalangan atas. Dania menghentikan langkahnya karena ia merasa tak pantas berada di sana. Darren pun mentap Dania heran, kenapa ia menghentikan langkahnya. Dengan cepat Darren melingkarkan tangan Dania di tangannya. Dania melihat kearah tangannya yang melingkar di tangan Darren, lalu mereka saling bertatap. Darren mengangguk dan terseyum mengisyaratkan bahwa ia harus ke sana, dan akan baik-baik saja.
Dania kembali melangkahkan kakinya ditemani Darren. Sudah seperti pasangan pada umumnya. Para tamu yang lain pun melihat ke arah Dania dan Darren, mereka semua tersenyum karena mengenal Darren.
Salah satu tamu menhmghampirinya dan berkata, "Aku kira kamu tidak akan datang," ucap Leo salah satu teman Darren yang paling dekat. Leo melihat Dania dan tersenyum. Leo nampak berpikir seperti mengenal wanita itu, tapi dimana ia pun lupa.
Darren hanya tersenyum tak menjawab pertnyaan temannya itu. Darren kembali berjalan tanpa melepaskan tangan Dania yang masih melingkar di tangannya.
Leo terus berpikir akan wanita itu. Kini ia teringat, "wanita itu 'kan ...," Leo sedikit berlari menemui Darren yang sedang mengambil minuman untuk Dania.
"Wanita bersama itu 'kan__" ucap Leo terputus karena Darren menghentikannya.
"Jangan ikut campur, kau urus saja wanita yang bersamamu," ujarnya karena Darren juga tau Leo ke sini bersama siapa. Leo lelaki yang cukup sering memanggil wanita penghibur. lalu Darren meninggalkan Leo.
Darren memberikan minuman yang sempat ia ambil tadi kepada Dania. Dania pun menerima minuman itu, sungguh Dania merasa tak pantas dengan keberadaannya di sini.
Darren melihat Dania yang seperti itu pun bertanya. "Apa kamu tidak betah di sini?"
"Bukan, aku hanya sedikit tidak nyaman berada di sini. Apa acara ini begitu penting untukmu? Sampai harus membawa pasangan?" tanya Dania.
__ADS_1
"Tidak terlalu. Aku hanya sebentar di sini," jawab Darren santai. "Sebentar lagi, tunggu yang punya acara datang," ucapnya lagi.
Dania pun mengangguk, Dania menatap sekeliling ruangan itu. Takjub akan keindahan lampu-lampu yang dihias di sana. Tak lama yang punya acara pun tiba Darren yang melihatnya pun langsung menghampirinya. Sebelumnya ia pamit terlebih dulu pada Dania.
Kini Dania sendirian, Leo yang melihatnya sendiri pun langsung menghamipirinya. Dania menatap lelaki yang kini berada di dekatnya, merasa heran akan kedatangannya secara tiba-tiba.
"Sejak kapan kau mengenal Darren?" tanya Leo pada Dania.
"Maaf, Anda siapa, ya? Saya rasa saya tidak perlu menjawab pertanyaan Anda," jawab Dania dengan sopan. Karena ia tak mau mempermalukan Darren, takut Dania salah bicara dengan lelaki itu.
"Aku sepertinya mengenalmu, apa kau wanita yang selalu ada di Club X?" tanyanya penasaran.
Sebelum Dania menjawab, seseorang menarik tangannya dan mengajaknya pergi. Orang itu ialah Darren. Darren tau Dania pasti merasa tidak nyaman dengan pertemuannya dengan Leo.
"Hey, lepas! Aku bisa jalan sendiri," kata Dania yang terus saja ditarik oleh Darren.
Merasa sudah jauh Darren pun melepaskan pegangannya. "Jangan terlalu dekat dengannya," kata Darren tiba-tiba.
Dania tak menaggapi omongan Darren. "Kita pulang saja, yuk?" ajak Dania. Darren pun mengangguk.
***
Setelah berada di dalam mobil Darren terus saja menatap Dania. Dania yang tau akan hal itu pun bertanya, "Kenapa terus menatapku?" tanyanya.
"Kalau aku menikahimu, apa kau mau menuruti keinganku untuk berpura-pura menjadi Kania?" tanya Darren tanpa basa-basi.
"Apa itu bagian dari membahagian putrimu?" Dania balik bertanya. Darren mengangguk mengiyakan jawabannya.
"Apa kau terpaksa menikahiku?" tanya Dania kembali sambil tertunduk. Sungguh Dania merasa paling hina dibanding menjadi wanita penghibur. segitu tidak pantasnyakah dirinya bersanding dengannya. Bahkan menikahinya pun secara terpaksa.
Dania takut akan hal ini. Ini membuatnya bingung, ia hanya tak.........
__ADS_1