Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 23


__ADS_3

...Keesokan harinya...


Dania mengerejapkan kedua matanya. Ia mendapati seluruh tubuhnya merasa nyeri akibat kejadian kemarin. Suhu tubuhnya pun sedikit agak panas. Ia mencoba untuk bangkit, tapi kenyataannya dia tak bisa apa-apa. Jangankan untuk itu mengegerakannya saja sudah terasa sakit.


Ketukkan pintu sudah ia dengar beberapa kali, ia tak menghiraukannya. Karena ia tak mau ibu mertuanya mengetahui keadaannya.


"Sayang ... Kamu tak apa-apa 'kan?" tanya ibu mertuanya sambil mengetuk pintu. Itu yang kesekian kalinya Karren memanggilnya.


Sebisa mungkin Dania menjawab agar tak terlalu khawatir. "Ya, Mom. Aku baik-baik saja," jawab Dania sedikit bergetar.


"Ayo keluar, kita sarapan," ajak Karren lagi. Karren memilih pergi karena tak mendengar jawaban darinya lagi.


***


"Darren ... Coba kamu yang memanggilnya. Temui dia, Momy rasa jika kamu yang kesana Dania pasti mau membuka pintunya," bujuk Karren


Darren menghentikan sarapannya, lalu memandang wajah ibunya. "Dia sudah besar, Mom. Kalau pun lapar dia pasti makan!" jawab Darren sedikit ketus. Lalu ia melanjutkan sarapannya kembali.


Karren menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, ia tak tahu harus membujuk Darren dengan cara seperti apa lagi. Perasaannya gusar, ia sangat mengkhawatirkan keadaan menatunya itu.


"Oma, apa Momy sakit?" tanya Syiera yang berada di samping ayahnya.


Mendengar kata sakit Darren langsung bangkit dari duduknya. Untuk menemui Dania, walau pun sedang kecewa padanya ia tak bisa membiarkan Dania sakit. Setidaknya ia bertanggung jawab walau bagaimana pun Dania masih istrinya.


"Dania ...," panggil Darren sambil mengetuk pintu. "Buka pintunya," ucapnya lagi.


Sudah beberapa menit Dania tak membukakan pintu bahkan ia pun tak menjawab panggilan suaminya. Dania takut kalau Darren akan kembali marah padanya.


"Cepat buka, atau tidak akan aku dobrak pintunya!" Dengan nada berteriak Darren mengucapkannya.


Dania pun terpaksa membuka pintunya. Ia menguatkan diri untuk bertemu suaminya. Namun pada saat Dania membuka pintunya ia langsung pingsan dihadapan suaminya.


Darren yang melihatnya pun langsung menangkap tubuhnya agar tak terjatuh ke lantai. "Dania," panggil Darren sambil menepuk-nepuk pipinya. Tapi tak ada respon darinya.


Darren langsung saja membawanya ke kamar, tapi ia membawanya ke kamarnya bukan kamar tamu yang Dania tempati semalam.

__ADS_1


Disaat Darren membopong tubuh Dania, Karren yang melihatnya pun langsung merasa panik.


"Darren, Dania kenapa?" tanya Karren pada saat itu.


"Dia pingsan, Mom. Momy tolong panggilkan Dokter, suruh Dokternya kesini, cepat!" Darren tak kalah panik dari ibunya.


"Momy," panggil Syiera sambil menangis melihat kondisi ibunya. Bahkan Syiera tak mau jauh-jauh dari ibunya itu.


Tak lama Dokter pun datang, ia langsung memeriksa keadaan pasien. "Bagaimana, Dok?" tanya Darren setelah Dokter itu selesai memeriksanya.


"Dia demam. Apa terjadi sesuatu padanya? Saya lihat ada banyak lebam di tubuhnya?" tanya Dokter itu pada Darren.


"Lebam?" Dokter itu mengangguk.


"Ini obat yang harus Tuan tebus, kondisinya tidak terlalu parah. Dia harus banyak istirahat," kata Dokter itu lagi. "Kalau begitu saya permisi," pamit Dokter.


Setelah kepergian Dokter. Kini Darren duduk di samping Dania, ia melihat keadaannya. Tak lama Karren pun datang menghampirinya.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa Dania bisa seperti ini?" tanya Karren.


***


Sementara Leo tertawa penuh kemenangan. Sebenarnya ia membeci Darren karena telah kalah dalam merebutkan cinta Kania dulu. Leo tak akan membiarkan Darren hidup bahagia, Leo mulai membenci Darren semenjak Kania meninggal. Dan Leo menyalahkan kepergian Kania karena Darren. Darren telah lalai membawa kendaraannya pada saat kecelakaan yang mengakibatkan Kania pergi untuk selama-lamanya.


***


"Sayang ... Jangan banyak bergerak," kata Karren disaat Dania tersadar.


Dania menatap sekeliling kamar, seingatnya ia tidak berada di sini sebelum tadi ia pingsan. "Mom ... Aku haus," ucap Dania pada ibu mertuanya.


Dengan cepat Karren bergegas ke dapur untuk mengambilkan minum. Di sana Karren melihat anaknya yang sedang termenung, duduk di kursi meja makan.


Karren memberikan gelas berisikan air minum pada anaknya. Darren pun langsung menoleh ke arah siapa yang telah menyodorkan gelas padanya. Ternyata ia mendapati ibunya.


"Berikan pada istrimu. Momy mau membuatkan bubur untuknya."

__ADS_1


Darren pun mengambil gelas itu, lalu pergi menemui istrinya. Sesampainya di sana ia mendapati Dania sedang duduk bersandar di atas kasur. Lalu ia memberikan air minum itu pada Dania.


Dania mengambilnya tanpa menoleh sedikit pun pada suaminya. Ia meminumnya hingga tandas dan memberikan gelas itu kembali pada suaminya. Enggan rasanya Dania melihat suaminya, bukan marah. Melainkan kecewa karena Darren tak memberikan kesempatan pada Dania untuk menjelaskan yang sebanarnya.


"Aku ingin sendiri," ucap Dania. Karena ia melihat suaminya yang masih terus bersamanya di sana. Tak secara langsung ia pun mengusirnya.


Tanpa menjawab Darren pun berlalu. Disaat itu Dania menumpahkan kembali air matanya. Kini Dania meringkuk sambil menangis. Dari kejauhan Darren memperhatikannya tanpa sepengetahuan Dania.


"Aku sudah mulai menerimamu. Tapi kenapa kamu mengecewakanku Dania," ucapnya di balik pintu.


Karren mendengar apa yang Darren katakan. Bahwa ternyata anaknya itu mulai mencintai istrinya. Tapi apa penyebab Dania menjadi seperti ini? Apa Darren yang melakukannya? Karren terus berpikir akan hal itu.


Hingga Darren mengetahui ada seseorang di belakangnya. "Mom, aku mau ke kantor. Aku titip Dania," ujar Darren pada ibunya. Karren pun mengangguk mengiyakan.


***


Selama di kantor, Darren tak mengerjakan pekerjaannya sedikit pun. Pikirannya terus pada Dania, hingga Genik datang pun ia tak menyadarinya.


"Pak," panggil Genik. Namun Darren tetap tak bergeming. Hingga Genik menggebrak meja baru Darren tersadar akan lamunannya.


"Ya, ada apa Genik."


"Bapak merasa curiga gak, sih. Sama Pak Leo?" tanya Genik tiba-tiba.


"Maksudmu?"


"Kemarin, bukannya Bapak tidak ada jadwal bertemu dengan Pak Leo. Tapi kenapa kemarin dia ada kemari?" Sebenarnya Genik sedikit curiga dengan gerak-geriknya Leo.


Darren pun berpikir. "Iya, benar kata kamu, Genik. Kemarin dia tiba-tiba saja ada di ruanganku. Bahkan dia tak mengabariku terlebih dulu, apa ini ada hubungannya dengan Dania?" Darren menatap Genik dengan penuh pertanyaan.


Genik hanya mengangkat kedua bahunya. "Mungkin," jawab Genik. "Emang wanita kemarin itu siapanya Bapak?" tanya Genik penasaran. Setahu Genik Darren itu duda, bahkan ia pun naksir dengan atasannya. Tapi Genik lebih mengaguminya secara diam.


Tak lama, Darren pun membuka laptopnya. Karena merasa penasaran apa yang terjadi sebelum ia kembali ke ruangannya, kini ia melihat hasil rekaman CCTV kemarin.


"Leo ...," ucapnya geram sambil mengepalkan kedua tangannya. Genik yang melihatnya pun langsung keluar dari ruangan Bosnya, ia tak pernah melihat Bosnya seperti itu.

__ADS_1


"Pak Darren serem juga kalau lagi marah," ujar Genik bicara sendiri sambil menutup pintu ruangan Bosnya.


__ADS_2