
Akhirnya Dania kembali pulang dengan penuh kekesalan.
Dalam perjalanan ia memukul-mukul kepalanya sendiri. "Bodoh-bodoh, Dania ... Apa kamu pikir orang-orang akan percaya padamu, hah?" ucapnya mengutuki sendiri.
Sebelum menghentikan taxi, tiba-tiba ponselnya berdering. Dania merogok ponsel itu yang berada didalam tasnya, ia melihat siapa yang menghubunginya. Dengan cepat ia menggeser warna hijau.
"Ya, Mom," jawab Dania pada sambungan itu. Ternyata yang menghubunginya adalah ibu mertuanya.
"Jemput Syiera, Momy tidak bisa menjemputnya," ucapnya di sebrang sana.
"Iya, Mom," jawab Dania. Sambungan pada ponselnya pun berakhir.
Dania menyetop sebuah taxi lalu segera pergi menuju tempat anaknya dimana Syiera menuntut ilmu. Namun lagi-lagi Dania tak mengetahui tempatnya. "Ibu macam apa aku ini, tempat sekolah anak saja tidak tahu," ucapnya kesal.
Dania mencoba menghubungi ibu mertuanya, namun yang menjawab adalah operator yang mengatakan bahwa nomor yang dihubunginya berada diluar jangkauan.
"Ko gak aktif sih," ucapnya sambil melihat handponenya. Mau gak mau ia pun menghubungi Darren suaminya.
***
Sekarang Darren sedang berada di ruangannya, ia begitu sibuk sampai melewatkan jam makan siangnya. Tiba-tiba dering ponselnya terdengar, lalu ia meraih ponsel itu dan melihat ID di layar.
"Ya, ada apa?" jawabnya pada panggilan itu, bahkan ia tahu siapa pemanggilnya.
"Kirimkan alamat sekolah Syiera,"
"Iya," jawab Darren singkat. Lalu menutup sambungan itu, dengan cepat ia mengirimkan alamatnya melalui chat whatsup.
Darren kembali fokus pada layar laptopnya. Ia benar-benar sibuk hingga waktu begitu cepat tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul 17.15.
Darren melihat jam yang menempel di pergelangan tangannya. Lalu ia membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas meja. Sudah waktunya ia kembali pulang.
Setelah merasa rapi ia pun memakai jasnya yang menyampai pada sandaran kursi kebesarannya. Sesudah memakai jas ia menyambar kunci mobilnya yang berada di atas meja. Lalu bergegas keluar dari ruangannya, ia juga melihat ke arah meja sekretarisnya ternyata sudah kosong.
Kini Darren sudah berada di dalam mobilnya, ia menyalakan mobil itu tak lama kemudian ia menancapkan gasnya untuk segera pulang. Sudah ada keluarganya yang menunggu kepulangannya terutama Dania, istrinya.
Sesampainya di rumah, Darren langsung masuk kedalam. "Sepi sekali, pada kemana?" ujarnya sambil menutup pintu.
__ADS_1
"Syiera ...," panggil Darren. Karena tak ada jawaban ia pun langsung bergegas pergi ke kamarnya. Darren langsung membersihkan diri sesampainya di sana.
***
"Sayang ... keluar, yuk?" ajak Dania pada Syiera. Karena saat ini mereka berada di kamar Syiera. "Momy rasa daddy sudah pulang," ucapnya lagi pada Syiera, karena tadi Dania sempat mendengar suara mobil. Lalu Syiera mengangguk mengiyakan.
Disaat Dania keluar dari kamar, ia melihat suaminya yang pada saat itu juga hendak keluar dari kamarnya. Karena kamar mereka hanya terhalangi satu ruangan, yakni ruang kerja suaminya.
"Kamu sudah pulang?" tanya Dania pada Darren.
"Hmm," jawab Darren singkat.
"Hanya itu jawabnya," gumam Dania dalam hati.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Dania kembali. Darren menggelengkan kepalanya menjawab bahwa ia belum makan.
"Akan aku siapkan," sahut Dania.
Dania bergegas ke dapur. Namun Darren pergi menuju ruang kerjanya, Syiera memilih mengikuti ayahnya.
"Dad, apa daddy tahu kalau Momy tadi ke kantor daddy?"
"Iya, tadi Momy kesana, Tapi diusir," ucap Syiera
"Dari mana kamu tahu kalau Momy menemui daddy?" tanya sang ayah.
"Sebelum menjemputku, tadinya Momy mau mengantarkan makan siang untuk daddy. Momy perhatian sama daddy, tapi kenapa daddy cuek?" ucap Syiera sedih.
"Bukan cuek, sayang. Daddy tidak tahu kalau Momy tadi menemui daddy," jawab Darren sambil berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan anaknya. "Temani Momy, sanah. Daddy ada kerjaan sebentar, nanti daddy menyusul," titahnya pada Syiera. Dan Syiera pun menuruti perintah ayahnya.
***
"Mom, masak apa? Baunya tercium enak?" tanya Syiera yang baru saja tiba. Lalu Syiera mendudukan tubuhnya di kursi meja makan.
"Kesukaan daddy," jawab Dania tanpa menoleh.
Tak lama Darren datang, ia mencium aroma yang sangat menggiyurkan. Sangat terasa di penciumannya. Darren menarik napasnya seraya mencium aroma itu, hingga tak tahan untuk segera menyantapnya.
__ADS_1
Kini Darren pun ikut terduduk bersama anaknya, menunggu Dania menyelesaikan masakannya. Tanpa Dania sadari, Darren terus memandangi punggung istrinya yang sedang sibuk itu.
Dania terkejut setelah membalikkan tubuhnya ke arah meja makan, ternyata suaminya sudah berada di sana. Dengan cepat ia menyimpan hasil masakannya yang baru saja selesai.
Dania mengambilkan nasi untuk suaminya, bahkan Dania terlihat seperti sudah biasa melayani suaminya. Padahal ini pertama kali baginya. Darren terus memperhatikan Dania, sehingga Dania merasa aneh pada dirinya sendiri.
"Kenapa melihatku seperti itu? Apa ada yang aneh denganku?" tanya Dania pada suaminya. Darren yang ketahuan memperhatikan istrinya pun menjadi salah tingkah.
"Jangan banyak tanya, aku lapar!" jawab Darren.
Syiera tertawa, menertawakan kelakuan orang tuanya. "Daddy, mata daddy nanti copot, loh," sahut Syiera. Karena sedari tadi Syiera memperhatikan ayahnya yang terus memandangi ibunya.
Dania tergelak mendengar ucapan bocah yang baru berumur tiga tahun itu. Nampaknya Syiera memperhatikan kelakuan mereka yang seperti ABG. Dan kini mereka melakukan makan malam dengan hikmat tanpa ada perbincangan.
***
"Apa Syiera sudah tidur?" tanya Darren pada Dania yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka. Dania hanya mengangguk.
Sebelum Dania menghampiri suaminya, ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi dan lain sebagainya. Ia membiasakannya sebelum tidur. Setelah itu, baru dia menemui suaminya yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Karena di kamarnya terdapat televisi berukuran 59 inci.
Dania mendudukkan tubuhnya di samping suaminya. Darren melihat ke arahnya sekilas lalu ia arahkan kembali pandangannya ke televisi. Sesekali Darren tertawa melihat acara yang ditampilkan di hadapannya itu. Dania terkekeh melihatnya, ia ikut tersenyum karena melihat sang suami begitu menikmati acara itu.
Tiba-tiba saja lampu mati. Membuat Dania ketakutan, karena ia takut akan kegelapan. "Darren, aku takut!" ucapnya seraya memeluk tubuh suaminya dari samping.
"Tenanglah, ada aku di sini," jawab Darren menenangkan sambil mengelus punggung istrinya. Lama mereka dalam posisi seperti itu. Membuat Darren memberanikan diri untuk bertanya sesuatu padanya.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Darren masih dalam posisi Dania memeluknya.
Mendengar pertanyaan Darren, Dania melepaskan pelukannya. "Apa aku salah mencintai suamiku sendiri," jawab Dania sambil tertunduk. Namun karena gelap, jadi Darren tak mengetahui keadaan Dania yang sedang bersedih karena pertanyaannya.
"Bukan ... Bukan itu maksudku. Hanya saja ...," ucapnya terputus karena ia ragu untuk mengungkapkannya.
"Hanya saja apa?" tanya Dania penasaran.
"Ah, sudahlah," kata Darren.
Namun tiba-tiba Darren berkata. "Kalau memang kamu benar mencintaiku, buat aku .......,
__ADS_1
**Ya digantung deh...
Lanjutannya ada di part berikutnya ya?😁😁 yang masih penasaran kepoin terus ya**?