Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 18


__ADS_3

Setelah beberapa tidak masuk kantor, membuat pekerjaan Darren sedikit menumpuk. Walau kerjaannya hanya menandatangani, tapi tetap saja ia harus jeli dengan apa yang tertera di sana. Dengan teliti ia membacanya satu persatu.


"Masuk," ucap Darren, setelah ia mendengar ketukan dibalik pintu.


"Hai, bro," ucap seseorang yang baru saja tiba di hadapan Darren.


Dengan cepat Darren menolehkan pandangannya. "Tumben, ngapain lo kesini?" tanya Darren pada orang itu, yang tak lain adalah Leo teman bisnis sekaligus teman nongkrongnya.


"Ketus banget. Eh ... Nanti malam clubing, yuk?" ajak Leo.


Darren menatap wajah Leo dengan intens. "Lo kesini cuma mau ngajak gue ke club? Sorry, gue sibuk," tolak ajakan Leo.


"Ah ... Mentang-mentang sudah punya istri, lo tolak ajakan gue. Inget bro, lo nikahin dia 'kan bukan karena cinta. Jadi, ayolah ...," ajak Leo sedikit memaksa. Leo mengetahui semua permasalahan Darren, termasuk tentang pernikahannya dengan Dania. Tak ada rahasia diantara mereka.


"Baiklah, tapi gue gak janji lama-lama." Darren menerima ajakkan Leo.


"Baiklah kalau begitu, gue cabut dulu," ujarnya sambil pergi meninggalkan Darren yang sedang sibuk bekerja.


***


Dania di rumah sedang bersiap untuk ke kantor suaminya, ia akan memberikan surprise pada suaminya. Ia sengaja tak memberitahukan kedatangannya ke sana.


Disaat Dania sedang memoles wajahnya, tiba-tiba Karren menghampirinya. Karena ia melihat pintu kamarnya yang terbuka. "Mau kemana, sayang?" tanya Karren dari arah belakang Dania.


Dania menoleh ke arah suara tersebut, ia mendapati ibu mertuanya yang tengah tersenyum. "Mom, ak_aku ... Mau menemui Darren," jawabnya malu-malu.


Karren mengangkat kedua alisnya tak percaya. "Oh ya ... Dalam rencana apa?" tanya Karren. "Sepertinya kamu bahagia sekali, sayang." Kini keberadaan Karren lebih dekat dengan menantunya, ia juga melihat wajah Dania yang berseri. Tak seperti waktu dihari pertama pernikahannya.


"Mom ... Aku senang, karena Darren memberikan kesempatan padaku untuk membuatnya jatuh cinta padaku," jawab Dania, sambil memegang tangan ibu mertuanya seakan meminta dukungan darinya.


"Momy senang kalau Darren mulai membuka hatinya untukmu. Momy yakin kamu bisa membahagiakannya." Karren mengelus pipi menantunya penuh kasih sayang.


"Sudah waktunya kamu bahagia Dania, maafkan Momy sudah membuatmu menderita selama lima tahun terakhir. Momy akan menebus semua kesalahan Momy, dengan cara menikahkanmu dengan anak Momy semoga kalian hidup bahagia," guman Karren dalam hati.


"Mom, ko malah melamun sih," sahut Dania.


"Ah, Momy tidak melamun, Momy hanya bahagia. Adanya kamu dikehidupan Darren. Semangat ya, sayang," ucapnya sambil mengepalkan kedua tangannya dihadapan Dania memberi semangat. Dania terkekeh melihat aksi ibu mertuanya.

__ADS_1


"Sudah sana, keburu siang," titah Karren. Dania mengangguk. "Untuk Syiera biar Momy yang menjemputnya," ujarnya pada Dania.


Dengan rasa bahagia Dania pun pergi menuju kantor suaminya. Membutuhkan waktu 45 menit untuknya tiba di sana. Dania turun dari taxi yang ia tumpangi.


Dania terdiam sejenak, bahwa ia masih teringat akan kejadian minggu lalu. Dimana ia tak dipercayai oleh pekerja dibagian resepsionis.


Sebelum Dania melangkah lebih jauh masuk ke dalam, tiba-tiba seseorang tak sengaja menabrak tubuhnya sehingga membuat Dania sedikit mengaduh karena terkena hantaman tubuh seseorang.


"Kau," ucap Dania pada orang itu. Orang itu yang tak lain adalah Leo, Dania mengenal Leo waktu rekan bisnis suaminya mengadakan sebuah acara.


"Wah, kebetulan sekali kita bertemu di sini. Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Leo dengan senyuman penuh arti. "Wanita sepertimu bisa terlihat terhormat juga, ya?" ucapnya lagi.


Dania mendelik tidak suka akan ucapan Leo yang terlontar dari mulutnya. "Apa maksudmu bicara seperti itu?" Dengan sorot mata yang tak kalah menyeramkan.


Leo terbahak mendengarnya. "Ingat Nona, aku sahabat suamimu, tak ada rahasia diantara kami. Kabari aku jika urusanmu selesai dengannya, aku akan membayarmu lebih besar," bisiknya di telinga Dania, sambil berlenggang pergi meninggalkan Dania.


Dania mengepalkan kedua tangannya merasa kesal dengan perkataan Leo, yang secara langsung mengingatkan siapa dirinya.


Tiba-tiba Dania melihat suaminya yang hendak pergi dari kantor. "Darren," panggil Dania.


Dania merasa kedatangannya tak diharapkan. "Apa aku mengganggumu?" tanya Dania dengan mata berkaca-kaca seperti akan menangis. Ia takut bahwa Darren akan memarahinya.


"Hey ... Kenapa menangis? Maksudku kalau mau kesini kabari aku terlebih dulu. Untung aku belum berangkat," ucapnya menenangkan hati istrinya sambil menangkup kedua pipinya.


Dania menatap wajah suaminya. "Begitu, ya? maafkan aku. Aku hanya ingin memberimu kejutan," sahut Dania sambil meraih tangan suaminya.


"Tapi aku mau pergi, aku ada meeting hari ini diluar kantor. Kamu tunggu saja di ruanganku, aku janji tidak akan lama." Lalu Darren mengantarkan Dania terlebih dulu ke ruangannya.


Sesampainya di sana, Darren mencium kening istrinya sebelum pergi kembali. Dania senang bahwa ternyata suaminya tidak marah akan kedatangannya.


"Aku pergi dulu, ya?"


"Jangan lama, ya? Aku bawakan makan siang untukmu," ucapnya sambil memperlihatkan paperbag di tangannya yang ia bawa sedari tadi. Darren mengangguk lalu tersenyum.


***


Kini Darren sudah selesai dengan meetingnya. Tak lama ia pun kembali ke kantornya. Ia langsung menuju ruangannya, karena ia tahu bahwa Dania masih berada di sana.

__ADS_1


Darren masuk ke dalam ruangannya, namun ia tak mendapati istrinya di sana. Darren melihat sekeliling ruangannya, dan ia pun menemukan keberadaan istrinya. Dania tengah tertidur di sofa yang tersedia di pojokan.


Darren menghamipirinya ikut duduk di samping istrinya. Ia melihat wajah istrinya lekat-lekat, betapa cantiknya seorang Dania. "Kenapa wajahmu begitu mirip sekali dengan Kania?" ucapnya pelan, pada saat itu Darren hendak mencium Dania. Namun tiba-tiba Dania terbangun dari tidurnya.


Dania membuka matanya, yang pertama dilihatnya adalah wajah suaminya. Tatapan itu beradu cukup lama. Dengan cepat Dania mencium bibir suaminya sekilas. Lalu Dania tersenyum.


Darren menjadi salah tingkah, tadinya ia akan mencuri ciuman itu dari istrinya. Namun pada kenyataannya, malah Dania yang menciumnya.


Untuk masalah itu Dania ahlinya, pekerjaannya adalah memuaskan hasrat para lelaki. Tapi entah kenapa Dania tak bisa melakukannya dengan suaminya. Ia masih takut akan perasaan Darren yang belum sepenuhnya ada untuknya.


Dania merubahkan posisinya menjadi duduk di samping suaminya. "Apa sudah dari tadi kamu kembali?" tanya Dania sambil menoleh kearah suaminya.


"Tidak, baru saja," jawab Darren sedikit gugup.


"Oh ya, bukannya tadi kamu bilang bawa makan siang. Aku sudah lapar nih."


Dania lupa akan hal itu, namun dengan sigap ia menyiapkan semuanya. Dania sudah menata makanan itu di atas meja yang berada di depan sofa yang didudukki suaminya.


Darren pun langsung memakan makanan itu. "Dari mana kamu belajar masak?" tanya Darren disela-sela kunyahan pertama.


"Mamy, tapi itu dulu sebelum ia meninggalkanku. Dulu hidup kami bahagia, sangat bahagia. Aku tak menyangka bahwa kehidupanku akan seperti ini," ucap Dania sedih.


Darren yang melihat pun langsung meraih wajah istrinya, ia menangkup kedua pipi istrinya dengan tangannya.


"Sekarang ada aku, tidak usah sedih lagi." Darren pun melanjutkan kegiatannya yang sedang makan. Dania terkekeh melihatnya.


"Kenapa tak ikut makan." Dari tadi Dania hanya melihat suaminya.


"Aku masih kenyang," jawab Dania.


_


_


_


...Dilanjut nanti ya.......

__ADS_1


__ADS_2