
...Keesokan harinya....
Dania mengerejapkan matanya, sedikit demi sedikit ia membuka matanya. Ia melihat sekeliling ruangan masih terasa asing baginya. Namun seketika ia teringat bahwa ia telah menikah dengan Darren yang sekarang sudah menjadi suaminya sejak kemarin.
Dania mendapati sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya, ia tersenyum karena ia tahu siapa pemiliknya. Dania mencoba bangkit dari tidurnya, kini posisinya terduduk tepat di samping suaminya. Dania menatap wajah suaminya lekat-lekat, sepagi ini ia sudah disuguhi pemandangan yang membuatnya tersenyum.
"Tampan," ucapnya sambil mengelus pipi suaminya yang mulus. Entah setan apa yang mendorongnya, Dania memberanikan diri mencium bibir suaminya sekilas. Lalu Dania turun dari kasur itu, dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
Darren merasakan seseuatu di pipinya. Dengan mata yang sedikit terbuka ia melihat Dania begitu dekat dengannya. Hanya saja Dania tak menyadari bahwa suaminya itu sudah terbangun. Bahkan Darren mendengar apa yang diucapkan istrinya, Darren tak menyangka bahwa Dania akan senekad ini padanya. Mencium bibirnya sekilas, Detak jantung Darren seakan terhenti seketika karena mendapat morning kiss dari istrinya.
Darren kembali berpura-pura dalam tidurnya karena ia mendengar pintu dari arah kamar mandi terbuka, ia tahu itu siapa. Dania mengarahkan pandangannya pada suaminya, ia merasa bahwa suaminya masih terlelap.
Dengan santai ia memakai baju di hadapan suaminya. Darren yang mengetahinya pun hanya terdiam menatap lekuk tubuh istrinya yang terpangpang jelas di hadapannya. Darren hanya bisa menalan salivanya secara kasar, sungguh ini membuat hasratnya mencuat seketika. Ingin rasanya ia menjamah istrinya namun sekuat mungkin ia menahannya. Darren terlalu naif untuk mengakui perasaannya pada Dania.
Setelah selesai memakai baju, Dania pun berjalan ke arah pintu lalu keluar. Dengan cepat Darren terbangun dari kepuraannya, ia langsung bergegas ke kamar mandi untuk mengilangkan hasratnya dengan cara membasahi seluruh tubuhnya dengan air dingin. "Kalau begini caranya, bisa-bisa aku stres sendiri," gumamnya setelah selesai mandi.
***
Darren terus memperhatikan Dania dari kejauhan, bahkan ia tersenyum sendiri jika teringat akan kelakuan Dania tadi pagi. Dari menciumnya secara tiba-tiba bahkan Dania tak menyadari bahwa Darren menyaksikan Dania sedang memakai baju, itu membuat Darren terkekeh.
Darren memberanikan diri menghamipiri Dania yang sedang bergelut di dapur. "Apa kamu sudah merasa baikan?" tanya Darren tiba-tiba. Membuat Dania sedikit terkejut akan kemunculan suaminya.
"Aku sudah tidak apa-apa." Pasalnya semalam, Dania yang terkena alergi terhadap seafood
"Apa perlu aku menyuruh asisten untuk membantumu di sini?" ujarnya pada Dania.
Dania menggeleng. "Tidak usah, aku bisa melakukannya sendiri," jawabnya sambil membalikan masakannya di wajan. Padahal Dania hanya tak ingin kisah rumah tangganya diketahui oleh orang lain. Cukup ia dan suaminya yang mengatahui.
Darren mendudukan tubuhnya di kursi meja makan, bahkan ia tak melepaskan padangannya dari Dania. Dania menyadari akan hal itu, tapi sebisa mungkin ia bersikap untuk tenang.
Akhirnya Dania selesai dengan masakannya, bahkan sudah menatanya di meja makan.
"Sarapan duluan saja, aku mau membangunkan Syiera," ucap Dania pada suaminya. Lalu Dania pergi meninggalkannya menuju kamar Syiera.
Dengan setia Darren menunggu kembalinya Dania. Tak lama Dania kembali bersama Syiera, Syiera pun sudah rapi karena akan berangkat sekolah hari ini.
"Oh iya, dari tadi aku tidak melihat Momy, apa dia belum bangun? tanya Dania pada Darren.
__ADS_1
"Oma sejak tadi pagi sudah pergi," Syiera yang menjawab.
Dania mengernyitkan dahinya, merasa bingung. "Pergi kemana sepagi ini?" tanyanya dalam hati.
"Kemana?" tanya Dania pada Syiera. Namun Syiera hanya menggelengkan kepalanya seolah menjawab ia tak tahu kepergian sang nenek.
Lalu Dania mengarahkan pandangannya pada suaminya. "Sudah-sudah. Mending sekarang kita sarapan."
"Mom, suapin," pinta Syiera. Dengan telaten Dania menyuapi anak itu makan. Darren tetsenyum melihatnya
"Benar apa kata Momy, aku harus mencintainya," gumam Darren dalam hati.
***
Dania mengantarkan Darren dan Syiera sampai pintu utama rumah mereka. "Hati-hati ya, sayang. Jangan naka!" ucapnya pada Syiera.
"Aku berangkat dulu," pamit suaminya, Dania menganggup menanggapinya.
Namun, tiba-tiba saja Darren mencium keningnya. Dania hanya terdiam karena mendapat ciuman itu secara mendadak. Bahkan wajahnya bersemu merah menjadi salah tingkah.
"Hati-hati di rumah," ucapnya seraya mengelus pipi istrinya. Adegan romantis itu membuat Dania semakin gugup.
"Cepat pulang," ujar Dania pada Darren. Darren terkekeh melihatnya. Karena Darren bisa merasakan kegugupan Dania.
***
Di kantor Darren tidak bisa fokus dalam pekerjaanya, entah kenapa wajah Dania selalu terbayang dalam pikirannya. Darren terus saja menggelengkan kepalanya, menyangkal bayangan yang itu ada dalam benaknya.
Ia mengambil ponselnya yang berada dalam saku celananya, niatnya mencoba menghubungi Dania, istrinya. Namun dengan cepat ia mengurungkan niatnya. "Bisa besar kepala dia, nanti." Ia pun kembali menyimpan ponselnya.
***
Sedari tadi Dania tak henti-hentinya tersenyum. Ia terus teringat akan perlakuan manis dari suaminya.
Tapi ia tak mau menjadi besar kepala. Mungkin saja ini karena adanya Syiera tadi pagi. Hari ini Dania membereskan seisi rumah, lelah sudah pasti ia rasakan. Ia juga belajar menjadi istri dan ibu yang baik bagi keluarganya.
Dengan penuh semangat ia menjalaninya. Ia melihat jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 11.00, sebentar lagi jam makan siang. Dania berinisiatif membuatkan makan siang untuk suaminya. Bahkan ia akan mengantarkannya ke kantor suaminya.
Setelah selesai memasak, ia kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Dania tak menyia-nyiakan kesempatan untuk terus mendekati suaminya. Baginya sekarang, Darren segalanya untuknya.
__ADS_1
Ia tak mengapa, walau pada kenyataannya suaminya belum mencintainya. Tapi Dania akan terus semangat untuk mendapatkan cintanya.
Kini Dania sudah siap, ia menggunakan dress tanpa lengan dan bermotif bunga yang panjangnya hanya sebatas lutut. Tak lupa ia memoles wajahnya, sederhana namun tetap cantik. Dania tersenyum melihat bayangannya di cermin. "Aku pasti bisa mendapatkanmu," ucapnya mantap. Lalu ia bergegas pergi menuju kantor suaminya tak lupa membawa paperbag yang sudah terisi makanan kesukaan suaminya, ia pun pergi menggunakan taxi.
Pada saat di mobil, supir bertanya. "Kemana tujuannya, Nona?"
"Ya ampun, aku 'kan gak tahu tempatnya," ucapnya sambil menepak jidatnya sendiri.
"Sebentar, Pak," jawab Dania.
Dania mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam tas kecil yang dibawanya. Lalu menelpon seseorang yang tak lain adalah ibu mertuanya.
"Mom, apa Momy bisa mengirimkan alamat kantor Darren," ucapnya pada sambungan itu.
Dania kembali menutup sambungannya setelah mendapat jawaban dari ibu mertuanya, yang katanya akan mengirimkannya melalui chat.
Ia pun langsung memberitahukan pada sang supir kemana tujuannya.
Sesamapainya di sana, Dania terperanga melihat kanror suaminya yang terlihat begitu besar. Tak ingin terlalu lama memandangnya, karena ia tahu waktu makan siang sudah hampir habis. Dania menghamipiri meja resepsionis menanyakan keberadaan suaminya.
"Cari siapa?" tanya salah satu Stap pada Dania.
"Saya mau bertemu dengan suami saya, Mba?" jawabnya.
"Nama suami Nona siapa?" tanya Stap kembali. Disaat Dania menjawab nama suaminya, salah satu dari mereka tertawa terbahak-bahak.
"Maaf Nona, Tuan Darren belum menikah," jawab Stap itu.
"Tapi saya memang istrinya, baru beberapa hari yang lalu kami menikah."
"Aduh ... Kalau mau berbohong, jangan bobongi kami," kata Stap yang satunya lagi. "Mending Nona pergi, jangan buang-buang waktu kami."
Akhirnya Dania kembali pulang dengan penuh kekesalan.
_
_
_
__ADS_1