Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 45


__ADS_3

"Bu?" panggil Genik. Genik melihat Dania berlari sambil menangis, Genik yang heran, ia langsung mengejar Dania.


Dania berhasil keluar dari perusahaan suaminya itu. Deraian air mata tak bisa ia tahan, terlalu menyakitkan jika ia teringat kejadian barusan.


Disaat Dania sedang berjalan. Tiba-tiba seseorang membekap Dania dari arah belakang, lalu Dania pingsan. Genik melihat semua itu dari kejauhan, ia hendak menolong Dania. Namun, Dania lebih dulu dibawa dan di masukkan ke dalam mobil orang itu.


Genik yang panik langsung berlari dengan tergopoh, ia kembali keperusahaannya. "Pak? Gawat pak!" kata Genik dengan ngos-ngosan, setibanya di sana.


"Ada apa, Genik? Ngomong yang jelas!" Darren melihat Genik yang seperti itu, ia menjadi penasaran.


"Bu Dania," ucapnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar.


"Kenapa istriku? Cepat katakan!" Darren menggunjing tubuh Sekretarisnya itu, agar Genik cepat mengatakannya. Namun karena syok, Genik malah pingsan, karena ia menderita sesuatu, entah apa penyakitnya, kalau melihat kejadian apa saja yang membuatnya syok, Genik pasti langsung pingsan.


"Ada apa, Darren?" tanya Karren dari dalam ruangannya. Karena kejadian Genik pingsan tepat di ambang pintu.


Sebelum Darren menjawab, ia langsung meraih tubuh Genik. Dan membawanya masuk ke ruangannya, Karren langsung menghampiri Darren yang sedang membaringkah tubuh Genik di sofa.


"Mom, ada minyak angin gak?" tanya Darren pada ibunya.


"Ada." Lalu Karren mengambil minyak angin miliknya yang ia simpan di dalam tasnya, ia memberikan pada Darren. Darren mencoba menyadarkan Genik menggunakan minyak angin itu.


Tak lama, Genik sadar dari pingsannya. Setalh sadar, Darren kembali bertanya padanya. "Ada apa, Genik? Coba jelaskan!"


Genik menghirup okxigen sebanyak-banyaknya. Ia mencoba menetralkan kondisinya terlebih dulu. "Saya lihat, 'bu Dania diculik, pak," jelas Genik.


Darren terkejut mendengar penuturan Genik. Sama halnya dengan Karren. "Bagaimana bisa, Genik. Siapa yang sudah menculik, Dania?" tanya Karren.


"Iya cepat katakan padaku?" timpal Darren.


"Sa_saya tidak tahu, pak. Orang itu memakai topeng. Berbaju hitam, saya tidak mengenalnya, Bu," kilahnya pada mereka.


"Gimana, ini? Kita lapor polisi saja," kata Karren dengan panik. Lalu Karren menelepon polisi, ia hendak keluar dari ruangan Darren. Namun kakinya tak sengaja membentur sesuatu. Sampai yang tertendang olehnya sedikit menjauh. Dengan penasaran, Karren mengambil barang tersebut. Ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Darren, ini tespack siapa?" tanya karren. Karena tadi, saking terkejutnya Dania menjatuhkan tespacknya yang ia pegang sejak dari rumah sakit.


"I_itu pasti milik 'bu Dania, pak," jelas Genik. Darren mengerutkan keningnya, mencerna perkataan Genik. Bagaimana bisa itu punya istrinya?

__ADS_1


"Iya, pak. Itu pasti milik istri bapak, soalnya tadi ia sempat kemari sebelum kejadian 'bu Dania diculik. Terus saya lihat, 'bu Dania menangis. Saya mengejarnya, tapi tiba-tiba ada orang dari arah belakang, dan membekap 'bu Dania," imbuh Genik lagi.


"Momy rasa, Dania mendengar pembicaraan kita, Darren," timpal Karren.


Persaan Darren menjadi gusar, pikirannya nampak kacau. Ia begitu mengkhawatirkan keadaan istrinya yang diculik. "Bagaimana ini, Mom? Siapa yang sudah menculik istriku!" Darren menyambar kunci mobil hendak mencari Dania.


"Mau kemana, Darren?" tanya Karren. Karren juga ikut gelisah melihat keadaan Darren yang seperti ini.


"Aku akan mencari Dania, Mom!" Darren langsung pergi mencari keberadaan istrinya.


***


Dania mengerejapkan kedua matanya, tapi, tak ada cahaya di matanya, ia mendapati kegelapan di sana. Ia juga merasa tak bisa menggerakkan tubuhnya, tangan dan kakinya terikat.


Dania tengah terduduk di kursi. Lalu ia berteriak sekencang-kencangnya, mencoba meminta pertolongan, siapa tahu ada yang mendengarnya dengan teriakannya. Pikir Dania.


Lalu Dania mendengar suara kaki melangkah. Terdengar jelas suara sepatu berpijak di lantai. Ia yakin, kalau orang itu yang telah menculiknya.


"Siapa kau?" tanya Dania sambil menggerakan tangannya dari ikatan itu.


"Aku akan menghancurkanmu, karena suamimu juga mnghancurkanku," bisik orang itu di telinga Dania.


"Kau ...!" kata Dania, ia mengenali suara tersebut.


Lalu orang itu, mengusap lembut pipi Dania. "Jangan sentuh aku!" teriak Dania. " Tolong ..." Cuma itu yang bisa Dania lakukan.


"Minta tolonglah, tidak akan ada yang menolongmu. Di sini jauh dari keramain," ujar orang itu yang tak lain adalah Leo.


"Apa mau, Leo? Yang bermasalah denganmu adalah Darren, kenapa kau menculikku!"


"Karena kau sumber kebahagiaan Darren, aku akan menghancurkan suamimu melaluimu." Leo kembali menyentuh pipi Dania, lalu mengusap pucuk rambutnya. Dengan keras, Leo menarik rambut Dania ke belakang, sampai Dania meringis merasakan sakit di bagian kepalanya.


"Kita akan bermain-main, Dania." Leo mengendus leher Dania.


"Tolong ... Jangan lakukan itu," ucap Dania sambil menangis.


"Diamlah ... Aku hanya akan membuatmu melayang ke udara." Darren mulai mencium bibir Dania.

__ADS_1


Namun Dania menyembur wajah Leo dengan ludahnya. Leo mengerang, ia marah mendapat perlakuan Dania, sehingga ia menggulingkan kursi yang di dudukki oleh Dania.


Seketika tubuh Dania tergeletak bersamaan dengan kursi yang menempel pada tubuhnya karena kursi itu terikat menyatu dengan tubuh Dania. Dania merasakan sakit di bagian perutnya karena terguling begitu cukup keras.


"Ah, perutku." Dania meringis sambil menangis. Ia mengkhawatirkan kandungannya. "Ya, Tuhan. Kuatkan janinku." Dania menyembunyikan kandungannya pada Leo, agar dia tak menyakiti di bagian perutnya.


Kalau sampai dia tahu, Leo pasti membuat Dania keguguran. Karena ia tahu bahwa Leo pasti akan melakukannya, itu sumber kebahagaiaan Darren.


"Dasar wanita tak berguna!" Teriak Leo setelah ia menggulingkan kursi itu dengan menendangnya. "Kalau kau mau melayaniku, itu tidak akan terjadi, Dania." Leo meninggalkan Dania seorang diri di gudang yang begitu gelap.


***


"Ada apa, Lisa?" jawab Leo, setelah mengangkat ponselnya. Lisa menghubungi Leo karena ingin menanyakan keadaannya.


Lisa mengkhawatirkan keadaan Leo. Namun berbalik dengan keadaannya, Leo kembali pada pendiriannya. Yaitu, menghancurkan kebahagiaan sahabatnya.


"Leo, suara siapa itu?" Lisa mendengar seseorang minta tolong. Samar-samar namun nampak jelas di pendengaran Lisa.


Dengan geram, Leo mengarahkan pandangannya pada gudang yang pintunya sedikit terbuka. "Wanita itu benar-benar membuatku kesal."


"Leo? Kamu masih mendengarku 'kan?" tanya Lisa di sebrang sana.


Tak lama, Leo mematikan ponselnya. Ia takut Lisa mencurigainya, karena ia sadar akan perlakuannya terhadap Dania ini suatu kriminal.


Leo kembali menemui Dania yang sedang berisik. "Diamlah, dan turuti keinginanku. Aku tak akan kasar jika kau mau menurutiku," kata Leo sambil membenarkan posisi Dania.


Dania menenangkan dirinya. Berontak pun percuma, yang ada Leo semakin menyakitinya. Bukan waktunya Dania egois, ia harus memikirkan janin yang ada dalam kandungannya.


***


"Aku yakin, aku tidak salah dengar. Itu suara perempuan." Lisa sibuk dengan pemikirannya, tapi, ya sudahlah mau gimana lagi. Pikir Lisa.


"Aku hubungi Dania, ah." Lisa mulai menekan tombol di ponselnya. Setelah sambungan itu tersambung, tapi Dania tak kunjung menjawab panggilannya.


_Bersambung


tinggalkan jejak.

__ADS_1


__ADS_2