
Setelah membaringkan tubuh istrinya, ia menatap wajah Dania lekat-lekat. Tatapan mereka penuh cinta, Dania bahagia karena kini pernikahannya sungguh di luar dugaannya. Yang awalnya Darren membuat perjanjian namun seiring berjalannya waktu, Darren menetapkan hatinya pada Dania.
Dania mendorong tubuh suaminya yang kini tepat berada di atasnya, perlahan Dania bangkit dari tidurnya. Darren berpikir apa istrinya itu masih marah karena kejadian tadi bersama Lisa. Dengan cepat Darren menarik lengan istrinya, hingga Dania terjatuh tepat di pangkuannya.
"Kamu masih marah?" tanya Darren sambil menyandarkan kepalanya di pundak istrinya.
Dania menoleh ke arah suaminya, sambil tersenyum dan menggelengkan kepala. Mengatakan bahwa ia tak marah padanya.
"Lalu ..." Dania mengerutkan dahinya merasa bingung.
"Lalu apa?" tanya Dania tak mengerti.
"Kenapa beranjak dari ranjang?" tanya Darren.
"Oh, aku kira apa? Aku mau ke kamar mandi," jawab Dania sambil bangkit dari posisinya.
Darren pun melepaskan Dania dan membiarkannya pergi meninggalkannya. Setelah selesai dari kamar mandi, Dania kembali menemui suaminya. Yang sekarang sudah berada di dalam selimut, ia menunggu kedatangan istrinya.
Dania tahu apa yang diinginkan suaminya saat ini. Ia pun bingung harus menyampaikan berita tentangnya yang kini ia sedang datang bulan. Bahkan ia juga baru mengetahuinya disaat sedang berada di kamar mandi barusan.
Perlahan Dania menghampiri suaminya, dan mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Darren yang mengetahuinya pun langsung menyandarkan kepalanya tepat di pangkuan Dania. Dania mengusap lembut rambut suaminya, ia menundukkan wajahnya sambil berbisik. "Aku rasa, aku tidak bisa melayanimu," kata Dania tanpa ragu.
Darren langsung merubahkan posisinya menjadi duduk sambil menatap wajah Dania. "Kenapa? Aku tahu kamu pasti masih marah, iyakan?" tanya Darren sedikit takut. Takut istrinya masih marah padanya.
"Bukan ... Bukan itu."
"Lantas ... Masalahnya dimana?" tanya Darren bingung.
"Lagi ada tamu," jawab Dania sambil cengengesan. Tapi Darren malah celingak-celinguk mencari keberadaan tamu tersebut.
Dania yang memeperhatikannya langsung menangkup kedua pipi suaminya. Mereka saling bertatap. "Kamu cari siapa?" tanya Dania sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Tamu yang kamu maksud. Dimana tamunya?" Darren mengira tamu yang dimaksud istrinya adalah Lisa. Tapi setahu Darren Lisa sudah pergi, bahkan ia sempat mengantarnya sampai pintu depan.
Dania terkekeh mendengar jawaban suaminya. "Tamu yang aku maksud, itu ... Aku lagi menstruasi," kata Dania memelankan suaranya.
__ADS_1
Darren langsung menghela napasnya secara perlahan setelah mengetahui tamu yang dimaksud istrinya itu. Seketia ia langsung melemparkan tubuhnya sendiri di atas kasur yang sangat empuk itu. "Gagal sudah," gumam Darren dalam hati.
Dania langsung menghampiri suaminya, ia tahu pasti suaminya kecewa padanya. Ia memeluk suaminya dari belakang, karena ia tak tahu lagi harus ngapain. Dania tak menduga ternyata suaminya mengerti akan keadaannya yang seperti ini. Darren membalikkan tubuhnya menghadap Dania.
"Berapa lama aku harus menunggu?" tanya Darren sambil memejamkan matanya dan tangannya memeluk tubuh istrinya.
"Semingguan mungkin, kadang lebih dari itu," jawab Dania sambil menelusupkan kepalanya mencari kenyamanan di bawah ketiak suaminya.
Darren mendengus kesal. "Lama juga, ya?" ujarnya. Tapi Dania malah menertwakannya.
"Jangan menertawaiku," kata Darren sedikit kesal. "Lebih baik kita tidur!" Dan mereka pun terlelap bersama.
Keesokan harinya.
Dania bangun lebih awal, ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah merasa bersih ia pun menyudahinya. Dania langsung membangunkan suaminya setelah ia memakai baju yang lengkap. Pagi ini ia ingin mengajak suaminya melihat pemandangan pagi di pantai.
"Darren ... Ayo bangun?" Dania sedikit mengguncankan tubuh suaminya. Dengan perlahan Darren pun membuka matanya.
"Ini masih pagi, emang mau kemana?" tanya Darren sambil mengucek kedua matanya. Darren menepuk sisi ranjang, agar Dania ikut duduk di sampingnya. Dan kini Dania ikut duduk bersamanya.
"Ke pantai, yuk?" ajak Dania. "Aku mau melihat pemandangan pagi," ujarnya sedikit merayu.
"Ya ... Cari sarapan atau apa, kek."
"Baiklah, aku mandi dulu kalau begitu. Kamu siapkan bajuku." Darren langsung bergegas menuju kamar mandi.
Sedangkan Dania, ia menyiapkan baju kemeja putih dan celana jeans berwarna hitam untuk di kenakan suaminya.
***
Sekarang Darren sudah berada di tepi pantai terlebih dulu. Darren melihat Dania dari kejauhan karena Dania sedang mampir kesalah satu pedangang yang berada di sana.
__ADS_1
Dania pun melihat kearah suaminya sambil menangkup kedua pipinya. "Suamiku ganteng, tak salah aku memilihkan baju itu untuknya," gumam Dania dalam hati.
Tak lama Dania pun beranjak dari posisi duduknya. Ia menemui Darren yang sedang berdiri menunggunya di sana. Dan mereka pun menikmati pemandangan pantai itu berdua. Tempatnya masih agak sepi dari pengunjung karena waktu menujujukkan pukul delapan pagi.
"Sudah?" tanya Darren setibanya Dania di sampingnya. Dania hanya mengangguk sambil memperlihatkan kantong belanjaan yang sempat ia beli tadi.
Dan mereka pun menyelusuri area di tepi pantai itu. Bergndengan tangan tanpa terlepaskan, semua orang menatap kearah mereka. Sungguh pasangan yang serasi.
Karena merasa cuaca sudah mulai memanas karena terik matahari yang mulai menyengat, mereka pun beralih pergi meninggalkan pantai. Darren mengajak Dania kesesuatu tempat yang mungkin belum pernah Dania datangi.
"Kita mau kemana?" tanya Dania pada suaminya yang terus menggandeng tangannya.
"Ikut saja," jawab Darren tanpa menoleh.
Pada akhirnya mereka pun sampai di sebuah danau buatan yang tersedia dekat risort. Dania melihat danau itu dengan takjub, ia baru mengetahui ada danau buatan yang sangat indah. "Darren ... Ini indah sekali," ujar Dania sambil mencekal tangan suaminya.
"Bagus 'kan? Ini danau belum lama," sahut Darren. Darren terkekeh melihat istrinya itu, mungkin Dania baru melihat dunia luar. Karena selama ini ia hanya berada di club untuk bekerja.
"Kamu benar-benar memperkenalkan 'ku dengan dunia luar. Makasih, ya?" Dania merangkul tangan suaminya.
"Aku akan membahagiakanmu. Ini belum seberapa, Dania. Kamu sudah mau menjadi ibu dari anakku, itu yang membuatku harus mencintaimu," gumam Darren, ia pun membalas rangkulan istrinya.
Merasa sudah lama berada di sana. Kini mereka kembali ke risort untuk makan siang bersama di sana. Sesampainya di risort, Darren memperlakukan Dania bak putri. Ia melayani istrinya dengan baik, bahkan Dania tak dibolehkan untuk beranjak dari kursi meja makannya.
"Ya, Tuhan ... Inikah rasanya memiliki suami yang mencintai istrinya," gumam Dania dalam hati. Sungguh tak terbayangkan olehnya kalau suaminya akan seperti ini mencintainya.
"Kenapa terus melihatku seperti itu? Apa ada sisa makanan di wajahku?" tanya Dania sambil mengusap wajahnya sendiri.
Darren langsung menyentuh bibir istrinya dengan tangannya, menghapus jejak makanan yang tersisa di bibir bawahnya.
Dania hanya bisa tersenyum menanggapi perlakuan suaminya yang begitu romantis.
_
_
__ADS_1
_
Selamat menunaikan ibadah puasa ya? Sebisa mungkin othor tahan adegan balsemnya😁😁 takut buat kalian gimana gitu..😂 walaupun upnya malem tapi takut ada yang bacanya siang.