Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episode 83


__ADS_3

"Gimana?" tanya Leo, setelah Darren kembali masuk mobil.


"Sudah dekat," jawabnya sambil menyalakan mesin mobilnya.


Di rumah tua


Nampak seorang pemuda yang kini sedang membelah kayu memakai kampak.


"Sudah, nak?" tanya seorang wanita yang umurnya sekitar 39 tahun.


Pemuda itu sempat berhenti dari aktifitasnya, lalu menoleh ke arah wanita yang menghampirinya dan membawa segelas air di tangannya.


"Ini, minum dulu. Pasti kamu lelah," ucap wanita itu.


"Terima kasih, Ma." Pemuda itu mengambil gelas yang di berikan oleh wanita itu. Ya, wanita itu adalah mamanya.


"Istirahat saja dulu," kata mama.


"Sebentar lagi selesai, Ma. Nanti pemilik kayu keburu datang," jelas pemuda itu bernama Khay. Khay Wilson, itulah nama yang diberikan sang papa padanya. Papa yang tak menganggapnya sebagai anaknya, karena ia tak sedarah dengannya. Tuan Wilson meragukan Khay, Khay bukanlah anaknya.


Mama Khay sangat bangga padanya, tak kenal gengsi, ia mau membantunya mencari nafkah. Khay bekerja sebagai pembelah kayu bakar. Hidupnya sangat miris, setelah papanya mengusirnya bersama mamanya yang dulu usianya baru 5 tahun.


Khay dibesarkan tanpa sosok ayah. Mama membesarkannya seorang diri. Tapi, mereka berdua hidup bahagia dengan kesederhanaan. Dan rumah tua peninggalan dari kakek Khay menjadi tempat berlindung mereka.


Khay tidak meneruskan sekolahnya, ia harus berhenti di tengah jalan sampai kelas 2 SMA, tak ada biaya untuk melanjutkan sekolahnya, ditambah, rumah mereka jauh dari keramaian. hanya ada satu rumah di sana, rumah yang hampir mendekati gunung.


***


"Sepertinya masih jauh," kata Darren yang sudah lelah. Ia terus menelusuri jalan setapak, mobilnya harus ia titipkan di balai desa, karena tempat yang akan dikunjungi mereka jalannya begitu sempit. Hanya roda 2 yang bisa menelusuri tempat itu. Karena jalan yang becek sehabis hujan, jadi mereka putuskan untuk jalan kaki. Terlalu bahaya jika menggunakan kendaraan. Pikir mereka.


Dilihatnya ada rumah tua dan sangat kecil di sana.


"Apa itu rumahnya?" tanya Darren.

__ADS_1


Mendapatkan titik terang, Leo langsung berlari meninggalkan sahabatnya itu, tak sabar rasanya ingin bertemu dengan anaknya. Setibanya di sana, betapa terkejutnya Leo, ia melihat seorang pemuda tengah terduduk. Terlihat kayu bakar yang siap digunakan.


Ia melihat wajah pemuda itu, karena perlahan ia menghampirinya.


"Anakku," lirih Leo sambil meneteskan air matanya, ia yakin bahwa pemuda itu adalah anaknya. Wajahnya begitu mirip dengannya.


Khay langsung berdiri dari duduknya, ia terkejut ada orang asing di hadapannya.


"Tolong! Jangan pisahkan kami," kata Khay, ia takut kalau ia akan dipisahkan dengan mamanya. Wilson pernah mencoba memisahkan mereka berdua, Wilson hanya akan membawa mamanya seorang diri, tidak dengan dirinya.


"Tenang! Saya tidak akan macam-macam," jelas Leo, jika pemuda itu tidak mundur, mungkin ia langsung akan memeluknya, tapi, sepertinya pemuda itu takut padanya.


"Siapa namamu?" tanya Leo dengan lembut, sebelum Khay menjawab. Mamanya lebih dulu keluar dari rumah tua itu, ia mendengar sedikit keributan di luar sana.


"Khay ..." panggil mama. Mama Khay melihat orang asing di sana, dengan cepat ia menghampiri Khay.


"Siapa kamu? Kalau kesini hanya untuk membuat kekacauan sebaiknya kalian pergi!" Mama Khay melihat satu orang lagi dari kejauhan, dan ia yakin orang itu masih bersahabat dengan orang yang ada di hadapannya.


Darren berlari menghampiri mereka.


"Tolong! Dengarkan penjelasan kami dulu," pinta Darren.


Khay terus memeluk erat mamanya, begitu juga dengan sang mama, tak kalah erat memeluknya.


"Tolong! Jangan takut! Kami bukan orang jahat," jelas Leo, tatapan Leo terus mengarah kepada pemuda itu. "Siapa namamu?" tanya Leo untuk yang kedua kalinya.


"K_Khay," jawabnya terbata.


"Khay ... Anakku." Leo menghampiri Khay lebih dekat. Ditatapnya matanya Khay, matanya sama persis dengan dirinya.


"Apa maksudmu? Mengaku Khay sebagai anakmu!" Mama Khay yang bernama Maria tak terima jika anaknya diakui oleh orang lain. Khay bukan anak orang itu! Khay hanya anaknya. Hanya anaknya!


"Lebih baik kalian pergi, biarkan hidup kami bahagia," jelas Maria.

__ADS_1


"Saya mohon, biarkan saya menjelaskan kedatangan kami kemari," sahut Darren.


Dengan panjang lebar, Darren menjelaskan secara rinci. Maria terbelalak, ia tak percaya dengan penjelasan Darren.


"Jika Anda tidak percaya, Anda bisa datang ke rumah sakit bersalin dimana Khay dilahirkan." Darren meyakinkan mereka berdua.


"Ma, apa itu artinya aku bukan anak Mama?" kata Khay, Khay berharap ini hanya mimpi. Ia tak ingin berpisah dengan orang yang selama ini ada di dekatnya. Yang sudah merawatnya dengan penuh kasih sayang.


"Tidak! Kamu tetap anakku! Dan selamanya akan menjadi anakku!" Maria kembali memeluk Khay. Saat itu Maria tengah sakit, saat itu juga Maria terbatuk, dan langsung ditutup dengan tangannya. Di telapak tangannya ada sebercak darah yang keluar dari mulutnya.


Khay panik melihat darah itu.


"Ma, Mama kenapa?" tanya Khay.


Maria menggelengkan kepalanya, menjawab bahwa ia tak apa-apa. Maria memang menyembunyikan penyakitnya dari Khay. Khay sempat curiga mamanya sakit, terlihat tubuhnya yang semakin hari semakin kurus, namun Maria enggan memberitahukan tentang penyakitnya. Ia hanya ingin menghabiskan sisa umurnya dengan Khay. Putra semata wayangnya.


Namun, tubuh Maria semakin melemah, ia jatuh pingsan. Untung Khay dengan sigap menangkap tubuh mamanya sebelum terjatuh.


Leo dan Darren tak tinggal diam, mereka langsung pergi dari tempat itu. Tentu pergi bersama Khay dan sang mama. Mereka menuju rumah sakit.


Setibanya di sana, Dokter langsung menangani pasien. Tak lama, dokter itu telah selesai memeriksanya. Dan kini harus memberikan kabar duka kepada mereka. Nyawa pasien tak terselamatkan. Kemungkinan pasien meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Tubuh Khay ambruk setelah mendengar penjelasan dari dokter.


Pemakanan Maria sudah selesai dikuburkan. Khay sedari tadi tak beranjak dari batu nisan sang mama, ia terus menangis. Menagisi kepergian mamanya, kalau mamanya sudah tiada, dengan siapa Khay harus tinggal? Khay yang masih terbilang remaja, ia masih butuh sosok keluarga. Terutama kedua orang tua.


Untung pada saat itu, Leo datang menyelamatkan hidupnya, menyelamatkan dari kesendiriannya. Khay mulai menerima kepergian sang mama dan mulai menerima Leo sebagai orang tuanya.


Dan kini, Khay ikut ke London bersama Leo dan Darren.


Khay yang baru pertama kali naik pesawat, jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang, gugup dan takut menjadi satu. Leo yang mengetahui akan hal tersebut langsung mengenggam tangan Khay, seolah memberi kekuatan. Khay tersenyum ke arah Leo. Mau tak mau Khay harus terbiasa dengannya yang kini menjadi ayahnya.


"Sebentar lagi, kamu akan bertemu dengan Mamy," kata Leo yang masih menggenggam tangan anaknya. Khay tersenyum sambil mengangguk. Kini ia akan bertemu dengan ibu kandungnya.

__ADS_1


Hampir satu minggu, Leo dan Lisa tak bertemu. Tersimpan rindu yang begitu dalam didiri Leo. Ditambah, ia membawa anaknya. Lengkap sudah kebahagiaan Leo dan Lisa.


Bersambung


__ADS_2