
"Darren, apa perkataanmu benar, kalau kau tak akan meninggalkanku yang tak sempurna ini!" Dania sengaja menekankan kata 'tak semepurna' pada suaminya. Ia hanya ingin mengingatkan bahwa ia tak bisa memberikan keturunan pada suaminya.
Lalu, Darren menghamipirinya dan langsung memeluk Dania. "Sampai kapan pun kau tetap akan menjadi istriku." Darren mengeratkan pelukannya.
"Terima kasih, kamu sudah menerimaku menjadi istrimu." Ia melepaskan pelukan suaminya, karena hari ini ia akan pulang ke mansion suaminya.
"Ayo, kita pulang sekarang." Darren memapah Dania ke kursi roda. Lalu mereka keluar dari ruangan itu, Darren mendorong kursi roda yang ditumpangi istrinya. Tak lama mereka sampai di mobil Darren yang sudah terparkir pas di depan pintu masuk rumah sakit.
Dalam perjalanan pulang, Darren dan Dania tak melepaskan pelukannya. Duduk berdua di kursi belakang, Darren sengaja minta di jemput oleh supir pribadi ibunya. "Sayang, setelah ini. Aku ada urusan, ya? Kamu istirahat saja di rumah."
"Mau ke kantor?" tanya Dania.
"Hmm, sudah beberapa hari aku tidak ke kantor. Pekerjaanku pasti banyak," jawab Darren bohong. Padahal ia akan pergi untuk menemui Leo.
Pada akhirnya mereka sampai di kediaman Darren. Karren menyambut kedatangan menantunya itu dengan penuh gembira.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Karren setibanya Dania di hadapannya.
Dania tersenyum manis menanggapi pertanyaan ibu mertuanya. " Aku baik, Mom."
"Maafkan Momy, ya? Atas kesalahan Momy di masa lalu." Karren memeluk Dania, dan Dania pun membalas pelukkan itu.
"Untuk itu, gak usah dibahas, ya. Aku mencoba melupakannya. Yang aku harapkan sekarang adalah hidup bahagia bersama keluarga kecilku."
Darren yang mendengarnya langsung memeluknya dari belakang, betapa bahagianya Darren. "Aku akan membahagiakanmu bersama Syiera," bisik Darren di telinga Dania.
Karren melihat adegan mesra itu di hadapannya, ia menghela napasnya sebelum mengatakan sesuatu pada mereka.
"Mesraannya di dalam saja, gak lihat pak supir memperhatikan kalian." Tunjuk Karren ke arah pak supir. "Kasian, dia masih jomblo," terang Karren kembali.
Darren dan Dania menoleh ke arah supir yang menjemput mereka. Mereka melihat supir itu tersenyum ke arahnya. Dania pun membalas senyuman pak supir, membuat Darren sedikit cemburu pada supir itu. Bagaimana tak cemburu, supirnya terlihat tampan dan lebih muda darinya.
"Udah deh senyumnya, jangan lama-lama," ketus Darren.
"Cemburu, ya ... Cintaku cuma buat kamu, sayang." Dania merangkul tangan suaminya dengan manja. Lalu Darren sedikit mengacak rambut istrinya dengan gemas.
"Iiih ... 'Kan jadi berantakan." Dania merapihkan rambutnya sendiri. Tak lama mereka masuk ke dalam bersamaan.
"Mom, Syiera sekolah?" tanya Dania setibanya di dalam.
__ADS_1
"Iya," jawab Karren. "Diantar Mila," sahutnya lagi.
"Sayang, sebaiknya kamu istrirahat, ya. Aku antar," timpal Darren. Lalu mereka berdua pergi menuju kamar.
"Istirahatlah." Darren mengecup kening istrinya, sebelum ia pergi meninggalkannya. "Aku pulang telat hari ini." Lalu Darren pergi tanpa mendengar jawaban istrinya.
***
Darren menggedor pintu apartemen milik Leo. Tak lama seseorang keluar dari balik pintu itu. "Cari siapa?" tanya orang itu.
Darren mengerutkan keningnya, kenapa bukan Leo yang keluar. Pikir Darren.
"Apa Leo ada di dalam?" tanya Darren kemudian.
"Maaf, saya penghuni baru di sini. Saya juga tidak tahu siapa Leo yang Anda maksud," terang orang itu.
Darren nampak berpikir. "Kemana, Leo?"
"Maaf, sudah mengganggu," kata Darren. Lalu ia pun pergi dari apartemen Leo. Dan sekarang, Darren menuju kantor polisi untuk melaporkan tentang kasus penculikannya terhadap istrinya.
Setelah itu selesai, ia langsung menuju kantor. Karena Genik sudah menghubunginya beberapa kali.
***
Lisa pun mengambilkan apa yang diinginkan Leo. "Eh, ada pengunjung. Aku kedepan dulu, ya?" Lisa pergi untuk melayani tamu yang datang di Cafe EOSA. Sementara Leo, ia sedang asyik menyantap kuenya.
"Kau," kata Lisa pada pengunjung yang baru saja datang.
"Wah ... Kebetulan sekali kita bertemu di sini." Orang itu menghampiri Lisa, bahkan hampir mencium Lisa. Namun dengan cepat Lisa menghidar darinya.
"Kenapa kau menolakku! Bukankah kita sering melakukannya, bahkan lebih dari ini," kata orang itu yang bernama Denis. Denis adalah mantan Lisa, yang beberapa hari ini memang mencarinya. Dan kebetulan mereka bertemu di sini.
"Jangan macam-macam, Denis. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa!" sahut Lisa sedikit emosi.
Leo mendengar keributan di luar sana, membuatnya terpancing untuk segera menghamipiri ke depan cafe. Leo geram melihat Lisa bersama laki-laki yang begitu intim dekat dengannya.
"Ada apa, sayang?" kata Leo pada Lisa. Lisa langsung menoleh ke arah tersebut, ia juga mengernyitkan keningnya merasa bingung dengan panggilan Leo yang memanggilnya dengan sebutan sayang.
Leo mengerlingkan matanya pada Lisa, Lisa yang mengerti pun langsung beracting di hadapan Denis. Lisa menghampiri Leo, ia langsung bergelayut manja di tangan Leo.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa, sayang. Ini cuma ada tamu yang permintaanya aneh-aneh," jawab Lisa sambil melirik ke arah Denis.
Denis mengepalkan kedua tangannya menahan amarah, ia melihat Lisa bersama laki-laki yang tak dikenalinya. "Saiapa dia, Lisa?" tanya Denis pada Lisa. Tatapannya mengintimidasi Lisa.
"Saya tunangannya Lisa, bahkan sebentar lagi kami akan menikah," jelas Leo pada Denis. "Iyakan, sayang?" Leo merangkul Lisa di hadapan Denis.
Denis merasakan cemburu yang begitu dalam. Karena ia memang masih mencintai Lisa, sudah beberapa kali Denis meminta Lisa untuk kembali padanya. Namun Lisa terus menolaknya, karena Lisa mencintai seseorang. Dan tak akan berpaling dari orang itu.
"Lisa! Kamu tidak bisa pergi begitu saja dariku!" kata Denis pada Lisa.
"Apa maksudmu bicara seperti itu? Kau siapanya, Lisa?" Leo terpancing dengan perkataan Leo.
Lalu Lisa menengahi perdebatan Leo dan Denis. "Denis, sebaiknya kamu pergi dari sini. Kita sudah tidak ada hubungan! Apa kamu lupa apa yang telah kamu lakukan padaku?" Denis mengkhianati cinta Lisa. Dan itu membuat Lisa tidak bisa kembali padanya.
"Tapi aku mencintaimu, Lisa. Beri aku kesempatan!" Denis memohon.
Dengan geram Leo menarik baju yang di kenakan Denis. "Heh! Apa lo budeg. Lisa tidak mau denganmu! Jadi jangan paksa dia."
"Apa, lo!" teriak Denis. Keributan pun terjadi diantara mereka. Baku hantam itu terjadi begitu cepat, sehingga Lisa tak dapat melerai pertengkaran mereka.
"Hentikan!" Lisa menarik tubuh Leo. Pas Lisa menarik tubuh Leo, ia malah kena pukulan dari Denis. Sampai Lisa tersungkur.
"Lisa, maafkan aku. Aku tidak bermaksud memukulmu," kata Denis menyesal.
"Kau!" Tatapan Leo begitu menyeramkan, sampai Denis berlari terbirit-birit.
"Lisa, kamu tidak apa-apa?" Leo membantu Lisa untuk berdiri. Lalu Leo mengambil air di wadah untuk mengompres lebam di wajah mungil Lisa. "Pasti sakit, ya?" kata Leo sambil mengobati luka Lisa. "Maafkan aku, gara-gara aku kamu jadi begini," lirih Leo.
"Jangan merasa bersalah begitu, ini bukan salahmu. Ini salah si Curut." Mendengar kata Curut, Leo tergelak.
"Kamu membencinya?" tanya Leo. Lalu Lisa mengangguk. "Lalu, siapa yang kamu cintai?" tanya Leo kembali
"Aku__
Bersambung__
_
_
__ADS_1
Hai gaes, aku up siang hari ini. Mumpung libur, semoga ceritaku tidak membosankan, ya?