Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Eposid 68


__ADS_3

Darren mengelus dadanya sendiri, melihat kelakuan ibu hamil itu. Bagaimana tidak, Lisa memakan makannya sampai belopotan seperti anak kecil.


Kerasukan atau memang cara makannya seperti itu, seketika Darren bergidik ngeri. Dania melihat suaminya yang terus memperhatikan Lisa, ia jadi penasaran. Langkahnya langsung saja menghampiri suaminya itu.


Lalu, Dania melihat ke arah kemana suaminya itu mengarahkan pandangannya. Darren yang menyadari kehadiran seseorang di sampingnya pun langsung menoleh ke arah samping. Ia langsung tersenyum karena istrinya yang menghampirinya.


"Jangan heran seperti itu," ucapnya pada Darren, ia yakin bahwa suaminya itu melihat Lisa dengan rasa aneh karena tingkahnya. Dania juga heran sendiri, tapi ia yakin kalau itu ada hubungannya dengan kehamilannya.


Mungkin baginya, memang semua wanita hamil akan melonjak dalam selera makan seperti Lisa sekarang.


"Mungkin bawaan bayi yang di kandung Lisa, makanya cara makannya seperti itu," jelas Dania lagi. Ia tak ingin suaminya itu jadi jijik pada Lisa.


"Oh begitu," jawab Darren. Lalu Darren menghampiri Lisa, ia menarik tisu yang berada di meja dan memberikan selembar tisu itu pada Lisa. Lisa menatap tisu itu, lalu ia mulai arahkan pandangannya pada wajah orang yang telah memberikan perhatian padanya. Aneh, tapi itulah nyatanya. Tiba-tiba saja Darren jadi perhatian padanya.


Sebenarnya, Darren hanya teringat akan mendiang istrinya selagi ngidam dulu, ia tak tahu kalau orang ngidam itu membutuhkan perhatian extra. Waktu Kania hamil Syiera, ia tak berada di sisinya karena ia harus menggantikan Davin ayah Darren ke luar Negri, karena waktu itu Davin berada di dalam penjara. Mau tak mau ia harus pergi dan meninggalkan Kania, istrinya. Ia meluangkan waktu pulang disaat Kania akan melahirkan. Jadi ia tak tahu ngidam itu seperti apa.


"Terima kasih," ucap Lisa pada Darren.


Darren hanya tersenyum biasa, lalu ia mendudukkan tubuhnya di sofa, ikut duduk bersama Lisa, Darren melambaikan tangannya pada istrinya yang masih tak beranjak dari tempatnya. Ia menepuk sofa mengisyaratkan bahwa istrinya harus ikut bergabung dengannya.


Lantas Dania pun menghampiri Lisa dan Darren di sana. Ia langsung saja mendudukkan di sebelah Lisa, bukan di samping suaminya. Darren menghela napasnya, setelah tahu bahwa istrinya lebih memilih duduk di sebelah Lisa.


Bukan tanpa alasan, Dania memilih duduk di samping Lisa, ia hanya mau menjaga perasaan Lisa. Karena ia tahu akan ada kemesraan dengan suaminya jika berada dekat-dekat. Tentu itu akan membuat Lisa ingat dengan suaminya. Wanita hamil pasti lebih sensitif, itu pikirnya. Walau ia belum pernah merasakannya.


Lisa langsung tersenyum ke arah sahabatnya itu. Tapi ia merasa bersalah pada Dania, karena telah menghabiskan makanannya, yang sudah jelas Darren membelinya untuk Dania.


" Maaf ya, kuenya habis," kata Lisa sambil memperlihatkan kotak makanannya.


"Gak apa-apa, habiskanlah. Darren bisa membelinya lain kali untukku."

__ADS_1


Berhubung lagi kumpul, Lisa akan memberikan kabar tentang kehamilannya pada mereka.


"Ia, semenjak hamil ... Bawaannya laper terus, mungkin dimakan bertiga," ucap Lisa.


Dania dan Darren saling melempar pandangan mereka kesatu sama lain, mencari jawaban apa kata Lisa. Lalu Dania dan Darren kembali melihat ke arah Lisa.


"Maksudmu bertiga, apa?" tanya Darren.


Dania hanya diam dan ingin mendengar jawaban Lisa. Apa maksud dari kata bertiga.


"Aku hamil anak kembar, aku bahagia, Nia," ujarnya antusias, bahkan Lisa mengguncangkan kedua pundak Dania, karena Dania terlihat syock tanpa expresi.


Dania hanya tak menyangka bahwa Lisa akan memiliki anak kembar, tapi, ia juga ikut senang dengan kehamilan sahabatnya itu.


Tapi, Lisa langsung teringat akan suaminya yang tak kunjung datang, apa dia kerepotan tanpa adanya dirinya di sana. Lisa langsung melihat ke arah Darren, apa jangan-jangan Darren tak menyuruh orang untuk membantunya di sana.


"Darren?" panggil Lisa. "Apa kamu tidak menyuruh seseorang untuk membantunya di sana?" tanyanya kemudian.


"Kamu nyuruh Genik membantu Leo di sana?" tanya Dania, ia hanya tak percaya kalau suaminya itu menyuruh sekretarisnya. Padahal ia tahu betul kalau Genik tak suka pada Leo.


"Iya, habisnya aku bingung mau nyuruh siapa? Aku tak mudah percaya pada orang, aku hanya takut kalau aku menyuruh orang lain bakal merugikan Leo nantinya," jelas Darren.


Dania mengerti apa maksud suaminya itu, memang tak mudah mempercayai orang apa lagi orang baru. Tapi tidak dengan Lisa, pikirannya sudah mulai tak enak, apa lagi dia dengar bahwa orang yang membantu suaminya bernama Genik. Itu artinya, Leo sedang bersama seorang perempuan di sana. Hati Lisa mulai gelisah.


Dania merasa ada yang aneh pada sahabatnya itu, tatapannya menjadi kosong. Bahkan ia melambaikan tangannya di wajah Lisa, tapi Lisa tetap saja diam tanpa respon apapun.


"Lisa, kamu kenapa? Kok, malah bengong sih?" tanya Dania.


Kini Lisa menyadari bahwa Dania mengajaknya bicara. "Genik itu siapa, Nia?" tanya Lisa penasaran.

__ADS_1


Dania langsung berpikir, jadi itu penyebab Lisa jadi terdiam, akhirnya Dania menjelaskan siapa Genik, ia tak mau kalau Lisa merasa cemburu pada Genik yang kini sedang bersama Leo di cafe.


"Genik itu_," ucapnya terputus karena Darren langsung memotongnya.


"Genik Sekretarisku, tidak perlu khawatir. Dia cukup cekatan dalam bekerja, aku rasa dia bisa mengerjakan apa yang disuruh suamimu."


Kenapa tidak ada kepuasan setelah mendengar penjelasan dari Darren. Hatinya menginginkan bukan jawaban itu yang ia harapkan, ia hanya ingin tahu siapa Genik, itu saja. Bukan cara kerjanya.


"Genik gadis baik, dia tidak akan macam-macam pada Leo. Bahkan mereka sudah saling mengenal," jelas Dania.


Mungkin ini jawaban yang diinginkan Lisa, setelah mendengar penjelasan Dania, hatinya menjadi lega, tak ada kekhawatiran seperti sebelumnya. Lisa hanya menunggu kedatangan suaminya, menjemputnya untuk pulang. Tapi pada sampai saat ini, suaminya tak kunjung menjemputnya. Kecemasan kembali di diri Lisa.


***


"Genik, sebaiknya kamu pulang saja, ini sudah waktunya kamu pulang," titah Leo.


"Tapi pengunjung masih ramai, apa Bapak tidak kerepotan kalau saya tinggal?"


Leo nampak berpikir, memang iya, kalau Genik pergi sekarang, tentu ia pasti sangat repot. Jam segini lagi ramai-ramainya. Akhirnya Leo putuskan untuk menahan kepergian Genik.


"Ya sudah, kamu di sini saja dulu. Kalau sudah mulai sepi, kamu boleh pulang," jelas Leo. Genik hanya mengangguk.


Dan ternyata benar, pengunjung tambah ramai hari ini, tidak seperti bisanya. Biasanya jam segini cafe mulai sepi. Waktu menunjukkan pukul 20.15. Tapi pengunjung masih saja berdatangan, tapi ini rejeki. Pikir Leo.


Jadi pada sampai detik ini cafe masih tetap buka.


***


Kekhawatiran Lisa semakin menjadi, ia terus saja mondar-mandir tak karuan. Dania yang melihatnya menjadi pusing.

__ADS_1


"Lisa ... Duduklah, tenangkan dirimu. Mungkin Leo masih sibuk di cafe. Kamu hungungi saja dia!"


Lisa sudah menghubungi suaminya dari tadi, sambungan itu terhubung, tapi Leo tak mengangkat teleponnya.


__ADS_2